Sudah sejak lama Ros ingin melakukan ini. Mencari tahu lebih dalam mengenai aksara Jawa untuk bisa membaca dengan jelas apa yang sebenarnya tertulis di buku harian sang Ibu. Namun, entah mengapa sejak dulu selalu ada saja yang menghalanginya untuk melakukan hal itu. Bisa jadi karena ia kehabisan waktu dan kelelahan sendiri setelah membuka praktiknya, Ros lalu terlupa dan akhirnya jadi tak fokus lagi. Padahal sudah sejak awal mengambil buku tersebut Ros sudah berencana untuk mempelajari dan memahami apa isinya.
Malam ini, Ros akan memanfaatkan momen yang ia miliki untuk mempelajari dan mengungkapkan apa saja yang Ibu tuliskan di sana. Mungkin saja ada petunjuk yang berarti dan penting untuk dirinya sendiri. Begitu mesin pencari di laptopnya mengeluarkan hasilnya, Ros pun mulai membaca dengan perlahan dan mengenali huruf demi huruf aksara Jawa tersebut. Ros bahkan langsung mencatat semua huruf yang ia lihat dan diingatnya dengan baik dalam kepala.
"Oke, gue rasa ini cukup dulu untuk biar gue bisa baca kata per kata nya. Sekarang sambil sekalian gue salin. Oke, semangat Ros!" ujarnya menyemangati dirinya sendiri.
Ros mulai membaca halaman awal di mana ia cocokkan juga dengan aksara Jawa yang beberapa sudah tak terbaca jelas. Makanya Ros agak sulit memahami saat ia sudah mulai bisa membaca kalimat yang semakin dalam padahal masih di halaman yang sama.
Ros nyaris menyerah karena rasanya aksara Jawa yang sudah ia kumpulkan dan hafalkan bentuknya di luar kepala ini, tak mirip sama sekali dengan yang tertulis di buku harian Ibu nya. Otaknya mendadak buntu dan ia sulit berpikir. Ros memutuskan untuk menuangkan air minum dulu ke gelasnya yang sudah kosong. Siapa tahu ia hanya butuh cairan. Sambil berjalan ke arah meja tempat teko airnya berada, Ros mempertanyakan kembali semangat nya sendiri.
Padahal tadi sepertinya Ros begitu menggebu-gebu ingin bisa membaca dan memahami apa yang dituliskan oleh Ibu di dalam buku hariannya tersebut. Namun saat ia semakin mencoba memahami, dirinya justru semakin menemui jalan buntu dan usahanya jadi sia-sia saja.
Ros menoleh ke arah cermin rias yang ada di seberangnya. Bayangan mengengai gadis yang serupa dirinya namun memakai penutup mata jadi teringat lagi. Apakah benar mengenai ungkapan bahwa sesungguhnya kita punya kembaran tak kasat mata yang bisa menolong saat kesusahan? Jika benar ada, apakah gadis dengan penutup mata itu memang kembaran dirinya yang tak pernah Ros sadari? Mengapa Ros sampai tidak tahu? Bukankah seharusnya Ros tahu?
Semua pertanyaan itu seolah-olah membayangi Ros terus menerus hingga membuatnya berpikir dan mencari tahu dari ingatan yang ia miliki. Apakah ia memang memilili saudari kembar atau gadis itu hanyalah ilusi? Bisa jadi. Tidak menutup kemungkinan juga, apa yang coba Taji perlihatkan padanya bisa saja hanya sebuah ilusi semata. Sebentar. Ros punya cara untuk memastikannya. Toh ia sudah berinteraksi 'fisik' dengan Taji. Pasti ada hawanya yang tertinggal.
Gadis itu lalu memusatkan konsentrasinya dan meraba-raba kedua tangannya sendiri untuk merasakan hawa Taji yang sempat tak sengaja ia sentuh waktu itu. Radar dalam kepala Ros masih terus memindai hingga akhirnya sebuah sinyal berwarna merah menyala dan Ros dapat melihat dengan jelas seperti apa sosok Taji sebenernya. Saat menyadari wujud asli Taji setelah menemukan hawa tubuhnya, Ros kontan tertegun. Karena wujud Taji rupanya masih utuh dan belum berubah menjadi sosok makhluk astral yang mengerikan dan membuat mual.
Ros masih mempertanyakan mengapa bisa demikian? Dia pun bergumam sendiri. "Antara sebelumnya dia manusia yang punya kekuatan tinggi tapi nggak bisa ke mana-mana, atau dia memang arwah yang tidak pernah berbuat jahat pada manusia. Hmm… dua-duanya menarik," gumam Ros. "Tapi kalau dia bukan arwah jahat, berarti untuk apa dia terus bergentayangan?!"
Gadis itu terus mempertimbangkan berbagai kemungkinan mengapa Taji masih memiliki wujud yang utuh. Sampai kemudian satu sinyal terasa oleh radarnya. Ros seperti mendengar suara seseorang yang bicara padanya. "Ros… lo bisa denger gue?!" tanya suara tersebut.
Jelas saja Ros tersentak dengan suara tersebut. Ia sampai menoleh ke kanan-kiri, ke atas dan ke bawah untuk memastikan arwah mana yang bisa menembus proteksi di kamarnya.
"Percuma lo cari-cari, Ros, karena gue cuma mengirimkan suara aja via pikiran lo. Jadi cuma lo doang kok yang bisa denger suara gue sekarang," ucap suara itu lagi pada Ros.
"Ini siapa sih?!" tanya Ros masih belum menyadari siapa orang yang mengajaknya bicara.
"Ini gue, Taji." Ros semakin tersentak kenapa Taji bisa menembus pada proteksi dirinya. "Lo jangan bingung dulu kenapa gue bisa ngomong ke lo dengan cara begini. Karena lo udah memproteksi area rumah lo jadi gue nggak bisa tembus ke sana. Makanya gue pikir bisa pake cara ini untuk bicara sama lo," terangnya lagi. "Lo lagi melakukan ritual sampe lo pagerin area kamar lo?" Taji meneruskan bertanya. "Bukannya ruang praktik lo ada di bawah?"
Dahi Ros mengernyit. "Kok lo udah tahu banyak hal kayak gitu sampe ke ruang gue berpraktik segala? Lo udah pernah ngintilin gue sampai ke rumah?" tanya Ros menyelidik.
"Hmm… sebenernya gue pernah nyamar jadi pasien lo, Ros," ungkap Taji kemudian. "Gue aja ampe heran kenapa lo nggak nyadarin itu dan nggak mengendus aroma gue. Mustahil. Karena dari yang bisa gue rasain, kekuatan yang lo miliki itu cukup tinggi. Tapi kok nggak bisa merasakan hawa yang sama ketika gue datang ke sekolah siang itu," jelas Taji lagi.
Ros sendiri penasaran kenapa bisa begitu. Awalnya dia berpikir bahwa bisa saja karena Taji merupakan arwah tingkat tinggi hingga dirinya tak dapat merasakan kehadirannya. Semakin ke sini kenapa semakin banyak bukti kalau justru dirinya yang tak mampu menyadari energi yang sama untuk dua kali? Ros seperti memiliki keterbatasan untuk bisa merasakan energi dengan kemampuan standarnya. Ros harus selalu mengerahkan kemampuan tenaga dalamnya untuk bisa merasakan hawa dan energi tersebut. Ros juga penasaran bagaimana bisa begitu.
"Gue beneran penasaran sekarang. Gimana bisa gue skip beberapa kali kehadiran lo, dan sampai nggak menyadari padahal gue udah duduk sama lo juga. Kenapa bisa begitu?!"
Terdengar Taji menghela napas dalam. "Gue bisa bantu lo nyari tahu, tapi gue nggak bisa kalau ngomong melalui pikiran kayak gini. Karena energi tubuh gue kesedot cepet banget."
Ros mempertimbangkan apa yang Taji ucapkan. Ia kembali mengingat apa yang sudah Taji ucapkan padanya. Mungkin memang harus ada yang ia cari tahu terlebih dulu dari latar belakang Taji. Apalagi saat Ros melihat lagi aksara hanacaraka yang kini mangkrak di atas mejanya, Ros jadi merasa perlu mencari tahu lebih banyak. Identitas arwah atau dalang yang membuat ayah Ayla celaka pun masih perlu ia cari. PR yang Ros punya saat ini cukup banyak.
Meski demikian, dirinya harus tetap berjaga dengan segala kemungkinan yang terjadi. Oleh sebab itu, Ros pun berpikir untuk memberikan satu kondisi pada Taji yang perlu disepakati.
"Gue bersedia untuk mendengarkan keseluruhan cerita lo, kenapa lo waktu itu bilang sengaja nunggu kelahiran gue dan apa tujuan lo sebenarnya. Gue juga pengin tahu apa lo berguna untuk membantu gue menemukan sesuatu."
"Lo penasaran dengan isi buku harian nyokap lo, kan?!" tebak Taji.
Ros sudah tidak bisa terkejut bagaimana Taji tahu. Entah proteksinya yang terlalu rendah atau memang saat ini tingkat kekuatan Taji jauh lebih tinggi darinya, tapi Ros mencoba untuk tak kaget-kaget amat dengan fakta tersebut. Mungkin memang benar kalau Taji tahu sesuatu yang luput dari perhatian mata batinnya. Ros masih sibuk dengan pikiran dan segala pertimbangannya saat Taji melanjutkan kalimatnya yang membuat kedua mata gadis itu terbelalak.
"Gue bisa bantu lo untuk melihat kelahiran lo sendiri kalau lo mau," kata Taji pelan. "Tentu lo masih penasaran dengan bagaimana wajah Ibu lo sampai sekarang."
Ros membeku dan hampir tak mampu bicara. "Lo bisa bantu gue… untuk tahu wajah nyokap gue?" tanyanga gamang. "Bener-bener bisa lihat gimana wajahnya dengan jelas?!"
"Selama ini lo bisa melakukannya dengan kekuatan lo, Ros. Tapi pasti lo nggak tahu. Makanya, sebelum bisa melakukan itu, lo kudu nyari tahu dulu kenapa lo bisa nggak tahu berapa kadar kekuatan lo sendiri. Karena kalau lo aja nggak tahu seberapa jauh atau dalam batas kekuatan lo, maka lo juga nggak bisa memaksimalkan kekuatan lo."
Setelah mendengar pernyataan Taji barusan, Ros merasa ucapannya memang masuk akal dan bisa dipercaya.
"Jadi… kalau gue udah tahu seberapa jauh kekuatan dan kemampuan gue, maka segala hal yang pengin gue tahu, dan kepentingan lo itu bisa gue atasin juga?!" tanya Ros memastikan.
"Tentu aja. Karena seperti yang gue udah bilang ke lo di awal kita duel, kekuatan lo yang bisa gue rasain itu cukup besar. Jadi gue sangat heran kalau lo sampai nggak tahu bahwa kekuatan lo memang sebesar itu." Taji kembali menjelaskan.
"Lalu, menurut lo sekarang gue harus gimana dulu?" Ros jadi ingin tahu.
"Semedi untuk mendalami diri kekuatan yang ada di tubuh lo. Dan lo nggak bisa melakukannya di rumah," kata Taji lagi. "karena terakhir gue nyamar jadi pasien lo ke situ, gue merasakan bahwa hawa rumah lo sungguh sesak dan penat. Seperti suram dan ditutupi mantra lain. Tapi gue rasa bukan dari lo yang memproteksinya. Karena itu bukan hawa yang bisa gue tangkap dari kekuatan lo."
Ros makin tidak mengerti. Namun ada banyak ucapan Taji yang masuk akal dan memang ia rasakan juga. Makanya kali ini pun ia ingin mencoba mendengarkan saran yang bisa Taji berikan padanya. Karena ia tak akan tahu bagaimana hasilnya jika ia tidak mencoba memaksimalkan kemampuannya seperti yang diucapkan Taji.
"Kalau bukan di rumah, lalu gue harus melakukannya di mana?!" tanya gadis itu penasaran.