Zara ....
"Zara, kau mau kemana?" ujar Rebecca mencoba mengimbangi langkah kaki Zara yang berjalan cepat.
"Aku mau kembali," sautnya tanpa menoleh kearah Rebecca.
"Zara, tunggu,"
Rebecca menahan tangan Zara untuk menghentikannya.
"Kenapa kau menahanku Becca. Biarkan aku pergi."
"Jangan bodoh Zara. Dengarkan aku dulu !!"
Zara membalikan badanya menatap Rebecca dengan pandangan bertanya-tanya.
"Dengar. Kita tidak tahu apa yang terjadi pada Zach saat ini. Namun aku melihat ada keganjalan dari ekspresi wajahnya Zara. Aku sangat mengenal adikku itu."
"Apa maksudmu mengatakan hal itu Becca. Aku sudah menerimannya jika dia tidak menginginkanku." sela Zara memotong pembicaraan Rebecca. Zara sendiri tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Wajahnya nampak hampa dan pikiran nya kosong.
"Itulah yang ingin kubicarakan padamu. Aku rasa kau keliru menanggapi ini. Zach ... Aku yakin saat ini dia sedang merencanakan sesuatu, Zach tidak mungkin menyukai Raina si ratu iblis itu." ujarnya Rebecca dengan penuh keyakinannya. Rebecca sangat yakin dengan adiknya itu. Zach sangat menyayangi kakaknya, Meski mereka sering bertengkar.
"Rencana apa?" jawab Zara bingung.
"Aku sendiri tidak tahu. Namun yang jelas, kau tahu sendiri kerajaan Flourenc telah diambil alih oleh Raina. Mungkin Zach berencana akan merebutnya kembali." ujar Rebecca serius.
"Bagaimana kau bisa seyakin itu Rebecca. Kau lihat sendiri Bagaimana dia merendahkanku dihadapan Raina. Aku sendiri bisa melihat kebencian dimatanya."
"Percayalah padaku Zara, ini semua hanyalah motif Zach untuk melancarkan rencananya."
"Mungkin kau benar Becca. Namun saat ini aku tidak bisa memutuskan apapun. Aku butuh waktu untuk sendiri dulu." ujar Zara menunduk lesu.
"Aku mengerti Zara. Maka dari itu, kau jangan pulang dulu. Saat ini kita harus membantu Zach bagaimana pun caranya."
Zara kali ini nampak berfikir menimbang ucapan Rebecca. Namun tiap kali mengingat pria itu membuat luka dihati Zara kembali tergores.
"Zara ayo kita kembali ke kerajaan. Tidak ada gunannya kita disini." ujar Alger menengahi mereka. Alger menampilakn raut kekhawatirannya yang begitu nyata hingga nampak jelas terlihat oleh Lily yang sejak tadi memperhatikan sikapnya. Entah mengapa Lily merasa muak melihat itu. Seakan Alger adalah buaya yang mengambil kesempatan dalam situasi seperti ini.
Zara tidak menjawab. Masih begitu sibuk dengan pemikirannnya sendiri.
"Aku tidak akan memaksamu Zara,"
Kali ini Rebecca berucap lemah. "Kau punya hak untuk memutuskan apapun, namun sekali lagi aku akan mengingatkanmu. Setidaknya percayakan hatimu sendiri. Bagaimana perasaanmu, bagaimana kepercayaanmu pada cinta suamimu. Aku yakin kau bisa mempertimbangkannya dengan baik."
Rebecca segera pergi mendahului Zara, diiringi oleh Miki dan Century dibelakangnya.
"Tunggu !! Baiklah aku ikut." ucap Zara mantap.
Rebecca menaikan sudut bibirnya dan mengangguk lemah menanggapinya.
Merekapun kembali kekastil Raina untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi. Dengan langkah mengendap-endap, dia mencari celah untuk menyelinap masuk kedalam kastil itu.
Rebecca membulatkan matanya tak percaya melihat Zach yang bersikap begitu manis pada Raina. Kedekatan Mereka nampak jelas seperti sepasang kekasih yang saling mencintai.
"Cukup Becca !! Aku tidak tahan lagi melihat ini." ujar Zara membalikan badanya. Berlari bagaikan sebuah busur yang melesat cepat.
Rebecca bahkan tidak mampu lagi mencegahnya. Alger semakin geram seakan ingin meledak saat itu juga. Namun tangan Lily menahannya sekuat tenaga. Saat ini Alger sangat bergantung pada Lily. Jika sedikit saja Lily merenggangkan tangannya maka Alger akan membuat persembunyian mereka diketahui oleh Raina.
Lily sendiri merasa gugup karena bukan hanya menahan tangan Alger tapi kali ini memeluknya erat dari belakang. Hal itu juga membuat Alger terdiam kaku. Entah karena sudah merasa tenang atau merasakan hal lain saat tangan kecil itu melingkar ditubuhnya yang kekar.
Raina mulai merasa ada yang mengawasinya sejak tadi. Namun dia berpura-pura tidak tahu. Raina mencari kesetiap sudut, siapa yang telah berani menyelinap masuk kekastilnya.
Raina mengarahkan tangannya untuk membongkar tembok yang ada disudut kastil tersebut. Memperlihatkan sosok Rebecca dan yang lainnya sedang memata-matainya.
"Kurang ajar !! Beraninya kalian menginjakkan kaki kekastilku." amuknya dengan aura mengerikan. Mata Raina berkobar api kemarahan, karena kelancangan Rebecca. Tidak ada mahkluk manapun yang berani mengendap-endap didalam kastil nya. Karena siapapun yang berani masuk, maka tidak akan ada yang bisa keluar dengans selamat.
Raina mengelurkan sihir elemen yang ia miliki yang berbentuk angin dengan hembusan memutar yang mematikan. Siapapun yang masuk pusaran angin itu maka dia akan mati. Untungnya Rebecca telah mempelajari cara menghadapi sihir itu. Rebecca juga menuntun yang lainnya untuk mengikuti intruksi darinya agar terhindar dari pusaran angin itu.
"Kalian telah berani masuk kedalam kastilku. Maka kalian semua harus menjadi tumbalku." ujar Raina dengan seringai iblis.
Raina menyerang Rebecca dengan keahliannya dalam bertempur. Kecepatan dan keahlian Raina sangatlah hebat, hingga Rebecca kesulitan untuk mengimbanginya, meski telah dibantu oleh Alger, Miki dan Century. Namun dengan kelihaiannya Raina menangkis dan menyerang balik dengan mudah. Bahkan mahkluk yang dipanggil oleh Miki, dengan mudahnya Raina bunuh. Seakan menganggap itu hanyalah kutu kecil yang sangat mudah untuk dibasmi. Sedangkan serangan yang Alger berikan, mampu dengan mudah ia patahkan hanya dengan mengandalkan sebelah tangan.
Keadaan Rebecca dan Raina sangatlah berbeda jauh. Raina bahkan masih sangat segar bugar. Sementara Rebecca yang mulai melemah. Akurasinya sangat diragukan, serangannya pun terkesan asal-asalan. Sangat jauh kemungkinan bagi Rebecca untuk mengalahkan Raina yang kuat.
Zach sendiri hanya menatap kearah pertarungan itu dengan wajah datarnya. Seolah tidak terpengaruh sama sekali. Lalu Zach mendekati Raina secara perlahan dengan wajah dinginnya. Raina nampak senang karena menurutnya Zach akan membantunya lagi kali ini. Raina merasa bahwa Zach benar-benar
mencintai nya hingga rela melawan saudaranya sendiri demi membela dirinya.
Namun ternyata dia salah ....
Craaatttt
Zach menusuk Raina dengan menggunakan pisau perak yang telah ia genggam sebelumnya. Tusukan yang berlangsung dengan begitu cepat hingga membuat Raina tidak siap akan hal itu. Matanya terbelalak karena begitu kagetnya. Rasa sakit bercampur nyeri itu sangat terasa hingga ke ulu hatinya. Dia terlalu bodoh berpikir bahwa Zach memiliki perasaan terhadapnya. Seharusnya dia bersikap waspada.
"Zach,, kau ...!!"
Suara Raina tercekat, matanya terbelalak tidak menyangka dengan kejadian itu.
"Brengsekkk." Raina masih sempat mengumpat namun sayang dia tidak bisa melakukan lebih dari itu karena rasa sakitnya.
Raina menerjang tubuh Zach dengan kecepatan penuh hingga tubuhnya terpental jauh. Meski tusukan itu menggunakan pisau perak. namun tidak membuat Raina mati, karena tidak mengenai jantungnya. Entah karena Zach memang sengaja atau apa, yang jelas saat ini Raina terlihat berkali-kali lipat lebih mengerikan dari sebelumnya.
"Beraninya kau mengkhianatiku ...."