JEBAKAN

1002 Words
"Dimana Khazayn?" Tanya Rebecca dengan wajah cemas. Mereka semua pun menatap bingung. Ada apa dengan Rebecca. Rebecca terlihat sangat cemas. Disaat kondisi seperti ini, biasanya ada sesuatu yang cukup serius. Zara. "Khazayn ada diruanganmu. Dia sedang melihat perkembangan situasi kerajaan Florence, ada apa Becca apa terjadi sesuatu." Tanpa menjawab pertanyaan Zara, Rebecca langsung berlari menuju ruangannya. Sontak mereka pun mengikuti langkah Rebecca yang terburu-buru. Saat telah sampai di sana, Rebecca tidak menemukan siapapun. Khazayn tidak ada disana. Tapi Rebecca bisa merasakan adanya bekas gelombang energi lain disana. "Sial ... Ada gelombang energi lain disini. Sepertinya Khazayn telah dibawa oleh anak buah Erios untuk menjebaknya." Rebecca mengusap kasar wajahnya. Tangannya berkacak pinggang dengan nafas memburu. "Bagaimana kau tahu hal ini akan terjadi, Becca?" Tanya Zara. "Tentu saja Erios memiliki mata-matanya atau sebuah sihir untuk mendeteksi keberadaan Khazayn. Gelombang energi Khazayn yang sangat mencolok membuat siapapun bisa merasakan auranya. Aku sangat yakin, Erios sudah mengetahuinya. Kebodohanku, malah meninggalkan Khazayn tanpa memberinya peringatan." "Apa ?? Tidak. Kita tidak boleh membiarkan hal itu sampai terjadi." Ratu Anna begitu syok mendengar nya. Hingga memegangi dadanya. "Tenanglah Ratu. Aku akan menyusulnya." "Kami ikut, bibi." Saut Alexis dengan Alden secara bersamaan. Rebecca mengangguk setuju. "Kami pergi dulu." Mereka langsung melesat dengan cepat, satu persatu meninggalkan kerajaan untuk mencari keberadaan Khazayn, yang dibawa oleh anak buah Erios. ****** Mahkluk yang menyamar sebagai Rebecca itu membawa Khazayn kesebuah hutan yang begitu sunyi. Tak ada gemerisik suara dedaunan disana. Bahkan suara mendayu tiupan angin pun tidak ada. Khazayn mengedarkan pandangannya. Menatap awas kesekeliling tempat itu. Sementara mahkluk yang menyertai Rebecca itu telah menyunggingkan senyuman liciknya. Dia sengaja membiarkan Khazayn berjalan lebih dulu. Kuku tajam mahkluk itu mulai menjulur. Dari jarak beberapa kaki saja, mahkluk itu sudah siap untuk menyerang Khazayn. Tanpa menunggu lagi, mahkluk itu langsung merengsek maju, ingin menerjang tubuh Khazayn dari belakang. KRAKKKKkkkkk AAaaaaa Dengan prediksi serta kesigapannya, Khazayn berhasil menangkap kaki mahkluk itu dan mematahkannya, sehingga membuat mahkluk itu menjerit kesakitan. Rupanya Khazayn sudah menyadari siapa mahkluk itu. Hanya saja, Khazayn ingin melihat lebih jauh, siapa yang menyuruhnya dan apa tujuannya. Tatapan bringas Khazayn yang membuat siapapun merasa terintimidasi. Membuat mahkluk itu seketika bergetar ketakutan. Dia benar-benar tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa saat ini. "Kau pikir aku bodoh, huh ! Apa kau tidak tahu, bahwa aku bisa membaca pikiran. Katakan padaku siapa yang menyuruhmu !!" Ucap Khazayn sembari mencekik lehernya sampai tubuh mahkluk itu terangkat keatas. "Pa- pangeran ... Ampuni aku. Aku hanya b***k Erios. Dia ingin aku membunuhmu dengan mengubahku menjadi monster mengerikan," ucap mahkluk yang kini telah berubah kewujudnya semula. Sosok pria paruh baya yang terlihat menyedihkan. "Pangeran. Aku adalah kaum mu sendiri. Erios mengubahku menjadi monster serta mengendalikan pikiranku untuk membunuhmu. Sebaiknya, kau bunuh aku sekarang juga. Jika tidak, sebentar lagi aku merasa akan kembali berubah menjadi monster mengerikan. Hal itu akan sangat berbahaya bagimu. Cepat, ambil pedangmu dan bunuh aku. Dimensi ini tidak boleh kehilangan dirimu. Kau harus menyelamatkan seluruh kaum." Khazayn menajamkan instingnya mencari kebohongan pria itu. Namun dia tidak menemukannya. Lelaki paruh baya itu berkata jujur. Namun baru saja, Khazayn ingin mengangkat pedangnya, dia sudah merasakan bahwa lelaki itu sudah mulai berubah. Mulai dari bulu serta kuku tajam yang muncul secara tiba-tiba. Wajahnya juga mulai berubah menjadi sosok hewan buas yang memiliki taring panjang. Sosok hewan buas dengan ukuran tubuh yang besar, menyerupai srigala liar yang memiliki dua kepala. Sosok mengerikan itu kini sedang menatap Khazayn dengan bringas. Dan bersiap untuk menerkamnya. Mahkluk itu kini melompat untuk menerkam tubuh Khazayn. Tidak siap dengan serangan itu, membuat Khazayn memiringkan tubuhnya kesamping. Sehingga serangan itu meleset dan tidak mengenainya. Saat mahkluk itu kembali melompat kearahnya. Khazayn lebih siap kali ini, dan ikut menyerangnya. Hewan buas itu berhasil membuat luka yang menganga dipunggung Khazayn. Namun Khazayn tidak memperdulikan lukanya sama sekali. Api penyembuh dalam dirinya langsung keluar, mengobati lukanya. Dengan mata yang berkilat marah, Khazayn mengangkat pedangnya dan kembali menyerang hewan buas yang memiliki dua kepala itu. Dengan kecepatan nya, Khazayn berhasil menciptakan lubang besar, dari tancapan pedang nya ketubuh hewan itu. Dengan luka yang menganga, membuat hewan itu dua kali lipat lebih bringas dan menerjang Khazayn, sehingga tubuh Khazayn terhuyung dan menabrak pohon besar yang ada dibelakangnya. Tubuh Khazayn yang merasa remuk. Membuatnya kesulitan untuk beranjak dari sana. Sementara hewan itu telah bersiap-siap untuk kembali menerkamnya. Dan mencabik-cabik tubuhnya. Hewan itu telah bersiap untuk menyergap Khazayn. Khazayn kesulitan untuk menghindar kali ini. Tubuhnya terasa berat, dia sepertinya belum siap menerima jika mahkluk itu mencabik tubuhnya. Namun baru saja hewan itu melompat ke udara untuk menyergap Khazayn. Sebuah rantai besar dan panjang menahan hewan itu dan membuatnya jatuh tersungkur ditanah. "Yahhh ... Aku mendapatkanmu hewan sialan !" Suara Alden membuat Khazayn mengangkat wajahnya dan melihat Rebecca dan Alexis yang sedang bertarung melawan hewan itu. Sementara Alden mendekati Khazayn untuk membantunya berdiri. "Kau baik-baik saja?" Khazayn mengangguk. Dan kembali memasuki arena pertarungan. Dia tidak ingin mahkluk itu dikalahkan oleh orang lain, selain dirinya. Setelah api penyembuh selesai dengan tugasnya. Khazayn langsung mengangkat pedangnya dan bersiap menebas leher hewan itu. Rebecca dan Alexis langsung mundur, saat melihat Khazayn melawan hewan itu dengan brutal. Tanpa memakan banyak waktu lagi. Akhirnya Khazayn berhasil menancapkan pedangnya ketubuh hewan itu. Suara lolongan hewan buas itu terdengar memekakkan telinga. Mungkin akan sampai terdengar ditelinga Erios sendiri. Khazayn tidak menyia-nyiakan waktunya. Dia mencabut pedangnya dan kembali menacapkan disisi lainnya. Suara teriakan hewan itu seakan menjadi aluan melody yang indah terdengar ditelinga nya. Sampai akhirnya Khazayn kembali mengangkat pedangnya dan menebas leher hewan itu. Hewan buas itupun mati seketika. Dengan kondisi mengerikan. Yang tak ingin dilihat oleh siapapun. "Sudah cukup, Khazayn. Ayo kita kembali," ucap Rebecca lembut. Namun Khazayn masih bergeming ditempatnya dengan raut wajah tak terbaca oleh siapapun. "Apa yang mengganggu pikiran mu Khazayn?" "Bibi. Erios telah mengubah kaum Florence menjadi monster mengerikan. Dan hewan ini salah satunya. Jika aku menyerang mereka, itu sama saja aku membunuh kaum ku sendiri." Ada nada penyesalan dalam ucapannya. Khazayn begitu dilanda kebingungan. Dan baru kali ini dia memikirkan orang lain. Rebecca sendiri terdiam mencerna setiap ucapannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD