Arnold merasa tidak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini. Sosok pria yang telah lama menghilang kini tiba-tiba hadir. Namun entah mengapa dia tidak merasakan adanya aura yang tidak enak dari pria yang sekarang ada dihadapannya. Dia tidak lagi merasa terintimidasi oleh tatapannya.
"Khazayn? Kau..."
"Tidak kusangka kau masih mengingat ku dengan baik," sautnya dingin.
"Apa yang kau lakukan dikantorku?" Tanya Arnold langsung pada intinya. Padahal Arnold sendiri yakin bahwa kedatangan Khazayn pastinya untuk menemui Sera, bukan dirinya.
"Apa kau lupa bahwa asistenku kemarin baru saja menandatangani kerja sama kita. Dan sekarang aku adalah klien mu," ucap Khazayn dengan santainya. Mendengar hal itu membuat Arnold Langsung teringat pada surat perjanjian yang kemarin dia tanda tangani. Dan dia sama sekali tidak menyangka bahwa Khazayn lah orangnya.
"Tidak perlu terkejut seperti itu. Aku tidak peduli tentang kerja sama itu. Sekarang katakan padaku, dimana Sera?"
"Dia ada diruangannya. Baru saja Bianca datang menemuinya,"
Mendengar nama wanita itu, membuat Khazayn mulai merasa tidak enak. "Bisa-bisanya kau membiarkan Sera bersama wanita ular itu !"
Tanpa menunggu tanggapan Arnold, Khazayn langsung berlalu meninggalkan nya. Dan menuju keruangan Sera.
Dan sesuai dugaannya. Ketika Khazayn menerobos masuk. Dia melihat Sera telah terbaring dilantai dengan dahi berdarah. Hal itu menyulut emosi Khazayn. Langsung saja dia menampar Bianca dengan keras.
"Beraninya kau menyakiti wanitaku !" Bentak Khazayn yang langsung didengar oleh Arnold yang menyusulnya dari belakang. Arnold sendiri terkejut melihat kondisi Sera yang memprihatinkan.
"Sera... Apa yang terjadi? Kenapa bisa sepert ini?"
"Sebaiknya kau tanyakan saja pada wanita ular yang kau jadikan kekasih ini ! Jika dia berani melakukannya lagi, maka aku tidak akan segan meskipun dia seorang wanita," ucap Khazayn meraup tubuh Sera. Menggendong gadis itu dan langsung pergi dari sana. Sera yang masih setengah sadar hanya menatap Khazayn dengan bingung. Siapa pria ini? Kenapa dia menolongku? batin Sera.
Arnold menatap bringas pada Bianca yang sudah terlihat pucat akibat tamparan keras dan juga pastinya melihat wajah Arnold yang murka.
"Arnold... Aku bisa jelaskan ..."
PLAKKKK
Tamparan keras dari Arnold membuat Bianca merasakan panas segaligus perih di pipinya. Rasa sakit akibat tangan Khazayn bahkan masih belum hilang, kini ditambah lagi dengan tamparan tangan Arnold. Bianca bisa merasakan adanya darah yang mengalir dari sudut bibirnya.
"PERGI DARI SINI SEKARANG !! JANGAN PERNAH MENUNJUKAN BATANG HIDUNGMU LAGI !"
Arnold mengusir Bianca dengan kejam. Tanpa ada rasa kasihan sedikitpun pada gadis itu. Dengan air mata yang mengalir deras. Bianca langsung berlari dari hadapannya. Bianca tidak menyangka bahwa Arnold akan melakukan itu padanya.
? ? ? ?
"Apa masih sakit?" Tanya Khazayn menatapnya penuh kelembutan sembari menyentuh bagian luka di dahi Sera.
Bukannya menjawab, Sera malah menatapnya bingung. Dia merasa sangat aneh, akhir-akhir ini bertemu dengan orang aneh. Kemarin seorang gadis dan sekarang, pria tampan yang nyaris mendekati kata sempurna sebagai seorang pria.
"Siapa kau? Kenapa kau menolongku?"
"Kau tidak perlu tahu siapa aku. Yang harus kau tahu bahwa kau adalah wanitaku. Mulai sekarang kau akan tinggal bersamaku."
Sontak hal itu membuat Sera bangkit, untuk memprotes. Namun dia kembali merebahkan tubuhnya nya ketika merasakan sakit dikepalanya. Dan Khazayn dengan sigap langsung membantu nya.
"Jangan konyol ! Kita baru saja bertemu, kenapa kau langsung mengatakan hal seperti itu ! Dan lagi...
Aku tidak mau tinggal dengan pria asing seperti mu !" ucap Sera masih memegang kepalanya yang sakit. Namun matanya menatap kesal pada Khazayn.
"Aku tidak membutuhkan persetujuan mu untuk itu.
Sebaiknya kau beristirahat. Aku akan menemui Arnold,"
Khazayn mengecup lembut dahi Sera sebelum melangkah pergi. Jantung Sera berdetak keras, dia bahkan tidak menolaknya. Malah diam mematung menerima perlakukan manis Khazayn padanya.
("Oh astaga .. ada apa dengan jantungku?") gumam Sera ketika melihat Khazayn yang sudah pergi dari sana.
? ? ? ?
"Khazayn, kenapa kau mengubah tempat ini? Cahaya dari lampu-lampunya membuat mataku sakit." Tentu saja vampir tidak suka dengan cahaya yang mencolok seperti ini. Dulu Khazayn juga seperti itu. Namun sekarang tidak lagi. Sejak dia jadi manusia. Khazayn lebih menyukai tempat yang terang. Lagi pula, Sera tidak akan nyaman jika nuansanya masih remang seperti dulu.
"Sudah menumpang, malah protes. Jika kau tidak suka cahaya, maka tutup saja matamu." saut Khazayn cetus. Alden tidak percaya dengan apa yang dia dengar barusan.
"Aku pikir sifatnya akan berubah. Tetapi sama saja. Masih menyebalkan seperti dulu !" ucap Alden yang begitu kesal.
"Kau mau kemana?" Tanya Alexis yang melihat Alden beranjak dari sana.
"Mencari udara segar. Siapa tahu aku bertemu mahkluk kegelapan diluar sana. Lagi pula aku bosan, melihat Khazayn yang tidak tahu malu itu menunjukan kemesraannya didepan kita,"
Alexis hanya terkekeh mendengarnya. Dia mengangkat bahunya, seolah tak perduli dengan apa yang ingin Alden lakukan.
"Kau boleh pergi kemana saja. Tapi ingat ! Jangan sampai melakukan tindakan bodoh yang akan membongkar keberadaan kita," ucap Alexis memberi peringatan padanya.
"Aku tahu itu !"
? ? ? ?
Suara riuh para penonton yang hadir dalam pertunjukan sulap yang dilakukan oleh Chesa dipinggir jalan. Membuat orang-orang tertarik untuk mendekat. Suara itu bukan karena takjub atau pun kagum dengan aksi pertunjukannya. Melainkan mencemooh karena sulap itu adalah tipu daya biasa, yang semua orang bisa melakukannya. Chesa menampilkan sebuah ilusi sulap yang membuat orang bosan. Dan mencibir kesal. Dan perlahan, orang-orang pun bubar karena merasa pertunjukan itu tidak menarik.
"Kakak... Bagaimana ini? Tidak ada yang mau menonton pertunjukan kita," ucap sosok anak kecil yang menjadi bagian dari pertunjukan itu.
Chesa nampak berpikir sejenak. Dia sendiri bingung bagaimana cara menarik perhatian orang-orang. Dengan kesal, Chesa melempar sebuah tongkat kecil. Lalu matanya terbelalak, ketika melihat tongkat itu berubah menjadi ular.
Salah seorang yang melihat kejadian itu langsung berteriak. Lalu bersorak kagum, dan membuat orang-orang kembali memusatkan perhatian padanya.
Chesa yang bingung dengan kejadian barusan, hanya terdiam kikuk. Melihat para penonton yang siap dengan aksi berikutnya.
"Ayooo tunjukan lagi pada kami, sulapmu !!" Teriak salah seorang penonton yang ada disana.
Chesa menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan tertawa hambar. Lalu mengambil sapu tangan yang ada disaku bajunya untuk mengelap keringat yang mengalir diwajahnya. Tanpa dia duga. Tiba-tiba sapu tangan itu melayang dan terbakar dengan sendirinya.
Chesa membelalakkan matanya. Mulutnya terbuka lebar. Sementara suara Riuh tepuk tangan dari penonton semakin ramai. Beberapa penonton kini melemparkan uang koin pada kotak yang telah disiapkan sebelumnya. Dan anak kecil yang bersama Chesa memunguti koin-koin yang berceceran disekitar tempat itu.
Tanpa Chesa sadari. Seseorang tertawa geli dari kejauhan melihat dirinya yang berdiri seperti orang tol*l karena kebingungan.
TO BE CONTINUE.....