"Century? Kenapa tiba-tiba kau datang kemari?" Tanya Khazayn yang melihat Century cukup aneh kali ini. Sosoknya sedikit berubah. Mulai dari mata hitamnya berubah merah. Sampai urat-urat hitam keluar dari sekujur tubuhnya.
"Khazayn. Apa kau tahu keberadaan Rebecca? Dia menghilang. Terakhir kali dia diperintahkan para dewan kerajaan untuk mencari sosok misterius yang mengacau dimensi para mahkluk kegelapan. Aku datang kemari untuk mencarinya," ucap Century padanya.
"Apa !! Bibi Becca hilang?
Bagaimana bisa? Coba diperiksa gelombang energinya. Bukankah dia memiliki gelombang energi yang cukup mencolok, sama sepertiku dulu," ucap Khazayn dengan kekagetannya. Namun matanya menyelidik kearah Century yang nampak cemas. Padahal selama ini Century tidak pernah secemas ini.
"Sudah kulakukan Khazayn. Semua kekuatan sudah aku kerahkan. Tapi hasilnya nihil, Rebecca hilang bagaikan ditelan bumi,"
"Tunggu dulu. Kau bilang tadi sosok misterius? Seperti apa?"
"Aku kurang tahu. Yang jelas, ketika sosok itu mengacau dimensi kami. Rebecca hilang. Aku yakin bahwa Rebecca dibawa mahkluk itu !"
"Sial... Apa yang harus aku lakukan," Khazayn menarik kasar rambutnya. Bagaimana bisa bibinya dibawa oleh mahkluk misterius. Sementara dia sudah tidak memiliki kekuatan apapun lagi. Bagaimana cara dia mencari bibi nya.
"Hanya ada satu cara Khazayn. Kau harus kembali ketempat asalmu. Dan temui aku dikastil sebelah Utara. Aku harus segera kembali,"
Tanpa menunggu jawaban Khazayn. Century langsung menghilang dibalik cahaya perak yang membuatnya bagaikan ditelan udara dalam sekejap. Melihat itu, semakin menimbulkan banyak pertanyaan didalam benak Khazayn.
Bagaimana Century bisa melakukannya secepat itu? Kekuatanku yang dulu saja tidak bisa menghilang secepat itu? Bahkan cahaya yang aku hasilkan tidak semencolok itu? Dan lagi ... Dia menyuruh ku untuk kembali kesana. Tapi bagaimana caranya? Pikir Khazayn.
"Ah sial... Kenapa aku jadi mengkhawatirkan Century ! Seharusnya aku mengkhawatirkan bibi yang menghilang.
Alexis? Dimana mahkluk sialan itu? Kenapa disaat aku membutuhkan sikembar itu mereka malah menghilang,
Ahhh..... Sial."
"Kau kenapa?"
Suara lembut yang mendayu itu membuyarkan semua pikiran Khazayn yang kalut. Matanya menatap sosok Sera yang berdiri diambang pintu.
"Sera...
Kemarilah," ucap Khazayn menggerakkan jarinya, memberi isyarat agar Sera mendekat. Dengan perlahan dan sedikit keraguan Sera pun mendekati nya. Khazayn langsung menarik tangan Sera dan membawanya kedalam pelukannya. Sebuah pelukan dari Sera seakan memberinya sedikit ketenangan. Lalu tiba-tiba saja dia merasakan tubuh Sera tersentak. Entah karena apa, namun hal itu membuat Khazayn cukup terkejut.
Lalu menatap Sera dalam.
Khazayn sempat berpikir. Ada yang berbeda dengan Serafina kali ini. Wajahnya terlihat sedikit lebih pucat. "Sera... Apa kau sakit?" Tanya Khazayn sembari menyentuh wajahnya.
"I-iya... Aku sedikit sakit,"
Meski Sera mengatakan hal itu. Namun raut wajahnya berbeda. Menatap Khazayn seakan sedang mendamba.
"Kalau begitu istirahatlah dikamarmu. Aku masih ada urusan,"
Sera tidak menolak. Dia mematuhi perintah Khazayn. Meninggalkan pria itu secara perlahan dan naik keatas menuju kamarnya. Sesekali dia masih menoleh kearah Khazayn yang terlihat gusar. Senyuman penuh arti tersungging dibibirnya.
"Tampan.
Jangan salahkan aku jika tujuanku sedikit melenceng kali ini, yang mulia." gumam Sera sembari melangkah menuju kamarnya.
*******
Sera menatap wujud aslinya dipantulan cermin. Sosok Roh jahat yang mengerikan dengan tanduk dikepalanya. Taringnya menjulur panjang, sementara kuku tangannya juga tidak kalah mengerikan. Dia tersenyum bangga karena telah berhasil masuk kedalam tubuh Sera. Untuk mengelabui Khazayn, agar masuk kedalam perangkapnya.
Dia sengaja memakai lingerie yang hampir memperlihatkan keseluruhan tubuhnya. Dengan dihiasi sedikit renda, menambah aura kecantikannya. Tidak lupa wajahnya sedikit dipoles make up, agar Khazayn tergoda.
"Aku akan memilikimu dulu sebelum membawamu kehadapan yang mulia, Khazayn ku yang tampan," gumamnya dengan seringai licik.
Kebetulan saat itu, Khazayn masuk kedalam kamarnya. Sera berbalik menatapnya dengan ceria. ("Bahkan sebelum aku menemuimu, kau sendiri yang datang padaku, menarik sekali,")
"Sera, kenapa kau memakai pakaian seperti ini? Udaranya sangat dingin, kau bisa masuk angin," ucap Khazayn menyampirkan selimut ditubuhnya. Sera pun kaget dengan apa yang Khazayn lakukan.
Bukannya Khazayn tidak tergoda dengan pemandangan indah itu. Namun suasana hatinya begitu buruk karena hilangnya Rebecca. Ditambah lagi Alexis dan Alden yang entah kemana. Khazayn tidak bisa memikirkan kesempatan untuk tergoda dengan Sera.
Berbeda dengan Sera yang merasakan sesuatu aneh didalam dirinya. Pancaran hangat dan sendu dari tatapan mata Khazayn seakan melelehkan hatinya. Dunianya seakan terhenti mendapat tatapan dari manik kelabu yang indah itu. Jantungnya berdetak kencang. Dia pikir dia hanya menginginkan tubuh mangsanya, namun sepertinya bukan hanya itu. Ada hal lain... Yang dia sendiri belum bisa memastikannya.
"Kau sangat cantik Sera. Tapi mengapa manik matamu berubah sedikit hijau? Apa kau memakai softlens?" Tanya Khazayn yang menyadari perubahan Sera.
Mendengar hal itu, Sera langsung tersentak. "I-iya... Aku memakainya. Apa kau tidak menyukainya?" ucapnya tergagap.
"Aku menyukainya. Apapun yang kau suka, aku juga menyukainya,"
Lagi-lagi d**a Sera mengembang. Meski pujian itu bukan untuk dirinya, namun hal itu juga membuatnya senang dan bersemu.
Cukup lama Sera memandang Khazayn. Meski cahaya yang ada dikamarnya sedikit remang, namun hal itu tidak bisa menutupi ketampanan Khazayn yang semakin terpancar jelas. Manik kelabu itu membuatnya terhipnotis. Ada gelenyar aneh didalam dirinya untuk memiliki pria ini.
("Bodoh ! Apa yang aku pikirkan. Aku tidak boleh lupa dengan tujuanku. Setelah aku bersenang-senang dengan pria ini, maka aku akan langsung ketujuanku selanjutnya,") batin Sera mencoba untuk mengenyahkan segala macam pikiran yang membuatnya tersentuh dengan perlakuan manis Khazayn.
*******
"Kak Chesa kenapa kau melamun? Apa kau memikirkan pria tampanku?"
Mendengar hal itu membuat Chesa mendengus. "Apa maksudmu Yura. Kau ini masih kecil. Kenapa pikiran mu seperti itu ! Anak kecil seperti mu seharusnya bermain," ucap Chesa sengit.
"Aku bukan anak kecil yang tinggal bersama keluarga utuh Chesa. Ditempat ini bahkan tidak terpikirkan olehku hanya untuk bermain. Aku juga harus bekerja untuk membantu ekonomi panti ini.
Kau tahu sendiri, tidak ada yang Sudi memberi santunan pada kita. Para pengusaha kaya tidak ada satupun yang melirik kita,"
"Aku tahu.
Sebab itulah, nenek lebih menyuruh kita untuk berusaha sendiri dari pada mengemis pada para orang kaya, agar mengasihani kita,"
Yura duduk perlahan mendekati Chesa. Wajahnya berubah murung mengingat nasib mereka yang kurang beruntung.
"Andai orang tua kita masih hidup..." Lirih Yura. Sementara Chesa bukannya kasihan, malah menoyor kepalanya.
"Kau seharusnya bersyukur, Yura. Setidaknya kau tahu siapa orang tuamu ! Sementara aku?
Aku bahkan tidak tahu siapa orang tuaku." ucap Chesa menatap lurus kedepan.