Keesokan harinya Andrew bangun dengan badan yang lebih bugar. Dia merasa lebih fresh karena tidurnya yang nyenyak, atau mungkin karena sentuhan lembut dari dokter cantik yang tidak dia tau. Hihi...
Dia pun bergegas mandi dan berganti baju. Namun sialnya dia lupa membawa baju ganti ke kamar mandi, jadinya dia keluar dengan melilitkan handuk di pinggang. Pas dia membuka pintu ternyata ada dokter dan suster yang sedang melakukan pengecekan pagi.
" Astaga.... " kaget Andrew
"OMG " pekik Vanya sambik menutup wajah dengan jari - jari terbuka .
Haha ga rela melewatkan tontonan gratis .
Untung letak baju ganti Andrew dekat, jadi dia langsung mengambilnya dan masuk ke kamar mandi lagi.
Sedangkan Dokter Vanya yang masih kaget hanya mengelus - ngelus dada sambil mengatur nafas.
Suster yang sedang mencatat grafik monitor Mama Anya tidak menyadari apa yang terjadi dan hanya mendengar terikan kaget saja.
" Ada apa Dok ? " tanyanya
"Ahh tidak apa - apa, aku hanya kaget saja tadi. Oh iya tolong ambilkan obat yang harus di masukkan ke dalam selang infus, itu ada di kotak ruangan saya. Sepertinya pasien sudah mulai membaik "
kata Dokter Vanya, yang diangguki suster dan langsung bergegas ke luar mengambilnya.
Tak berapa lama Andrew keluar dari kamar mandi memakai celana kotak2 biru dan baju kaos biru muda, pressss body .Jadi tercetak jelas roti sobek yang dilihat dokter Vanya tadi.
Dokter Vanya terlihat kikuk dan meminta maaf karena mengagetkan.
" Maaf, tadi saya sudah mengetuk pintu sebelum masuk untuk melakukan pengecekan, tapi karena tidak ada jawaban, jadi saya dan suster masuk . Dan ini juga sudah mau selesai, tinggal menunggu suster membawakan obat yang harus diberikan pada pasien ".
Andrew dengan wajah datarnya tidak menanggapi hal itu, dia hanya kaget saja tadi ada orang lain di dalam ruang rawat Mamanya.
Masih untung handuknya dililit dipinggang coba kalo handuknya nangkring di bahu, seperti kebiasaan Andrew kalo di rumah. Sudah pasti dia akan mengunci pintu dan menyuruh Sam untuk pindah rumah sakit. Ato kabur ke planet lain
Hahaaa....
" Gimana kondisi Mama saya ? "
" Beliau sudah baikkan , detak jantung sudah mulai menguat dan nafas sudah lebih teratur. Mungkin nanti beliau akan segera sadar. Jadi tetap harus ada yang mendampingi beliau. "
Kata dokter Vanya sambil menyuntikkan obat di selang infus yang sudah dibawakan suster.
" Baiklah, saya permisi dulu. Nanti kalau ada apa - apa bisa tanyakan pada perawat yang berjaga atau anda telfon pada cs, no nya ada pada meja " tunjuk dokter Vanya ke arah meja dekat tv.
Dokter Vanya pun keluar bersama suster dan melanjutkan pengecekan ke pasien berikutnya.
Sebenarnya jam tugas dokter Vanya sudah selesai tapi dikarenakan dokter Aldo yang bertugas pagi sedang ada urusan, jadinya dokter Vanya yang mengantikan pengecekan pagi.
Sementara itu, Andrew menghampiri mamanya dan mengenggam tangannya yang bebas dari infus.
" Selamat pagi Ma, Andrew jagain mama dari semalem. Kata dokter kondisi mama semakin membaik, dan mama akan segera pulih. Mama yang kuat ya ma.... Andrew akan menjadi kebanggan buat mama " ucapnya sambil mengecup tangan mamanya.
Bertepatan Sam dan bik Surti yang masuk setelah mengetuk pintu, dan membawa makanan, minuman dan masih banyak lagi.
" Selamat pagi Tuan Muda, ini saya bawakan sarapan dan camilan untuk Tuan. "
kata Sam
Lalu disambung bik Surti , yang ternyata sudah menaruh vas bunga mawar putih kesukaan mamanya.
" Selamat pagi Den, bibik ikut sama Tuan Sam kesini, supaya bibik bisa bantu Aden jagain nyonya. Ini sarapan untuk aden dimakan dulu yaa. Bibik masak khusus buat aden. "
Andrew yang telah lama tak melihat bik Surti sekilas tersenyum dan mengambil box sarapan.
" Makasi Bik " jawabnya singkat.
Andrew memang sangat akrab dengan bik Surti, karena dialah yang membantu Mama Anna mengurus dan merawat Andrew sejak kecil.
Dan Andrew yang menghilang dan tidak pulang - pulang karena kasus yang menjeratnya itu, membuatnya merasakan kangen akan masakan bik Surti.
Bik Surti hanya mengangguk, dan segera membersihkan kasur tempat Andrew tidur semalam.
Sedangkan Sam sudah menghampiri Nyonya Anna dan bertanya kabar, seolah - olah Nyonya Anna hanya berbaring saja.
Memang itulah saran dokter, ketika pasien belum sadar, tetap ajak berbicara, karena dengan rangsangan suara, sentuhan, akan mengerakkan saraf dan organ dalam tubuh. Supaya cepat sadar dan terbangun.
Andrew yang telah selesai dengan sarapan kini duduk santai sambil menikmati kopi yang dihidangkan bik Surti, pun demikian dengan Sam dan mereka membahas dengan jadwal sidang besok.
Tak terasa haripun siang, Sam berpamitan dan akan kembali ke esokan harinya untuk menjemput Andrew.
" Baiklah Tuan, saya pamit pulang dulu. Nanti kalau ada apa - apa Tuan bisa menghubungi saya. "
"Tuan bisa beristirahat dulu, bik Surti akan disini sampai sore, dan nanti akan dijemput sopir untuk pulang. Sedangkan di luar sudah saya tugaskan 2 bodyguard untuk berjaga, jadi kalau Tuan ada perlu sesuatu, bisa bilang pada mereka. " kata Sam yang hanya di angguki Andrew
Sam sengaja menugaskan beberapa bodyguard sejak Tuan Besar dan Nyonya Anna dirawat. Supaya bisa menjaga dan memantau keadaannya mereka.
Selain karena Andrew harus dijaga supaya tidak kabur lagi, karena sidang sudah akan dimulai keesokan harinya.
Dan tanpa Andrew ketahui, Sam juga menugaskan beberapa mata - mata untuk tetap menjaga keamaanan dan kegiatan Andrew.
" Bik, bibik tetaplah disini. Temani mama, aku mau menengok Papa sebentar "
" iya den "
Dan ketika Andrew membuka pintu, 2 bodyguard berbadan kekar dan botak menunduk memberi hormat.
" Ada yang bisa kami bantu Tuan "
" Aku hanya akan menjenguk Papa ke ruangannya " kata Andrew.
" Baiklah saya temani Tuan " kata salah satu dari mereka yang bernama Jo.
" Tidak usah " kata Andrew
" Maaf Tuan, saya hanya menjalankan perintah dari Tuan Sam, saya harus menjaga dan mengawal Tuan Muda "
kata Jo sambil menunduk.
Andrew yang tak mau berdebat hanya mengibaskan tangan dan berjalan le ruangan Papanya diikuti Jo beberapa langkah dibelakang Andrew.
Sesampainya di ruangan rawat papanya, hati Andrew seperti teriris melihat konfisi papanya yang kepalanya diperban dan banyak kabel yang menempel di dada papanya.
" Pa.... cepatlah pulih Pa "
kata Andrew sambil mengusap jendela kaca pembatas , karena papanya belum bisa ditengok ke dalam.
Disisi lain dokter Vanya kini sudah bersiap untuk pulang, karena dokter Aldo sudah datang.
" Thanks ya Nya udah gantiin gue "
" Yoi... gue balik dulu yaa, ngantuk "
jawab Vanya sambil keluar ruangannya.
Pas di koridor depan, Vanya berpapasan dengan Andrew dan Vanya hanya mengangguk sambil tersenyum dan di balas anggukan dan wajah datarnya Andrew.
Terlalu banyak yang Andrew pikirkan, sampai dia lupa tersenyum.