Bagaimana Jika Kekuatan Itu Tak Ada?

1961 Words
Ros langsung merasakan aura berbeda itu semakin kuat. Ini sungguh-sungguh membingungkan. Sebab sebelumnya, Ros sama sekali tidak merasakan adanya energi atau hawa berbeda saat berdekatan dengan Gagah. Mengapa sekarang rasanya lain? “Lo ngapain sih pegang tangan gue? Bikin geli aja,” serungut Gagah. “Memang lo mau nikah sama gue?” kalimat terakhir Gagah membuat Ros sontak ternganga. Namun setelah mengucapkannya cowok itu tetap cuek seolah tidak terjadi apa-apa. “Heh, yang mau nikahin lo siapa? Megang tangan doang nggak menandakan gue mau nikah sama lo, pe’ak!” gerutu Ros agak kesal. “Lagian tadi gue liat lo kayak orang kebingungan. Atau jangan-jangan…” mata Ros menyipit. “Sebenernya lo nggak suka perempuan, ya?! Lo kamuflase pasti? Lo agak deg-degan kan waktu salaman sama Taji makanya lo nge-freez,” tebakan Ros kontan membuat wajah Gagah jadi bete. “Lo kalau mengada-ngada suka kebangetan dah bener,” cetus cowok itu. “Gue tadi nge-freez karena memang agak kaget aja karena anak baru ini ngingetin gue sama orang yang pernah gue kenal. Tapi ternyata bukan.” Gagah menerangkan sikapnya tadi. Ros hanya mengangguk-anggukan kepalanya dengan wajah yang percaya-percaya saja. “Gue kira kalian kenapa. Tapi kalau ternyata memang ada getaran yang berbeda gitu, gue sih nggak masalah. Gue orangnya open aja kok,” sahut Ros lagi dengan wajah meledek ke arah Gagah. Gagah langsung hendak memukul Ros dengan tas namun gadis itu sudah keburu kabur. Gagah pun bergegas mengejarnya. Sedangkan Taji masih terpaku dan merasa bahwa ada semacam pergolakan yang terjadi setelah dirinya bersalaman dengan Gagah tadi. Ia sudah menyadari kemampuan Ros semenjak pertama kali melihat. Namun Gagah, Taji bahkan tidak menyadari ada hal berbeda dari pemuda itu. Apa dan siapa Gagah itu? Taji berencana untuk mencari tahu. Dan dia tidak bisa diam saja jika ia ingin segera tahu jawabannya. Taji pun segera mengikuti Ros dan Gagah yang sudah berlari keluar sekolah. Ia tidak boleh kehilangan jejak mereka. Saat Taji sudah sampai gerbang, Ros dan Gagah tampak masih terlibat percekcokan ringan hingga ada seorang gadis yang menyeberang dan langsung menyapa. Tampaknya gadis itu salah satu teman mereka.  “Kalian kenapa berantem? Rebutan bakso goreng lagi?” tebak gadis yang baru saja menyeberang. “Memang gak bisa diselesaikan kekeluargaan aja, ya?” tanyanya. Ros dan Gagah saling berpandangan kemudian menggelengkan kepala mereka dengan kompak. “Kami nggak berantem,” jawab keduanya nyaris bersamaan.  Gadis yang memakai seragam sekolah berbeda dari Ros, Gagah dan Taji itu mengernyitkan dahi. “Terus kenapa kalian sikut-sikutan gue lihat dari seberang tadi?” “Ah, itu. Lo kan tahu sendiri kalau Gagah orangnya gampang banget digodain,” sahut Ros singkat. “Jadi, gimana? Udah siap main?” Ros menggosok-gosok tangannya. Gagah masih melirik ke arah Ros dengan kesal namun tidak sesebal tadi. Gadis itu kemudian mengangguk cepat. “Siap dong. Jadi kita berangkat main sekarang?!” Taji segera bersorak dan mengacungkan tangan kanannya yang terkepal ke udara. “Yeay, ayo. Kita main ke mana nih?!” sontak, Ros, Gagah dan gadis itu menoleh kompak ke arahnya dengan sorot mata bingung. “Gue udah bilang ke Ros mau ikut.” Ros mendenguskan napasnya menoleh ke arah Taji dengan jengkel. “Yang ngebolehin lo ikut siapa sih? Astaga, ini orang kenapa PD banget dari tadi,” keluhnya. “Lo manusia bukan sih?!” tiba-tiba, gadis yang baru saja menyeberang itu, yang tak lain adalah Ayla, menyeletuk sambil memperhatikan wajah Taji dengan saksama. Taji sampai memundurkan wajahnya sendiri karena Ayla terus maju mendekat. “Kayaknya lo bukan manusia deh,” ungkapnya sambil mengira-ngira. “Tapi lo juga bukan hantu. Hmm, tapi gue juga nggak begitu yakin sih lo apaan,” ungkap Ayla sambil tetap memperhatikan wajah Taji dengan teliti. Gadis itu bahkan mengendus aroma Taji. Taji yang risih kemudian menyentuh kedua bahu Ayla agar gadis itu bisa berdiri tegak dan tidak mencondongkan tubuh ke arahnya lagi. “Gue lagi membiasakan diri berbaur dan beradaptasi di sekitar sini. Tapi kalau ada yang ngomong aneh-aneh kayak barusan, kayaknya gue sulit deh buat melakukannya,” balas cowok itu. “Biar afdol dan lo nggak bercuriga sama gue, mending kita kenalan dulu deh. Gue Taji, temen barunya Ros.” Taji mengulurkan tangannya mengajak Ayla berkenalan. Ketika menyebut sebagai teman barunya, Ros lagi-lagi hanya bisa kaget. Dia sudah hendak protes namun Ayla keburu menerima uluran tangan Taji. “Kita bisa jadi temen juga nggak?” Ayla yang masih menggenggam tangan Taji lalu memperhatikan cowok itu sejenak dan menjawab. “Kayaknya sih bisa.” Ayla mengangguk-anggukkan kepalanya. “Tapi itu juga tergantung sama yang punya acara sebenernya.” Taji menyodorkan wajah bingung. Ayla lalu menunjuk ke arah Ros dengan ujung lidahnya dari dalam.  Taji menahan senyum gelinya saat Ros langsung menyadari bahwa dirinya lah yang dimaksud oleh Ayla. Namun Ayla segera menyambung sebelum Ros murka. “Kalau misalnya lo sebulan di sekolah ini tetep nggak bisa jadi temennya Ros, lo pindah aja ke seberang, ke sekolah gue. SPP nya lebih murah kok. Sekolah negeri soalnya.”  “Wah, tawaran yang sangat menarik,” sahut Taji. Gue bakal pertimbangkan deh.” “Udah lah lo ikut aja,” ucap Gagah kemudian. “Urusan Ros mau jadi temen lo apa nggak diurus belakangan. Mending sekarang kita berangkat sebelum bilik yang headphone nya masih nyala belum diisi orang,” cetus Gagah lagi segera menyadarkan.  “Eh, bener-bener. Mending buruan cus berangkat deh. Anak sekolah sebelah kan bentar lagi juga bubaran,” timpal Ayla mengajak teman-temannya bergegas. Karena sudah disadarkan Gagah tentang bilik yang headphone nya masih berfungsi, makanya Ros pun bisa teralihkan. Akhirnya ia pun membiarkan saja saat Taji mulai mengintil mereka menuju warnet yang dimaksud yang sebenarnya lokasinya tidak begitu jauh. Namun jika berjalan kaki, ya lumayan bikin berkeringat. Makanya mereka pun memutuskan untuk naik angkot satu kali agar segera sampai ke warnet tanpa lelah. Ketika sampai di warnet, Ayla segera menggandeng Ros. “Lo sebilik sama gue aja Ros. Biar bayarnya bisa split. Gimana?” katanya dengan nada manja. Ros menoleh bingung. “Duit jajan lo dipotong nyokap lo lagi?!” Ayla menggeleng. “Nggak, sih. Gue cuma pengin menghemat aja. Ada sesuatu yang lagi gue pengin beli. Jadi gue mau nabung dari sekarang biar duit yang kekumpul lumayan gitu,” terangnya lalu menyeringai. “Yah, kita sebilik aja, yah?!” Ros pun tak kuasa menolak dan akhirnya mengangguk. “Emang Ros paling pengertian!” pujinya. Untung saja ketika mereka masuk ke dalam warnet, bilik-bilik yang menurut Gagah headphone nya masih berfungsi belum terisi. Gagah langsung masuk ke salah satu bilik, begitu juga dengan Ayla yang bergegas memilih bilik persis di samping Gagah. Ros belum masuk karena ia bingung dengan Taji yang masih berdiri di belakangnya. Ros pun menoleh dan menatapnya. “Lo kalau nggak suka tempat beginian mending balik aja deh. Nggak usah maksain.” Ros mendongak dan melihat jam dinding. “Udah mau jam dua tuh.” “Terus kenapa?” tanya Taji tak mengerti. “Kenapa gue nggak boleh banget sih gabung main sama lo? Takut naksir, ya?!” tebaknya sambil tersenyum menggodai Ros. “Yang bakal naksir lo juga siapa.” Ros menggeleng-gelengkan kepala. “Ya, udah terserah lo aja. Gue masuk sebilik sama Ayla. Lo atur aja sendiri,” ucap Ros akhirnya. Gadis itu masuk ke bilik di mana Ayla sudah memasang headphone dan mulai bermain gim. Sedangkan Taji bingung harus masuk ke bilik mana. Sebab bilik di sebelah Gagah sudah terisi, bilik di sebelah Ayla dan Ros juga ada orang. Akhirnya Taji duduk di kursi panjang yang ada di tengah-tengan ruang tersebut sambil menunggu. Di dalam bilik mereka, Ayla kemudian berbisik pada Ros. “Dilihat-lihat, murid baru dari sekolah lo cakep juga lho, Ros,” bisiknya sambil melirik ke arah luar. Taji terlihat sedang membaca komik. “Tipikal cowok-cowok pendiem misterius yang bikin gemes gitu,” lanjut Ayla. “Lo duduk sebangku sama dia?” “Terpaksa itu juga,” balas Ros akhirnya. “Tapi hari ini dia bikin gue berani buat ngelawan Shinta dan temen-temennya itu, sih. Gue aja sampai sekarang masih nggak nyangka berani ngomong sepanjang lebar itu ke mereka.” Mata Ayla terbelalak ketika Ros bercerita. Ros hanya bisa tersenyum. “Gue juga bingung akhirnya dapet keberanian dari mana buat ngejawab mereka. Biasanya kan gue ngalah-ngalah aja nih. Atau malah ngelupain harga diri gue dan terus berusaha nempel ke mereka. Tapi tadi gue nggak begitu, Ay. Justru gue bertindak tegas dan berusaha untuk nggak kalah sama mereka. Gue surprise sih kenapa gue bisa bersikap dan bertindak seberani tadi.” Ayla menyipitkan matanya. “Lo nggak diguna-gunain sama si Taji itu kan?!” “Gimana caranya gue diguna-guna? Orang gue aja mempagari diri gue pake mantra-mantra. Gimana sih lo, Ay?!”  Sedetik kemudian Ayla pun tersadar. “Oh, iya juga, ya.” Gadis itu  menyeringai. Ros membiarkan Ayla bermain gim lebih dulu. Ketika ia sedang menunggu giliran, Ros mengeluarkan ponselnya dan baru menyadari bahwa Bapak sudah meneleponnya sejak tadi. Sebenarnya Ros sedang agak malas juga harus mengurus pekerjaannya hari ini. Apalagi sejak kejadian hari ini yang membuatnya sebal setengah mati. Tentu tidak mudah juga mengembalikan mood baiknya. Namun Bapak seolah tidak pernah mau mengerti. Ros seakan tidak diberi rehat dan jeda untuk bisa merasakan rasa lelahnya sendiri. Kadang, Ros ingin berhenti saja dari semua ini. Ada pesan singkat masuk dari Bapak. Untung Ros sedang memegang ponselnya jadi meski ia tak membuka, tapi Ros sudah bisa membaca pesan tersebut. Bapak Ros, hari ini kita buka lebih awal, ya. Jam 4. Ini kan malam jumat Kliwon. Pasti makin banyak orang yang  membutuhkan bantuan kamu. Bapak bahkan tidak bertanya apakah Ros mau atau tidak melakukannya. Bapak selalu memutuskan lebih dulu tanpa memikirkan bagaimana perasaan atau suasana hati Ros saat ini. Ros ingin menolak tapi ia tak tahu bagaimana caranya. Karena terasa segan juga untuk mengatakan tidak. Ros tidak punya alasan bagus saat ini. “Lo lagi mikirin apa, sih? Berat banget kayaknya,” ucap Ayla sambil fokus pada gim yang ada di hadapannya. “Lo nanti disuruh buka praktik lebih awal sama bokap lo?” Ayla sebagai orang yang sudah sejak kecil mengenalnya dan Bapak tentu bisa membaca situasi dan masalah yang dialami Ros. Setelah dipikir-pikir, masalah Ros memang tidak jauh dari persoalan jam buka praktik dan pekerjaan yang tidak suka-suka banget juga untuk Ros jalani. Memangnya siapa yang suka berhubungan dengan s3tan, dem!t, genderuwo dan macam-macam makhluk astral yang memiliki wujud yang beragam? Wujud mereka yang mengerikan sering sekali memberi Ros mimpi buruk hingga berhari-hari. Namun Ros berusaha untuk melanjutkan keseharian seperti biasa. “Kalau gue berhenti aja jadi dukun, menurut lo gimana, Ay?!” Ayla langsung membuka headphone nya dan menoleh pada Ros dengan tatapan serius. “Lo serius?!” Ayla sampai mengubah posisi duduknya agar menghadap pada Ros. “Lo sadar sama yang lo omongin, kan?! Risikonya besar. Lo bisa aja dicoret dari Kartu Keluarga, Ros.” Ayla mencoba mengingatkan Ros akan risiko dari keputusannya. Ros menoleh pada Ayla dan manyun. “Gue nggak kepikiran, Ay. Iya juga, ya. Gimana kalau bokap langsung mencoret gue dari KK dan ngupload pengumuman di koran kalau kami udah nggak ada kekerabatan?! Lebih horor dari pada lihat hantu, Ay.” Ayla menganggukkan kepalanya. “Makanya gue mencoba menyadarkan lo supaya ingat akan risiko dan kemungkinan itu. Meski gue bisa memahami betapa menderita dan tersiksanya lo harus menjalani profesi lo ini, tapi gue nggak bisa bantu lo apa-apa, Ros.” Kepala Ros tertunduk dalam. “Kecuali lo udah nggak punya kekuatan atau ilmu-ilmu lo itu, mungkin bokap lo nggak bakalan step-step amat gitu.” Ucapan Ayla barusan seolah langsung memberikan sebuah ide cemerlang di otak kecil Ros. “Gimana kalau ternyata gue memang bisa melepaskan kekuatan dan ilmu kanuragan yang gue punya?!”  Pandangan Ayla makin bingung. “Memangnya bisa?”  Ros menggeleng. “Gue nggak tahu, tapi gue bakal cari tahu,” jawab Ros dengan antusias. Senyum penuh semangat serta sikap optimisnya sudah kembali.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD