Meskipun dia (terpaksa) gambling, tapi Ros tetap mengetuk pintu kelasnya. Jam di tangannya sudah menunjukan pukul delapan lewat empat puluh. Tandanya dia sudah terlambat nyaris satu jam. Ros tak begitu peduli dengan hukuman yang bisa saja dijatuhkan padanya. Dia lebih ngeri jika harus mendengar khotbah eksklusif guru cantik yang suaranya menjadi merdu sekali saat memarahi semua siswa yang terlambat.
“Tok... tok…!” Ros mengetuk pintu lalu menurunkan handlenya. Kepalanya melongok. Seluruh isi kelas menoleh ke arahnya. Begitu juga guru cantik yang sudah berdiri di depan kelas sambil menenteng buku pelajaran. Ternyata pelajaran sudah dimulai. Mimpi buruknya sudah datang. “Maaf, bu. Saya terlambat. Ng- Jakarta macet banget, Bu.” Entah sudah berapa ribu kali kalimat itu diucapkan Ros tiap kali terlambat masuk.
Bu Endang kemudian menghampiri Ros. Guru tersebut meletakan bukunya dulu di atas meja. “Kamu pikir saya tidak tahu kalau Jakarta memang selalu macet setiap hari?”
Suara Bu Endang sama sekali tidak terdengar merdu sebetulnya kalau seperti ini. Tapi kesan yang tercipta saat mendengar ucapannya itu kadang-kadang lebih seram dari makhluk-makhluk halus yang biasa ditemui hampir tiap hari.
“Ng- tapi hari ini macetnya parah banget, Bu.” Ros berusaha beralasan. Tak perlu padahal. Sebab itu justru akan memperburuk nasibnya. Sudah tahu kalau teman-temannya bisa saja menyoraki dirinya.
Guru Sejarah yang sekaligus wali kelas nya tersebut tidak menggubris. Dia malah menatap Ros lekat dan lama. Membuat gadis itu jadi semakin salah tingkah.
“Segera kamu duduk. Tapi seusai pelajaran kamu ikut saya ke ruang konseling.”
Ros pun mengangguk lambat. Dia pun berjalan ke mejanya dengan wajah sedikit tertunduk. Beberapa teman-temannya ada yang berbisik-bisik. Ros sudah terbiasa juga dengan hal satu ini. Teman-temannya memang baik, semuanya baik. Hanya saja tidak ada satupun diantara mereka yang mau menjadi temannya.
Ros duduk di meja kelima, meja paling belakang. Pernah sekali dia duduk di meja pertama, tapi dia semakin tidak nyaman. Karena di belakangnya, teman-teman sekelasnya itu selalu berdiskusi tentang dirinya. Entah mengobrol lewat kertas yang di estafetkan ke tangan satu ke tangan lainnya. Atau jelas-jelas mengadakan diskusi terbuka setelah guru keluar kelas.
Mereka sebetulnya tidak sengaja, tapi lama-kelamaan Ros justru melihat bahwa semua itu karena mereka penasaran dengan keanehan yang ada pada dirinya. Meskipun penampilan Ros biasa saja, namun dia terpaksa harus mengalungi sebuah kalung dengan bandul mirip bola bekel.
Kata Bapak bandul itu peninggalan ibunya sebelum meninggal dan wajib untuk dikenakannya sepanjang hari. Selain aksesoris yang dia kenakan tersebut, kemampuan supranatural yang dimiliki juga bukan lagi jadi rahasia karena sudah menyebar dari mulut ke mulut.
“Mari kita lanjutkan pelajaran kita. Buka halaman enam puluh dua bab ke sembilan. Hari ini kita akan mempelajari materi baru tentang...,” suara Bu Endang seakan meninabobokan Ros.
Padahal dia baru saja duduk dan meletakkan tasnya. Sambil mengalahkan kantuknya yang tiba-tiba menyerang, Ros mengeluarkan buku dan seperangkat alat tulisnya. Dia memangku dagunya, memperhatikan dengan saksama penjelasan guru sejarah di depannya tersebut. Penjelasan yang begitu baik karena ketika Ros mengelilingkan mata, begitu banyak dari teman-temannya mengangguk paham dan kemudian mencatat penjelasan yang tertera di papan tulis ke dalam buku mereka.
Namun Ros justru tidak sebaliknya. Dia malah menyandarkan kepalanya ke atas meja. Kantuk ini benar-benar tak tertahankan. Ros sempat menegakkan punggungnya lagi agar tidak terbawa kantuknya. Akan tetapi kantuk ini benar-benar mendesaknya, mendorongnya untuk semakin masuk ke dalam alam mimpi yang begitu indah.
Ros merasakan kepalanya berguncang pelan. Telinganya juga menangkap keriuhan dan suara tepuk tangan. Apa dia sedang bermimpi berada di pertandingan badminton? Kenapa berisik sekali? Ros mencoba untuk membuka kelopak matanya perlahan-lahan. Nampak wajah Bu Endang mendekati wajahnya lalu tersenyum meledek.
“Coba jelaskan apa dampak budaya Eropa pada Indonesia, Rosmanah.” Bu Endang menyodorkan buku pelajaran ke depan wajahnya yang masih terbaring diatas meja. “Kamu pasti sudah memperhatikan ibu dengan baik sejak tadi. Benar, kan?!”
Gadis itu terlonjak kaget dan langsung menegakkan punggungnya. “I-iya, bb-u.” Ros seakan harus menelan biji salak saking sulitnya ludah tertelan.
“Apa yang kamu lakukan semalam, huh?” tanya Bu Endang agak emosi. “Kenapa kamu tidak tidur di rumah dan malah tertidur pulas di pelajaran saya?”
“Ma-af, bb-u.” Ros menundukkan kepala. Seiring dengan jawaban itu, seisi kelas berkur ria dan bertepuk tangan. Ada yang bersiul, ada yang tertawa-tawa, bahkan ada yang menatap dengan sinis.
“Semalem pasti habis ritual itu, Bu. Setannya susah diusir pasti. Makanya dia kecapekan.” Celetuk salah seorang temannya. Itu memang kebenarannya, tapi menurut Ros pernyataan tersebut tak perlu diucapkan terus menerus.
“Setannya bisa jadi lagi PMS, bu. Jadi mood setannya lagi nggak bagus. Makanya si Ros ngusir setannya jadi nggak mudah.” Disusul tawa meledek lainnya yang semakin menjadi.
“Setannya satu batalyon, ya, Ros? Makanya jadi capek.”
Dan berbagai macam kalimat sejenis walau beda versi. Ros merasa ingin menangis. Tapi kalau dia menangis di sini, teman-temannya pasti akan semakin meledek dan tertawa melihatnya. Kenapa mereka tidak bisa menghargai usaha dan kerja kerasnya mengusir berbagai macam setan yang mengganggu banyak orang.
Usahanya tidak pernah dinilai sama sekali. Sekali pun. Mereka tidak tahu betapa sulitnya menghadapi makhluk-makhluk tersebut. Meskipun Ros tidak pernah gagal, tapi bukan berarti menghadapi dan mengusir mereka ke alam mereka sendiri bukanlah pekerjaan gampang.
Betapa tidak nyamannya dia ketika harus berhadapan dengan makhluk bertampang menyeramkan yang untuk ukuran normal, jika mereka sanggup melihatnya, pasti sudah lari terkencing-kencing atau pingsan berdiri. Ros tak menyangka kalau kemampuannya itu malah tidak pernah dianggap oleh teman-temannya sendiri. Padahal jika mau diingat memangnya siapa yang dulu mengusir penghuni sekolah ini hingga sekolah jadi kembali damai dan tentram jika bukan dirinya?
“Ros, ibu tidak bisa melarang tentang pekerjaanmu. Ibu tahu itu sudah menjadi bakat lahirmu. Tapi ibu mohon, kamu jangan pernah meremehkan pendidikan. Ilmu ini juga akan berguna untuk kamu di kemudian hari. Jadi, ibu hanya bisa bilang, hargailah diri dan waktu belajar kamu, ya.”
Mudah sekali ibu ini bicara. Dia tidak tahu makhluk macam apa yang biasa bergulat dan berhadapan dengannya. Makhluk berjenis apa yang selalu membuatnya tidak bisa tidur tenang. Meski sudah terbiasa, tapi tidakkah Bu Endang mengerti kadang ada beberapa jenis makhluk halus yang sengaja meninggalkan kesan di alam bawah sadarnya hingga Ros harus memimpikan ia berhar-hari.
Ah! Kenapa juga Ros harus mempertanyakan itu semua. Jelas saja mereka tidak akan pernah tahu. Sebab penglihatan mereka tidak seperti dirinya.
“Iya, bu. Maafkan saya. Saya tidak akan mengulanginya lagi,” ucap Ros masih tetap menundukan kepala. Ros bukan takut pada bu Endang. Gadis itu hanya tidak ingin melihat tampang puas dan cekikikan teman-teman yang masih meledeknya dan menertawakannya. Sebab hal ini akan berlangsung hingga jam istirahat nanti. Karena itu Ros lebih memilih untuk menunduk saja.
“Baiklah, anak-anak. Mari, kita teruskan pelajaran kita. Coba, Martha. Kamu jelaskan apa yang tadi ibu tanyakan pada Ros.” Bu Endang menunjuk seorang gadis yang Ros tahu adalah murid berprestasi, dalam hal akademik tentunya, di kelasnya.
Dalam kepala tertunduk itu, Ros melirik ke kanan-kirinya. Teman-temannya nampak antusias dengan pelajaran ini. Tidak. Tidak hanya pelajaran ini sebetulnya. Hampir di semua pelajaran mereka selalu antusias. Mereka selalu bisa berkonsentrasi penuh dengan pelajaran dan juga apa yang mereka alami di usia remaja.
Berkumpul, bersosialisasi, hang-out dan segudang kegiatan manusia lainnya. Sementara dirinya? Jangankan ke mall atau minum teh sepulang sekolah dengan guru dan teman satu kelompok, bergaul dengan lebih luwes saja Ros tidak bisa melakukannya. Teman-temannya seakan membangun tembok tebal dengannya. Mereka memang bisa merespon apa yang dia bicarakan. Tapi untuk berteman? Nanti dulu. Sepertinya masih perlu dipikirkan.
Belum lagi penampilannya yang selalu mencolok sendiri. Berbeda dengan teman-temannya yang selalu bangga akan rambut panjang lurus hasil keluar masuk salon dan berbagai macam obat pelurus rambut, Ros memiliki rambut yang sangat indah. Alami. Rambutnya panjang nyaris sepinggang, lurus dan hitam, tanpa pewarna. Namun sayangnya, Ros tak pernah bisa menunjukkannya.
Dia harus menggelungnya agar terhindar dari serangan tiba-tiba arwah jahat. Selain kalung berbandul seperti bola bekel peninggalan ibu, Ros juga terpaksa harus menggunakan dua buah gelang kembar masing-masing di tangan kanan dan kiri, serta sepasang cincin kembar di jari manis dan tengah yang pasti tidak lazim bagi teman-temannya. Itu memang bukan aksesoris umum seperti yang mereka pakai. Itu adalah jimat yang berisi mantra khusus dan sengaja diberikan oleh ibu sebelum meninggal.
Jam istirahat akhirnya tiba. Ros dipanggil oleh Bu Endang untuk ikut dengannya ke ruang konseling. Ros tidak akan bosan. Tapi guru yang menanganinya mungkin saja sudah hampir mual bahkan muntah. Sebab hampir setiap hari Ros selalu dipanggil ke sana. Berbagai macam masalah sudah Ros konsultasikan. Tapi hasil pasti atau jalan keluarnya selalu buram.
Tidak dapat terbaca dengan jelas oleh Ros. Karena masalah yang dialaminya tidak sama seperti teman-temannya lain. Ros tidak terlibat kasus nark0ba atau pergaulan bebas. Ros tidak pernah sengaja membolos demi hang-out ke mall. Ros tidak pernah ketahuan makan di kantin saat pelajaran berlangsung. Tidak ada yang salah dengan gadis itu. Hanya ‘ketidakberesan’ yang dirasa akan mengganggu proses belajar mengajar dari dirinya saja.
Kelebihan Ros melihat, berkomunikasi, hingga bertempur secara langsung dengan makhluk halus ternyata tidak selalu menguntungkan dirinya. Tidak semua makhluk halus dapat diajak bekerja sama. Meskipun mungkin beberapa orang di sekolah tersebut mengakui kemampuannya, tapi tidak semua orang dapat menyukainya.
Kepala sekolah dan teman-temannya mengakui kemampuan supernatural Ros, namun tidak semua dari mereka menerima dan mau dekat-dekat. Ros pun tak memaksa. Hanya saja, itu membuat sekat maya antara dirinya dan orang-orang disekelilingnya yang otomatis membuat pergaulan Ros jadi sangat terbatas.
Contohnya saja seperti sekarang ketika dia baru keluar dari ruang konseling, beberapa pasang mata sudah menyambutnya dengan tatapan aneh, mulut berbisik-bisik, postur nampak menjauh seperti tak ingin sengaja melihat. Jujur saja Ros sudah terlalu biasa melihat itu semua. Dulu, dia sudah mencoba untuk mengakrabkan dirinya. Pernah berhasil. Tapi tidak dalam konteks sesederhana itu juga.