ZARA POV
***
Aku mengerjapkan mataku perlahan. Sensasi pusing yang teramat sangat begitu menyiksaku. Tubuhku terasa kaku. Sudah berapa lama aku pingsan? Aku mulai mengumpulkan semua kesadaran ku dan mengedarkan pandanganku keseluruh tempat ini, sembari masih memegang kepalaku yang masih terasa sakit.
"Zara ... Kau sudah sadar?"
Aku mengangkat wajahku, melihat sosok yang sedang berdiri dihadapanku ini. "Alger," gumamku pelan. Aku menatapnya bingung.
"Dimana aku?"
"Kau berada dikerajaan ayahmu Zara. Setidaknya kau akan aman disini."
Kerajaan?
"Zach." seketika pikiran ku teringat padanya. Bagaimana keadaan nya? Dimana dia sekarang?. Aku segera beranjak untuk mencari suamiku. Namun Alger segera menahan tubuhku yang akan ambruk.
"Ah, sial ... Bahkan untuk berdiri saja aku tidak sanggup." makiku kesal.
"Zara apa yang kau lakukan, kau masih sangat lemah."
"Aku harus mencari Zach, lepaskan aku Alger. Aku harus segera menemuinya."
Aku terus memberontak dari cekalan Alger yang terus menahanku.
"HENTIKAN ZARA, ZACH SUDAH TIADA ..."
Teriak Alger begitu menusuk hatiku. Aku menggeleng kuat. "Tidak ... Aku tidak percaya Alger, aku akan melihatnya dan memastikannya sendiri. Zach tidak mungkin meninggalkanku. Pasti ada yang salah."
"Aku mengerti perasaanmu Zara,"
"Tidak ... Kau tidak mengerti Alger, aku sangat mencintainya. Aku tidak akan membiarkan dia mati,"
Aku tahu maksud Alger hanya untuk membuatku lebih baik, aku tidak seharusnya sekasar itu padanya. Namun aku membutuhkan seseorang untuk disalahkan, untuk menjadi bahan pelampiasan emosiku.
"Jika kau ingin melihatnya kau tidak perlu susah payah mencarinya. Kau lihat saja kedalam mataku." Alger menundukan sedikit tubuhnya, mensejajarkan matanya dengan mataku.
Aku baru ingat bahwa Alger memiliki kemampuan khusus untuk membiarkan orang lain mengintip, apa yang sudah dilihatnya. Sesuatu yang sangat jernih dan begitu jelas, seperti menonton sebuah film, dengan dirimu sebagai bintang utamanya.
Alger menatapku dengan begitu dalam. Seakan menelan diriku untuk masuk kedalamnya. Hanya dalam waktu sepersekian detik aku merasa tubuhku luluh menjadi udara atau cairan. Aku merasa menjadi seperti roh yang bergentayangan, yang menyelinap masuk kedalam penglihatan Alger.
Awalnya aku tidak tahu dimana aku. Namun aku langsung tahu bahwa aku sedang berada dihutan tempat aku dan Zach berburu penyihir waktu itu. Aku mengedarkan pandanganku keseluruh hutan itu, lalu pandanganku jatuh pada sosok pria yang jatuh tertelungkup dibawah pohon. Tubuh polosnya dipenuh dengan luka akibat cakaran. Dan yang membuatku merasa mual, terdapat luka robekan yang menganga dibagian punggungnya. Darahnya mengalir deras disana. Dari postur tubuhnya aku sudah menyadari siapa orang itu.
Zach ...
Aku nyaris berteriak saat mendekat kearahnya dan memastikan bahwa memang itu adalah dirinya. Namun aku tidak bisa mengeluarkan suara sedikitpun. Bahkan untuk menyentuhnya saja aku tidak bisa. Aku ingin sekali berteriak memanggil namanya. Namun tidak bisa, aku hanya bisa melihat apa yang Alger lihat. Aku tidak bisa melakukan yang lebih dari itu.
Namun sepertinya Alger membalik tubuh Zach. Sehingga aku tidak perlu repot-repot melakukannya.
Aku melihat mata Zach yang tertutup rapat. Namun cairan merah kehitaman mengalir dari sudut mulutnya. Sebuah pisau keperakan tertancap didadanya.
Lagi lagi aku tidak bisa berteriak. Meskipun sangat ingin.
Zach .... Zach....
Itu terngaung berkali-kali dalam pikiranku. Seakan dengan mengatakan itu aku bisa membawa Zach kembali kekehidupan.
Tidak ...
Zach adalah separuh jiwaku, Zach adalah darahku. Jika dia tidak ada Bagaimana aku melanjutkan kehidupan ini.
Kenyataan yang begitu pahit ini memukulku. Menyingkirkan dari semua ketidakpercayaan yang sebelumnya kurasakan. Bukti sudah terlihat jelas didepan mataku. Apa lagi yang harus kulakukan untuk menyangkal bahwa Zach telah tiada?
Dan sebelum aku sempat meratapi lebih jauh. Aku mendadak tersentak. Aku bisa merasakan tubuhku kembali. Aku bisa merasakan panca indraku. Dan aku bisa bernafas dan bergerak.
Sepertinya aku sudah kembali. Aku sudah keluar dari penglihatan Alger.
"Kau sudah percaya Sekarang?"
Aku tidak berkomentar. Aku hanya menatap kosong. Aku bisa merasakan Alger meletakan tangannya dibahuku. Mungkin maksudnya mencoba untuk menenangkanku. Segalanya tentang Zach terngiang dikepalaku. Rasanya begitu menyiksa.
Alger memelukku dengan erat saat melihat air mataku yang mengalir deras. Aku menumpahkan semua kesedihan yang melandaku. Tubuhku bergetar karena isakan tangisku. Aku masih belum sanggup menghadapi kenyataan ini. Aku belum siap untuk kehilangannya.
"Menangislah Zara, menangislah ... Tapi setelah ini kumohon jangan pernah menangis lagi. Aku tidak sanggup melihatmu seperti ini."
Aku mendengar dengan jelas gumaman Alger. Namun dalam kondisiku saat ini, aku sedang tidak ingin mendengar apapun.
Satu-satunya yang ingin kulakukan adalah membunuh sirambut merah yang menyerang kami. Menjadikan dendam Satu-satunya pelarianku dari kesedihan yang menimpaku. Mahkluk itu telah mengambil separuh hidupku.
"Kau bisa membalaskan dendammu nanti Zara ... Saat kondisi mu sudah benar-benar pulih," ucap Alger seakan mengerti dengan apa yang kupikirkan barusan.
"Untuk saat ini kau tidak boleh kemana-mana. Bahkan ke Flourenc sekalipun. Disana sangat berbahaya bagimu. Raina sedang melakukan aksi balas dendam pada kerajaan Flourenc. Bahkan Rebecca dan yang lainnya sekalipun sedang dalam bahaya saat ini."
"Raina?"
ucapku membeo dan menatap Alger penuh pertanyaan.
"Ya, namanya Raina. Dia adalah adik dari Veronica yang telah dibunuh oleh Zach saat menyelamatkan mu dulu. Raina memiliki kekuatan yang luar biasa hebat dan sihirnya seperti tak tertandingi. Raina juga memiliki kemampuan melacak bahkan dia bisa membunuh tanpa menyentuh. Raina adalah penyihir yang berbahaya."
Tekadku tidaklah goyah sama sekali meski telah mendengar penuturan dari Alger tentang Raina yang begitu hebat. Bagiku dia hanyalah mahkluk jahat yang tidak pantas hidup. Aku akan membunuhnya bagaimanapun caranya.
"Bagaimana dengan Rebecca dan yang lainnya Sekarang?"
setelah sekian lama akhirnya aku mengeluarkan suara.
"Mereka akan baik-baik saja selama tameng dari sihir Century masih melindungi mereka. Namun jika tameng itu hancur maka tidak bisa menjamin bahwa mereka akan baik-baik saja. Raina pasti tidak akan membuang-buang waktu untuk melewatkan kesempatan itu."
"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanyaku mulai gusar. "Apa tidak ada kelemahan Raina? pasti ada sesuatu yang bisa untuk menghancurkannya," tambahku lagi seakan menuntut jawaban dari Alger.
Alger menggeleng lemah. Aku langsung mengerti maksudnya itu. Hanya ada jalan buntu. Aku bahkan belum bisa menghadapi Erios kini ditambah lagi harus menghadapi iblis betina seperti Raina ...
***
Muara akar hutan dibalik sepi
Jeritan jangkrik memanggil datangnya hujan
Daun-daun malam terasa begitu suram.
Malam ini.
Bulan seakan enggan menampakkan dirinya.
Dan bintang-bintang pun sembunyi dibalik secehan awan yang hitam.
Cakrawala malam pun terasa mencekam sepi.
Yang kedengaran hanyalah hembusan angin yang tertiup kencang.
Diranjang kebesarannya, Zara meringkuk dibalik selimut. Angin malam yang begitu kencang membuat jendela kacanya membunyikan suara bising. Tirai berterbangan terkena hembusan angin itu. Lalu tanpa Zara sadari, ada sesosok mahkluk yang berjalan didalam kegelapan kamarnya. Yang hanya memiliki cahaya remang.
Zara tidak menyadarinya karena telah lelap dalam tidurnya. Sosok itu menatapnya dengan tatapan kerinduan. Tatapan penuh cinta dan kasih sayang. Dengan perlahan sosok itu sudah berada didekat Zara, dia menggerakan tangannya menyelusuri bentuk wajah Zara. Mengelus lembut bibir Zara terlihat pucat dan sedikit kering. Lalu tanpa berfikir panjang, sosok itu mendekatkan wajahnya pada wajah Zara dan mengecup bibirnya, menyesap kelembutan bibir itu secara perlahan dan penuh perasaan.
Zara mengerutkan keningnya saat merasakan sesuatu yang menempel pada bibirnya. Lalu dia membuka matanya yang masih terasa berat secara perlahan. Zara menangkap sosok yang begitu familiar baginya. Sosok yang begitu ia rindukan. Sosok yang sangat dia cintai bahkan sampai saat ini rasa itu selalu ada, tidak akan pernah tergantikan oleh siapapun.
Dan pada saat semua kesadaran Zara pulih, Zara segera bangkit dan tidak melihat sosok itu lagi. Matanya mengedar mencari kesetiap sudut ruangan, namun tidak ada apapun. Bahkan jejaknya sedikitpun tidak ada.
Zach.
Zach.
"Apa itu tadi Zach?" gumam Zara yang merasa yakin dengan apa yang dilihatnya.
Zara berlari melihat dari jendela kamarnya, namun tidak menemukan apapun. Lalu dia berbalik keluar kamarnya. Siapa tahu dia mendapatkan petunjuk. Namun tetap sama seperti tadi, tidak ada apapun disana.
ZACH.....
Zara berteriak memanggil nama suaminya. Namun tidak ada sautan apapun, hanya terdengar suara jangkrik dan hembusan angin malam. Zara kembali berteriak sampai membuat kehebohan pada seluruh penghuni istana.
Alger dan Ratu Anna berlari menemui Zara dengan wajah khawatir mereka.
"Zara, ada apa?" tanya Alger memegang kedua bahunya.
"Alger, ibu ... Tadi aku melihat Zach dikamarku. Dia datang menemuiku. Dia masih hidup, aku sangat yakin bahwa itu tadi adalah suamiku." ucap Zara antusias.
"Zara, mungkin kau hanya bermimpi. Zach tidak mungkin bangkit dari kematiannya. Sekarang tidurlah kembali, tidak ada apapun disini."
"Benar nak, tidurlah kembali. Kau harus banyak beristirahat." saut Ratu Anna mengelus rambut Zara.
Zara menggeleng kuat. "Tidak ibu, percayalah padaku. Aku sangat yakin bahwa tadi itu nyata. Zach menemuiku, dia berada dikamarku. Aku ...."
Zara tidak mampu meneruskan ucapannya. Tenggorokannya seakan tercekat. Kata-kata yang akan keluar dari mulutnya tertahan begitu saja.
"Baiklah aku akan kembali kekamarku." ucapnya dengan menunduk lesu. Zara berjalan perlahan menuju kamarnya. Didalam benaknya sangatlah yakin bahwa yang dilihatnya tadi itu benar.
Tapi Zara tidak punya bukti untuk meyakinkan ibunya. Zara tidak ingin ibunya bersedih karena dia.
("Zach, jika itu benar kau! Kenapa kau pergi? Kenapa kau hanya menemuiku sebentar? Tapi jika itu memang mimpi, aku harap aku tidak perlu bangun lagi. Aku ingin tertidur lebih lama agar bisa selalu bersamanya.") lirih Zara begitu pilu. Air matanya kembali mengalir tanpa bisa dicegah. Zara bahkan kesulitan untuk kembali memejamkan matanya. Betapa dia sangat merindukan suaminya yang sangat dia cintai.
Zara hanya terdiam menatap kosong, bagai raga yang tak tersambung nyawa. Saat seluruh hatinya telah dibawa pergi oleh angin malam.
"Malam..
Peluklah aku meski dalam kelammu
Biarkan ak terlelap sejenak
Meski ada airmata yg menetes," lirihnya sembari memejamkan mata dengan paksa, sampai Benar-benar kembali terlelap dalam mimpinya.
Bahkan didalam mimpinya pun tidak ada ketenangan. Dimimpinya Zara melihat Zach yang tidak berdaya berada dibawah kekuasaan wanita iblis. Zara kembali berteriak saat melihat Zach yang akan dicabik-cabik oleh segerombolan mahkluk buas lainnya.
ZACH ...
Suara teriakannya membangunkan Dirinya dari mimpi buruk itu. Tanpa terasa pagi telah datang begitu cepat. Dan entah sejak kapan Alger telah berada dikamar Zara.
"Zara, kau bermimpi buruk lagi?" tanya Alger sembari memberikan segelas air putih padanya.
Zara mengangguk lemah dan menerima gelas itu, menenggak air yang ada didalamnya sampai tandas.
"Alger, aku harus pergi menemui Rebecca." ucap Zara menyibakkan selimutnya dan beranjak untuk membersihkan dirinya.
Namun langkahnya terhenti saat tangan Alger menahannya.
"Untuk apa Zara? Disana sangat berbahaya, Raina sedang berkeliaran mencari kesempatan kapan saja untuk menangkapmu." ucap Alger lembut, mencoba untuk membujuk Zara agar mengurungkan niatnya. Namun tekad Zara tidaklah goyah. Dia tetap akan menemui Rebecca Bagaimana pun caranya.
"Aku tidak bisa berdiam diri seperti pengecut Alger. Aku harus melakukan apapun yang aku bisa untuk melindungi dimensi kita dari iblis yang bernama Raina. Aku tidak akan membiarkan dia melakukan tindakan semaunya. Dia harus dihukum karena kejahannya." ucap Zara datar, dengan aura dingin yang mencekam.
"Tidak Zara. Kau tidak mengerti ..."
"Kau yang tidak mengerti Alger ... Kau bahkan tidak tahu Bagaimana rasanya kehilangan. Aku sudah kehilangan suamiku. Dan Sekarang aku harus menghukum mahkluk yang telah merenggut nya dariku. Dia harus membayar setiap perbuatannya. Meski balas dendam tidak akan membuat Zach kembali padaku, tapi setidaknya dengan cara itulah aku bisa melampiaskan semua luka dan kesedihan yang kurasakan." ucapnya tegas dengan tatapan tajam.
Alger bahkan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Semua upayanya untuk membuat Zara mengurungkan niatnya hanyalah sebuah kesia-sia an. Zara akan tetap pada tekadnya yang berbahaya. Alger akhirnya menghela nafas panjang sebagai tanda tidak memiliki pilihan lain, namun dia juga tidak bisa membiarkan Zara pergi sendirian dalam bahaya.
"Kalau begitu aku ikut denganmu. Mungkin aku memang tidak tahu Bagaimana rasanya kehilangan, tapi aku rasa kau juga tidak tahu rasanya mencemaskan orang yang dicintai Meski orang itu tidak akan pernah menjadi miliknya." saut Alger dengan ucapan yang keluar begitu saja. Ucapan yang memang dari dalam hatinya. Kini mendadak keluar tanpa bisa dicegah.
Namun Zara tidak begitu memperdulikan ucapan Alger. Dipikirkannya hanya ada balas dendam atas kematian suaminya. Zara mencoba mengalihkan kesedihannya dengan menjadikan balas dendam sebagai Satu-satunya tujuan.
****