LILY ELF

1978 Words
BECCA. REBECCA .... Pekik Zara mencari keberadaan Rebecca dan yang lainnya di seluruh sudut istana. Istana itu nampak kacau seperti tak berpenghuni. Mayat para prajurit kerajaan berserakan dimana-mana. Nampaknya telah terjadi pembantaian di kerajaan itu. Namun Zara tidak menemukan petunjuk apapun mengenai keberadaan Rebecca dan yang lainnya. Dimana Mereka? Zara memasuki ruangan pribadi Rebecca, mencoba mencari sebuah petunjuk disana. Namun sama seperti sebelumnya, tidak ada apapun disana. Hanya ruangan yang berantakan seperti tak terurus. Lalu pandangan Zara tiba-tiba tertuju pada sesuatu dipermukaan dinding yang ada disebelah cermin Rebecca. "Alger, lihatlah." Alger menatap apa yang ditunjuk oleh Zara. Matanya menyipit seakan menatap sesuatu yang tidak begitu nampak. Sebuah cahaya ungu yang akan segera memudar. Namun siapapun masih bisa merasakan kelembaban disana. "Ada yang baru saja memasuki celah antar dimensi ke hutan ilusi. Residu gelombang energinya masih sangat terasa dan sangat terdeteksi," ucap Alger sembari menyentuh permukaan itu dan merasakannya. "Kau benar!! Apa mungkin itu mereka?" tanya Zara seakan tidak sabar. "Mungkin ya, mungkin juga tidak. Kita tidak bisa memastikannya saat ini. Karena bisa saja yang baru saja memasuki celah adalah Raina atau penyihir lainya." "Tapi kita harus memastikannya sendiri Alger, kita harus pergi kesana dan melihatnya," saut Zara mantap. Alger mengangguk pelan. Seakan tidak berdaya untuk menolak keinginan Zara. "Baiklah, kita akan mencobanya." Alger segera membuka kembali celah itu untuk berpindah dimensi kehutan ilusi. Dengan cepat seakan tidak sabar, Zara melangkah maju beberapa langkah sebelum akhirnya lenyap begitu saja diudara kosong. Tubuhnya telah berpindah dimensi dengan begitu cepat meninggalkan Alger dibelakangnya. Tanpa pikir panjang Alger segera menyusul Zara, dia tidak ingin sampai kehilangan jejak. Mereka sudah berpindah kehutan ilusi. Dimana tempatnya para monster yang pernah Zara dan Zach datangi. Suasana disana nampak sepi, lebih sepi dari sebelumnya. Mereka terus berjalan dengan langkah waspada sampai kekedalaman hutan. "Zara hati-hati ..." Baru saja Alger memperingati, Zara telah terjebak di lumpur penghisap. Aaaaaaaaa Zara tersenak kaget saat melihat tubuhnya perlahan terbenam dilumpur itu. Lumpur penghisap yang mengerikan disertai bau busuk. "Zara, jangan bergerak. Jika tidak kau akan semakin tenggelam," ucap Alger segera mencari sesuatu untuk menolong Zara. Alger mengambil ranting panjang yang cukup tebal dan melemparkannya kearah Zara. Dengan sigap Zara menangkap ranting itu. Alger segera menariknya keluar dari sana. Meski sangat sulit namun akhirnya Zara berhasil keluar dari lumpur penghisap itu. "Ah, sial ... Bajuku jadi kotor. Aku harus membersihkannya." Zara segera melangkah menuju perairan terdekat. Alger sendiri hanya mengikutinya dari belakang. Namun baru beberapa langkah, mereka merasakan aura yang tidak enak. Seperti ada sesuatu yang sedang mengintai mereka. Mereka menatap waspada kesekitar. Berjalan dengan langkah pelan, penuh kehati-hatian. Srakkkk Suara samar yang berasal dari pepohonan yang pendek membuat mereka saling bertukar pandang. Zara mengeluarkan pedangnya perlahan untuk bersiap jika ada yang menyerang mereka kapan saja. Srakkkk Srakkkk Suara itu terdengar lagi. Kali ini lebih jelas. Alger mengibaskan semak-semak disekitar tempat itu. Namun tidak menemukan apapun. Lalu tiba-tiba .... Klakkk Sebuah ranting menarik kaki Alger yang tidak sengaja menginjak sebuah jebakan disana. Tubuh Alger terikat diatas pohon dengan kaki diatas dan kepala dibawah. Jeratan itu begitu kuat, hingga Alger kesulitan untuk melepaskan diri. "Alger ... Bertahanlah aku akan menolongmu," ucap Zara segera menebas ranting itu dengan sekuat tenaga. Sehingga membuat Alget jatuh terhempas ketanah. "Auh ... Punggungku," ringis Alger menahan punggungnya. "Sepertinya ada yang sengaja melakukan ini," ucap Zara sembari membantu Alger berdiri. Bughh Auuhhhhhh Alger melemparkan pedangnya kesumber suara yang dicurigainya sejak tadi. Mengenai baju seorang wanita dan membuatnya tertancap dipohon. Seorang gadis bertubuh kurus, berwajah oval dengan bola mata bulat, serta warna mata yang biru seperti air laut. Untuk sekilas gadis itu terlihat cantik dengan auranya sendiri. Namun hal itu tidak membuat Alger terpesona dengannya. "Siapa kau?" tanya Alger menatap wanita itu tajam. "Lepaskan aku ..." teriak wanita itu. "Katakan dulu siapa kau? Dan apa yang kau lakukan disini?" "Lily, namaku Lily," ucapnya terbata. "Siapa kau? Apa kau penyihir?" tanya Zara menyipitkan matanya. "Tidak, aku bukan penyihir. Aku Elf. Lihatlah, telingaku sedikit luncip dan panjang." "Elf?" ucap Alger membeo. Elf merupakan ras yang diasingkan. Mereka memiliki rupa seperti manusia, namun dengan telinga yang runcing dan umur yang lebih panjang. Elf sendiri tidak memiliki sihir atau kekuatan apapun. Namun mereka cukup pintar dalam melakukan penjebakan. Zara segera mencabut pedang yang tertancap di baju Lily. "Apa yang kau lakukan disini?" tanya Zara menatapnya seakan meneliti. Tidak ada hal yang berbahaya dari gadis ini. Dia terlihat lugu dan polos. "Sesuai dengan Ras ku, aku diasingkan. Aku sendiri tidak tahu apa kesalahanku. Tapi ibuku bilang karena kami terlalu lemah, di wilayah kami yang paling lemah akan dibunuh, begitupun yang terlalu kuat." "Untuk apa menanyainya Zara. Lebih baik kita bunuh saja karena telah menyusahkan kita." ucap Alger mengacungkan pedangnya keleher Lily. "Tidak Alger, sepertinya kita akan membutuhkan dia untuk sumber informasi. Katakan padaku, apa kau pernah melihat beberapa mahkluk penghisap darah lewat sini. Satu wanita dewasa. Dua laki-laki?" Lily nampak berfikir, mencoba mengorek ingatannya. Lalu kemudian dia mengangguk cepat. Zara tersenyum senang melihat itu. "Aku rasa aku pernah melihat mereka!!" "Benarkah? Dimana?" tanya Zara antusias. "Aku hanya melihat mereka melewati tempat ini, dan menuju ke utara. Setelah itu aku tidak tahu lagi." ucapnya menatap takut melihat Alger yang sedari tadi menatapnya tajam. "Jangan coba-coba berbohong kutu kecil," "Apaa ... Kau bilang Aku kutu?" bentak Lily secara reflex saat harga dirinya dijatuhkan. Lily membusungkan dadanya. Kali ini dia berani menatap Alger dengan tatapan permusuhan. "Ya, kau memang kutu. Kutu kecil yang tidak berguna." "TARIK KEMBALI UCAPANMU ...." pekik Lily dengan suara nyaring yang memekakkan telinga, bahkan dedaunan dihutan itu runtuh akibat suara Lily yang terdengar sangat nyaring itu. Zara dan Alger menutup telinga mereka rapat-rapat. Jika tidak maka gendang telinga mereka bisa pecah. Zara menatap takjub dengan kemampuan tersembunyi gadis ini. Meski hanya mengandalkan suara keras. Namun dengan suarannya itu bisa merobohkan musuh. Mereka bahkan hampir terhuyung kebelakang akibat teriakan itu. **** "Kau yakin disini tempatnya Lily?" tanya Zara menyipitkan matanya pada suatu tempat yang gelap. "Aku sangat yakin, aku melihat mereka memasuki celah ini," ucapnya menunjuk celah berwarna ungu gelap. "Kalau begitu tunggu apa lagi ! Ayo kita masuk," Zara melangkah duluan memasuki celah itu. Meninggalkan Lily dan Alger yang masih bergeming ditempatnya. Lily menunjukan raut ketidak sukaannya pada Alger secara terang-terangan. Alger menatapnya sekilas lalu melangkah untuk menyusul Zara memasuki celah itu. Namun baru saja ia melangkah, Lily dengan sengaja menjulurkan kakinya, membuat Alger jatuh tejerembab ditanah. Brukkk Lily segera kabur menyusul Zara dengan langkah cepat, karena takut terkena amukan Alger. LILYYYYY ...... Lily berlari kecil sembari terkekeh geli melihat wajah Alger yang menggeram kesal. Zara menghentikan langkahnya saat melihat Century yang sedang kesakitan sembari menahan dadanya. Namun hanya ada Century sendiri disana. Zara segera berlari mendekatinya. CENTURY "Apa yang terjadi? Dimana Rebecca dan Miki?" "Mereka pergi keistana Raina, Rebecca menyadari kedatanganmu dia sengaja menyuruh ku menunggumu disini. Namun ada beberapa monster tadi yang menyerangku." "Dimana istana Raina?" "Ayo, ikuti aku," ucap Century dengan berjalan tersaruk-saruk. Brakkkkkkkkkk Crashhhhhhhh ...... Zara terbelalak kaget saat melihat Century yang tadi menuntun mereka ambruk ketanah dengan bergelimang darah. Lalu pandangan nya menatap bingung melihat Rebecca yang datang dengan disusul oleh Miki, dan yang membuatnya semakin kaget, saat melihat Century berada dibelakang mereka. "Century, kau??" "Ya, dia Century yang asli. Sedangkan yang bersamamu tadi adalah anak buah Raina." ucap Rebecca tegas. "Becca, apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Zara bingung. "Raina telah mengambil alih kerajaan Flourenc. Dia mengubahnya menjadi kerajaan kegelapan. Kita harus menghancurkan sihir hitam yang dibuatnya untuk mengendalikan pikiran para kaum kita. Dan sumbernya hanya berada di kastilnya sendiri. Dibalik lembah hitam." "Kalau begitu kita harus segera menghancurkan sihir hitam itu," ucap Zara mantap. "Benar. Namun tempat itu dijaga oleh naga hitam penjaga gerbang kastil." "Kau tahu darimana Lily?" "Aku pernah kesana waktu itu. Dan aku tahu jalan pintas menuju ketempat itu," ucap Lily bersungguh-sungguh. "Ayo, ikuti aku." Lily berjalan terlebih dahulu untuk memimpin perjalanan. "Oh sial, ini buruk," ucap Lily menghentikan langkahnya. Mereka semuapun menatap heran. Namun keheranan itu langsung hilang saat melihat arah pandangan Lily. Seekor naga hitam telah menghadang Mereka, seolah tahu tentang kedatangan mereka. "Apa yang harus kita lakukan?" "Kita tidak punya pilihan. Meski mundur sekalipun, Naga itu akan mengejar kita. Naga itu tidak akan melepaskan kita," ucap Lily sedikit takut. Lily berjalan mundur dan menenggelamkan tubuhnya dibelakang punggung Alger. "Hey, apa yang kau lakukan," ucap Alger merasa risih. "Aku ketakutan, sebaiknya kau hadapi naga itu dan lindungi aku." "Apa? Melindungimu? Aku lebih suka mengumpankanmu pada naga itu, dari pada menghabiskan tenaga untuk melindungimu." sarkasnya. Lily sendiri menggerutu kesal dengan tingkah Alger yang seakan memiliki dendam tersendiri padanya. Karena sibuk berdebat, Lily dan Alger bahkan tidak menyadari Zara dan Rebecca yang mulai menyerang naga itu. Alger segera mengambil pedangnya dan ikut serta dalam penyerangan itu. Sementara Miki mulai memanggil beberapa monster untuk membantu mereka. Sangat sulit melakukan serangan tanpa adanya sihir. Namun dengan kerja sama, mereka akan dengan mudah menghabisi naga hitam itu. Zara telah beberapa kali menghunuskan pedangnya pada naga itu. Namun herannya naga itu seakan tidak terpengaruh oleh racun yang ada diujung pedangnya. Naga itu terlihat mengamuk karena terlalu banyak serangan yang bertubi-tubi. Dengan keadaan yang tidak siap, Alger terkena semburan api yang keluar dari mulut naga itu. Api yang begitu hitam dan pekat membuat Alger menggelepar Karena kepanasan. ALGER ... Pekik Zara menghentikan serangannya untuk menolong Alger. Zara segera berlari kearahnya. "Alger, tahanlah sebentar. Aku akan menolongmu," ucap Zara segera mengarahkan kedua tangannya ditubuh Alger yang terkena semburan itu Dengan penuh konsentrasi. Tidak butuh waktu lama, munculah api dari telapak tangan Zara, dengan perlahan Zara menyapu keseluruh tubuh Alger. Sepertinya api penyembuh itu bekerja cukup lama. Dan Zara mengalihkan perhatian nya saat melihat Rebecca yang sudah kewalahan melawan naga itu. Zara sedang diliputi kebimbangan saat ini. "Zara, pergilah bantu Rebecca. Biar aku yang akan mengobati Alger." ucap Lily seakan mengerti situasi itu. "Kau bisa melakukannya Lily?" tanya Zara serius. "Ya, aku bisa. Percayakan saja padaku," ucapnya bersungguh-sungguh. Alger sendiri menyipitkan matanta menatap Lily dengan keraguan yang nampak jelas. Tanpa menunggu lagi. Zara segera membantu Rebecca dan kembali kemedan pertempuran. "Hey, kau bilang ingin mengobatiku?" ucap Alger menghentikan langkah Lily yang ikut beranjak darinya. Lily menghentikan langkahnya dan menatapnya malas. "Aku akan mengambil bahannya dulu kau tidak usah cerewet," sautnya ketus. Seakan melakukannya dengan sangat terpaksa. Hanya butuh waktu sebentar Lily telah kembali membawa beberapa helai batang tumbuhan. Untuk mengobati Alger yang terluka. Namun alger sendiri tidak mengerti dengan apa yang baru saja dia lakukan. "Untuk apa kau membawa itu?" "Ck, sudah diam. Kau cerewet sekali. Mau aku obati atau tidak." Lily mematahkan batang tumbuhan itu menjadi beberapa bagian. Lalu mengoleskan getah yang keluar dari tumbuhan itu keseluruh tubuh Alger yang terkena semburan api. "Jika terjadi sesuatu pada tubuhku. Maka aku akan melakukan hal yang sama pula padamu." Lily seakan tersulut emosi mendengar penuturan Alger. Dengan sengaja Lily menekan kasar luka ditubuh Alger. Membuat Alger meringis kesakitan. "Hey, pelan-pelan. Kau sengaja ingin membunuhku ya?" ucap Alger menarik tangan Lily, membuat Lily mencondongkan tubuhnya begitu dekat dengan Alger. Namun Lily menatapnya dengan kesal. Berbeda dengan Alger yang malah terlihat gugup sendiri. Tatapan Lily yang polos membuat Alger seakan memiliki gejolak tersendiri didalam dirinya. Dengan kasar Alger menjauh kan tubuh Lily dari hadapannya. Membuat Lily setengah terhuyung kebelakang. "Dasar tidak tahu terimakasih," maki Lily kesal. Alger mengalihkan perhatiannya dengan melihat pertarungan yang cukup sengit melibatkan Zara melawan naga hitam yang nampak mengerikan. Untungnya Miki melakukan tugasnya dengan baik, monster yang dia panggil datang silih berganti tiada henti menyerang naga itu bertubi-tubi. Menggantikan posisi Rebecca yang akurasinya mulai melemah. Serangan dari Zara, membuat naga itu mulai menyerang asal karena terlalu banyak luka ditubuhnya. Melihat naga itu yang mulai limbung, Zara tidak menyia- nyiakan kesempatan untuk kembali menghunuskan pedangnya. Kali ini tepat mengenai kepalanya sampai pedang Zara tertancap dalam. Zara segera melompat dari tubuh naga itu yang mulai ambruk ketanah. Dalam waktu sepersekian detik naga itu mati dengan mata terbelalak. Hal itu menimbulkan kelegaan didalam dirinya. Melihat Zara yang baik-baik saja, baginya sudah cukup. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD