KECEWA ZARA

1052 Words
Zach Mata Zara terbuka lebar saat melihat sosok yang muncul dihadapannya. Pedang yang tadinya ia genggam erat kini terlepas begitu saja. Wajahnya nampak terperangah tak percaya melihat sang suami kini hadir didepan matanya. Namun yang membuat Zara heran, raut wajah Zach yang nampak datar tak berekspresi sedikitpun. Seolah tidak mengenalnya sama sekali. "Zach, kau masih hidup. Apa yang ...." Zara mendekati untuk memeluknya. Namun sosok wanita yang muncul dibelakangnya segera menghalangi pandangannya dan membuatnya menghentikan ucapannya. Wanita itu nampak bergelayut manja ditubuh suaminya. Membuat mata Zara berkilat marah, namun amarah itu segera sirna berganti dengan kekecewaan saat melihat tangan suaminya melingkar dipinggang wanita itu. Seakan mereka dengan sengaja memamerkan kemesraan mereka pada Zara. Zara menatap tangan Zach yang menyentuh wanita itu dengan pandangan iri, muak dan tersenyum miris. "Zach, apa yang terjadi padamu. Kenapa kau bersama wanita itu." ucap Zara dengan suara lemah dan pandangan sendu. Wanita itu adalah Raina. Yang telah menyerang mereka untuk melakukan pembalasan atas kematian Veronica, kakaknya. Raina tertawa keras seakan mengejek Zara yang kebingungan dengan situasi disana. Sementara Alger mulai menggeram marah dengan sikap Zach yang menyakiti perasaan Zara. "Zach sayangku, katakan padaku siapa ja**ng ini." ucap Raina sengaja memprovokasi Zara. "Aku tidak mengenalnya. Kalaupun aku mengenalnya, aku tidak akan pernah tertarik padanya." ucap Zach datar tanpa ekspresi. Zara semakin terperangah dibuatnya. Bagaimana bisa setelah melakukan banyak hal, bahkan mereka baru saja menikah Zach bisa melupakannya secepat itu. "Zach. Kenapa kau tidak mengingatku, aku istrimu Zach. Kenapa kau bisa lupa?" tanya Zara dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Perasaan Zara begitu remuk, tenggorokannya seakan tercekat. Begitu menyakitinya. "Istri? Aku tidak berminat memiliki istri seorang peri lemah sepertimu. Aku adalah mahkluk penghisap darah yang kuat. Dan harus memiliki istri yang setara denganku. Kau hanyalah mahkluk tidak berguna yang berharap ingin menjadi istriku. Cih, jangan bermimpi." sarkasnya dengan begitu kasar. Raina tertawa keras seakan mengejek Zara yang terdiam tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Begitu perih perasaan yang selama ini selalu dia berikan hanya untuk pria yang ada dihadapannya, namun kini perasaan itu seakan dihancurkan sampai berkeping-keping. "Berengsek .... Beraninya kau mengatakan itu pada Zara. Dasar kau mahkluk tidak tahu diri. Kau sama sekali tidak pantas menerima cinta dan ketulusan dari Zara." maki Alger dengan wajahnya yang merah karena amarah yang memuncak. Tangannya mengepal kuat, seakan bersiap-siap melayangkan kepalan itu diwajah Zach. Namun hal itu diurungkannya saat melihat tangan Zara yang menahannya. Zara menggeleng lemah seakan memberi isyarat padanya agar tidak melakukan hal itu. "Jika kau tidak mengenalnya, bagaimana denganku Zach. Apa kau juga lupa dengan kakakmu." ucap Rebecca memajukan tubuhnya mendekati Zach. Rebecca menatapnya tajam dengan auranya tersendiri. Zach menatapnya sekilas lalu membuang wajahnya. "Tentu aku ingat denganmu. Tapi aku muak memanggilmu dengan sebutan kakak. Kau adalah kakak tidak berguna bagiku, kau juga lemah. Kemampuanmu sendiri sangat jauh dibawahku. Aku malah tidak yakin selama ini bahwa kau adalah kakak kandungku. Para leluhur kerajaan Flourenc pastinya malu memiliki keturunan seperti dirimu." jawabnya datar dan dingin. Raina kembali tertawa mendengar penuturan Zach, seolah saat itu Zach sedang mengeluarkan lelucon yang sangat lucu. Rebecca sendiri hanya diam menatapnya penuh arti, bukannya tersinggung dengan ucapan adiknya itu. "Dasar wanita iblis. Apa yang kau lakukan pada suamiku sampai dia jadi Seperti itu." ucap Zara menatap Raina tajam dengan mata berkilat marah. Seakan dari telinganya sendiri menyemburkan asap karena terbakar amarah. "Suami? Sebaiknya kau buang kata suami yang terdengar menjijikan itu. Kau dengar sendiri dari mulut Zach bahwa dia tidak tertarik dengan peri lemah sepertimu. Selama ini dia tidak mencintaimu. Dia melakukannya karena mengambil keuntungan sendiri darimu, selama ini dia hanya merasa kesepian dan tidak memiliki teman tidur. Jadi dia memilihmu, sayangnya hal itu justru membuatmu jadi besar kepala." ucap Raina dengan pandangan jijik menatap Zara. Raina mengitari tubuh Zach dan memeluknya mesra, bahkan sesekali Raina mengecup rahang Zach yang terlihat tegas. "Sekarang Zach memilihku untuk menjadi teman tidurnya. Tentu karena aku jauh lebih berbakat darimu. Jadi, pergilah dari hidupnya jika kau masih ingin selamat. Jangan berani mendekati pangeranku lagi." ucap Raina penuh dengan ancaman. Zara sendiri tidak terusik dengan sikapnya yang sengaja menprovokasi sejak tadi. Zara hanya menatapnya dengan pandangan benci. Sedangkan Zach, tidak mengubah ekspresi nya sama sekali. Masih sama seperti tadi, datar dan kosong. Dengan penuh keberanian Zara mendekati Zach dan menatap wajahnya dari jarak yang cukup dekat. Zara seakan mendesak Zach untuk membalas tatapannya juga. Sedangkan Raina merasa jengkel dengan sikap Zara yang terlalu berani. "Katakan padaku Zach, bahwa kau tidak mencintaiku. Katakan padaku bahwa selama ini perasaanmu padaku hanyalah dusta. Katakan !!" Zara mendesaknya dengan pertanyaan yang bertubi-tubi, membuat Zach terdiam kaku. Sementara Zara tetap memperhatikan wajah Zach yang sepertinya menghindari untuk bertatapan langsung. "Aku tidak mencintaimu. Kau puas? Sekarang pergilah dari sini jika kau masih sayang dengan nyawamu. Jika tidak, maka setidaknya pikirkan yang lainnya yang akan menjadi korban kami selanjutnya." ucap Zach datar, dingin dan tatapan tajam. Zara tersenyum getir mendengarnya. Seolah ucapan yang keluar dari mulut Zach, merupakan petir dahsyat yang menyambarnya sehingga membuat perasaannya hancur sehancur hancurnya. "Baiklah ... Aku akan pergi. Kalau begitu Terimakasih untuk cinta yang begitu singkat. Meski hanyalah dusta namun aku pernah bahagia karena itu." ucapnya segera memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan kesedihan yang melandanya. Zara menghapus jejak-jejak air mata dan kesedihan diwajahnya. "Dan satu lagi. Aku hanya ingin mengatakan padamu, bahwa aku sangat senang Karena kau masih hidup. Meski kehidupanmu bukanlah untukku, namun aku senang masih bisa melihatmu." Zara segera berbalik berjalan cepat melangkah lebar dengan perasaan hancur. Rebecca dan yang lainnyapun ikut mengejar Zara yang telah jauh meninggalkan mereka. Yang tersisa hanyalah Alger yang masih bergeming ditempatnya. Menatap Zach dengan amarah dan pandangan penuh kebencian. "Sangat disayangkan Zara menangisi mahkluk sialan seperti dirimu. Hatinya sangatlah berharga jika hanya untuk bersedih karena dirimu. Setelah ini, jangan harap kau bisa kembali lagi padanya. Jika suatu hari nanti kau menyesal, lebih baik kau berendam dikubangan air matamu sendiri." Alger segera melangkah pergi setelah mengatakan kata pedas dan menusuk itu. "Aku tidak akan menyesal, aku tahu kalau kau menyukai wanita itu. Namun sayang sekali cintamu tak terbalaskan. Ck, menyedihkan." saut Zach dengan pandangan mengejek. Alger menghentikan langkahnya. Emosinya sekan kembali tersulut mendengar ucapan Zach. Namun sebisa mungkin ia tahan. "Saat ini perasaanku mungkin belum terbalaskan. Tapi siapa yang bisa menebak apa yang akan terjadi nanti. Seiring berjalannya waktu Zara pasti akan menerimaku," ucap Alger seolah sangat yakin dengan ucapannya itu, dan kembali meneruskan langkahnya yang sempat tertunda.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD