Malam belum juga berganti, kini Andrew duduk di sofa ruang rawat inap Mamanya. Tiba - tiba pintu kamar dibuka dan dia tersadar dari lamunannya . Sam yang membuka pintu dan langsung menhampiri Andrew.
"Tuan Muda, bagaimana keadaanmu dan bagaimana keadaan Tuan Besar dan Nyonya Anna ?" tanya Sam resah
Andrew masih terdiam dan belum menjawab. Sam pun menghampiri Nyonya Anna dan melihat pergerakan monitor yang terhubung dengan badannya. Memang tadi setelah Andrew ngobrol dengan dokter, Andrew segera menghubungi Sam dan mengatakan kalo mamanya sudah berada di ruang rawat inap. Jadi Sam berniat menjenguk.
Sam adalah orang kepercayaan keluarganya, dia yang membantu mengurus Papanya menjalankan bisnis. Karena dekatnya bisa dikatakan seperti saudara, karena usia Sam hanya beberapa th di atasnya.
" Mama belum sadar dan papa masih di ruang intensive " jawab Andrew sambil mengambil tas berisi pakaiannya yang diserahkan Sam, karena tadi Andrew juga menyuruh Sam untuk membawakan benerapa pakaian, laptop dan file - file keperluan untuk pekerjaan.
Entahlah ini sebuah pertanda baik ato apa...tiba - tiba saja Andrew mengatakan kalo dia akan belajar mengelola perusahaan. Dan dia mau mempelajarinya malam ini juga. Dia tidak mau membuang waktunya lagi. Demi kebahagiaan orang tuanya dan demi kelangsungan hidup karyawan yang bekerja padanya selama ini.
Perusahaan Raksasa DANNA WILSON milik David Wilson yang merupakan Papanya sendiri bergerak di bidang property dan transportasi seperti penyewaan jet pribadi, helikopter dan lainnya. Dan semuanya sedang super sibuk dengan jadwal proyek yang sempat terbengkalai beberapa waktu lalu akibat Papanya drop karena kasus Andrew.
" Aku mau bersihkan diri, kamu jaga mama dan siapkan apa saja yang perlu aku pelajari. Entahlahh.... semoga apa yang aku kerjakan bisa membuat Mama Papa bangga padaku dan mereka akan terbangun " ucapnya gontai sambil berlalu ke kamar mandi.
Sam yang masih belum yakin dengan ucapan Andrew segera menata laptop dan berkas - berkas lainnya. Apakah kecelakaan yang membentur kepalanya, sehingga dia menjadi orang yang berbeda ? karena seingatnya tadi siang saat Tuan Besar menelpon Andrew masih dibawah pengaruh alkohol dan dia bahkan ngawur bicaranya. Dan setiap ketemu Sam, Andrew juga tidak pernah berbicara padanya kecuali kalau dia sedang dalam masalah. Seperti waktu lalu saat dia di grebek karena kedapatan menerima kiriman narkona. Dan Samlah yang mengurus semua bersama pengacara, sehingga Andrew di tetapkan sebagai saksi karena belum sepenjhnya terbukti namun harus tetap wajib lapor. Dan Papanya lah yang memberikan jaminan. Tapi ternyata Andrew malah kabur dan masih sibuk mabuk -mabukan dan foya - foya. Itu semua diketahui dari pemakaian kartu kreditnya dan dimana dia bertransaksi. Itulah yang membuat Papanya bisa menemukan persembunyian Andrew dan mengajaknya pulang.
Selesai menata semua berkas, Sam duduk santai di sofa dan masih berfikir dengan sikap baru Tuan Muda nya itu.
Andrew yang sudah selesai mandi dan sudah bersih keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambut dengan handuk kecil, berjalan menghampiri Sam.
" Apa yang harus aku pelajari ? " tanyanya pada Sam
dan Andrew pun membuka laptop dan memberikan berkas - berkas yang bisa Andrew pelajari.
Sebenarnya Andrew sangat pintar dan dia juga lulusan Management Bisnis yang handal. Hanya saja gaya hidup dan sikapnya yang manja selama ini membuatnya cuek dan tidak peduli. Karena dia bisa melakukan apapun tanpa harus repot - repot bekerja. Mungkin kecelakaan tadi membuatnya sadar dan dia teringat pesan terakhir Papanya sebelum kritis dan sekarang dinyatakan Koma.
Malampun semakin larut dan Sam pun mengakhiri sesi pembelajaran Andrew.
" Tuan muda,saya rasa cukup segitu dulu penjelasan dari saya. Sebaiknya Tuan istirahat dulu. Saya bisa lanjutkan besok atau Tuan bisa langsung mempelajarinya di kantor Senin depan. Tuan juga perlu memulihkan kondisi Tuan sendiri. Untuk perusahaan, selama 1 minggu kedepan belum ada jadwal penting, karena Tuan besar sudah menyelesaikan semuanya minggu kemarin. Dan Tuan Besar bilang kalau dia ingin meluangkan 1 minggu untuk Tuan Muda ". jelas Sam sambil merapikan berkas dan laptop.
Mendengar penjelasan Sam, Andrew meneteskan airmata dan menyeka nya. Dia kembali teringat di saat terakhir bersama Papa dan Mamanya. Dan Sam yang melihat itu menjadi sangat terharu dan sadar bahwa ANDREW SUDAH BERUBAH.
" Seharusnya aku menyadari ini lebih awal dan mendengarkan nasehat Papa. Jadi semua ini takkan terjadi. "
" Oh iya Tuan Muda, tadi pengacara Reno
mengatakan bahwa hari Senin jadwal sidang dan Tuan Muda harus hadir. Pak Reno juga mengatakan kalau dia sudah menemukan beberapa titik terang dan bukti - bukti dari fitnah kiriman itu. Jadi semoga nanti saat sidang semua terungkap. Saya permisi pulang dulu Tuan Muda "
kata Sam sambil menundukkan kepala memberi hormat dan bergegas keluar dengan membawa tas laptop dan berkas - berkas.
Andrew pun merenung sejenak tentang kasus yang menimpanya, semoga semuanya beres dan dia bisa fokus mengemban amanat kedua orang tuanya.
Andrew menghampiri Mama nya yang masih terbaring dan terlihat seperti tidur biasa. Wajah yang selalu menatapnya dengan penuh kasih sayang, kini hanya diam membisu.
" Ma... barusan aku sudah mulai mempelajari pekerjaam di kantor. Sam tadi datang, dia yang mengajariku.
Aku akan belajar bertanggung jawab dan menjadi kebanggaan Mama dan Papa. Ku mohon bangunlah Ma. " kata Andrew sedikit terisak.
Dibalik badannya yang kekar dan berandal selama ini ternyata ada sisi lembut dan sedang rapuh. Andrew sangat menyesal dengan segala sikapnya dulu, dia berharap pada keajaiban untuk kedua orang tuanya.
Setelah berbicara dengan Mamanya kini Andrew berjalan menuju tempat Papanya di rawat.Andrew hanya bisa melihat dari balik kaca, Papanya masih terbaring dengan kepala diperban dan banyak kabel - kabel di sekujur tubuh Papanya. Sungguh pemandangan yang sangat menyesakkan. Seandainya dia tadi siang tidak berdebat
dengan Papa nya, seandainya dia menuruti nasehat Papanya , seandainya dia tidak terjabak oleh fitnah itu, mungkin semua ini tidak akan terjadi.
" Aku akan menuruti nasehat Papa, aku akan melakukan apapun yang membuat Papa Mama bahagia.Cepatlah pulih Pa "
kata Andrew sambil menyentuh jendela pembatas ruangan Papanya.
Andrew pun kembali ke ruang rawat Mamanya. Dan dia merebahkan badannya di kasur yg terletak di samping jendela.
Kamar VVIP dengan fasilitas lengkap, sudah di atur menjadi sebuah kamar oleh Andrew, sehingga dia bisa menemani Mamanya setiap saat. Pandangannya jauh ke luar jendela, menatap kosong pada lalu lalang kendaraan di jalan. Tak berapa lama dia sudah tertidur dengan lelapnya.
Tanpa Andrew sadari seorang wanita berjas putih ditemani perawat masuk ke dalam kamar itu dan mengecek monitor dan semua alat - alat yang menempel pada tubuh Mama Anna. Memastikan semuanya bekerja dengan baik. Dia adalah dokter Vanya, dokter piket yang bertugas malam itu. Vanya membacakan tampilan layar monitor dan suster mencatatnya untuk dijadikan perbandingan tentang perkembangan pasien.
Vanya dan suster pun selesai dan beranjak keluar tapi saat dia berbalik badan....tiba - tiba Andrew mengigau dalam tidurnya. Wajahnya terlihat pucat dan dia mengatakan " Ma bangun Ma, bangun Pa...jangan tinggalin aku . Aku sayang Mama Papa .Bangun Pa... bangun Ma "
katanya sambil sedikit terisak.
Melihat hal itu, Vanya menghampiri ranjang Andrew dan menempelkan tangannya pada dahi Andrew. " Tidak panas " kata Vanya
Lalu Vanya mengambil selimut di ujung kasur dan menyelimuti tubuh Andrew sambil berucap , " semoga kedua orang tuamu segera pulih dan sadar "
Lalu Vanya keluar bersama suster. Dan Vanya menyuruh kepada suater jaga di depan kamar itu untuk selalu memantau keadaan pasien lewat cctv.