PERUBAHAN

1063 Words
"Brengsekk.... Kau mengancamku !!" "Anggap saja seperti itu. Jika kau ingin membuktikan, maka lakukanlah. Aku akan dengan senang hati melakukannya," ucap Khazayn tersenyum manis padanya. Jarak mereka yang begitu dekat, membuat Sera seakan kesulitan bernafas. Dadanya terasa sesak akibat tatapan pria ini. Namun Sera cepat-cepat mengenyahkan segala macam pikiran aneh yang ada di otaknya. Dia tidak ingin lagi terbuai oleh pesona pria yang dia anggap aneh ini. "Baiklah... Aku menyerah. Sekarang bisakah kau sedikit menjauh dariku ! Aku merasa gerah," ucap Sera sengaja menyindirnya. "Baiklah sayang," Ketika Khazayn ingin memberi jarak pada Sera. Alexis tiba-tiba muncul dihadapan mereka, dan membuat Sera kaget dengan kemunculannya yang secara tiba-tiba itu. "Astaga, apa lagi ini?" Gumam Sera yang terkejut melihat Alexis yang menatap mereka dengan kikuk. "Oh, maaf. Sepertinya aku muncul disaat yang tidak tepat," ucap Alexis tersenyum canggung dan kembali pergi meninggalkan mereka. Mulut Sera terbuka karena terkejut dengan kepergian Alexis yang sangat cepat. Kepalanya tiba-tiba pusing akibat banyaknya kejadian aneh yang melandanya akhir-akhir ini. "Apa aku sedang bermimpi? Kenapa semuanya terasa aneh sekali," gumam Sera yang masih bisa di dengar oleh Khazayn. "Alexis sialan !!" Khazayn memaki kesal dengan Alexis yang membuat Sera kebingungan. **** "Dari mana kau mendapatkan uang sebanyak ini?" Tanya Chesa pada Yura. "Seperti biasa, aku melakukan pertunjukan," ucap Yura dengan senyuman superior nya. Chesa menggeleng tidak percaya. Bukankah pertunjukan mereka terkesan kampungan dan tidak menarik. Dan kalaupun ada yang menonton, penghasilannya tidak akan sebanyak ini. "Jangan berbohong. Kau pasti mencuri kan !! Katakan dimana kau mencurinya? Aku akan mengembalikan semua uang ini. Dengar Yura, kita memang miskin dan tidak punya orang tua. Tapi bukan berarti kita harus melakukan perbuatan kotor hanya untuk memenuhi kebutuhan kita. Lebih baik kita tidak usah makan, dari pada makan enak dengan uang hasil mencuri." Chesa terus saja mengocehi Yura yang dia anggap mencuri. Mengkotbahi anak kecil itu sampai Yura menutup telinganya mendengar suara Chesa yang tidak berhenti-berhenti. Merasa mulai jengah dengan kotbah Chesa, akhirnya Yura membuka suaranya dengan sedikit berteriak. "CUKUP KAKAK ! Dengarkan aku dulu. Aku tidak pernah mencuri, kak. Percayalah ini uang hasil kerja kerasku. Dan hal ini dibantu oleh kakak tampan yang bernama Alden," ucap Yura menjelaskan. Sontak Chesa langsung terdiam. "Apa katamu? Alden?" Yura mengangguk dengan semangat. ("Tidak mungkin Alden si lintah menyebalkan itu kan?") Batin Chesa. "Haii...." Chesa langsung menoleh kesumber suara yang ada dibelakangnya. Dan benar saja. Alden sedang berdiri disana dengan senyuman yang berbeda kali ini. Senyuman hangat tanpa dosa. Tidak ada raut sinis dan senyuman mengejek yang selalu dia tampilkan saat melihat Chesa. "Lihat kak. Aku benarkan... Dia sangat tampan. Jika aku dewasa nanti, aku mau menjadi pacarnya," ucap Yura, yang membuat Chesa langsung mendelik mendengar nya. Bagaimana bisa anak kecil yang berusia dua belas tahun seperti Yura, sudah memikirkan tentang pacaran. Sepertinya pikiran anak ini sudah terkontaminasi oleh lintah ini, pikir Chesa. "Apa yang kau katakan, Yura? Ingat umurmu baru dua belas tahun. Anak kecil seperti mu tidak pantas berkata seperti itu !" ucap Chesa dengan tatapan tajamnya. Seketika itu pula, Yura langsung pergi dengan terkekeh geli. "Hei, kenapa kau kasar sekali pada anak kecil. Biarkan saja dia, lagi pula... Aku yakin dia tidak mengerti dengan apa yang baru saja dia katakan." "Bukan urusanmu ! Lagi pula, kenapa kau membantunya mencari uang. Apa lagi rencanamu kali ini?" Chesa menatapnya penuh curiga. Sementara Alden menghela nafasnya mendengar tuduhan Chesa. "Tidak bisakah kau tidak mencurigaiku? Kenapa otakmu selalu dipenuhi oleh pikiran buruk?" "Itu karena kau seorang lintah yang licik. Aku tidak percaya padamu !" "Baiklah. Maaf.... Telah membuatmu bersedih kemarin. Aku tahu aku salah, tapi bukan berarti aku selalu jahat. Aku juga bisa baik seperti manusia pada umumnya," ucap Alden dengan pelan. Berharap perasaan Chesa akan melunak dan menerima kehadirannya. Namun sayangnya, Chesa bukanlah tipe wanita yang mudah dirayu. "Tidak mau ! Sebaiknya kau pergi. Aku tidak ingin pikiran anak-anak yang lainnya juga terkontaminasi oleh mu !" "Ck, Dasar wanita kejam ! Tega sekali kau mengatakan hal itu. Apa kau pikir aku ini kuman," Alden berdecak sebal dengan sikap Chesa yang tidak menunjukan sikap persahabatan nya sedikitpun. "Kakak tampan, ayo main bersama kami." Yura menarik tangan Alden untuk ikut bermain dengan anak-anak yang lainnya. Meninggalkan Chesa yang masih berdiri menatapnya tajam. Alden tidak memperdulikan itu. Dengan senang hati dia mengikuti langkah Yura yang mengajaknya. Meski Alden tidak pernah bermain dengan anak kecil sekalipun. Namun dia akan mencobanya. Tadinya Alden hanya menatap anak-anak itu yang bermain dengan riang. Dia pikir hal seperti ini akan membosankan. Namun ternyata Alden salah. Bermain bersama anak-anak membuatnya terhibur. Entah karena dikerjai atau memang dia yang tidak mengerti cara bermain. Alden selalu saja menjadi pihak yang tertindas. Namun dia senang dengan posisi yang membuat anak-anak tertawa ceria. Sementara Chesa hanya memperhatikan dia dari kejauhan. Pemandangan yang terasa aneh dimatanya. Bagaimana bisa mahkluk kegelapan seperti Alden bermain bersama anak-anak. Buaknkah Alden selalu bersikap dingin, sinis, dan menyebalkan ! Pikir Chesa. "Kau sedang apa nak?" Tanya seorang nenek tua yang duduk di kursi rodanya. Lalu wanita tua itu mengikuti arah pandangan mata Chesa. "Siapa pria itu?" "Bukan siapa-siapa nek. Hanya orang tidak tahu malu yang mengambil hati anak-anak agar menyukainya." "Kenapa kau bicara seperti itu, Chesa? Sepertinya dia terlihat baik. Lihatlah... Anak-anak menyukainya. Biasanya, jika seseorang disukai banyak anak-anak. Itu tandanya dia orang yang baik." "Aku rasa kali ini nenek salah. Nenek hanya tidak tahu siapa dia sebenarnya, jika nenek tahu, mungkin nenek akan sangat membencinya." ucap Chesa pelan dengan tatapan masih mengarah pada Alden. "Jadi kau mengenalnya?" "Sedikit." "Sedikit? Jika sedikit. Dari mana kau tahu bahwa dia bukan pria baik. Itu artinya kau belum mengetahui sifatnya secara keseluruhan, Chesa. Kau hanya menilai dari sudut pandangmu ketika dia melakukan kesalahan. Namun kau tidak menilai secara keseluruhan kenapa dia berbuat seperti itu !" Mendengar hal itu membuat Chesa terdiam. ("Apa-apaan ini... Kenapa semua orang membelanya,") batin Chesa kesal. Lalu Chesa langsung tersentak kaget, ketika melihat Yura terjatuh akibat berlari terlalu kencang, sehingga tidak melihat keadaan sekitar lagi. "YURA !!" Chesa berlari mendekatinya untuk memeriksa keadaan nya. Yura meringis kesakitan. Dia tidak mengalami luka serius. Hanya lecet dan mengeluarkan sedikit darah. Namun hal itu membuat Alden langsung mundur perlahan, sampai akhirnya menghilang tiba-tiba. Chesa yang menyadari kepergian Alden sempat merasa bingung. Namun setelah nya dia langsung ingat, bahwa Alden pasti pergi karena melihat darah Yura. Bau darah Yura pasti menyeruak diudara dan menusuk Indra penciuman Alden. Sehingga pria itu kabur, untuk mengontrol naluri haus darahnya. To be continue......
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD