“Bang, ini seriusan?” Agatha berusaha mengatasi kegugupannya.
Bukan apa-apa, keluarga Angie sudah seperti keluarga kedua untuknya. Selama tinggal di Jakarta sering sekali dia atau pun Wini menghabiskan waktu di kediaman Angie. Hanya saja hal itu tidak membuat Agatha terpikir untuk menjalin kisah apa pun dengan Edward.
Tampan, mapan, kaya dan dari keluarga terpandang, tapi sayangnya perbedaan keyakinan membuat Agatha tidak mungkin menerima Edward. Namun, untuk menolaknya dia tidak tahu harus menggunakan cara apa.
“Aku serius, Ta. Sangat serius,” tegas Edward.
Tatapannya mengunci netra Agatha yang seketika kehilangan kemampuan untuk mencairkan suasana dengan candaannya.
“Kak, cepat! Jangan pacaran mulu, lama amat,” teriak Andra yang bagai penyelamat hidupnya.
“Bang foto dulu ya.” Secepat kilat Agatha berlari memenuhi lambaian tangan Anda.
“Sumpah, keren, Bro. Thanks sudah menyelamatkan kakak,” bisik Agatha merangkul sang adik mendekat pada keluarganya.
“Huu, pacaran mulu. Cepat foto,” celetuk Angie melihat Andra dan Agatha datang mendekat dnegan Edward di belakang mereka.
Beberapa kali mereka sudah berganti gaya, foto bersama ternyata mengakhiri farewell dinner malam ini. Agatha terlebih dulu masuk ke dalam mobil sebelum Edward kembali mencegat dirinya.
“Ta, kamu pacaran sama Edward?” tanya Sinta begitu mobil mereka bergerak.
“Enggak, Mom. Aku mana mau, kalau sekedar teman, jadi saudara dan semacamnya aku sih bisa saja. Hanya kalau buat pacaran dan menikah aku pilih yang seiman.”
“Baguslah,” desah lega Sintia terdengar.
“Mommy kira lepas dari Yongki kamu malah terjebak cinta Edward.”
“Mana ada, Mom. Sepanjang hari kemarin nyanyian lagu rindu buat Yongki masih menggema di apartement. Baru Mommy datang semua foto Yongki disingkirkan,” sambar Wini cepat.
“Ya elah, Win. Jaga rahasia apa susahnya sih,” decak Agatha.
“Rahasia apaan, orang kemarin Mas Yoga saja bagi foto kakak sama dia dengan caption, calon kakak ipar. Aku tahulah kemarin mereka berdua ada keperluan ke Jakarta.”
“Halah, si Yoga ngomong apa?”
“Banyak, termasuk kakak yang disebut lampir dan bikin dia putus sama Nina.” Andra cekikan di akhir kalimatnya.
“Enak saja, pacarnya yang lampir. Mana ada aku yang disebut lampir, itu Wini juga tahu. Aku yang dijambak duluan.”
“Jelas dijambak dong, Ta. Nah, kamu baru ketemu langsung pelukan erat sama itu cowok di depan ceweknya. Jadi macan deh dia,” beber Wini yang membuat tawa di mobil kembali menggema.
Ah, setiap pertemuan selalu ada perpisahan dan perpisahan kali ini yang paling tidak diinginkan Agatha. Setelah tiga tahun menghabiskan waktu dengan Wini. Ini adalah malam terakhir mereka di mana esok pagi Wini akan kembali terbang ke pulau Sumatera, menuju Pekan baru tempat tanah kelahirannya. Sementara Agatha dan keluarga akan balik ke Indramayu.
***
“Welcome back to Indramayu Agatha Vernezza,” teriak Agatha begitu mereka memasuki perbatasan wilayah Indramayu dan Subang.
“Kak, mampir ke tempat Mas Yongki tidak,” tawar Andra yang sedang menggantikan sang Daddy duduk di belakang kemudi.
“Kemarin juga ketemu di kafe. Dia sama Miss Nadia. Pakai acara panggil aku sayang segala, kirain itu karena jarak membuatnya meleleh. Eh, ternyata aku salah besar. Dia begitu hanya bersandiwara agar Miss Nadia tidak terus mengejarnya.”
“Bah!” Tawa Andra meledak, tidak peduli di belakangnya bibir Agatha langsung monyong bersenti-senti ke depan.
“Ih, Ta. Itu bibir tolong kondisikan dong, Masa mau monyong begitu terus,” tegur Sinta menepuk bibir sang putri.
“Habisnya, bukan malah simpati sama aku. Dia malah ketawa ngakak tanpa dosa. Menyebalkan sekali, bisa tidak Mommy masukan dia balik ke perut. Aku mending punya adik semodel Sherlin dari pada adik cowok yang menyebalkan kayak si Andra.”
“Ngaco!” cebik Sinta dan lagi-lagi itu membuat Andra kembali menertawakan sang kakak.
“Nanti belok dulu ke rumah Sigit, Dra. Daddy ada janji sama dia.”
“Hei, Dad. Waraskah Daddy? Apa tidak ada waktu lain? Kenapa pula harus sekarang, aku tidak mau. Aku mau kita langsung balik tanpa mampir ke rumah Yongki,” tegas Agatha dengan melipat kedua tangannya di d**a.
“Siapa juga yang mau ke rumah Yongki. Kami mau ke tempat Sigit. Memangnya kamu tidak tahu kalau Yongki sekarang tinggal di Indramayu kota, dekat dengan kampus Unwir,” beber Arga membuat sang putri melongo.
“Serius Dad? Ngapain dia pindah ke sana?”
“Halah, sok tidak percaya. Padahal senangnya tidak terkira dengar Mas Yongki pindah,” sindir Andra.
“Diam, kunyuk!” Agatha menoyor lengan Andra.
“Dia buka cabang usaha di sana, toko grosir juga, gede lagi. Lumayan ramai juga soalnya kan memang di wilayah situ bukan wilayah kos-kosan. Dari anak Unwir, SMA SMK terdekat, dari AMIK dan lainnya juga banyak yang kos di sekitaran jalan Haji Juanda. Jadilah usaha Yongki semakin berkembang.”
“Wah, calon suami idaman banget. Mom, kapan dong mas Yongki buka hatinya buat aku.” Wajah Agatha dibuat memelas.
“Kapan-kapan, memangnya kamu tiga tahun di sana belum juga move on, Ta?”
“Belum, di sana kagak ada bule. Mommy juga yang salah, aku mau ke Paris malah dikirimnya ke Jakarta. Masih kurang jauhlah.”
“Halah, alasan saja. Bucin akut memang begitu. Otaknya kagak jalan, di matanya cuma Mas Yongki, mas Yongki. Parah,” desih Andra meledek sang kakak.
“Muka cantik, tapi kagak bisa gaet cowok,” sambung Andra membuat mata Agatha melotot sempurna.
Mulutnya sudah siap melancarkan protes dengan teriakan. Namun, Sintia sudah keburu membekap mulut sang putri. “Sudah, itu rumah Mama April sudah dekat. Kamu tidak kangen apa sama dia. Setiap ketemu dia tanya kamu terus.”
Napas Agatha masih ngos-ngosan sembari menatap kesal pada Andra. Hanya saja mobil yang bergerak masuk ke gerbang besar halaman rumah April membuat dia menahan kekesalannya pada sang adik.
“Oke, nanti tidak bahas aku sama mas Yongki ya, Mom, Dad, apalagi kamu, Dra.” Tajam mata Agatha menyorot Andra dari kaca spion di depannya.
“Siap, paling juga calon mertua yang bahas duluan,” kekeh Andra sembari mematikan mesin mobil.
Tidak lama dari dalam rumah keluar April menyambut tamu agung yang sudah lama dinantikannya.
“Ya ampun, Tata anak mama yang cantik. Long time not see you, kangen banget sayang,” teriaknya heboh melihat kedatangan Sinta sekeluarga.
Setengah berlari Agatha menyambangi April dan masuk dalam pelukan sahabat sang Mommy yang sudah seperti ibunya sendiri.
“Kangen mama juga, masih cantik, seksi dan ....” Agatha mendekatkan bibirnya ke telinga April. “Menggoda,” kekeh tawanya terdengar di akhir ucapan sebelum pelukan mereka terlepas.
Setelah saling sapa dan jabat tangan, Sigit mengajak Arga menjauh dari para ladies yang selalu heboh kala berkumpul. Ada hal penting yang akan mereka bicarakan menyangkut bisnis bersama yang baru digodok rencananya saja.
“Mas Yoga mana Ma?” tanya Andra yang malas bergabung dengan ketiga wanita yang selalu heboh dan bikin gendang telinganya berdenyut kala mereka sudah sibuk merumpi ini dan itu.
“Belum pulang, masih temani kakaknya di Jakarta. Rencananya hari ini mereka pulang, tapi entah pulang ke sini apa langsung ke rumah Yongki.”
“Halah, tahu begitu mah tadi aku ajak ke wisudanya kak –” Mulut Andra seketika terkantup melihat mata Sintia dan Agatha yang melotot ke arahnya karena sudah keceplosan bicara.
“Kamu sudah wisuda sayang?” tanya April mengusap rambut Agatha yang terikat rapi.
“Sudah Mama,” gagap Agatha menjawab. Pasalnya dari keempat sahabat sang Mommy, hanya April saja yang tidak tahu kalau Agatha tiga tahun ini ada di Jakarta bukan di Paris.
“Loh, tega kamu Sin. Ini berarti kalian pulang dari Paris.”
“Tidak.” Agatha yang menyahut dan itu membuat Andra serta Sintia wajahnya berubah tegang seketika.
“Tidak? Bukannya kamu kuliah di Paris?”
Agatha menggeleng, Andra memutuskan langsung kabur mencari space istirahat terbaik untuk melemaskan badan setelah perjalanan dari Jakarta dan yang paling penting mencari tempat bersembunyi agar tidak perlu mendengar omelan panjang April.
“Tidak? Terus selama tiga tahun ini kamu kuliah di mana? Mama lihat foto-foto kamu itu di Esmod. Beberapa kali kamu foto sama dosen bule juga?” tanya April yang kini tampak bingung, bergantian dia menatap Agatha dan Sintia seolah meminta penjelasan dari kebingungan yang mendera.
“Aku minta maaf mama,” sesal Agatha terpancar dari wajahnya.
“Minta maaf buat apa sayang?”
“Aku sudah bohong sama Mama, bukan karena aku tidak sayang mama. Hanya aku mencoba untuk mengeraskan hati dan melupakan Mas Yongki,” aku Agatha memulai kejujuran yang selama ini mereka sembunyikan dari keluarga April.
“Maksud kamu?” April semakin bingung.
“Ini kenapa coba Sin? Bisa kamu jelaskan apa yang kalian sembunyikan dari aku?” tanya bergantian melirik April dan Agatha.
“Aku saja Mom,” cegah Agatha ketika Sintia hendak angkat bicara.
“Sekali lagi aku minta maaf sama Mama. Aku bohong, aku tidak kuliah di Paris. Tiga tahun ini aku mengasingkan diri ke Jakarta.”
“What? Jadi selama tiga tahun ini kamu ada di Jakarta? Terus foto-foto kalian di Paris tahun lalu itu editan,” tebak April yang tahu beberapa foto yang diunggah Agatha maupun Sintia di lini masa media sosial milik keduanya.
“Itu kami beneran liburan ke Paris, Beib.” Sintia yang menjawab.
April tampak mengontrol emosi, ingin rasanya dia langsung mengomel panjang. Kecewa tiga tahun ini ternyata Agatha dan Sintia sudah membohonginya. Namun, dia paham kalau selalu ada alasan di balik keputusan yang diambil.
“Oke, oke, aku maafkan,” ujarnya sebelum menarik napas cukup panjang dan membuangnya perlahan.
“Mama kecewa, Ta. Aku kecewa Sin. Kamu tahu aku sayang sama Agatha dan dia seperti putriku sendiri. Ke mana-mana kami klop, mau ke salon, nonton, shopping, bahkan ke acara undangan resmi pun aku bisa bawa dia saat mas Sigit atau kedua anakku enggan diajak.
Nah, sekarang aku baru tahu kalau ternyata tiga tahun ini kalian menyembunyikan dia di Jakarta. Jakarta loh, Beib. Itu dekat, amat dekat dan aku bisa setiap bulan berkunjung ke sana.” Tetap saja luapan kata-kata kecewa April keluar meskipun tidak sepanjang yang mereka bayangkan.
“Sekarang katakan sama aku, apa alasan kamu menyembunyikan dia, Sin?” April menatap tajam Sintia sebelum tatapannya bergeser pada Agatha.
“Katakan apa alasan, Tata membohongi mama seperti ini. Mama kecewa sayang, mama kecewa, tapi mama tahu kamu pasti punya alasan. Sekarang jelaskan sama Mama.”
“Ini aku yang salah, bukan Agatha. Dia saja baru tahu kuliah di Jakarta saat Mas Arga sudah mendaftarkannya. Lagian, aku mana kuat pisah jauh sama dia, Pril.”
“Nah, kamu pikir aku tidak rindu sama anakmu. Meskipun dia brojol dari perut kamu, tapi aku mamanya. Calon mama mertua yang baik untuk Tata,” tegas April mengingatkan kalau dia hanya menginginkan Agatha yang jadi menantunya.
“Ma, ini yang bikin aku tidak mau mama tahu kalau aku di Jakarta. Mama selalu bilang aku anak mama, aku calon mantu mama. Hanya aku tidak mau nikah sama Yoga, aku cintanya mas Yongki, tapi mas Yongki enggak cinta sama aku, Ma.” Raut wajah Agatha dibuat memelas agar rasa kecewa April mereda dan tidak berubah jadi kemarahan.
“Aku sengaja minta mommy merahasiakan keberadaan aku di Jakarta biar aku bisa sedikit melupakan mas Yongki. Aku sadar, Ma, di depan mama dia tidak pernah protes, selalu menurut. Hanya saja aku tahu dia terpaksa dan mas Yongki tidak ada rasa sama sekali sama aku.
Sakit loh, Ma punya perasaan sepihak. Masa aku terus-terusan mengharapkan dia yang tidak pernah mengharapkan aku,” pungkas Agatha menutup pengakuan yang membuat April mendesah panjang karena apa yang dikatakan Agatha semuanya benar.
Yongki sudah berulang kali menolak untuk dijodohkan dengan Agatha dan memilih akan terus melajang sampai kapan pun kalau April memaksanya tetap menikah dengan Agatha.
“Baiklah, kalau begitu mama juga yang salah,” desah April pasrah.
“Jodoh memang tidak bisa dipaksa, Beib. Aku kasihan lah sama gadis cantikku ini. Masa iya aku terus biarkan dia mengharapkan satu pria sementara ratusan pria menunggunya,” sambung Sintia memberi pengertian pada sahabatnya.
“Jadi perjodohan anak kita mesti dilupakan?” tanya April tampak kecewa.
“Mungkin lebih baik seperti itu Beib, kalau memang mereka berjodoh, pasti akan mudah untuk menyatukan mereka. Percayalah.” Sintia menepuk punggung tangan April sementara Agatha langsung berpindah duduk di samping April untuk memeluknya.
“Maafkan Tata ya Mama,” bisiknya mengiba.
“Mama juga minta maaf kalau selama ini mas Yongki selalu bersikap dingin sama kamu ya sayang.”
“Aku tidak masalah mama, yang penting Mama sama Mommy masih tetap berteman meskipun nanti mungkin Mas Yongki memang bukan Jodohku.”
“Uh, sedih banget coba, Beib. Aku jadi ingat lagu bukan jodohnya, nyanyi yuk,” ajak April membuat kedua ibu dan anak langsung menggeleng bersamaan.
Usia sudah beranjak, tapi kebiasaan April masih saja sama. Mau sedih, mau bahagia, dan dalam kondisi apa pun selalu ada lagu yang dia ingat dan langsung dinyanyikan sesuai mood yang menyapa.