Hati Yang Kosong

1089 Words
Setelah cek in di bandara dan memasukkan koper ke bagasi, Vanya bergegas berjalan menuju gate keberangkatannya. Pagi ini dia akan berangkat ke Singapore untuk bertugas disana selama 3 bulan kedepan. " Hufhhh.... untung tepak waktu " ucapnya sambil duduk di kursi dekat jendela setelah menaruh tas laptop di cabin. Vanya pun mengambil ponsel dan mengabari Ando kalau dia sudah di dalam pesawat. Vanya : Gw udah di pesawat, bentar lagi take off drtt drtt terdengar getar ponsel dan ternyata balasan langsung dari Ando. Ando : okehh ttdj tar kabari kalo dah sampe Vanya lalu mematikan ponsel dan menyimpannya di tas selempang yang ia kenakan. Pramugari sudah memberi aba - aba pesawat akan segera take off. *** Andrew yang masih terlelap dalam tidurnya, tidak menyadari kalau seorang dokter dan perawat sedang memeriksa mamanya. Saat itu juga bik Surti sudah berada di samping meja sambil menata vas bunga kesukaan mamanya. Sambil menguap Andrew berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Untung tadi bik Surti sudah mempersiapkan baju ganti disana, jadi Andrew tidak bolak - balik mengambil baju. Sementara Andrew bersih - bersih diri, bik Surti segera membereskan kasur Tuannya . Dokter pun sedang membaca catatan dari perawat dan mengecek kondisi mama Anna. " Apakah pasien sempat sadar lagi kemarin ? " tanya dokter pada bik Surti " Tidak dok, hanya pagi itu saja. Waktu dokter Vanya menemani nyonya " Ando mengeryitkan dahi sebentar dan berguman kecil " Vanya ? " " Yaa dok, kemarin dokter Vanya duduk dan menemani nyonya setelah melakukan pemeriksaan " Jawab bik Surti Andrew yang keluar dari kamar mandi pun terlihat lebih fresh dengan setelan kemeja dan jas yang sangat pas di badannya. Dia baru sadar jika kali ini dokter laki - laki yang memeriksa, bukan dokter Vanya yang dia lihat kemarin. " Gimana kondisi mama saya dok ? " tanya Andrew tepat di sebelah dokter Ando " Ibu Anda baik - baik saja dan beliau sudah melewati masa kritisnya dan tetaplah ajak berkomunikasi. Mungkin sebentar lagi beliau akan bangun, tapi usahakan untuk tidak membebani pikiran beliau. " Andrew tersenyum bahagia mendengar ucapan dokter. Dia bergegas mengenggam tangan mamanya . " Selamat pagi Ma, Andrew temenin mama disini " " Kalau begitu saya permisi dulu, nanti jika butuh sesuatu bisa hubungi suster " kata Ando. " Terimakasih dok , oh iya dimana sekarang dokter Vanya ?" " Saya belum sempat mengucapkan terimakasih, karena sudah meluangkan waktu untuk menemani mama saya kemarin ". tanya Andrew " Dokter Vanya sekarang sedang dalam perjalanan ke Singapore. Dia akan bertugas disana selama beberapa bulan ke depan " jawab Ando. " Oh iya... perkenalkan, saya dokter Ando yang menangani mama Anda sekaligus papa anda juga. Memang beberapa kali saya meminta tolong kepada dokter Vanya untuk membantu pemeriksaan selama saya tidak disini " ucap Ando sambil mengulurkan tangan. Andrew menjabat uluran tangan Ando " saya Andrew Wilson " " Gimana kondisi papa saja dok ? " " Sebaiknya kita bicara di luar " kata Ando sambil bergegas keluar dari kamar tersebut Ando menghela nafas dan berusaha menjawab pertanyaan Andrew, " Hanya keajaiban yang bisa menyelamatkan papa anda, karena selama beberapa hari ini belum ada perubahan apa - apa. Beliau sepertinya terlalu terlelap dalam tidurnya. " " Tolong lakukan apapun dok untuk kesembuhan papa saya akan bayar berapapun biayanya " ucap Andrew dengan sorot mata sedih Ando mengangguk dan berkata : " Saya akan berusaha semaximalnya, saya permisi dulu, jangan sungkan - sungkan untuk menghubungi saya " jawab Ando dan berlalu. Andrew yang masih tertegun menyandarkan badannya di tembok, mengharapkan keajaiban untuk kesembuhan mama dan papanya.Pikirannya menjadi kalut dan sedih lagi. Jo yang melihat hal itu mendekati Andrew, " Tuan muda baik - baik saja , ada yang bisa saya bantu ?" Andrew tak menjawab dan dia masuk ke kamar inap mamanya. Di dalam dia hanya duduk kembali mengingat semua kejadian itu dan berharap dia tidak melakukan hal ceroboh yang menyakiti kedua orang tuanya. Baru kali ini dia merasakan kesedihan, merasakan kesepian tanpa omelan dan bentakan papanya. Mungkin dia merasa lebih baik di marahi papanya, setidaknya dia tau kalau beliau sehat dan tidak terbaring tanpa daya seperti sekarang. Sepintas dia memikirkan Vanya, belum sempat berterimakasih ternyata Vanya sudah pindah tugas. Andrew memandang ponselnya dan melihat no Vanya. Niat ingin menghubungi, tapi dia urungkan. Karena bik Surti sudah menyiapkan sarapan untuk Andrew. " Sarapan dulu den, tadi bibik masak nasi goreng kesukaan aden. Ini juga ada salad dan jus buah . Silahkan " Andrew hanya mengangguk dan mulai menyantap sarapannya. * Di sisi lain Sam yang sudah berkutat dengan tugas kantor, mengecek semua laporan yang ada, karena walau bagaimana pun, dia belum bisa sepenuhnya menyerahkan tanggung jawab kepada Tuan Muda nya. Tok tok suara ketukan pintu terdengar, tanpa melepas pandangannya pada kertas - kertas yang di tangannya, Sam menyuruh masuk . " Tuan Sam... ini beberapa berkas dari perusahaan yang di Singapore, sepertinya ada beberapa kendala dengan proyek disana " . Seketika Sam menatap sekretarisnya yang baru masuk dan memberi laporan. " Apa kendalanya ? " " Ini hard copy nya Tuan dan ini data dari perusahaan S yang mensuplay alat - alat disana " kata Hellen sambil menata kertas - kertas di atas meja dekat sofa dan menyodorkan iPad yang dia bawa. Meja Sam penuh dengan file - file penting, jadi Hellen menaruh kertas - kertas di meja sofa supaya tidak tercampur. Sam beranjak dari kursinya menuju sofa dan mengecek ipad. Bertepatan dengan ponselnya berdering " Selamat pagi Tuan Muda " sapanya " Aku ke kantor sekarang " kata Andrew " Baik Tuan Muda " jawab Sam dan Andrew mematikan sambungan telfon. * Saat sampai Andrew langsung turun di depan lobby dan Jo sang bodyguard membukakan pintu untuk Tuan Muda nya sambil mengamati keadaan sekitar. Security yang melihat Tuan Muda memasuki gedung bergegas membungkuk memberi hormat dan menyapa. Tapi Andrew hanya menatap ke depan dan Jo yang membalas dengan anggukan. Sesampainya di dalam rungan CEO, Andrew langsung melepas jas dan duduk di kursi CEO. Kursi yang dulu di tempati papanya dan enggan untuk ia datangi. Sekarang tapuk pimpinan dan semua tanggung jawab ada di pundaknya. Entah kenapa sebersit dia mengingat kejadian kemarin saat ia keluar dari kamar mandi rawat inap mamanya dengan hanya memakai handuk di pinggang, dan membuat Vanya kaget dan salah tingkah. Dia pikir itu sangat mengemaskan " Hmmm.... " Mendadak Andrew tersenyum mengingat hal itu. Dia bimbang, antara menelpon Vanya atau mengirim pesan. Sekedar untuk mengucapkan terimakasih karena sudah membantu menjaga mamanya. Akhirnya dia pun mengirim pesan, siapa tau Vanya sedang sibuk dan tidak bisa menerima telpon. to be continue ?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD