HARUS KEMBALI

1004 Words
Zachh ...... Pekik Zara memanggil suaminya yang masih berada didalam kastil. "Zara ayo keluar. Kastil ini akan segerah runtuh," ucap Alger menarik tangan Zara. Namun Zara menepisnya dan berlari menuju Zach yang masih tertinggal jauh. ZARA ... Alger menggeram kesal, sementara Lily menarik tangannya untuk segera keluar. Untungnya Alger tidak menolak dan mengikuti langkah Lily. Zara mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Zach. Namun Tidak ada apapun disana. ZACH .... "Aku disini Zara," sautnya keluar dari sebuah lorong rahasia dan berlari kearah Zara. Mereka segera mencari jalan untuk keluar dari kasti itu. Namun baru beberapa langkah, sebuah dinding penyangga disana runtuh hampir mengenai mereka, jika saja mereka tidak segera menghindar. "Sial .. Jalan keluar kita ditutup oleh reruntuhann ini," maki Zach dengan kepanikannya. "Apa tidak ada jalan lain?" Zach nampak berfikir sejenak, "Ada sebuah lorong dibawah tanah. Ayo kita kesana," ujar Zach menarik tangan Zara, membawanya melesat dengan cepat menuju lorong bawah tanah, dan akhirnya mereka berhasil keluar dari sana. Namun karena tempat keluar mereka berbeda Jadi mereka tidak menemukan Rebecca dan yang lainnya disana. *** Alger nampak gusar karena Zara tidak kunjung keluar dari kastil itu. Dan kini kastil itu telah hancur rata dengan tanah. "Alger. Kau mau kemana?" cegah Rebecca sembari menahan tangan Alger. Aku ingin mencari Zara," sautnya dengan menepis tangan Rebecca yang menahannya. "Tidak Alger kastil itu telah runtuh. Zach pasti sudah membawa Zara keluar lewat jalan lain." ujar Rebecca menjelaskan. Namun Alger masih belum bisa tenang sebelum melihat Zara dengan mata kepalannya. "Kenapa kau begitu mengkhawatirkan nya? Apa kau menyukainya!" ujar Lily seakan ingin mengatasi rasa penasaran nya. "Bukan urusanmu ! Sebaiknya kau diam. Jika tidak maka aku akan melampiaskan kekesalanku padamu," bentak Alger dengan tajam. "Baiklah Tuan arogan, aku diam. Kau puas !!" ujarnya dengan wajah sebal. Meski Lily sudah terbiasa diperlakukan seenaknya oleh sesama kaumnya. Namun kali ini Lily merasa begitu terbawa perasaan hingga dia jadi ikut emosi. "Lihatlah ...!!" pekik Lily antusias. "Lihat apa? Lihat bahwa ajalmu akan segera tiba. Aku tidak main-main dengan ucapanku Lily." sarkasnya. "Lihat yang ada dibelakangmu bodoh." Alger membalikan badanya melihat dari kejauhan Zara dan Zach berjalan kearah mereka dengan begitu santai. Alger tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya, dia sangat ingin memeluk wanita itu. Namun tatapan tajam Zach membuatnya mengurungkan niatnya itu. Alger hanya tersenyum penuh ironi dari kejauhan. Tentu hal itu tidak luput dari perhatian Lily, yang menatapnya sejak tadi. "Syukurlah kalian berdua selamat," ujar Rebecca tersenyum menatap mereka. Zara membalas senyuman itu dengan hangat. Lalu tatapan Rebecca beralih pada sesuatu yang ada ditangan Zach. "Sejak kapan kau memiliki pedang seperti itu Zach?" tanya Rebecca menunjuk pedang yang dipegangnya. "Aku mengambilnya dari kastil Raina. Karena benda inilah aku terpaksa bersandiwara didepan Raina untuk membenci kalian." "Kau melakukan semua ini hanya karena pedang itu." Rebecca menggeleng tidak percaya dengan tingkah Zach yang menurutnya konyol. "Ini bukan pedang biasa Becca. Lihatlah," Zach mengangkat pedang itu, menunjukan mata pedang yang berwarna biru kepada mereka semua. "Pedang bermata biru ini memiliki kekuatan sihir yang luar biasa hebat. Aku yakin dengan pedang ini, kita bisa membunuh Erios dengan mudah." "Jika benar Seperti itu. Kenapa Raina tidak menggunakannya saat menyerang kita," ucap Lily yang tiba-tiba bersuara. Namun pertanyaan nya cukup cerdas mewakili rasa penasaran mereka semua. "Aku sendiri tidak tahu. Namun aku rasa, itu semua karena Raina merasa begitu percaya diri. Dengan kekuatannya yang cukup hebat untuk menghadapi kita, jadi dia tidak membutuhkan pedang ini." "Mungkin saja! Sudahlah, ayo kita kembali kekerajaan sekarang. Kita harus melihat kondisi kerajaan kita," ucap Rebecca tegas. Mereka semua mengangguk setuju. Rebecca menggerakkan tangannya mencari celah untuk membuka portal kerajaan Flourenc. Dalam sekejap Rebecca berhasil membuat pusaran berbentuk bulat dengan cahaya ungu kebiruan. Mereka semua masuk satu persatu kedalam celah itu. Hanya tersisa Lily dan Rebecca. "Lily, ayo masuklah. Disini tidak aman bagimu." "Tidak Rebecca. Aku tidak punya siapapun Disana," jawabnya menunduk lesu. Memangnya dia siapa, kenapa dia harus ikut. Apalagi Alger terlihat begitu membencinya. Batinnya. "Siapa bilang kau tidak punya siapapun. Ada aku, Zara, dan yang lainnya disana. Kami semua temanmu. Ayolah jangan berfikir lagi," ucap Rebecca menarik tangan Lily memasuki pusaran itu. Lily tersentak kaget sampai tak bisa menolak keinginan Rebecca. Mereka semua akhirnya sampai kekerajaan Flourenc. Suasana disana nampak sudah berubah kembali semula. Cuaca yang tadinya terlihat dipenuhi awan gelap, kini telah hilang digantikan dengan cahaya matahari yang bersinar terang. Meski mereka para vampire tidak menyukai sinar matahari. Namun bagaimana pun juga sinar matahari sangat penting sebagai cahaya disiang hari. Mereka telah memasang semacam bangker besar yang transparan agar sinar matahari tidak langsung mengenai mereka. Para kaum Flourenc pun nampak sudah bersikap seperti biasanya. Tidak ada lagi gelagat semacam raga yang tak bernyawa. Rebecca tersenyum senang melihat hal itu. Dia merasa telah berhasil mensejahterakan kembali kaumnya. "Hanya tinggal satu mahkluk kegelapan lagi yang mengancam dimensi kita. ERIOS ... Sampai saat ini mungkin kita aman karena aku telah memasang dinding sihir pengaman keseluruh kerajaan kita, agar tidak bisa ditembus oleh mahkluk lain. Dan aku juga sudah menempatkan beberapa penjaga gerbang portal kita. Erios dan mahkluk kegelapan yang lainya tidak akan bisa masuk jika sihir itu masih bekerja," ucap Zach tegas. "Lalu sampai sejauh mana sihir itu akan bekerja Zach?" tanya Rebecca menuntut. "Aku tidak tahu Becca. Tapi aku berjanji akan terus memantaunya, tidak akan aku biarkan ada lagi mahkluk yang mengganggu ketentraman kita." "Zach benar. Sebelum anaknya lahir, kita harus menjaga portal kerajaan dengan ketat. Mahkluk kegelapan bisa menyerang kapan saja. Mereka akan mencari segala cara untuk mendapatkan tujuannya," saut Century yang diangguki oleh mereka semua. *** Lily berjalan menuju kamarnya untuk beristirahat. Namun saat dia membuka pintu, ternyata ada Alger didalam sana. Lily terjingkat kaget, untungnya Alger tidak menyadari kehadirannya. Alger berdiri memunggunginya, nampak sedang memperhatikan sesuatu dari jendela kamarnya. Lily melihat kearah pandangan Alger. "Rupanya dia sedang memperhatikan Zara sejak tadi," batin Lily. Entah mengapa ada rasa aneh yang bergejolak di dalam dirinya. Seperti tak suka melihat tatapan Alger yang seperti itu pada Zara. Lily menipiskan bibirnya. Entah kenapa hal itu membuatnya tersenyum miris. Sejak kapan dia seperduli ini pada seseorang, apa dia sudah mulai menyukai pria arogan itu? pikirnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD