Duduk termenung dengan menhadap jendela balkon apartement adalah hal yang paling Agatha sukai selama tiga tahun ini. Apartement yang dibelikan Arga sebagai sogokan dan permintaan maaf karena tidak menuruti kemauan sang putri menimba ilmu di Paris.
“Ta, ngelamun lagi?” Wini mendekat. Sudah sejak awal masuk keduanya bertemu. Wini yang berencana mencari kos dirayu Agatha agar tinggal bersama di apartement.
“Bikin rancangan kok, ini.” Agatha memperlihatkan selembar kertas dan memberikannya pada Wini. Namun, arah tatapan matanya masih lurus ke depan.
“Bagus, ini unik. Lucu juga jadi berasa tidak pakai batik.” Kembali Wini meletakan kertas di depan Agatha dan menarik kursi untuk duduk di sampingnya.
“Thanks ya, Ta. Untuk tiga tahunnya. Sebentar lagi wisuda, rencana aku bakal balik lah. Sudah engap dengan biaya hidup di sini. Kamu?” Wini melirik Agatha, sedang yang dilirik sama sekali tidak mendengar pertanyaan yang ditujukan padanya.
“Agatha Vernezza, wake up. Kamu mau balik lagi ke Indramayu, tapi itu otak isinya masih Yongki mulu.” Wini mengguncang pelan badan Agatha. Tebakan itu bukan tanpa dasar, tentu saja dari figura foto Yongki yang sedang dipandang Agatha yang membuat Wini berpikir kalau sang sahabat masih belum juga move on dari cinta masa kecilnya.
“Apaan sih Win, kamu mau bunuh aku apa,” cebiknya mendorong mundur kursi yang diduduki Wini.
“Kamu ditanya diam saja. Kalau kangen si Yongki, kemarin bisa ikut Yoga ketemu kakaknya. Bukan malah duduk melamun dan berharap Yongki datang ke apartement ini. Imposible itu.”
“Iya, iya, memang tidak mungkin. Terus kamu mau tanya apa?”
“Aku selesai wisuda mau pulang, kamu jadi ambil kelas insentif satu tahun lagi?” tanya Wini mengingat rencana awal dia juga berniat mengambil kelas Fashion Design & Drafting selama satu tahun untuk program intensif.
“Yah, kalau kamu pulang sepi dong aku sendirian Win,” keluh Agatha karena selama ini mereka berdua mirip sandal yang ke mana-mana selalu bersama.
“Engap, hasil gambar tidak sesuai dengan kebutuhan harian. Mending pulang, desain sendiri buka tailor di sana,” putus Wini tidak sesuai dengan pembicaraan mereka tempo hari.
“Ah, aku juga pikir dua kali dong kalau kamu pulang. Malas benar di sini sendirian sementara si Angie juga sudah sibuk dengan rumah mode mamanya. Eh, kamu masih suplai desain ke sana?”
“Masih, sesekali saja.”
“Yuk, cabut. Butuh udara segar,” tawar Agatha seketika berdiri. Namun, Wini tidak juga bergerak hingga dia memutar badan kembali.
“Kenapa, pan tadi pagi kita sudah janjian mau ngemper di kafe.”
“Aku batal ikut, duit tipis gara-gara nge-mall kemarin, kagak enak terus dibayari kalian,” tolak Wini. “Aku di sini saja lah, lumayan dapat satu gambar bisa dikirim buat tambah jajan.”
“Ish, keluyuran itu buat cari inspirasi.”
“Kalau begitu sama Angie saja, aku mogok,” tolak Wini masih kukuh untuk tidak ikut pergi.
“Baiklah.”
Sudah bukan hal baru buat Agatha keluyuran sendiri hanya untuk menyegarkan pikiran. Selama tinggal di sini sudah berapa banyak rancangan busana yang dia kirim pada kedua orang tuanya. Sang Daddy pemilik rumah batik dan sang mommy memiliki butik hingga semua hasil gambar pemikirannya eksklusif untuk menunjang bisnis keluarga mereka.
Sudah banyak motif batik baru yang dia hasilkan beserta dengan rancangan busana yang menjadikan butik dan rumah batik keluarganya semakin dikenal.
Duduk di pojokan kafe dengan sebuah kertas kecil, pensil dengan penghapus ysng menempel di bagian ujungnya selalu mampu membuat Agatha bertahan berlama-lama sendiri. Sembari menunggu Angie datang, tangannya bergerak lincah menuangkan imajinasi yang tergambar dalam benaknya.
“Ehm, lanjutkan saja.” Suara deheman Angie membuatnya sejenak mendongak sebelum kembali menunduk fokus menyelesaikan bagian atas dari rancangan yang dia gambar.
“Wini mana?” tanya Angie setelah pensil terlepas dari tangan Agatha.
“Mogok, duitnya tipis. So, dia pilih ngehalu di kamar.” Semua alat gambar dia masukan ke dalam tas slempang yang dia bawa.
“Ah, mana seru di kamar. Biasanya juga dia asal cabut saja.”
“Lagi mikir buat pulang, Gie. Dia kagak jadi ambil kelas insentif. Usai wisuda lusa, dia boyong,” papar Agatha sesuai dengan apa yang disampaikan Wini.
“Serius?”
“Yupz. Sepertinya aku juga bakal balik kalau dia balik, kelas insentif bisa online dari rumah Gie. Aku bakal kesepian kalau sendiri.” Agatha menyesap kopu yang sudah tidak lagi hangat. Namun, seketika matanya melebar melihat kemeja batik modern yang dirancang khusus untuk kaum muda dan model itu hanya ada di butik sang mommy saja.
“Gie, itu hasil gambar aku loh. Motif batiknya juga aku yang bikin,” tunjuknya pada salah seorang pria yang duduk membelakangi mereka.
“Itu Miss Nadia loh, Ta.” Angie malah fokus pada wanita yang duduk di depan si pria yang merupakan salah satu tim pengajar di kampus mereka.
“Eh, samperin yuk. Banggalah aku, itu hasil otakku dan ada yang pakai sampai ke Jakarta.” Agatha sudah siap-siap berdiri sembari menyelempangkan tasnya, tapi Angie malah menahan langkah Agatha.
“Sepertinya mereka lagi ngedate loh, Ta. Ganggu banget kalau kita ke sana.”
“Ish, mana ada ganggu. Cuma bentar doang sekalian minta endors biar Mommy and Daddy semakin bangga akan hasil karya putri cantiknya ini.”
Tanpa menggubris Angie yang terus menahannya Agatha melangkah mendekati Nadia dengan pria yang entah siapa namanya. Terpaksa Angie pun mengekor langkah sahabatnya karena takut Agatha malah nanti lupa diri dan kelamaan mengajak mereka mengobrol.
“Excuse me Miss Nad,” sapa Agatha dengan sopan dan senyum semringah.
Pria yang duduk di samping Nadia pun ikut menoleh mendengar suara ceriwis yang biasanya selalu mengganggu dirinya. Tentu saja tiga tahun tidak akan membuat dia lupa dengan suara khas dari ....
“Agatha.”
Merasa namanya disebut sang pria, Agatha yang tadinya menghadap Nadia pun bergeser menatap sang pria yang ternyata adalah makhluk yang sedang dia hindari beberapa tahun ini.
“Mas Yongki, kok di sini?” tanyanya sembari menunjuk Yongki dan Nadia bergantian.
“Kenalkan, Nad. Ini Agatha.” Yongki meraih pinggang Agatha dan itu membuat napasnya seketika sesak diperlakukan semanis ini oleh pria yang biasanya cuek bebek.
“Aku sudah kenal, dia salah satu mahasiswa di kampusku.” Nadia yang biasanya selalu tampak ramah kini malah terlihat begitu acuh pada Agatha.
“Kamu ke sini sama siapa sayang?” Pertanyaan Yongki membuat ribuan kupu-kupu terbang dari d**a Agatha bersamaan taburan bunga yang membuatnya benar-benar terkesima hingga tidak sadar Agatha hanya mematung dengan bibir sedikit terbuka.
“Ta, Agatha.” Yongki menggoyang telapak tangan di depan wajah Agatha hingga dia gelagapan.
“Iya, Mas. Tadi ngomong apa,” gagap Agatha saat sadar dari rasa terpukaunya melihat sikap Yongki yang begitu menakjubkan di pertemuan mereka setalah tiga tahun berlalu.
“Kamu sama siapa?”
“Angie, itu.” Agatha menunjuk Angie yang berdiri di belakangnya. “Mas Yongki ngapain di sini sama Miss Nadia. Jangan bilang kalau kalian ada hubungan di belakangku ya,” tebak Agatha bicara asal karena selama ini dia tidak pernah rela kalau ada wanita lain yang terlihat mendekati Yongki. Siapa pun itu, termasuk Nadia-dosennya.
Oke, dia memang bukan siapa-siapa Yongki. Hanya rasanya dia tidak rela kalau misal benar Yongki dan Nadia memiliki hubungan istimewa yang tidak dia ketahui.
“Nadia teman kampusku,” aku Yongki.
Seketika Nadia berdiri. “Kami tidak ada hubungan apa pun. Maaf, aku ada acara lain. Silakan kalian lanjutkan berdua. Aku pergi,” pamit Nadia yang langsung melangkah lebar meninggalkan meja mereka.
“Loh, kok pergi sih,” gumam Agatha menunjuk ke arah Nadia.
Kepergian Nadia membuat Yongki melepas rengkuhannya di pinggang Agatha. “Terima kasih,” ujarnya membuat kepala Agatha celingukan.
“Kamu kenapa?” tanya Yongki. Sikap dinginnya kembali terlihat, tidak sehangat tadi memperlakukan Agatha di depan Nadia.
“Mas bilang terima kasih sama siapa?” tanya Agatha yang masih berdiri. Begitu juga Angie yang masih bertahan berdiri di belakang Agatha.
“Kamu, aku tidak mengenal siapa pun lagi di sini. Duduklah.” Yongki menunjuk kursi di depannya.
Agatha menarik lengan Angie untuk ikut duduk dan kini untuk pertama kalinya Angie tahu secara langsung wajah pria yang sudah membuat Agatha selalu kelimpungan selama tiga tahun ini.
“Apa kabar, Ta?” tanya Yongki dengan wajah yang begitu datar.
“Baik, Mas Yongki apa kabar. Aku kangen sama mas Yongki. Lama ya tidak bertemu, mas Yongki memangnya tidak kangen sama Tata. Ah, mana ada, paling juga mas Yongki bahagia kalau aku menghilang selamanya dan tidak muncul lagi di kehidupan mas Yongki,” cerocos Agatha baru berhenti saat Angie meremas pahanya.
“Masih Agatha yang sama,” desis Yongki.
“Baiklah, terima kasih sudah datang tepat waktu. Aku sudah tidak ada urusan di sini.” Yongki sudah mau berdiri, tapi sigap Agatha meraih pergelangan tangan Yongki.
“Jadi tadi itu sandiwara?” tanyanya dengan raut kecewa. “Aku pikir Mas Yongki kangen sama aku sampai panggil aku sayang. Rasanya aku hampir melayang karenanya.”
Satu sudut bibir Yongki terangkat. “Maaf, Nadia memaksaku menemuinya. Hanya aku memang tidak ada rasa sama dia,” aku yongki membuat Agatha serasa dibanting dari ketinggian Himalaya saat sikap Yongki tadi sempat membuatnya melayang.
Agatha menarik berat napasnya sebelum menghembuskannya perlahan. “Maaf, Mas. Harusnya memang aku tidak perlu ke ge-eran. Hanya kalau lain kali Mas Yongki butuh seseorang buat mengusir wanita-wanita yang mengganggu kehidupan mas Yongki. Aku dengan senang hati siap diajak bersandiwara.”
Angie miris mendengar Agatha mengatakan kalimat itu. Meski dengan nada ceria dan tidak tampak kesedihan sama sekali dari raut wajahnya. Namun, sebagai sesama wanita jelas dia mengerti kalau Agatha hanya sedang pura-pura teguh di hadapan Yongki.
“Oke,” sahut Yongki pendek. “Aku pulang,” sambungnya meninggalkan Agatha begitu saja.
“Padahal tiga tahun kita baru bertemu, Mas. Eh, Mas Yongki masih saja seperti itu,” keluhnya sembari bergumam lirih tanpa melepaskan arah pandang netranya dari punggung Yongki yang berjalan ke arah pintu keluar kafe.
“Itu Yongki, Ta?”
“Kamu belum budek atau pertanyaan kamu sengaja ingin meledekku?” Agatha menatap sinis sahabatnya, Namun, yang ditatap malah tertawa.
Hidup tidak selalu mulus, selalu saja ada yang mengecewakan meski di sisi lain tetap harus disyukurinya. Pertemuannya dengan Yongki siang itu membuat Agatha memilih untuk pulang usai wisuda yang akan diselenggarakan lusa nanti, Akhir pekan di minggu ini.
Sabtu pagi semua keluarga Agatha sudah siap di apartement sang putri untuk menyaksikan wisuda dari si sulung kebanggaan mereka. Berbeda dengan Wini yang di hari bahagianya tidak ada satu pun keluarganya yang datang,
Ah, tiket pesawat pulang pergi dari Jakarta-Pekan Baru tidak murah. Setidaknya kehangatan Sinta yang sudah seperti mamanya sendiri membuat Wini tidak terlalu bersedih hati.
Serangkaian proses Wisuda telah selesai. Kini Agatha sekeluarga bersama Wini sedang merayakan farewell mereka. Ada Angie juga yang hadir bersama mama dan papanya juga kakak laki-laki Angie, Edward yang sedari tadi tatapannya terkuci pada Agatha yang tampak bergitu cantik dengan balutan dress midi batik serta pita batik yang melingkar di rambutnya.
“Ehm, rupanya ada yang terpesona nih,” sindir Angie melirik sang kakak yang langsung gelagapan saat tatapannya seketika beradu dengan Agatha.
“Pa, itu bang Edward kok ya tidak mau lepas mandengin Tata. Matanya sampai mau lompat dipaksa melotot terus.”
“Apaan sih, Gie. Kamu lebay,” tepis Agatha malu.
“Ih benar kok. Dari tadi Bang Edward mupeng banget ngelihatin kamu.” Angie menunjuk sang kakak yang kini menunduk.
“Angie,” tegur Sang Mama membuat Angie cekikikan sementara Edward pura-pura tidak terpengaruh dengan godaan sang adik.
Hanya saja saat ada satu momen di mana Agatha tampak berdiri sendirian duduk menatap kemerlip lampu Jakarta dari rooftop restaurant. Dia mendekat, tidak mau melewatkan kesempatan yang ada.
Agatha selalu suka dengan kerlip lampu, itu membuatnya tenang dan sedikit melupakan harap dan cintanya yang tidak pernah berjalan seiringan. Harapannya bisa melupakan Yongki, tapi rasa yang ada justru semakin berkambang tidak terkendali.
“Ehm, boleh ikut duduk?” Edward menunjuk space bangku kosong di samping Agatha.
“Duduk saja, Bang.”
“Thank you. Kamu semakin cantik, Ta,” puji Edward. Ini memang bukan pertemuan pertama mereka. Sudah sering Agatha menyambangi Angie di rumahnya. Namun, malam ini Edward baru berani mendekati Agatha dan duduk berdua dengannya.
“Terima kasih, Bang. Aku sudah cantik dari bayi. Mommy cantik kan Bang? Makanya anak gadisnya juga cantik, takut kalah saing aku,” kekeh Agatha cekikikan.
“Kamu selalu bisa mencairkan suasana. Padahal Abang sudah grogi setengah gila mau duduk di sini.”
“Ah, Abang lebay. Kayak kita baru ketemu saja.” Angin berhembus cukup kencang, rambut Agatha yang tergerai bergoyang. Entah dorongan dari mana tangan Edward mengusapnya.
“Jangan ya, Bang,” larang Agatha menepis tangan Edward yang barusan terasa mengusap rambutnya.
“Aku tidak biasa disentuh pria,” sambungnya membuat Edward berujar maaf.
“Kak, kata Mama foto bersama dulu.” Andra datang menyelematkan Agatha yang sudah merasa kikuk hanya berdua saja dengan Edward.
Sebenarnya dia tahu kalau menurut Angie, Edward memang punya ketertarikan padanya. Namun, iman mereka yang berbeda membuat Agatha tidak pernah menganggapnya dengan serius. Apalagi selama ini Edward tidak pernah menunjukkan ketertarikannya secara langsung.
“Oke, kita foto dulu, Bang,” ajaknya turun terlebih dulu dari bangku panjang yang bisa diduduki berdua.
“Aku duluan ya.” Andra melenggang terlebih dulu dan kesempatan ini membuat Edward segera menangkap tangan Agatha untuk menghentikan langkahnya.
“Ta, sebentar,” pintanya. Mata Agatha turun ke bawah membuat Edward melepaskan kembali genggaman tangannya.
“Maaf.”
“Tidak apa-apa Bang. Ada yang mau Abang sampaikan?”
“Yups, sebentar saja bisa?”
“Oke.” Agatha mengangguk disertai senyum yang semakin membuat Edward terpesona.
“Sudah lama aku menyukaimu, Ta.”
“Aku juga, aku suka Abang jadi kakakku,” sahut Agatha mencoba mengalihkan kesan romantis dari pernyataan rasa Edward.
“Bukan itu, Ta, bukan sebagai adik dan abang. Aku menyukaimu sebagai seorang pria pada wanita yang membuatku terpesona hingga ada getar cinta yang tumbuh di sini.” Edward mengusap dadanya.
‘Matilah, bagaimana ini,’ keluh Agatha celingukan mencari bala bantuan yang mungkin bisa menyelamatkannya agar tidak usah menjawab pernyataan rasa Edward.