PENIPU

1021 Words
"Tidak kusangka setelah berhenti menjadi pemburu iblis, kau memilih menjadi penipu ! Apa tidak ada pekerjaan lain yang lebih manusiawi?" Chesa mengangkat wajahnya. Dari suaranya terasa sangat familiar. Untuk memastikan siapa pemilik suara itu, Chesa berbalik dan melebarkan matanya. Wajah kagetnya berubah menjadi kesal, saat melihat tatapan menjengkelkan dari Alden yang seakan sedang mengejeknya. Pria ini... Kenapa dia disini? Batin Chesa. "Kau !! Sedang apa kau disini?" "Apa dimensi ini punyamu? Kenapa aku harus meminta ijin padamu untuk kemana-mana? Apa kau merindukanku?" Tanya Alden memperlihatkan wajah sok polosnya. Mendengar itu membuat Chesa melipat tangannya. "Jangan bermimpi ! Jangankan merindukanmu... Bahkan mengingat tentangmu saja aku tidak pernah Sudi ! Tunggu dulu. Apa yang melakukan tindakan konyol tadi adalah dirimu?" Tuduhnya. "Menurutmu?" "Sial... Kau memang lintah menyebalkan !" "Nona... Kenapa kau menghentikan aksinya? Kami ingin melihat pertunjukan mu lagi. Sudah banyak koin yang kami lempar !!" ucap salah seorang penonton yang protes melihat Chesa yang malah berdebat dengan Alden. Ketika Chesa teringat dengan penonton nya. Gadis itu menghela nafas panjangnya. Lalu menyipitkan mata pada Alden yang berdiri tanpa rasa bersalah sedikitpun. "Kau yang telah memulai ini duluan ! Jadi... Kau harus bertanggung jawab untuk menyelesaikan nya." "Apa? Kau memerintahku ! Yang benar saja. Aku tidak mau !" ucap Alden dengan angkuhnya. Pria itu semakin terlihat menyebalkan dengan mengangkat wajahnya keatas serta melipat tangannya. "Dasar lintah menyebalkan ! Jika bukan karena dirimu, ini tidak akan pernah terjadi !" "Jika bukan karena aku, maka tidak ada yang Sudi menonton pertunjukan rendahanmu. Pertunjukan membosankan ! Tidak ada orang yang bisa kau bodohi dengan tipu dayamu!" Chesa terdiam. Mendengar ucapan Alden yang menyakitkan. Begitu menyayat hatinya. Meski ucapan Alden benar adanya. Namun Chesa masih tidak bisa menerima semua penghinaan itu. Chesa melirik kearah anak kecil yang membantunya. Tanpa terasa, air mata Chesa menetes. Entah apa yang membuatnya lemah saat ini. Mungkin karena dia merasa kesal pada dirinya sendiri karena tidak bisa membantu lebih banyak pada anak kecil ini. Melihat wajah muram Chesa. Entah mengapa membuat Alden merasa sedikit bersalah. Dia tidak bermaksud menyakiti perasaan Chesa. Dia hanya mengucapkan apa yang ada dipikirannya. ("Ah sial ! Mulut tak berfilterku berulah lagi.") Alden mendekati Chesa dan menepuk pelan pundaknya. Namun tangan Alden langsung dihempaskan Chesa dengan kasar. "Ayo kita pulang !" ucap Chesa pada anak kecil itu. Meninggalkan Alden yang menatapnya bingung. "Ada apa denganku? Kenapa aku merasa sangat bersalah pada gadis itu." Tadinya Alden tidak ingin peduli pada Chesa yang marah padanya. Namun tubuhnya sendiri tidak sependapat dengan pikirannya. Alden menyusul kepergian Chesa dengan melesat cepat. Namun dia berusaha untuk tidak ketahuan oleh Chesa bahwa dia mengikutinya. Sampai akhirnya Alden melihat Chesa masuk kedalam sebuah bangunan kecil yang terlihat ramai oleh anak kecil. Alden melihat Chesa mendekati seorang nenek tua yang sedang duduk sendirian disana. Wajah Chesa kembali murung ketika mendekati nenek itu. Alden masih bisa mendengar bahwa Chesa mengatakan maaf dan penuh penyesalan pada nenek itu. Karena tidak bisa mendapatkan uang banyak hari ini. Alden mendengar semuanya. Rupanya Chesa melakukan semua ini, demi anak-anak yatim yang ada disana. Chesa bekerja keras untuk membuat anak yatim itu tidak kelaparan. Alden terhenyak. Baru kali ini dia merasa simpati pada seseorang. Gadis yang dia pikir arogan dan kasar. Rupanya memiliki hati yang sangat baik dan lembut. Gadis itu terlihat sangat sopan saat berhadapan dengan nenek tua itu. "Hey ! Apa yang kau lakukan disini? Apa kau penjahat?" Alden menoleh kearah anak kecil yang berdiri dibelakangnya. Gadis kecil ini terlihat tidak takut sedikitpun padanya. Wajahnya bahkan terlihat seakan menantang. "Aku sedang .... Hey, apa kau mau membuat pertunjukan? Aku bisa membantumu !" Anak kecil itu terlihat berpikir keras. Menatap Alden dengan penuh curiga. "Tidak mau ! Kau pasti menginginkan ginjalku kan? Atau mataku ? Aku tidak mau !" Alden terperangah mendengar nya. Bagaimana bisa anak sekecil ini berpikir seperti itu. Apa telah terjadi sesuatu dipanti asuhan ini? Pikirnya. "Tenang saja. Aku tidak jahat, aku akan membantu kalian mendapatkan uang yang banyak. Aku janji tidak meminta apapun." ucap Alden dengan wajahnya yang terlihat meyakinkan. "Benarkah? Kau janji tidak akan meminta organ tubuh kami?" "Astaga ! untuk apa aku organ tubuh kalian? Aku cuma suka darah !" Upssss.... Alden langsung menutup mulutnya setelah mengucapkan hal itu. Untungnya anak kecil itu tidak mendengar, saat dia menggumamkan kata darah. "Baiklah kakak... Aku setuju !" ? ? ? ? "Kau mau kemana?" Sera menoleh keambang pintu yang telah berdiri Khazayn, dengan gagahnya disana. Terlihat sangat rapi dan mempesona. Sejenak, Sera terpaku melihat pemandangan indah dihadapannya itu. Bagaimana seorang malaikat yang dikirim untuk menemuinya. Tanpa Sera sadari. Khazayn sudah berada dihadapannya sekarang. Menatapnya dengan senyuman menggoda yang tersungging di bibirnya. "Kau boleh menyentuhku jika kau mau," ucap Khazayn pelan. Namun Sera langsung tersadar mendengar ucapannya. ("Ah, sial... Apa yang telah kulakukan. Bodoh !") Sera merutuk kesal dengan tingkahnya yang menurutnya sangat memalukan. Bagaimana bisa dia mengagumi pria ini secara terang-terangan dihadapannya. Wajah Sera sudah Semerah tomat sekarang. Gadis itu bahkan tidak berani untuk kembali mengangkat wajahnya. "Aku... Aku ingin kekantor. Bekerja seperti biasa," ucap Sera tanpa menatapnya. Hal itu membuat Khazayn sedikit jengkel. "Jika bicara, biasakan menatap orangnya !" "Sudahlah, aku tidak punya waktu. Aku harus pergi sekarang," Aaaa Ketika Sera melangkah untuk menghindari Khazayn. Tangan Khazayn telah lebih dulu meraup tubuhnya dan mengangkatnya bagaikan karung beras. Hingga gadis itu memekik, Lalu mendudukan Sera di sofa. "Apa yang kau lakukan !" "Wanitaku tidak boleh bersikap seenaknya. Kau harus meminta ijin dariku jika ingin kemanapun. Dan lagi... Kau hanya boleh keluar jika bersamaku," ucap Khazayn tegas. Mendengar hal itu, membuat Sera mendengus. Dan membuang wajahnya. "Kau ini konyol sekali ! Bagaimana bisa kau membuat peraturan tanpa persetujuan orang lain. Kau orang asing bagiku. Aku tidak mengenalmu, bisa-bisanya kau mengurungku ditempat ini seolah kau adalah majikanku !" Protes Sera sembari beranjak dari duduknya. Namun itu belum sempat terjadi, karena Khazayn Telah mengurung tubuhnya dengan kedua tangannya bertumpu di sofa. "Aku tidak pernah bilang bahwa aku adalah majikanmu, sayang. Kau adalah wanitaku... Dan aku membuat peraturan demi kebaikanmu sendiri." "Tapi....." "Sssstt.... Berhenti membantahku, atau aku akan mencium mu !" ucap Khazayn menyela Sera yang baru saja ingin kembali protes dengan menempelkan jarinya dibibir Sera yang terkatup rapat. To be continued.....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD