MAHKLUK BERAMBUT MERAH

1007 Words
"Jika kita tidak bisa menemukan penyihir itu. Maka biarkan dia sendiri yang menemui kita." Semua orang menatap bingung mendengar ucapan Zara. "Kita pancing dia keluar." tambahnya lagi. Century mulai paham dengan maksud ucapan Zara. "Maksudmu jika untuk menemukannya kita harus mengerahkan gelombang energi kita untuk membuatnya mendekati kita, begitu?" "Tepat sekali." jawab Zara sembari menjentikan jarinya yang panjang dan kurus. Rebecca sempat berfikir. "Aku rasa ide Zara ada bagusnya juga. Dengan kita mengerahkan gelombang energi kita dengan begitu mencolok. Penyihir itu pasti akan mendekat untuk menyerang kita." Mereka semua mengangguk setuju dengan usulan Zara. *** Sudah lebih dari 10 jam mereka menunggu ditempat itu. Namun tidak ada tanda-tanda kedatangan pembunuh itu. "Sudah cukup. Zara ayo kita pulang." ucap Zach beranjak dan menarik pelan tangan Zara, karena mulai bosan. "Tunggu sebentar lagi Zach, mungkin gelombang energimu belum terlalu mencolok, sebaiknya kau kerahkan lagi." "Aku sudah melakukannya semaksimal mungkin Zara. Lagi pula semua mahkluk tahu bahwa gelombang energi ku sangat mencolok tanpa harus aku kerahkan." jawabnya kesal. "Kalau begitu tunggu saja sebentar lagi. Jika masih tidak ada tanda-tanda kemunculan sipembunuh, maka kita bisa pindah." Zach mendesah letih. Dan itulah yang mereka lakukan. Menunggu ditengah hutan yang gelap, hanya mengandalkan sedikit cahaya dari rembulan. Sedangkan Rebecca dan yang lainnya juga sama menunggu kedatangan pembunuh, di pertengahan kota. Melihat wajah Zach yang nampak kesal Zara menghentikan penantiannya. "Sudahlah. Tidak ada siapapun atau apapun disini. Kita bisa melanjutkan pencarian lagi besok." ucap Zara seraya meregangkan tubuhnya yang pegal. "Ayo kita pulang," balas Zach sambil setengah menguap. Zara dan Zach menyeret tubuh pegal mereka untuk kembali kekerajaan. Mungkin mereka akan menyusun rencana lain. Hanya tinggal setengah kilometer lagi mereka sampai kekerajaan. Namun tiba-tiba Mereka mencium bau darah yang menyeruak diudara. Bau yang begitu segar dan terasa pekat. "Sepertinya telah terjadi pembunuhan disekitar sini." ucap Zach segera berlari mencari sumber bau itu seperti anak panah yang melesat. Lalu Zach menangkap gelombang energi yang mendadak muncul. Gelombang energi itu menakutkan. Sama kuatnya dengan gelombang energi milik Zach namun juga terasa lebih pekat dan konstan. Tekanannya nyaris membuat Zara terasa sesak, seakan menegaskan kata 'Berbahaya' meskipun tanpa suara. ("Ini bukan gelombang energi vampir, aku yakin itu. Namun ada kemiripan aneh, yang sulit untuk didefinisikan pada gelombang energinya dan gelombang energi vampir.") gumam Zach. Gelombang energi itu semakin terasa saat bersamaan dengan munculnya kabut hitam yang menghalangi pandangan mereka dari seoarang anak remaja yang tergeletak tak berdaya, tapi remaja itu sepertinya masih hidup. "Zach dan pemilik darah abadi berada disini rupannya. Mahkluk yang sejak lama ingin kuhabisi karena telah membunuh kakakku. Dan kali ini kalian mengganggu kesenanganku." Suara perempuan yang lembut mengalun mendadak terdengar. Perhatian mereka teralihkan pada sipemilik suara. Dia adalah seorang gadis remaja yang cantik, menurut standar siapapun. Rambutnya berwarna merah dan dipotong berantakan sepundak. Matanya besar berwarna merah seperti langit senja dikala matahari terbenam. Dan tangannya ditumbuhi sepuluh kuku panjang berkilat yang tampak sekeras baja. "Siapa yang kau maksud, aku tidak pernah ingat dengan mahkluk yang pernah kuhabisi?" "Veronica," kau membakarnya sampai menjadi abu. "b*****h itu memang pantas mati." saut Zach dengan wajah sinisnya seakan membunuh Veronica adalah perbuatan yang baik baginya. Zara merasakan aura yang aneh dari si rambut merah karena tatapannya yang menghitam. Kuku-kukunya berubah semakin panjang. Namun lamunannya terbuyarkan saat mendengar suara berat Zach yang menyuruhnya membawa remaja malang itu segera pergi untuk diobati. "Zara pergilah, selamatkan anak malang ini. Cepat !!" ucap Zach setengah berbisik datar pada Zara. "Aku tidak mau konsentrasi ku itu terbuyarkan karena bau darahnya." "Tapi ...." "Pergi. Wanita ini biar aku yang menghadapinya. Sepertinya wanita inilah yang ingin membalas dendam pada kita." ucap Zach menatap sirambut merah dengan tajam. Zara tidak punya pilihan lain. Dia harus membawa anak malang sebelum terlambat. Namun sebelum Zara melangkah pergi. Dia sempat menoleh kebelakang dan menyaksikan Zach yang telah bertarung dengan gadis itu. Gerakan keduanya sangat luar biasa cepat. Setiap serangan Zach memang lebih akurat, namun tak bisa dipungkiri bahwa serangan sirambut merah itu juga lebih cepat darinya. Pertarungan itu bisa berakhir dengan hasil yang tak bisa diprediksi. Karena peluang keduanya untuk kalah sama besar. "Zara ! Pergi !" ucap Zach membentaknya keras. Zara seketika langsung tersadar dan bergegas menyeret anak malang itu untuk segera diobati. Zara setengah berlari saat membawa anak malang itu menuju istana. Hanya tinggal seratus meter lagi ketika Zara mulai merasakan gelombang energi yang membuat sensasinya tidak nyaman. Zara nyaris mengerang frustasi karena berada didalam situasi yang genting. Zara menghentikan langkahnya dalam kebimbangan. Otaknya sedang memutuskan apa yang harus dia lakukan saat pemilik gelombang energi datang. Perlahan sosok wanita keluar dari bayang-bayang. Zara membulatkan matanya saat menyaksikan bahwa wanita yang berada dihadapannya ini adalah wanita yang sama yang sedang bertarung dengan Zach tadi. Sirambut merah, gumamnya pelan. Zara menatapnya bingung. Jika sirambut merah ada disini, lalu bagaimana dengan Zach saat ini. Apa Zach sudah terbunuh? pikirnya. Zara menggeleng kuat untuk melenyapkan pikiran buruk itu. Tidak, tidak mungkin ... Zach tidak mungkin mati semudah itu ... "Mencari suamimu?" ucap wanita itu tersenyum mengejek. "Dimana dia? Apa yang kau lakukan padanya?" tanya Zara menatapnya tajam. "Dia sudah mati ..." ucap sirambut merah dengan menunjukan baju yang tadi dikenakan Zach yang sudah caruk maruk. Zara menatap pedih kebaju yang dilemparkan sirambut merah padanya. "Tidak mungkin !! Kau ..." Zara menatapnya murka sampai matanya mengeluarkan api kemarahan. Tangannya mengenggam erat baju itu. Dengan kecepatan penuh Zara menerjang sirambut merah. Mencoba mengalihkan kesedihannya karena kematian Zach. Dengan menjadikan dendam salah satu tujuannya. Zara menarik kasar rambutnya kebelakang, tangan yang satunya lagi mengunci pergerakan tangannya sampai wanita itu meringis kesakitan. Zara mengeluarkan pedang beracunnya namun belum sempat pedang itu tertancap ke tubuh wanita itu. Sirambut merah itu membalik tubuhnya dan menerjang Zara dengan kekuatan penuh sampai Zara memuntahkan darah dari mulutnya. Lalu sirambut merah tidak menunda kesempatan itu untuk menyerang Zara, dia mencakar tubuh Zara menggunakan kuku tajamnya sampai Zara terkapar tak berdaya. "Cih, ternyata membunuhmu jauh lebih mudah dibanding suamimu tadi." ucap sirambut merah tersenyum angkuh. Lalu dengan waktu sepersekian detik tubuh Zara telah hilang dibawa mahkluk misterius. Sirambut merah menggeram marah melihat itu. "Siapa yang berani mengganggu kesenanganku ..." ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD