Bab 11.4 : Just Don’t Be Yourself

1095 Words
Kalau lo benci sekolah, berarti kita sama. kadang tuh gue bukan enggak mau belajar tapi sekolah di indonesia gimana gitu ya kan. pusing lah pokoknya kalo harus gue pikirin wkkwkwk. udah mending jalan - jalan ke pasar minggu, naik becak di ujung jalan. tolong lah lo pada jangan belagu, mana tau besok dapat cuan. - kevriawan, 2020 ( gak papa gaje, yang penting bukan gajein bini orang #peace)     = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =      Bab 11 : Just Don’t Be Yourself Oke, kita balik lagi ke pertanyaan sebelumnya. Gini, seberapa yakin lo bahwa be your real self will help you to trough this fuckin’ world?   Ayo, coba jawab. Seberapa yakin? Emang lo tau apa makna dan arti sesungguhnya yang terselip di balik kata: JADILAH DIRI SENDIRI, BE YOUR TRUE SELF.   Just be yourself.   Ini saran yang sangat buruk. Really fuckin’ damn and very SESAT. Read it again. Ini SESAT banget menurut gue. Kenapa?   Bayangkan seorang anak kuliah yang awkward dan cupu, dan enggak bisa berkomunikasi dengan baik dengan orang-orang di sekitarnya. Dia setiap hari kupu-kupu (kuliah pulang). Tidak pernah aktif organisasi. Dia enggak suka berinteraksi dengan orang. Dia senang menyendiri. Di kelas dia selalu memakai headset. Di kantin dia makan sendiri. Ketika kerja kelompok dia juga diam-diam saja menunggu arahan. Presentasi tidak pernah mau.   Di rumah, dia menghabiskan semua waktunya di kamar. Main game, nonton YouTube, baca buku. Semuanya dia lakukan di kamar. Orang tuanya tidak pernah dia ajak ngobrol. Kakak dan adiknya juga dia diamkan setiap hari. Suatu hari, dia sedang memikirkan tentang kekurangan yang dia miliki. Apakah awkward dan tidak bisa bersosialisasi itu wajar? Apakah tidak memiliki hasrat untuk bertemu dan mengobrol dengan orang itu wajar?   Di feeds i********: dia melihat seorang wanita cantik dengan caption: “Just be yourself! Life is too short to be someone else!”   Dia lalu berpikir bahwa semuanya akan baik-baik saja. Setidaknya dia tidak fake. Setidaknya dia tidak berpura-pura sok gaul. Setidaknya dia mengakui kekurangan dirinya. Orang sukses juga banyak yang introvert gak sih, pikirnya. Wah itu persis banget seperti aku, pikirnya. Memang ya bersosialisasi itu gak penting banget. Ngapain ya orang-orang nongkrong di café berjam-jam cuma untuk membicarakan hal-hal tidak jelas. Mendingan aku yang menerima diriku apa adanya.   Dia akhirnya menerima dengan lapang d**a kalau dia memang seorang introvert yang tidak akan pernah bisa bersosialisasi dengan orang.   The End.   Mengerti, kan, kenapa “just be yourself” adalah saran yang sangat buruk? Begitu buruknya sampai-sampai bisa merusak hidup orang. Kalau lo seorang pemalas, pembohong, pencuri, pemfitnah, pemberontak, dan pelakor, then please don’t be yourself.   Be a better person.   Dear special snowflakes generation called millenials, I’m sorry if I hurt your weak a*s but being introvert is nothing to be proud about. Dunia ini keras. Dunia ini butuh orang-orang yang berani mempersembahkan idenya. Dan dengan baik! Ide sebaik apa pun kalau dijelaskan dengan buruk sama saja dengan ide yang biasa-biasa saja.   Pekerjaan apa pun yang akan lo pilih, and I mean EVERYTHING, semuanya mengharuskan kamu untuk bekerja sama dengan orang lain. Enggak mungkin bisa sendiri. Semakin baik lo berkomunikasi (dan dalam beberapa kasus, memanipulasi orang lain), semakin besar peluang lo untuk sukses di dunia yang kejamnya tidak pandang bulu ini.   “Be yourself” adalah saran yang sangat - sangat - sangat buruk.   Apalagi saat ini, dimana generasi anak-anak muda sedang lemah-lemahnya. Lemah mental, lemah disiplin, lemah skill, lemah fisik. Apa-apa ngeluh. Setiap hari protes. Macet dikit kesel, marah, emosi. Di kritik dikit triggered. Dimarahin bukannya introspeksi malah ngambek. Apa-apa nyalahin pemerintah. Susah dapet kerja nyalahin perusahaan, nyalahin ekonomi, bukannya naikin skill. LEMBEK KALIAN SEMUA KAYAK PERMEN YUPI. GUE JUGA SAMA, HIKS!   Kebayang ennggak, sih, kalau kita terus-terusan diberi saran “be yourself” selamanya kita akan begitu-begitu saja. Tidak ada perkembangannya. Tidak ada peningkatan.   Kalau mau, ini ada saran yang lebih baik: Figure out who you truly are. Figure out your weaknesses and fix them. If you can’t, then figure out what you love, what you’re good at, and what other people need (because you need to get paid). And then do that for the rest of your life. Vikie Darmawan bercerita bahwa dulu waktu dia masih muda (sekarang juga masih muda) prinsip ini juga terpatri lekat-lekat dalam diri dia. Tapi lambat laun Vikie menyadari kalau ada yang salah dengan prinsip tersebut.  Tapi versi lawas, alias kalau diri dia yang dulu punya pemikiran seperti itu ya tidak merasa ada yang salah. Nah, seiring dengan waktu berjalan, 'just be yourself' ini jadi pedang bermata dua. Karena jadilah dirimu apa adanya cenderung dipersepsikan menjadi jadilah dirimu seadanya, bisa lihat perbedaannya? Jika menjadi seadanya kita cenderung tidak mau belajar, malas keluar dari zona nyaman, tidak mau mencoba sesuatu dengan dalih 'inilah diriku' dan kalau diteruskan banyak ruginya daripada untungnya. Conohnya kayak gini, ya gaess :  Dulu Vikie ini anti sekali sama skincare, makeup, fashion, dan beauty, cenderung acak-acakan kumal ditambah lagi dulu kuliah teknik dimana pakai bedak aja bisa pada heboh apalagi pakai full makeup (itu zaman angkatanku). Akibatnya apa? Haha... pasti penampilan jadi tidak menarik sama sekali, minder, dan tiada yang melirik.  Lalu Vikie berubah karena 'ditampar' oleh kenyataan bahwa orang yang dulu dia sukai tidak suka dengan 'just be yourself' yang melekat di dirinya. Singkat cerita Vikie mulai memperbaiki diri, penampilan, upgrade diri, dan masih belajar untuk mengembangkan mindset serta pergaulan. Jadi menurut Vikie pribadi yang lebih tepat adalah Just be the best version of yourself bukan yang seadanya saja. Nah, gimana gaes, apakah sudah bisa di pahami? Semoga kita enggak akan salah lagi ya dalam menilai makna dari BE YOUR SELF. Sebenarnya bukan berarti sesat atau negatif banget atau yang gimana - gimana. Hanya, seperti pembahasan yang sudah panjang kali lebar, kali tinggi, kali dalem yang kita lakukan ini ... faktanya menjadi diri sendiri itu tetap ada kebikannyna. Istilahnya kalau barang diskonan itu ada yang namanya syarat dan ketentuan berlaku. So, silakan APBN aja dari pembahasan ini yaa~ APBN? Ambil positif buang negatif. Oke, sip! * * * * *   to be continued * * * * *   By the way, kalau kalian merasakan sama seperti apa yang Jono rasakan, boleh banget langsung di tap LOVE nya gaes. Atau bisa juga kalau kalian mau add cerita ini ke library atau perpustakaan. Supaya kalau next time saya update, kalian enggak ketinggalan beritanya, hihiw~ Oke deh, kalau gitu see you in the next chapter ya!   Bye ....   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD