Setelah cek in di bandara dan memasukkan
koper ke bagasi, Vanya bergegas
berjalan menuju gate keberangkatannya.
Pagi ini dia akan berangkat ke Singapore
untuk bertugas disana selama 3 bulan
kedepan.
" Hufhhh.... untung tepak waktu "
ucapnya sambil duduk di kursi dekat
jendela setelah menaruh tas laptop di
cabin.
Vanya pun mengambil ponsel dan
mengabari Ando kalau dia sudah di dalam
pesawat.
Vanya : Gw udah di pesawat, bentar lagi
take off
drtt drtt
terdengar getar ponsel dan ternyata balasan langsung dari Ando.
Ando : okehh ttdj
tar kabari kalo dah sampe
Vanya lalu mematikan ponsel dan
menyimpannya di tas selempang yang ia
kenakan. Pramugari sudah memberi
aba - aba pesawat akan segera take off.
***
Andrew yang masih terlelap dalam tidurnya,
tidak menyadari kalau seorang dokter dan
perawat sedang memeriksa mamanya.
Saat itu juga bik Surti sudah berada di
samping meja sambil menata vas bunga
kesukaan mamanya.
Sambil menguap Andrew berjalan ke kamar
mandi untuk membersihkan diri. Untung
tadi bik Surti sudah mempersiapkan baju
ganti disana, jadi Andrew tidak bolak - balik
mengambil baju.
Sementara Andrew bersih - bersih diri, bik
Surti segera membereskan kasur Tuannya .
Dokter pun sedang membaca catatan dari
perawat dan mengecek kondisi mama
Anna.
" Apakah pasien sempat sadar lagi
kemarin ? " tanya dokter pada bik Surti
" Tidak dok, hanya pagi itu saja. Waktu
dokter Vanya menemani nyonya "
Ando mengeryitkan dahi sebentar dan
berguman kecil " Vanya ? "
" Yaa dok, kemarin dokter Vanya duduk dan
menemani nyonya setelah melakukan
pemeriksaan " Jawab bik Surti
Andrew yang keluar dari kamar mandi pun
terlihat lebih fresh dengan setelan kemeja
dan jas yang sangat pas di badannya.
Dia baru sadar jika kali ini dokter laki - laki
yang memeriksa, bukan dokter Vanya yang
dia lihat kemarin.
" Gimana kondisi mama saya dok ? "
tanya Andrew tepat di sebelah dokter Ando
" Ibu Anda baik - baik saja dan beliau sudah
melewati masa kritisnya dan tetaplah ajak
berkomunikasi. Mungkin sebentar lagi
beliau akan bangun, tapi usahakan untuk
tidak membebani pikiran beliau. "
Andrew tersenyum bahagia mendengar
ucapan dokter. Dia bergegas mengenggam
tangan mamanya .
" Selamat pagi Ma, Andrew temenin mama
disini "
" Kalau begitu saya permisi dulu, nanti jika
butuh sesuatu bisa hubungi suster " kata
Ando.
" Terimakasih dok , oh iya dimana sekarang
dokter Vanya ?"
" Saya belum sempat mengucapkan
terimakasih, karena sudah meluangkan
waktu untuk menemani mama saya
kemarin ". tanya Andrew
" Dokter Vanya sekarang sedang dalam
perjalanan ke Singapore. Dia akan bertugas
disana selama beberapa bulan ke depan "
jawab Ando.
" Oh iya... perkenalkan, saya dokter Ando
yang menangani mama Anda sekaligus
papa anda juga. Memang beberapa kali
saya meminta tolong kepada dokter Vanya
untuk membantu pemeriksaan selama saya
tidak disini " ucap Ando sambil
mengulurkan tangan.
Andrew menjabat uluran tangan Ando "
saya Andrew Wilson "
" Gimana kondisi papa saja dok ? "
" Sebaiknya kita bicara di luar "
kata Ando sambil bergegas keluar dari
kamar tersebut
Ando menghela nafas dan berusaha
menjawab pertanyaan Andrew,
" Hanya keajaiban yang bisa
menyelamatkan papa anda, karena selama
beberapa hari ini belum ada perubahan apa
- apa. Beliau sepertinya terlalu terlelap
dalam tidurnya. "
" Tolong lakukan apapun dok untuk
kesembuhan papa saya akan bayar
berapapun biayanya " ucap Andrew dengan
sorot mata sedih
Ando mengangguk dan berkata :
" Saya akan berusaha semaximalnya, saya
permisi dulu, jangan sungkan - sungkan
untuk menghubungi saya " jawab Ando dan
berlalu.
Andrew yang masih tertegun menyandarkan
badannya di tembok, mengharapkan
keajaiban untuk kesembuhan mama dan
papanya.Pikirannya menjadi kalut dan
sedih lagi.
Jo yang melihat hal itu mendekati Andrew,
" Tuan muda baik - baik saja , ada yang bisa saya bantu ?"
Andrew tak menjawab dan dia masuk ke
kamar inap mamanya. Di dalam dia hanya
duduk kembali mengingat semua kejadian
itu dan berharap dia tidak melakukan hal
ceroboh yang menyakiti kedua orang
tuanya.
Baru kali ini dia merasakan kesedihan,
merasakan kesepian tanpa omelan dan
bentakan papanya.
Mungkin dia merasa lebih baik di marahi
papanya, setidaknya dia tau kalau beliau
sehat dan tidak terbaring tanpa daya
seperti sekarang.
Sepintas dia memikirkan Vanya, belum
sempat berterimakasih ternyata Vanya
sudah pindah tugas. Andrew memandang
ponselnya dan melihat no Vanya.
Niat ingin menghubungi, tapi dia urungkan.
Karena bik Surti sudah menyiapkan
sarapan untuk Andrew.
" Sarapan dulu den, tadi bibik masak nasi
goreng kesukaan aden. Ini juga ada salad
dan jus buah . Silahkan "
Andrew hanya mengangguk dan mulai
menyantap sarapannya.
*
Di sisi lain Sam yang sudah berkutat
dengan tugas kantor, mengecek semua
laporan yang ada, karena walau bagaimana
pun, dia belum bisa sepenuhnya
menyerahkan tanggung jawab kepada Tuan
Muda nya.
Tok tok
suara ketukan pintu terdengar, tanpa
melepas pandangannya pada kertas -
kertas yang di tangannya, Sam menyuruh
masuk .
" Tuan Sam... ini beberapa berkas dari
perusahaan yang di Singapore, sepertinya
ada beberapa kendala dengan proyek
disana " .
Seketika Sam menatap sekretarisnya yang
baru masuk dan memberi laporan.
" Apa kendalanya ? "
" Ini hard copy nya Tuan dan ini data dari
perusahaan S yang mensuplay alat - alat
disana " kata Hellen sambil menata kertas
- kertas di atas meja dekat sofa dan
menyodorkan iPad yang dia bawa.
Meja Sam penuh dengan file - file penting,
jadi Hellen menaruh kertas - kertas di meja sofa
supaya tidak tercampur.
Sam beranjak dari kursinya menuju sofa
dan mengecek ipad.
Bertepatan dengan ponselnya berdering
" Selamat pagi Tuan Muda " sapanya
" Aku ke kantor sekarang " kata Andrew
" Baik Tuan Muda " jawab Sam dan Andrew
mematikan sambungan telfon.
*
Saat sampai Andrew langsung turun di
depan lobby dan Jo sang bodyguard
membukakan pintu untuk Tuan Muda nya
sambil mengamati keadaan sekitar.
Security yang melihat Tuan Muda
memasuki gedung bergegas membungkuk memberi
hormat dan menyapa. Tapi Andrew hanya
menatap ke depan dan Jo yang
membalas dengan anggukan.
Sesampainya di dalam rungan CEO, Andrew
langsung melepas jas dan duduk di kursi
CEO. Kursi yang dulu di tempati papanya
dan enggan untuk ia datangi. Sekarang
tapuk pimpinan dan semua tanggung jawab
ada di pundaknya.
Entah kenapa sebersit dia mengingat
kejadian kemarin saat ia keluar dari kamar
mandi rawat inap mamanya dengan
hanya memakai handuk di pinggang, dan
membuat Vanya kaget dan salah tingkah.
Dia pikir itu sangat mengemaskan
" Hmmm.... "
Mendadak Andrew tersenyum mengingat
hal itu. Dia bimbang, antara menelpon
Vanya atau mengirim pesan. Sekedar untuk
mengucapkan terimakasih karena sudah
membantu menjaga mamanya.
Akhirnya dia pun mengirim pesan, siapa tau
Vanya sedang sibuk dan tidak bisa
menerima telpon.
to be continue ?