Mas Amran pamit menjemput istri keduanya, meninggalkanku sendiri di rumah mama dengan perasaan was-was. Namun, aku selalu meyakinkannya akan baik-baik saja. Janjiku dalam hati, tak akan diam dan mengalah seperti dulu, aku akan membela diriku dengan caraku sendiri. "Mama nggak suka kamu cari muka di depan Amran!" Mama menatapku lekat setelah mendengar deru mobil Mas Amran meninggalkan rumah mama. "Zilva juga sama, nggak suka jika mama selalu menjelekkan Zilva di depan Mas Amran," sahutku cepat. "Maksudmu apa ngomong begitu?" Aku hanya diam saja, supaya mama kembali berusaha memahami apa yang kuucapkan. "Dijelekkan seperti apapun, kalau memang dasarnya baik juga akan terlihat baik. Kalau aslinya jelek, dipuji setinggi langit pun percuma karena pada akhirnya akan terlihat jelek juga. J

