PENGORBANAN

1006 Words
"Hey... Kenapa jadi kakak yang bersedih," "Aku tidak sendih. Aku hanya membuatmu sadar agar lebih bersyukur karena kita memiliki nenek. Jika tidak, mungkin kita sudah hidup di jalanan sebagai gelandangan," ucapan Chesa membuat Yura tersenyum dan langsung memeluknya. "Iya. Dan aku senang kau ada disini, kak Chesa. Kau gadis pemberani. Entah sudah berapa pertarungan yang sudah kau hadapi demi melindungi kami. Aku sayang padamu, kak." "Sudah cukup ! Tubuhku gerah. Dan kau ... Sebaiknya mandi. Tubuhmu bau," ucap Chesa menutup hidungnya. Yura hanya terkekeh mendengarnya. *** "Alexis, kau terluka parah. Aku akan mengirimu pada bibi Zara. Dia akan mengobatimu," ucap Alden yang melihat Alexis begitu menyedihkan. Tubuhnya carut marut dengan luka menganga dimana-mana. Darah keluar bukan hanya dari tubuhnya, melainkan juga dari mulutnya sampai Alexis terbatuk-batuk karena tersedak darahnya sendiri. "Tidak Alden. Itu akan memakan banyak waktu. Lebih baik kau segera temui Khazayn untuk memperingatinya. Bahaya besar ada didepan kita... Jangan biarkan mereka menang." Alexis bersusah payah mengatakan itu sembari menahan sakit yang luar biasa ditubuhnya. "Tapi bagaimana denganmu? Kau... Kau terluka parah. Sebaiknya aku menolongmu dulu," Lagi-lagi Alexis menyela ucapan Alden. "Tidak Alden. Jika kau menolongku dulu, maka keadaannya akan semakin rumit. Lagi pula... Tidak ada lagi yang bisa menyelamatkanku. Lukaku teramat parah. Bibi Zara harus menyimpan kekuatan nya untuk mengobati kalian, jika kalian terluka. Cepatlah temui Khazayn untuk memperingatinya. Lebih baik terlambat menolongku dari pada terlambat menghentikan kejahatan mereka. Angkat pedangmu Alden, akhiri penderitaan ku sekarang juga !" Alexis meninggikan suaranya untuk membuat Alden sadar dengan yang dia katakan. Sebuah kebimbangan terpancar jelas diwajah Alden. Dia benar-benar dilanda kebingungan. Siapa dulu yang harus dia tolong. "Alden. Jangan bodoh ! Cepat lakukan, aku sudah tidak tahan lagi menahan sakit ini. Dan cepatlah temui Khazayn. Jangan sampai terlambat. Hanya ini yang bisa aku lakukan untuk menyelamatkan dimensi kita. Angkat pedangmu dan habisi aku sekarang juga, aku sudah tidak tahan lagi ! Setelah itu... Pergilah !" Dengan berat hati. Akhirnya Alden mengangguk. Matanya memerah dan mulai berkabut, menahan tetesan air yang akan segera meluncur ketika dia mengedipkan matanya. Alden tidak kuasa melihat Alexis kesakitan dan menderita seperti ini. Dia harus segera mengakhiri penderitaannya. Dengan getaran ditubuhnya. Alden mengangkat pedangnya. Matanya terpejam sebelum pedang itu dia tancapkan didada Alexis. Sebuah teriakan panjang menggema ditelinga nya. Begitu pilu dan menyiksa batin Alden. Setelah melakukan itu, Alden terduduk lemas. Dia tidak bisa lagi menahan air matanya. Saudara kembarnya telah pergi meninggalkan nya. Alden begitu terpukul. Berkali-kali dia memukul dadanya karena merasa begitu sakit. Alden kembali membuka matanya dan menghapus kasar air mata yang telah membasahi wajahnya. Kobaran api didalam dadanya menyeruak. Mata Alden seluruhnya menghitam. Segala macam amarah dan dendam kini terpancar jelas diwajahnya. Dia tidak akan membiarkan rencana jahat menang. Alden langsung bangkit dan melesat cepat, untuk menemui Khazayn. Dia harus mengatakan semuanya sebelum terlambat. Dia tidak ingin larut dalam penyesalan nya. **** Khazayn menatap nanar Sera yang selalu saja menggodanya. Mulai dari pakaian yang dia kenakan, juga dengan sikapnya. Sera juga kerap kali dengan beraninya mempertontonkan aset berharganya. Membuat Khazayn sedikit curiga. Apa yang terjadi pada gadis ini? Kenapa dia menjadi seperti ini? Batin Khazayn. Khazayn menahan hasratnya sekuat tenaga meski Sera terus saja dengan gencar menggodanya. Bagaimana pun juga didalam pikirannya saat ini hanyalah bibinya yang menghilang entah kemana. "Cukup Sera ! Kau akan membuatku hilang kendali nantinya," ucap Khazayn menahan geramannya. Namun hal itu membuat Sera semakin menyungging kan senyuman nakalnya. "Kenapa kau menahannya Khazayn. Bukankah kau menginginkan hal ini juga? Kau tidak bisa menyembunyikan nya, sayang. Aku bisa melihatnya dengan jelas," ucap Sera dengan nada sensual nya. "Aku sedang tidak ingin melakukannya Sera. Ada sesuatu yang sedang mengganggu pikiranku saat ini." Khazayn melepaskan tangan Sera yang melingkar dilehernya. Dan hal itu membuat Sera mengerucutkan bibirnya. "Apa aku tidak cantik? Kenapa kau menolakku, Khazayn !" "Tidak Sera. Bukan seperti itu...." "Lalu seperti apa? Kau tidak mencintaiku, Khazayn. Aku tidak berarti apapun untukmu !" Sera berucap sembari membalikkan tubuhnya membelakangi Khazayn. Dengan nada merajuk yang akan membuat Khazayn luluh. Namun Khazayn tidak bisa melihat senyuman licik terukir diwajah Sera. Apalagi saat dia merasakan tangan hangat Khazayn menyentuhnya. Hal itu membuat Sera bersorak senang dalam hatinya. "Kau cantik, dan aku sangat mencintaimu Serafina. Jangan berpikir yang tidak-tidak. Aku hanya mencintaimu," ucap Khazayn dengan lembut dan sesekali mendaratkan kecupan ringan di bahunya yang terbuka. Sera kembali menatapnya nakal dan tanpa aba-aba menarik tubuh Khazayn untuk meraup bibirnya. Khazayn tidak menolak. Dia menerima semua itu meski merasakan sebuah keganjalan disana. ("Sejak kapan Sera seagresif ini. Dan bagaimana bisa Sera dengan ahlinya memainkan lidahnya. Bukankah selama ini dia sangat kaku dalam hal seperti ini?") Serangan Sera itu membuat Khazayn kewalahan menghadapinya. Namun anehnya Khazayn tidak bisa menikmati itu karena kecurigaannya. Gerakan Sera juga semakin liar tak terkendali. Deru nafasnya terdengar jelas. Tangannya pun tak tinggal diam. Menyentuh dibeberapa titik sensitif Khazayn, hingga dia menahan er*ngan yang tertahan dari mulutnya. Sampai akhirnya pertahanan Khazayn runtuh dan bersiap memiliki Sera seutuhnya malam itu. Namun sayangnya, ketika hampir saja Khazayn melakukannya. Tiba-tiba saja pintu terbuka paksa dengan sekali tendangan. "HENTIKAN KHAZAYN !!" Sontak hal itu membuat keduanya menatap kearah pintu yang sudah hancur. Tatapan Khazayn beralih pada Alden yang nampak murka. Khazayn bisa melihat dengan jelas api yang berkobar dari matanya. "Alden?" "DIA BUKAN SERAFINA !! DIA ROH JAHAT YANG MASUK KEDALAM RAGA SERA," ucap Alden menunjuk Sera yang sudah berdiri dengan angkuhnya. "Apaa?" Pandangan Khazayn kini beralih pada Sera yang nampak tenang, namun matanya menatap Alden dengan tajam dan tidak kalah membunuh. "Roh ini... Dia yang telah menyebabkan Alexis terluka parah. Sampai akhirnya dia tiada..." Ada nada pilu dalam ucapan Alden saat mengatakannya. Raut wajahnya tak terbaca. "Siapa kau sehingga ikut campur dalam urusanku !!" Bentak Roh jahat yang memakai raga Sera. "Aku adalah kematianmu ! Kau harus membayar kematian saudaraku," ucap Alden pelan, namun penuh dengan ancaman. Sayangnya Roh jahat itu tidak merasa takut sedikitpun. Dia malah berdecih dan menatap Alden dengan sinis. "Kau tidak bisa membunuhku. Apa kau lupa bahwa aku memakai raga siapa? Jika kau menyentuhku sedikit saja dan melukai tubuh ini. Maka yang terluka bukan aku tapi wanitanya Khazayn...."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD