Khazayn terdiam kaku. Matanya menatap kosong, sementara pikirannya melayang kemana-mana. Memikirkan semua kekacauan yang di sebabkan oleh kekejaman Erios. Dan tujuan dirinya dilahirkan.
Bukan hanya itu saja.
Dia bahkan masih sempat memikirkan Sera yang entah bagaimana keadaanya sekarang.
Sera... apa yang harus aku lakukan padanya?
"Ayo ikut aku. Akan aku tunjukan lagi padamu sesuatu," ucap Rebecca menarik tangan Khazayn untuk ikut dengannya. Tanpa ada perlawanan, Khazayn mengikuti langkah kaki Rebecca.
Matanya menangkap sosok yang sempat tadi dia lihat didalam penglihatan Alger. Wajah dan postur tubuh yang sangat mirip dengannya. Khazayn begitu kaget dan tidak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini.
"Orang yang kau lihat didalam penglihatan Alger adalah dia. Yaitu ayahmu," ucap Rebecca menunjuk kearah Zach yang masih belum mau membuka matanya.
Sontak Khazayn menatap nanar mata Rebecca dengan penuh kerutan didahinya. Menandakan banyaknya pertanyaan yang ingin dia lontarkan. Tapi lidahnya terasa keluh.
"Apa kau sudah percaya sekarang, Khazayn. Dimensi ini dalam bahaya besar. Jika tidak kita hentikan segera. Maka ... Habislah. Perjuangan orang tuamu sia-sia saja.
Pergilah temui gadis itu jika kau masih ingin menemuinya. Kau mungkin akan senang saat ini jika bersamanya. Tapi tidak dikemudian hari. Dimana dia akan mati, sementara kau akan tetap abadi. Kau akan hancur saat Sera meninggalkanmu. Karena cintamu padanya semakin lama akan semakin dalam. Segala sesuatu pada dirimu adalah tentangnya. Dan ketika dia pergi, segala sesuatu pada dirimu akan ikut lenyap.
Kau hanya akan menanggung cinta tanpa obyek pemuasan seperti itu, dan akan sulit bagimu untuk mengatasinya.
Bukan hanya itu saja. Kau akan menyaksikan betapa orang tua beserta keluarga mu ikut hancur saat melihatmu terpuruk nantinya. Seperti mayat hidup, lebih tepatnya.
Ketahuilah bahwa duniamu tidak sesederhana itu, Khazayn. Kau mempunyai keluarga yang lengkap. Begitu pula dengan gadis itu. Jika kau hancur, hidup mereka juga. Pikirkan hal itu, Khazayn.
Tapi ... Jika kau masih bersikeras ingin pergi maka pergilah Khazayn. Kami tidak akan melarangmu lagi kali ini."
Mendengar ucapan Rebecca membuat Khazayn terhenyak. Khazayn tahu bahwa Rebecca benar. Jika dia berubah menjadi mayat hidup maka dia akan menyakiti keluarganya. Dan bagaimana bisa dia meninggalkan tempat asalnya yang berada dalam bahaya itu begitu saja. Apa dia sejahat itu?
"Aku tidak akan pergi."
Mereka semuapun menoleh kearahnya. Ingin memastikan apakah pendengaran mereka salah.
"Aku akan melupakan Serafina. Dan membunuh Erios beserta pasukannya. Akan ku kembalikan dimensi ini ke wujud semula," ucap Khazayn tegas. Kini raut wajahnya penuh dengan ambisi dan nafsu ingin membunuh.
Mereka semuapun tersenyum bangga mendengarnya.
Zara pun mendekati anaknya dan memberikan pedang bermata biru yang dihadiahkan Zach untuknya.
"Ayahmu mengambil pedang ini dari Ratu iblis dan menghadiahkannya padamu. Kau bisa menggunakannya nanti, Khazayn."
Khazayn mengambil pedang dengan mata yang berkilauan diujungnya. Cahaya kebiruan dari pedang itu bersinar, ketika tangan Khazayn menyentuhnya. Seolah memang dialah pemilik pedang itu yang sesungguhnya.
"Sekarang kau sudah disini Khazayn. Persiapkan dirimu. Sementara aku akan kembali meminta bantuan pada para assassin dan beberapa pemimpin kerajaan beserta para dewan tertinggi untuk melawan Erios.
Tunggulah disini sampai aku kembali. Dan persiapkan diri kalian."
Setelah mengucapkan itu,
Rebecca langsung melesat menemui tujuannya.
"Apa aku ketinggalan sesuatu?"
Mereka pun menoleh kesumber suara dan melihat Alden yang tiba-tiba muncul dengan gaya superiornya.
"Alden? Kenapa kau baru kembali?" Tanya Zara bingung.
"Tanyakan saja pada anak bibi, kenapa meninggal kan aku begitu saja. Bersama wanita yang merepotkan !"
"Wanita? Siapa?"
"Dia pemburu iblis di dimensi manusia."
"Dan kau menyukainya?"
Sontak Alden terkejut mendengar nya. "Tidak bibi. Aku tidak tertarik sama sekali padanya."
"Kau yakin?"
"Huhhh ... Sudahlah bibi lupakan saja. Jadi ... Kapan kita akan menyerang."
"Kau serang saja Erios duluan. Nanti kami akan menyusul, jika kau mati jangan lupa beritahu kami," saut Alexis.
"Dasar konyol. Bagaimana aku bisa memberi tahu jika aku sudah mati. Kau ini bodoh atau apa?"
Mereka semuapun terkekeh dan menggeleng kepala melihat tingkah kedua bersaudara itu. Semuanya kini terasa lengkap saat Khazayn menapaki kakinya disana. Namun pandangan haru Zara berubah, ketika melihat Khazayn yang masih terlihat kosong.
"Khazayn.
Ayo ikut ibu."
Khazayn tidak menolak. Dengan patuhnya dia mengikuti langkah Zara yang mengajak nya ke suatu tempat.
"Lihatlah ..."
Zara menunjuk sebuah cermin yang dimiliki oleh Rebecca untuk melihat perkembangan situasi dikerajaannya. Khazayn pun menatapnya. Kerutan didahinya semakin dalam, saat melihat semua mahkluk yang ada disana bergerak seperti robot. Tidak memiliki ekspresi sama sekali. Mereka terlihat kosong, namun tetap bekerja menuruti perintah tuannya.
Disisi lain, beberapa wanita disiksa dengan keji. Mereka diperlakukan layaknya hewan. Beberapa dari monster disana nampak menikmati darah wanita dikerajaan itu. Ada pula yang menyetubuhinya dengan brutal. Pemandangan yang sangat menjijikan itu membuat Khazayn mual.
Dia pikir hanya dia yang memiliki sikap yang haus darah dan menghabisi mahkluk dengan cara yang mengerikan. Namun ternyata masih ada lagi yang lebih mengerikan dari dirinya sendiri.
"Itu adalah kerajaan mu. Kerajaan Florence, yang saat ini sedang dibawah pengaruh sihir Erios. Kaum kita dikendalikan oleh sihirnya. Sementara para wanita disana dia jadikan alat untuk meningkatkan kekuatan mereka.
Mereka sangat kejam Khazayn. Jika mereka berhasil menguasai seluruh dimensi ini. Maka ... Rencana mereka selanjutnya adalah dimensi manusia.
Ibu yakin kau juga tidak ingin hal itu sampai terjadi." ucap Zara begitu lembut ditelinga Khazayn.
"b******k.
Erios benar-benar brengsekk!!
Dia adalah pengecut manipulatif yang layak untuk dibantai.
Aku bersumpah akan mencabut jantungnya untuk kerajaanku, ibu. Akan kubuat dia mati dalam keadaan yang paling mengerikan.
Sudah cukup dia berkuasa disana. Kali ini ... Akan kubuat dia membayar semuanya !" Tukasnya dengan wajah memerah menahan amarah Yang akan segera dia ledakan dihadapan Erios sang Raja iblis.
Zara mengangguk setuju.
"Ibu percaya kau bisa melakukan nya, Khazayn. Kau sudah ditakdirkan menjadi penguasa dimensi ini selanjutnya."
Setelah mengatakan itu, Zara Lalu pergi meninggalkan Khazayn yang masih sibuk dengan cermin itu.
Saat ini, Khazayn mencari tahu dimana keberadaan Erios melalui cermin itu. Dan mencari tahu dimana titik kelemahannya. Agar bisa membunuh Erios dengan cara yang menyakitkan. Namun baru saja dia menyelusuri nya. Tiba-tiba saja, pintu terbuka secara paksa. Menampilkan wajah Rebecca yang terlihat cemas dan juga tegang. Langkahnya nampak tegas.
Khazayn menatapnya bingung. Ada apa dengan Rebecca? Gelombang energinya, kenapa terlihat berbeda? Apa yang terjadi padanya.
"Bibi? Apa yang terjadi?"
****