Bab 10.2 : Pendidik yang Perlu Didikan Juga

1517 Words
Kalau lo benci sekolah, berarti kita sama. kadang tuh gue bukan enggak mau belajar tapi sekolah di indonesia gimana gitu ya kan. pusing lah pokoknya kalo harus gue pikirin wkkwkwk. udah mending jalan - jalan ke pasar minggu, naik becak di ujung jalan. tolong lah lo pada jangan belagu, mana tau besok dapat cuan. - kevriawan, 2020 ( gak papa gaje, yang penting bukan gajein bini orang #peace)     = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =    Bab 10 : Pendidik yang Perlu Didikan Juga   Itu Pak XYZ. Guru MTK yang kata anak - anak lain --- yang pastinya lebih pintar dan cerdas --- adalah guru MTK terbaik di SMP. Doi bahkan membuka les - lesan dan gue tahu ada beberapa anak borju di kelas gue ikut bimbel MTK sama Pak XYZ. Tapi, serius, … gue pribadi enggak ada seneng - senengnya sama Pak XYZ. Selain karena gue enggak suka MTK, si bapak juga sebenarnya sering membuat gue merasa minder, karena sering banget secara enggak langsung membuat gue kehilangan minat pada MTK, juga membuat gue merasa jadi manusia paling bodoh di kelas. Seolah gue ini makhluk absurd dari planet lain yang boleh banget dijadikan bahan tertawaan satu kelas. Padahal … self esteem gue udah anjlok, jongkok, bahkan mungkin tiarap atau goleran sambil nonton anime.   Jadi waktu itu Pak XYZ meminta gue untuk maju ke depan, mengerjakan soal yang dia tulis di dalam tabel. Jangan tanya itu jenis materi yang mana, soal apa, cara mengerjakannya gimana. Karena bahkan gue enggak ingat ada bentuk MTK yang cara mengerjakannya harus pakai tabel. Yah, udah lah gue maju aja dulu. Bisa atau enggak masa bodo amat. Tapi memang gue sudah menyadari sejak awal kalau otak gue ini enggak sanggup kalau harus berhadapan sama MTK.   “Ayo, dong, dikerjain soalnya jangan cuma diliatin aja. Mukamu itu lho, udah persis kayak tabel.”   “Hah?”   “Ya, tabel. Tampang beler.”   “HAHAHAHA”    Gue bengong, menatap papan tulis dengan rahang kaku yang mengeras. Si Pak XYZ yang bangsul itu senyam - senyum tiada akhlak dan enggak merasa berdosa di tempatnya. Sementara anak - anak satu kelas tertawa. Iya, tertawa dengan suara keras, dan apesnya … mereka kompak menertawakan gue. What the hell is this, really ….   Dipermalukan oleh guru, barangkali bukan cuma gue yang mengalami ini. Entah kenapa gue yakin banget bahwa ada siswa - siswa lain yang kemungkinan juga pernah merasakan atau sedang merasakan hal yang kayak gue. Mungkin ini adalah kejadian yang hampir pernah dialami oleh setiap siswa. Ada berbagai cara guru merendahkan dan menghina siswa tanpa sadar, bisa melalui kata-kata, mimik wajah, gestur, dan bahasa tubuh. Siswa yang merasa direndahkan dan dipermalukan di depan teman-temannya tentu akan merasa sakit hati. Hal ini tentu enggak baik bagi gue dan mereka secara psikologis. Padahal, sebagai tenaga pendidik, sangat penting bagi guru untuk berusaha tidak merendahkan dan menghina siswa terlebih-lebih di depan teman-temannya atau orang lain. Lalu bagaimanakah cara guru untuk menghindari terjadinya hal ini?   Kenapa, sih, Guru Merendahkan dan Menghina Siswa?   Gimana, ya … gue juga agak susah ngomongnya. Karena kejadian ini bukan cuma sekali dua kali. Atau terjadi di satu atau dua daerah tertentu saja. Ini kemungkinan terjadi pada dunia pendidikan secara keseluruhan di berbagai belahan dunia. Berbagai penyebab mungkin bisa memicu seorang guru yang sangat baik sekalipun untuk melakukan ini. Memang, enggak semua guru akan melakukannya dengan sengaja. Bisa jadi hal tersebut dilakukan oleh guru tanpa sengaja, ataupun bukan untuk tujuan itu.    Beberapa penyebab guru dapat merendahkan dan menghinakan siswa tanpa sadar mungkin ya, antara lain awalnya cuma punya niat mengontrol perilaku siswa yang dianggap barbar, kagak sopan, bebal, atau kelakuan tiada akhlak khas anak sekolah lainnya yang memang kurang baik. Selain itu, biasanya karena guru yang bersangkutan mungkin, ya … mungkin sudah memutuskan untuk menyerah dan berputus asa saat mencoba memperbaiki mereka cara-cara yang kalem.    Tapi … ada juga guru yang melakukannya karena guru yang bersangkutan kehilangan kepercayaan dirinya di hadapan siswa, misalnya ketika pendapat siswa terlihat lebih baik dari pendapatnya dan baginya hal tersebut seakan merendahkannya (padahal guru bukanlah orang yang paling tahu dan pintar) karena kekerdilan jiwanya. Beberapa guru lainnya melakukannya karena siswa-siswa itu sendiri sering merendahkan dan menghinakan diri mereka sendiri di depan umum, kemudian guru pun ikut-ikutan tanpa sadar juga melakukannya.   Yah, gue tahu banget kok kalau anak - anak sekolah, terlebih yang abege - abego labil, yang biasanya baru mau masuk SMP atau berada di pertengahan sampai penghujung SMA, umumnya emang badung, bandeng, barbar tiada akhlak. Tapi gue juga yakin bahwa setiap orang yang memilih profesi sebagai guru seharusnya mengerti akan hal itu. Salah satu caranya ya dengan enggak menghakimi mereka. Memahami bahwa mereka memang sedang dalam tahapan usia yang sedemikian barbar. Duh, bahasa sederhananya itu apa, ya … empati kali ya …. Gue yakin bapak dan ibu guru sekalian juga sebelumnya pernah sekolah, pernah jadi siswa. Pasti sedikit banyak ada pola perilaku atau pakem yang belum berubah. Gue tahu dunia ini bergerak dinamis. Tapi bukan berarti semuanya akan berubah dalam serentak, sekaligus, dan tanpa aba - aba.    Lagi pula, menurut psikolog, ada sebabnya kenapa anak tiba - tiba menjadi nakal. Ya … semuanya pasti ada sebab  dan akibat, dong. Kasar kata, enggak bisa lo mengharap telur tanpa ada ayam. Begitu pula enggak bisa lo mengharap ayam tanpa ada telur. Terlepas dari siapa yang duluan, telur atau ayam … tapi intinya telur dan ayam itu suatu kesatuan yang berdasarkan hubungan sebab akibat. Ahay … bahasa gue campur - campur gini, udah berasa macam profesor Harvard #uhuk!   Dikutip dari website klik dokter,  katanya … punya anak penurut bisa menghemat energi dan kesabaran, sehingga Anda dapat meluapkan dua hal tersebut ke hal lain, ke pekerjaan kantor dan rumah misalnya. Sayang, keinginan kerap tak sejalan dengan kenyataan. Kini anak Anda mulai bertingkah buruk dan susah untuk dinasehati. Penyebab anak mulai nakal ternyata ada macam-macam. Berikut penjelasannya: bertingkah buruk yang dimaksud di sini adalah anak mulai suka melanggar peraturan, membantah ucapan, tidak mendengarkan, memukul, menggigit, bahkan tak menutup kemungkinan dia mencuri sesuatu. Sebagai orang tua, tentu Anda merasa tak pernah mengajari hal tersebut. Namun, seperti inilah kira-kira pemicu hal tersebut. Anak berusaha mencari perhatian. Mungkin, Anda sudah merasa menjadi orang tua yang baik dengan cara memberikannya ini itu. Tapi coba ingat-ingat lagi. Apakah akhir-akhir ini Anda sering meluangkan waktu untuk menemaninya bermain, mengobrol, atau menghadiri acara di sekolahnya? Apakah saat berbicara, Anda benar-benar mendengarkan dan menatap matanya? Jangan-jangan Anda melakukannya sambil sibuk main gawai! Saat dia berprestasi dan menunjukkan hasilnya kepada Anda, apakah Anda mengapresiasinya? Jika tidak, bisa saja anak berubah menjadi nakal untuk mencari perhatian orang tuanya! Dia berpikir, kalau menjadi anak baik tidak perhatikan, lebih baik, dia menjadi anak nakal agar lebih orang tuanya “ngeh”. Pola asuh yang kurang tepat. Selain tidak memberikan perhatian penuh, ada lagi faktor penyebab dari orang tua yang bisa membuat anak menjadi nakal, yaitu pola asuh kurang tepat. Biasanya, kondisi seperti ini lahir dari orang tua yang sering mengkritik, terlalu protektif, atau suka melakukan k*******n di rumah. Jika memang seperti itu, jangan heran bila akhirnya anak berubah ke arah negatif. Rasa ingin tahu yang tinggi. Sudah menjadi rahasia umum bahwa anak-anak punya keingintahuan yang tinggi. Saking “kepo”-nya dia terhadap sesuatu, anak sering menunjukkan perilaku yang kadang kurang masuk akal. Misalnya saja, berusaha mengambil dan mengangkat ikan dari akuarium atau membuka buku Anda dan menyobeknya. Itu sebenarnya dilakukan tanpa niatan jahat. Dia hanya ingin tahu, bagaimana jika hewan yang hidup di air tak lagi berada di air. Dia juga ingin tahu, apa sebenarnya yang ada di dalam buku berwarna menarik itu. Sayangnya, rasa ingin tahu yang muncul belum berjalan lurus dengan perkembangan fungsi otaknya. Sehingga, dia belum tahu mana yang benar dan salah. Belum bisa berkomunikasi dengan baik. Ini sebenarnya cukup berkaitan dengan penyebab yang pertama. Saat si Kecil merasa tidak diperhatikan, tetapi dia kesulitan untuk menyampaikannya karena belum bisa berkomunikasi dengan baik, maka muncul perilaku nakal. Adapun perilaku yang dikeluarkan untuk menyampaikan emosi dan maksud hati, antara lain berteriak dan menangis kencang, memukul, atau menggigit. Jika dia melakukan salah satu atau bahkan ketiganya, cobalah untuk sabar. Berikan dia kasih sayang agar emosinya mereda dan coba tanyakan baik-baik maksudnya. Saat sudah tenang, anak kecil akan berbicara lebih jelas. Punya masalah medis tertentu. Ada beberapa kondisi medis yang bisa mendorong atau memicu anak untuk lebih agresif dan menjadi nakal. Misalnya, autisme, ADHD, gangguan bipolar, gangguan kecemasan, atau gangguan kompulsif obsesif. Selain itu, anak dengan disleksia juga lebih sulit untuk belajar dan cenderung mudah frustasi. Akibat tak mampu mengikuti pelajaran, mereka akan memberi respons negatif, seperti memberontak, tidak mau mengerjakan tugas, dan selalu ingin membolos. * * * * *   to be continued * * * * *   By the way, kalau kalian merasakan sama seperti apa yang Jono rasakan, boleh banget langsung di tap LOVE nya gaes. Atau bisa juga kalau kalian mau add cerita ini ke library atau perpustakaan. Supaya kalau next time saya update, kalian enggak ketinggalan beritanya, hihiw~ Oke deh, kalau gitu see you in the next chapter ya!   Bye ....   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD