Bab 38: Kota Es Yang Membeku (1)

1085 Words
Kota Es Yang Membeku (1) = = = = = = = = = = = = = = = = Perjalananku hingga ke mari sudah menghabiskan banyak waktu dan pengalaman yang berharga. Namun, satu hal yang asti dan sudah mulai kusadari secara perlahan. Yaitu ... mimpi aneh soal masa yang tidak pernah aku ketahui sebelumnya. Entah bagaimana ... kini semua itu menghilang, Apakah aku keliru? Atau itu memang bukan petunjuk? Butuh waktu selama 5 hari bagi Zatras untuk menuruni gunung es yang menjulang tinggi. Sebenarnya rute yang diambil oleh Zatras bukanlah rute utama demi mengecoh rombongan Korps Khusus kesembilang yang memiliki Alesha dan Golgoda. Dia memberanikan diri melewati salah satu dari beberapa benteng alami kota beku. Dia percaya pada dirinya sendiri dan kontrol atas aura sehingga mengambil jalan yang beresiko tinggi ini. Jalan utama kekota beku tidak memiliki banyak rintangan selain udara dingin. Bahkan sesekali para penduduk asli yang berburu bertemu dengan penjelajah dan sedikit berbincang. Penduduk kota beku tidaklah agresif seperti yang selama ini banyak dibicarakan para bangsawan di kekaisaran Archorn. Bangsawan kekaisaran menyebut mereka sebagai suku barbar yang hanya bisa bertahan hidup di utara benua dan membunuh siapa saja yang memasuki wilayah mereka. Banyak rumor yang beredar tentang para penduduk kota beku seperti mereka keturunan para buronan yang diasingkan oleh kekaisaran atau mereka adalah tahanan perang. Namun kenyataanya mereka adalah masyarakat yang memiliki budaya dan cerita sendiri. Zatras mengetahui ini dengan baik karena dia pernah tersesat hingga ke kota beku sewaktu dia masih menjadi kapten kesatria. Dia tersesat selama 5 hari dan bertahan tanpa makanan dan minuman sedikitpun. Pada hari ke enam dia tersesat, dia bertemu dengan seorang pemburu yang menyelamatkannya dan membawanya ke kota beku. Dia tinggal disana selama satu bulan dan banyak belajar tentang bagaimana kerasnya medan disekitar kota beku. Dia juga belajar cara efektif menahan dingin dengan aura dari tetua yang memimpin kota beku. Pengalaman dan pengetahuan ini yang membuat Zatras dapat bertahan dalam cuaca ekstrim dan medan yang keras sehingga dapat melarikan diri dan memperlebar jarak diantara dia dan Alesha. Dia terus berjalan menuruni gunung sampai sebuah jalan setapak terlihat. Jalan ini kerap digunakan oleh pemburu untuk menyusuri gunung es yang menjulang tinggi. Cuaca semakin hangat ketika dia turun dari gunung. Namun hangatnya cuaca disini masih dapat membunuh seseorang yang tidak dapat beradaptasi diutara benua Myeol. Dia menyusuri jalan setapak mengikuti insting dan ingatannya ketika dia mengikuti pemburu menuju kota beku. Mungkin sudah puluhan tahun berlalu namun setidaknya Zatras akan mengenal seseorang yang pernah dia temui dulu. “Berhenti disana. Siapa kau dan bagaimana kau sampai disini ?” Pikiran Zatras kacau ketika sebuah tombak berhenti didepan lehernya. Dia menurunkan kewaspadaannya karena sudah terlalu lelah dan kekurangan makanan selama perjalananannya. “Aku adalah penjelajah yang tersesat hingga kesini. Kawan apa kau tau desa disekitar sini agar aku dapat beristirahat dari malam yang dingin ?” Zatras bertanya sambil tersenyum. Tak menunggu lama tombak yang semula diarahkan kepadanya mulai ditarik kembali oleh pria paruh baya tersebut. “Ikuti aku dan jangan sampai tersesat.” Pria tua itu berbalik dan mulai menuntun jalan yang akan membawa mereka ke desa beku. Penduduk desa beku adalah masyarakat yang terisolasi dari dunia luar. Medan yang keras dan cuaca yang ekstrim menjadikan mereka hampir tidak pernah bertemu orang luar seumur hidup mereka. Sesekali tetua didesa akan bercerita tentang beberapa penjelajah yang tersesat dan para panatua menuntun mereka kedesa karena kondisi mereka yang memprihatinkan. Zatras mengetahui budaya dan tradisi ini sehingga memanfaatkannya untuk mengurangi rasa permusuhan dari semua orang yang ditemuinya di kota beku. Mungkin jika dia tidak bilang bahwa dirinya adalah penjelajah maka dia harus segera meninggalkan benua utara karena para penduduk kota beku benci berinteraksi dengan orang dari kekaisaran. Ketika kota beku masih menjadi bagian dari kekaisaran, panatua dikota beku bercerita tentang konflik yang kerap terjadi. Kekaisaran memungut pajak tanpa ada pengembangan wilayah di kota beku. Hal ini membuat penduduk kota beku membenci kekaisaran. Tak jarang mereka mengusir para prajurit yang ditugaskan ditempat ini untuk memungut pajak dan membiarkan mereka mati kedinginan ditengah badai salju malam hari. Para penduduk kota beku menyembah dewa lama netral yaitu Dewi Salju Crystal. Berkah dari Dewi Salju itu adalah dapat bertahan dari segala cuaca dingin dan melimpahnya berkah untuk bertahan hidup. Dewi Salju termasuk dewi yang pengasih karena bidang kedewaannya tidak pernah terancam oleh peperangan dan kedamaian. Bidang dewi Crystal hanyalah mendatangkan musim dingin dibenua Myeol. Hal ini yang membuat para penduduk kota beku tidak terlalu agresif terhadap para penjelajah. Bahkan mereka tidak menyerang prajurit kekaisaran dan hanya menyuruh mereka untuk kembali ke kaisaran. Urusan hidup dan mati para prajurit utusan kekaisaran sudah diluar tanggung jawab mereka. Zatras terus berjalan dibelakang pria paruh baya yang menyusuri jalan setapak didepannya. Mereka berjalan dengan barisan tanpa sepatah kata. Muka Zatras yang pucat dan uap yang keluar setiap dia bernafas memberikan kesan kepada pria tua didepannya untuk segera mencapai desa. Perjalanan yang ditempuh oleh Zatras sangat sulit bahkan bagi kesatria terlatih seperti dirinya. Mungkin saja jika Arden ikut hingga menuju ke utara benua dia akan mati kedinginan ketika terjadi badai salju. Aura yang menyelimuti Zatras semakin menipis dan mukanya semakin memucat. “Makan ini dan kembali bernafas.” Pria tua itu menjulurkan sebuah tanaman dan melanjutkan perjalanannya. Zatras terkejut dengan pemberian pria itu. Mungkin ini hanyalah tanaman bagi orang biasa. Namun bagi para penduduk kota beku memiliki dan membawa tanaman ini adalah kewajiban dasar ketika meninggalkan desa. Tanpa menunggu lama Zatras segera mengunyah dan menelannya. Aura yang semula makin memudar kembali mempertahankan wujudnya dan mukanya yang semula pucat kembali seperti pertama saat dia memasuki utara benua. Ini adalah salah satu herbal mitos yang ada didunia. Dengan kekuatan ilahi Dewi Crystal, para tetua dikota beku memberikan berkah kepada tanaman untuk memulihkan stamina mereka saat mereka sekarat kedinginan. Bagi sebagian orang ini mungkin herbal tingkat dewa, namun bagi para penduduk asli kota beku ini adalah herbal yang cukup umum karena proses penanaman yang cepat dan mudah. Inilah salah satu berkah dari dewi Crystal kepada para pemuja yang menjadi alasan mengapa dia disebut sebagai dewi yang pengasih. Zatras segera membuang pikirannya dan kembali fokus mengikuti pria tua yang semakin jauh.  Para penduduk kota beku menciptakan langkah kaki yang unik ketika mereka berjalan diatas salju ataupun es. Ini salah satu keterampilan suku mereka untuk bertahan hidup dan perlindungan dari serangan hewan buas. Mereka berjalan seperti sepotong kue diatas salju yang tebal di tengah hutan. Hanya sebuah lentera yang menjadi penerang bagi mereka berdua yang berjalan dikegelapan malam yang dingin. * * * * * * T B C * * * * * *
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD