Kota Es Yang Membeku (2)
= = = = = = = = = = = = = = = =
Kedua pria tua itu sudah berjalan selama 1 jam dikegelapan malam hutan yang dingin. Udara dingin kini tidak lagi menjadi masalah karena herbal mitos yang telah dikonsumsi oleh Zatras sebelumnya. Mereka masih berjalan tanpa sepatah kata sama sekali. Pria tua itu membawa tombak ditangannya seakan tombak itu adalah teman seperjuangannya. Makhluk yang bersembunyi dikegelapan malam untuk menyerang mereka hanya memancarkan sedikit rasa haus darah kemudian pergi meninggalkan mereka. Zatras tidak tau sekaliber apa ahli yang ada dihadapannya saat ini.
Untuk pertama kali itu adalah sebuah cahaya ditengah kegelapan malam. Wajah cerah Zatras terpukau melihat cahaya itu. Bagaimana cahaya bisa seindah itu ditengah malam yang dingin dan gelap. Mungkin ini hanyalah harapan yang tidak diinginkan oleh zatras, yaitu untuk melihat cahaya digunung yang sunyi dan gelap. Mereka berjalan mendekati sumber cahaya itu. Tak lama kemudian tembok kota yang kokoh berdiri didepan mereka dengan dua orang anak muda yang tengah berjaga dan memperhatikan langkah mereka.
Pria tua didepannya mengangkat tangan dan Zatras segera berhenti. Dia berbicara sejenak dengan kedua pria muda dipintu gerbang yang besar. Tak lama kemudian kedua anak muda itu membungkukkan badannya kearah pria tua itu. Zatras melihat isyaratnya dan segera mengikuti berjalan dibelakangnya menjauhi kedua anak muda dipintu gerbang. Kota beku tidaklah seindah Hurtg dan kota-kota besar lainnya. Ini lebih mirip seperti sebuah desa dengan banyak bangungan yang tidak dirawat dengan baik.
Zatras berjalan lurus mengikuti pria tua itu mencapai pusat kota, yaitu menara yang menjulang tinggi keatas. Zatras mengetahui bahwa menara ini adalah menara penyihir ketika kota beku menjadi benteng utama di utara benua. Interior yang artistik dan berbagai macam benda kuno dan langka yang jarang ditemui didunia luar terpajang rapi disini. Tak lama kemudian pria tua itu menaruh tombak miliknya dan duduk disebuah meja dengan dua kursi yang saling berhadapan. Zatras tak mau ketinggalan, dia segera duduk dikursi itu.
“Jadi apa yang kau lalui sehingga muncul dari gunung itu ? aku yakin kau tidaklah bodoh sebagai penjelalah untuk memilih rute yang mematikan bukan ?” Pria tua itu bertanya dengan sedikit rasa penasaran diwajahnya. Dia tersenyum tajam seakan mengetahui bahwa Zatras mempunyai alasan untuk menyembunyikan identitasnya. Bagi para ahli seperti Zatras, membaca raut wajah seseorang adalah hal yang biasa apalagi pria tua ini juga termasuk dalam kategori ahli dibidangnya. Bahkan Zatras pun sebenarnya cukup terkejut ketika dia mampu mengusir hewan buas disepanjang jalan hanya dengan sedikit intimidasi auranya.
Itu adalah malam yang panjang bagi kedua orang tua untuk saling berbicara. Zatras menceritakan semua yang dialami oleh dirinya tanpa terkecuali dan pria tua itu menunjukkan sedikit ekspresi tertarik atas cerita Zatras. “Jadi pertanyaan sebenarnya berapa lama kau akan menetap dikota mati ini ? asal kau tau kami tidak punya cukup makanan disini.” Itu adalah sedikit pertanyaan yang menusuk hari Zatras. Dia tidak bisa menjawab dan hanya tersenyum ringan sambil mengusap belakang kepalanya. Obrolan tersebut berlangsung sepanjang malam sampai fajar terbit.
Pria tua yang menuntun Zatras adalah anak dari tetua sebelumnya yang telah meninggal. Menurut obrolan mereka, ketika Zatras pertama kali tiba pria tua yang mengaku sebagai anak tetua itu sedang menjalankan adat turun temurun dikota beku yaitu untuk memberikan penghormatan kepada Dewi Crystal selama 100 hari penuh tanpa istirahat. Semua penduduk dikota beku akan menjalankan ritual ini dalam rangka meminta berkah kepada dewi Crystal untuk tetap menjaga kehidupan anak cucu mereka. Ritual ini telah berlangsung turun temurun bahkan rumornya sebelum kota beku dijadikan benteng utara benua, ritual ini telah dilakukan oleh para penduduknya.
Tidak ada yang tau pasti kapan pertama kali ritual ini dijalankan. Mereka hanya tau untuk melakukannya dengan sukarela dan tanpa paksaan dari siapapun. Ritual semacam ini adalah hal yang lumrah bagi semua orang yang hidup dibenua Myeol. Ketika mereka mengimani dewa yang berbeda maka ritualnya juga akan berbeda, namun satu hal yang pasti adalah mereka dengan sukarela menjalankan ritual ini berdasarkan kepercayaan mereka kepada dewa-dewa mereka. Hal ini bertujuan untuk meminta berkah yang berlimpah dari para dewa yang mereka imani. Tak terkecuali bagi para penduduk kota beku.
~
Sudah hari ketiga semenjak kedua druids muda yang bermeditasi disebelah Arden menguasai pemahaman alam. Ini adalah saat kritis dimana Arden hampir mencapai tahap pemahaman terhadap alam. Niryn dan Narc menceritakan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan alam dengan rajin. Mereka berharap bahwa cerita acak tersebut dapat membantu Arden mencapai pemahaman alam. Setiap individu yang memiliki pemahaman ini tentu berbeda satu sama lain. Ada yang menganggap bahwa alam adalah sumber kehidupan, ada beberapa yang menyebut alam sebagai ibu dari segala makhluk hidup. Namun tidak jarang yang hanya menganggap alam sebagai media untuk bertahan hidup.
Keabsurdan dalam mencapai pemahaman inilah yang membuat durasi meditasi para druids cendrung berbeda. Seberapa cepat mereka dalam memahami eksistensi alam itu sendiri yang menentukan keberhasilan mereka dalam mencapai kondisi pemahaman terhadap alam. Arden hanya tinggal selangkah menuju pemahaman alam namun dia merasa kosong ketika mencoba memahami eksistensi alam. Menurut Narc, mereka bisa menggunakan kekuatan alam sebagai media mereka untuk mengendalikan alam.
Lalu apakah unsur alam yang digunakan para druids bisa jadikan sebagai aura ? bagaimana mengumpulkan unsur alam ini untuk memperkuat suatu objek seperti halnya yang dikatakan oleh Zatras dimasa lalu ? atau apakah memang ada cara tersendiri dalam mengontrol unsur alam sehingga bisa digunakan sebagai aura ? ini adalah beberapa pertanyaan yang membuat Arden merasa kosong ketika Narc dan Niryn menjelaskan tentang eksistensi alam.
“Normalnya para penyihir menggunakan mana mereka untuk menarik unsur alam dan para kesatria mejuwudkannya dalam bentuk aura. Namun pada dasarnya perlu perantara dalam hubungan seseorang dengan alam. Walau dalam prakteknya berbeda namun konsep ini sebenarnya adalah sama. Yaitu menggunakan unsur alam untuk mewujudkan keajaiban seperti elemen bagi penyihir dan aura bagi para kesatria. Dan menggunakan mana untuk mengumpulkan dan menarik unsur dari alam.” Narc dan Niryn hampir menyerah ketika menjelaskan kepada Arden yang masih bermeditasi.
Ketika Narc dan Niryn hampir menyerah, setitik cahaya yang merupakan unsur cahaya mengelilingi Arden. Tidak hanya satu namun puluhan, ratusan, kemudian ribuan mengelilingi. Arden membuka matanya dari meditasinya. Dia berdiri dan tersenyum sambil mengepalkan tangannya. Dia melihat sekeliling dengan rasa kagum dan penasaran. “Jadi ini adalah unsur alam itu sendiri.”
* * * * * T B C * * * * * *