MENJADI MANUSIA

1029 Words
Melihat Khazayn yang telah sadar. Zara langsung menghambur kedalam pelukannya. Kini terasa lega. Mereka semua yang tadinya sempat merasakan sesak didada. Kini bisa bernafas dengan lega. "Akhirnya kau sadar, Khazayn. Kami semua mengkhawatirkan mu," ucap Rebecca. Baru kali ini dia berkata lembut pada keponakannya itu. "Kau berhasil Khazayn. Ayah bangga padamu," ucap Zach menepuk pundak Khazayn yang kini duduk di tepi ranjang. "Aku akan ke dimensi manusia." Lirihnya. "Itu tujuanmu," saut Zach. "Tapi ... Bagaimana dengan kalian? Apa tidak sebaiknya kalian ikut aku. "Tidak. Kami harus tetap berada disini. Jika kau ingin pergi, maka pergilah. Alexis dan Alden akan pergi bersamamu," "Apa-apaan ini? Kenapa kau mengirim putraku juga?" Alger langsung memprotes ucapan Zach. Namun Rebecca mencoba untuk menjelaskannya. "Dengar Alger... Alexis dan Alden akan menjaga kerahasiaan kamu kita disana. Dan juga sebagai penjaga gerbang bagi mahkluk seperti kita." Mendengar itu, Alger terdiam. Mau tidak mau, dia terpaksa menyetujui keputusan itu. "Kalau begitu kami pergi dulu..." "Tunggu dulu Khazayn ! Aku akan mengembalikan ingatan Serafina tentangmu," "Tidak bibi.... Aku rasa itu tidak perlu. Biarkan aku sendiri yang berusaha untuk mendapatkan nya kembali," ucap Khazayn tegas. "Kau yakin?" Rebecca menyipitkan matanya. "Aku sangat yakin," sautnya. Rebecca akhirnya hanya membuka portal untuk keponakannya kedimensi manusia. Memulai kembali lembaran baru sebagai manusia biasa. Diikuti oleh Alexis dan Alden dibelakangnya. Mereka pun perlahan menghilang dibalik cahaya yang membentuk sebuah lingkaran. Sebagai tanda bahwa mereka telah berada di dimensi lain. **** "Sayang ini sudah menunjukan jam makan siang. Kenapa kau bekerja terus menerus." ucap seorang wanita yang bergelayut manja pada Arnold yang sedang sibuk dengan komputer nya. Arnold pun melirik kearah Jam, dan benar saja. Dia terlalu sibuk hingga lupa untuk makan siang. "Maafkan aku Bianca. Ayo kita ajak Sera sekalian. Aku yakin dia juga belum makan," Mendengar hal itu membuat Bianca berdecak kesal. Wanita itu sampai menghentakkan kakinya. "Lagi-lagi Sera. Dia sudah besar Arnold, kenapa kau selalu melibatkan dia dalam urusan kita !" Bianca yang sudah tidak tahanpun langsung melampiaskan kekesalannya. "Dia adikku ! Jika bukan aku yang memberikan perhatian padanya, lalu siapa lagi? Kau bahkan tidak pernah sekalipun menanyakan bagaimana kabarnya, atau apalah. Ingat Bianca. Jika kau tidak bisa menerima adikku, maka aku tidak akan pernah mau melanjutkan hubungan kita lagi, kau mengerti !" Bianca terdiam mendengar ancaman Arnold yang lebih mementingkan Sera dari pada dirinya. Dia pikir Arnold sudah jatuh kedalam pelukannya dan akan menuruti semua keinginannya. Tapi ternyata dia salah. Peran Sera sangatlah penting baginya. Bianca hanya diam. Segala macam umpatan dan makian hanya bisa dia lontarkan dalam hatinya. Bagaimana pun juga, Bianca sangat mencintai Arnold. Bukan hanya karena hartanya, namun juga karena ketampanannya. Mereka akhirnya keluar dan menemui Sera untuk mengajaknya. "Sera? Ayo ikut kami makan siang. Kau pasti belum makan," ucap Arnold langsung menarik tangan Sera tanpa menunggu jawabannya. Karena Arnold sudah hapal, Sera pasti akan menolak dengan berbagai alasan. "Em... Kakak. Sebaiknya kalian saja. Aku sudah kenyang," ucap Sera sembari melirik kearah Bianca yang memasang wajah masamnya. "Tidak. Kau harus makan bersama kami." Kali ini Sera tidak bisa lagi menolak permintaan kakaknya. Dia hanya menghela nafas panjang dan membiarkan Arnold membawanya. "Kau mau makan apa?" Bianca semakin sebal melihat Arnold yang seolah tak memperdulikan keberadaan nya disana. Arnold lebih banyak bercengkrama dengan Sera dari pada dirinya. Hal itu membuat Bianca mengepalkan tangannya karena amarah. Sera yang menyadari hal itu hanya tersenyum kecut. "Terserah kakak saja. Aku suka semua pilihan kakak. Aku permisi ketoilet sebentar." Sera segera bangkit dari duduknya dan menuju kearah toilet. Melihat hal itu, membuat Bianca menyunggingkan senyuman liciknya. Mungkin ini adalah saat yang tepat untuk memberi pelajaran pada gadis manja itu, pikirnya. "Aku juga akan ketoilet sebentar," ucap Bianca yang diangguki oleh Arnold. **** "Hey, gadis manja !" Sera langsung menoleh ketika mendengar suara Bianca yang sudah berada dibelakang nya. Dan Bianca semakin mendekati Sera dengan melipat tangannya didada. Tatapan angkuh dari Bianca membuat Sera mendelik. "Tidak bisakah kau membiarkan aku berdua dengan Arnold. Kenapa kau selalu mengganggu !" "Siapa yang menggangu? Bukankah kau lihat sendiri kakakku yang memaksaku ikut kalian," ucap Sera tanpa rasa takut sedikitpun. "Beraninya kau menyela ucapanku ! Kau belum tahu siapa aku, heh. Akan aku tunjukan padamu dimana posisimu sebenarnya. Kau hanya adik tiri yang tidak tahu malu !" Baru saja Bianca ingin melayangkan tamparan kewajah Sera. Tiba-tiba tangannya langsung ditangkap dengan sigap oleh seorang wanita. Sera yang tadinya memejamkan mata. Kini membuka matanya dan melihat apa yang terjadi. "Ini bukan tempat untuk berkelahi !" ucap wanita itu sembari menghempaskan tangan Bianca. "Siapa kau? Jangan ikut campur !" "Tentu saja aku akan ikut campur, jika melihat seekor hewan yang ingin berbuat keributan disini," Sera hanya mengamati wajah gadis itu yang sibuk berdebat dengan Bianca. Dia sepertinya mengingat sesuatu tentang gadis ini, tapi dimana? Pikirnya. Entah apa yang dikatakan oleh gadis itu, akhirnya Bianca keluar duluan dengan menghentakkan kakinya. "Sera? Kau ingat aku?" Sontak Sera langsung menggeleng keras. "Memangnya kau siapa?" "Aku Chesa. Masa kau tidak ingat? Kita dulu sempat berurusan dengan lintah, eh... Maksudku mahkluk penghisap darah. Alias vampir ! Kau ingat kan?" Sera semakin berkerut bingung. Ucapan Chesa terdengar konyol baginya. Dia tidak pernah merasa berurusan dengan mahkluk yang seperti dia katakan tadi. Dan Sera sama sekali tidak percaya dengan adanya mahkluk mitologi seperti itu. "Aku rasa kau salah orang. Sebaiknya aku pergi, kakakku pasti telah lama menunggu." "Tapi ....." Belum sempat Chesa menghentikan Sera. Gadis itu telah berjalan duluan meninggalkan nya sendirian disana. "Dia lupa ingatan, atau apa? Bagaimana bisa dia melupakan kejadian itu?" Chesa menggumam sembari memperhatikan kepergian Sera yang perlahan menghilang dari balik pintu. **** "Sera... Kau baik-baik saja? Kenapa lama sekali?" Sebelum menjawabnya, Sera melirik kearah Bianca yang menatapnya penuh kebencian. Lalu seketika mengubah ekspresi nya dengan semanis mungkin pada Sera. Hal itu membuat Sera memutar matanya. Benar-benar wanita gila ! Bisa-bisanya dia cemburu pada adik kekasihnya sendiri. Batin Sera. "Aku baik-baik saja kakak. Maaf membuatmu menunggu lama," ucap Sera langsung mengambil kembali tempat duduknya. "Kalau begitu makanlah yang banyak," ucap Arnold mengiriskan beberapa potongan daging untuk Sera. Melihat hal itu, semakin menyulut emosi Bianca. Bianca hanya menggenggam garpunya dengan kuat dan menatap tajam kearah Sera yang dengan santainya menerima potongan daging dari Arnold. "Lihat saja gadis licik ! Aku akan membuat perhitungan padamu !!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD