Bisakah Mewariskan Kekuatan?

1857 Words
Ros sebenarnya kaget dengan keberaniannya sendiri untuk mengatakan hal tersebut pada Bapak. Sebab sejak dulu, ia selalu menyimpan hal tersebut dalam hati. Namun saat ini sepertinya memang sudah tidak tertahankan lagi. Hingga kemudian Ros pun mengungkapkan semua yang selama ini tersimpan rapi dalam hatinya pada Bapak. Mendengar penuturan Ros, Bapak terlihat tetap tenang. Setelah beberapa detik berlalu usai Ros mengatakan itu, Bapak pun bicara. “Bapak nggak tahu apa alasannya sampai kamu berpikir demikian, Nduk. Tapi Bapak punya tujuan kenapa Bapak seperti itu. Bapak memikirkan kebutuhan kamu dan masa depanmu. Bapak mungkin terlihat mengeksploitasi kamu karena membiarkan kamu bekerja padahal belum waktunya. Tapi Bapak selalu mendukung semua keputusan kamu. Termasuk jika kamu memang ingin berhenti praktik dan membantu orang-orang yang membutuhkan jasa kamu.” Meskipun Ros agak surprise karena Bapak seperti memahami ‘kelelahannya’ karena jam praktiknya, namun Ros berusaha tetap tenang dan tak terpengaruh. Ia harus tetap terlihat seperti orang yang tidak menuntut meskipun sebenarnya demikian. “Bapak benar-benar tidak akan memaksa kamu, Nduk, jika kamu mau berhenti. Tapi…” kalimat Bapak terpenggal dan membuat Ros benar-benar penasaran. “Bapak rasa kamu harus melepaskan kekuatan kamu sepenuhnya dan mewariskannya.” Dahi Ros mengerut, tak paham. “Mewariskannya?” tanyanya. “Ros kan belum punya keturunan, Pak. Pada siapa Ros harus mewariskan kekuatan Ros itu?!” Bapak maju mendekat dan memegang kedua bahu Ros. “Kamu bisa mewariskannya pada Bapak, Nduk. Biar Bapak yang mengambil alih pekerjaan kamu menyembuhkan orang-orang. Bapak juga tidak mengerti mengapa Ibumu mewariskan seluruh kekuatannya pada kamu. Tapi pasti Ibumu punya alasannya sendiri yang sayangnya tidak ia katakan pada Bapak saat itu.” Ros mencerna kata-kata Bapak dan mendengarkannya dengan baik. Ia lalu menatap wajah Bapak yang meyakinkannya lagi. “Kita hanya berdua, Nduk, salah satu di antara kita harus mengorbankan waktu dan tenaga agar hidup kita tetap berlanjut. Makanya, jika kamu sudah tak sanggup, biarkan Bapak yang meneruskan apa yang sudah diwariskan Ibumu,” kata Bapak lagi. “Memang bisa Pak kalau aku mewariskannya ke Bapak? Bukannya ‘mewariskan’ kekuatan ini harus pada keturunan, ya?” tanya Ros dengan nada bingung. Bapak yang semula tertunduk lalu berdiri dengan tegak. “Kita bisa minta bantuan Ki Damari untuk proses pelepasan kekuatannya, Nduk. Nantinya kekuatan dalam diri kamu akan berpindah sepenuhnya ke tubuh Bapak. Jadi kamu tidak perlu lagi praktik mel4yani pasien kesurupan atau membantu pengusiran s3tan sampai larut malam jika kekuatannya sudah berpindah sepenuhnya pada Bapak,” lanjut Bapak menerangkan. Ros nyaris terlupa jika ada Ki Damari yang bisa membantu proses pemindahan kekuatan dari tubuhnya dan mewariskannya pada orang lain. Benar juga! Ia tidak harus melepaskan kekuatan tersebut dan membiarkannya lenyap jika ia bisa mewariskan pada orang yang masih keluarganya. Ros lalu memandang ke arah Bapak dengan senyum merekah. Kenapa tidak terpikirkan sama sekali kalau ia bisa mewariskannya? “Beneran Ki Damari bisa bantu mewariskan kekuatanku ke Bapak?” tanya Ros antusias. “Kalau bisa, hari ini juga kita lakukan proses pemindahan kekuatannya.” Bapak lalu berpikir sejenak. “Hari ini malam Jumat Kliwon, Nduk. Setahu bapak, agak susah.” Wajah Ros langsung lesu ketika mendengar Bapak mengatakan kalimat itu. “Tapi, besok saat hari Jumat, kemungkinan bisa. Biar Bapak hubungi dulu Ki Damari nya juga buat minta bantuan untuk mewariskan kekuatan kamu ke Bapak.” Senyum sumringah kembali terlihat di wajah Ros. “Jadi, hari ini, anggap saja kamu melaksanakan tugas terakhir kamu untuk membantu para pasien yang datang dan mengobati mereka dengan baik. Pokoknya lakukan dengan sepenuh hati,” tutur Bapak. Ros mengangguk dengan semangat. Ia pun lalu memeluk Bapaknya karena kini ia sudah mendapatkan pencerahan mengenai kemungkinan untuk mewariskan kekuatannya pada orang lain. Bayangan bahwa ia akan menjalani hidup normal seperti anak-anak muda seusianya membuat Ros sangat antusias. Bapak lalu menyuruh Ros untuk menyelesaikan makannya dan segera bersiap-siap. Ros pun menurut dan bergegas melanjutkan menyantap ayam goreng lengkuas buatan Bik Imah tersebut. Karena sudah terfokus pada urusan mewariskan kekuatan Ros, kemarahan Bapak pada Bik Imah pun reda begitu saja. Bapak bahkan langsung kembali ke kamarnya tanpa bicara dan berkomentar lagi. Hal tersebut jelas membuat Bik Imah lega. Usai menuntaskan makannya, Ros kembali ke kamarnya dengan perasaan berbunga-bunga. Terbayang sudah betapa bebasnya nanti ia akan menjalani kehidupan sebagai seorang remaja yang normal. Bermacam aksesoris dan benda-benda keramat yang saat ini dikenakannya bisa saja ia lepaskan untuk selamanya.  Ros segera berdiri di depan cermin lalu melepaskan gelungan rambutnya. Rambutnya langsung jatuh terurai. Ia mengambil sisir dan menyisirnya dengan lembut. Sudah lama sekali Ros ingin menggerai rambutnya seperti ini tanpa perlu khawatir akan diikuti set4n dan arw4h iseng yang hendak balik mengerjainya. Sudah terbayang bahwa ia tidak akan diledek atau disindir-sindir lagi oleh teman-teman kelasnya karena penampilanya sudah lebih umum seperti anak normal kebanyakan. Ros tak dapat menutupi perasaan bahagianya sampai-sampai ia terus senyam-senyum sendiri. Senyum dan aura kebahagiaan tampak memenuhi wajah Ros sampai tiba waktunya buka praktik. Pasien pertama, kedua dan ketiga masih bukan keluhan yang berat. Karena hanya s3tan-s3tan iseng saja yang menempel dan tidak begitu sulit dibersihkan. Pada pasien-pasien berikutnya lah Ros harus lebih berkonsentrasi dan mengerahkan seluruh kemampuannya karena rupanya bukan jenis dem!t biasa saja. Meski demikian, Ros masih terlihat menikmati momen-momen mengobati pasien-pasien yang datang. Karena ia merasa ini adalah momen langka yang mungkin tidak akan ia rasakan lagi besok-besok. Makanya sebisa mungkin Ros mengerahkan kemampuannya demi membantu mereka yang diganggu oleh makhluk-makhluk astral tersebut. Rasa lelah dan capeknya malam itu akan terbayar setelah ia menjalani proses pemindahan kekuatan pada Bapak. Ros sungguh tak bisa berhenti tersenyum bahagia. Pasien terakhirnya selesai Ros bantu tepat pada pukul 2 dini hari. Ketika Ros sedang membereskan baskom air dan kembang-kembang yang ada di atas tampah, Bapak masuk ke ruang praktik sambil membawakan sebotol air mineral dingin. “Biarkan saja, Nduk, nanti bapak yang bereskan,” ucap Bapak sambil mendekati Ros dan mengambil alih tampah bunga tujuh rupa tersebut. “Kamu istirahat saja.” Namun, Ros menolak. “Nggak apa-apa, Pak. Biar Ros sendiri yang bereskan. Mungkin aja nanti Ros nggak akan membereskan sendiri bekas ritual dan proses pengobatan pasien-pasien yang datang ke sini,” ujar Ros lalu meneruskan kegiatannya. Bapak pun membiarkan Ros melanjutkan berbenah. Ketika selesai, Bapak menyerahkan botol air mineral dingin tersebut pada Ros. Gadis itu menerimanya.  “Wah, aku nggak tahu minum air pada jam segini bisa sangat enak,” sahut Ros setelah meneguk setengah botol air nya. “Makasih ya, Pak, udah bawain minum.” Bapak mengangguk-anggukan kepala. “Itu sudah jadi tugas Bapak. Kamu kan tahu, selama ini Bapak tidak bisa membantu apa-apa. Ikut mengobati pasien tidak bisa. Bapak hanya bisa menunggu sampai kamu selesai dan cuma membawakan air untuk kamu.” Bapak merangkul bahu Ros dan mengusap lengannya. “Jika memang keputusan kamu sudah bulat untuk pensiun dan mewariskan kekuatan tersebut pada Bapak, Bapak hanya bisa mendukung. Mungkin Bapak tidak akan segesit dan secepat kamu karena usia bapak juga yang sudah tak lagi muda. Tapi kalau memang kamu menginginkan untuk melepaskan kekuatan tersebut, tidak apa-apa. Bapak rasa Ibu pun akan mengerti keputusan kamu.” Mendengar kalimat terakhir Bapak, senyum Ros tiba-tiba lenyap. Bapak pun bingung dengan perubahan ekspres Ros yang begitu cepat. “Kenapa, Nduk? Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiran kamu?”  Ros menoleh pada Bapaknya dan bertanya. “Apa Ibu nggak akan marah kalau Ros melepaskan kekuatan ini, Pak? Ibu nggak akan kecewa, kan, Pak, kalau Ros mewariskan kekuatannya?” pertanyaan itu dibarengi dengan kedua mata yang berkaca-kaca. “Ros takut Ibu akan marah dan kecewa karena Ros melepaskan seluruh ilmu yang diwariskan Ibu,” ucapnya lagi. “Andai Ros tahu apa yang sebenarnya Ibu maksud dengan meninggalkan seluruh kekuatannya sebelum ia berpulang, mungkin Ros akan sedikit lebih memahami Ibu, Pak.” Air mata yang sudah mengambang di pelupuk mata Ros akhirnya jatuh juga. Tidak ada yang bisa ia tutupi dari Bapak. Bapak tidak berkata-kata lagi dan hanya merangkul Ros kemudian menepuk-nepuk punggungnya dengan lembut. “Apapun tujuannya, pasti lah maksud Ibumu baik karena meninggalkan seluruh ilmu yang ia miliki hanya untuk kamu.” Ros tidak sanggup lagi berkata-kata. Tangisnya terurai untuk seluruh kepasrahannya untuk melepaskan apa yang sudah diberikan oleh Ibu sekaligus menyayangkan karena ia sama sekali tidak dapat membaca sinyal maupun pertanda yang ditinggalkan oleh Ibu untuk dirinya.  ** Ros baru tidur selama empat jam, dan sudah bangun lagi pada pukul enam pagi. Ia segera mandi dan bersiap-siap ke sekolah. Tak terbayangkan bahagianya karena bisa saja ini akan jadi kebiasaan barunya. Bangun pagi dan tidak lagi terlambart masuk. Kehadiran Ros sebelum Bik imah menuntaskan masaknya juga cukup mengagetkan Bik Imah dan Pak Udin. Karena melihat Ros sudah rapi dan bersiap, Pak Udin pun bergegas membersihkan mobil dan memanaskan mesinnya. Sebab sepertinya akan ada yang tepat waktu berangkat ke sekolah. Ros duduk takzim di kursi makan sambil menantikan Bik Imah membawakannya sarapan. Pagi itu Bik Imah menyajikan menu nasi goreng kornet dan segelas s**u coklat. Ros menikmati sarapannya dengan perasaan ringan dan penuh senyuman. Hal tersebut lagi-lagi membuat Pak Udin dan Bik Imah terheran-heran. Non majikannya itu seperti baru memenangkan lotre dengan hadiah sangat besar sehingga menjadikannya hartawan. Sarapan telah dihabiskan, s**u coklat pun sudah berpindah dari gelas ke perut Ros. Gadis itu lalu memakai sepatu dan bergegas keluar rumah dengan santai, tidak terburu-buru karena dikejar waktu seperti biasa. Padahal tidurnya juga cukup kurang. Tapi karena ini bisa jadi adalah momen-momen yang akan ia jalani di masa depan, Ros pun tidak terlalu mempermasalahkan kurangnya jam tidurnya. Ia juga tidak merasa kantuk sama sekali. Sebaliknya, semangat seakan mendidih dalam tubuhnya. Kehadiran Ros yang tidak terlambat pagi itu tentu menggegerkan juga teman-teman sekelasnya. Semuanya takjub karena gadis itu bisa datang sebelum bel masuk berbunyi. Namun tidak ada satu pun yang berani bertanya. Mereka hanya fokus berdesas-desus sendiri mengenai kemungkinan mengapa Ros bisa datang tepat waktu ke sekolah hari itu. Taji yang baru datang sempat bingung mengapa teman-teman sekelasnya heboh sendiri. Dari suara bisik-bisik yang terdengar sepertinya karena Ros datang tepat waktu bahkan sebelum Shinta cs tiba. Hal tersebut seolah mengejutkan. “Lo biasanya datang telat, ya?!” tanya Taji pada Ros yang sibuk membaca komik. “Bukan urusan lo,” jawab gadis itu tak acuh. “Gue lagi sibuk baca, nggak usah ganggu,” katanya lagi lalu membalik halaman komik yang ia pegang ke halaman baru. “Gue nggak bakal ganggu kok. Gue cuma nanya doang. Memang kenapa lo selalu datang telat?” tanya Taji lagi. Ros berdecak sekali dan tetap fokus pada komiknya. “Memangnya lo selalu bangun kesiangan, ya?! Kenapa bisa bangun kesiangan?” cecar Taji masih penasaran. “Kan harusnya kalau lo kagak begadang lo pasti bisa bangun pagi. Tapi kenapa juga lo begadang? Kan kita lagi nggak ulangan.” Ros akhirnya tak bisa menahan dirinya dan mendelik sebal pada Taji. “Lo kenapa bawel banget, sih?!’ sergah Ros kesal. “Udah gue bilang nggak usah ganggu. Ini malah berisik nanya ini itu. Bikin mood gue rusak aja deh.” Ros bersungut-sungut. “Kan, gue nggak ganggu. Gue cuma nanya.” Taji memberikan pembelaan. “Dengan lo banyak nanya itu juga bentuk gangguan tahu nggak?!” tukas Ros. “Makanya dijawab biar gue nggak nanya-nanya lagi.” Taji masih mendesak. Tangan Ros rasanya gatal sekali ingin menjitak cowok ini saking bawelnya. Sebelum ia melakukannya, seseorang terlihat berdiri di depan meja mereka. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD