Bab 14.1 : Keluarlah Dari Zona Nyamanmu, Yakin Mau?

1082 Words
Ketika semuanya menjadi 'salah' dalam hidup Anda - Bekerja lebih keras. Jatuh Lebih Keras. Bekerja lebih keras lagi. Jatuh lebih keras lagi. Dalam proses ini - Anda akan menyadari bahwa fase 'salah' dalam hidup Anda sebenarnya adalah 'benar'. "Ketika semuanya menjadi 'salah' dalam hidup Anda - Anda hanya memiliki satu opsi - bertumbuh. Untuk menjadi lebih kuat dari orang lain di luar sana. Tidak ada pilihan selain berhasil. Berdoalah agar Anda jatuh sedalam itu."- kevriawan, 2020      = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =    Bab 14 : Keluarlah Dari Zona Nyamanmu, Yakin Mau?   Gue baru selesai mandi ketika tiba - tiba saja tiada angin dan tiada hujan gue melihat ada Bang Agus yang lagi rebahan di ranjang gue. Iya, gue enggak salah lihat, dan itu benaran Bang Agus. Sekilas gue melirik ke arah jam dinding yang bergantung manir di tembok atas tempat tidur dan sudah menunjukkan pukul sepuluh. Aji gile, ngapain nih Bang Agus muncul di kamar gue jam segini, lagian emangnya Emak sama Abah enggak curiga ya menerima tamu jam segini. Ya, kenal sih … tapi kan … ah, kagak tau lah!   “Eh, Jon, baru selesai mandi?” Bang Agus bertanya dengan cengiran ala pepsodent yang menghias wajahnya.    Gue mengangguk dengan tangan sibuk mengusek - ngusek kepala, mengeringkan rambut. “Abang ngapain malam - malam ke sini?”   “Numpang, Jon, gue nggak bisa pulang ke kosan.” Bang Agus masih nyengir, tapi gue melihat cengirannya sudah lain, enggak kayak iklan pepsodent lagi.   “Kenapa?” Gue membentangkan handuk di hanger belakang pintu. “Abang belum bayar kosan lagi?”   Bang Agus dengan malu - malu mengangguk. Sebelah tangannya kemudian menggaruk kepalanya yang gue yakin enggak gatal. “Iya, belum dapat kiriman.”   “Oh, gitu … sambilan Abang gimana? Lancar?” Gue ikut duduk di sebelahnya, untung saja ranjang gue lumayan gede. Cukup lah kalau buat menampung dua orang.   Kebetulan Bang Agus memang sudah beberapa kali menginap karena permasalahan yang sama. Bang Agus juga lumayan sering main ke sini, Emak hampir - hampir dengan seenak jodat mau menggantikan posisi gue sama Bang Agus. Masalahnya sepele, cuma karena Bang Agus kelihatan lebih rajin doang. Ya, iya lah, gimana enggak rajin? Doi harus jualan produk Ampasway yang harganya selangit demi bertahan hidup.    “Lumayan, tapi belum tutup poin bulan ini Jon.” Bang Agus menghela napas.    Gue harus siap - siap, nih. Bentar lagi pasti si Bang Agus bakalan menawarkan produk barunya ke gue. Satu hal yang gue cukup heran ini, Bang Agus jualannya agak lancar, karena doi pandai merayu anak - anak cewek yang ngebet diet untuk pake produk slimming milk yang dikeluarkan Ampasway. Cuma, ya itu. Setiap bulan ngeluhnya enggak pernah tutup poin. Jadi doi enggak dapat bonus, cuma untung dari penjualan saja.   “Tapi lama - lama gue capek juga, Jon. Apa gue cari pekerjaan lain ya?” Bang Agus menatap gue yang mulai rebahan sambil membaca komik conan. “Sudah jalan dau tahun dan masih begini - begini aja, Jon.”   “Udah, Abang berhenti aja. Sebentar lagi skripsi, abang mending fokus skripsi. Kan orang tua Abang juga enggak nyuruh kerja, dan sering telar transfer itu juga bukan karena mereka enggak punya duit. Melainkan karena ATM-nya jauh tiada akhlak.” Gue menengahi antara pikiran Bang Agus yang galau mau lanjut dagang atau enggak.   “Yeh, tapi itu mah gue enggak bakal berkembang, Jon!”   “Apaan yang mau berkembang lagi, sih? Abang di situ udah jalan lama banget pun gue belum sekalipun melihat Abang sukses. Enggak maju - maju, Bang.” Gue menyanggah dengan santuy. “Mending Abang nikmati uang kiriman deh. Kalau dihitung - hitung, kayaknya uang bulanan Abang selalu kurang itu karena tutup poin mulu.”   “Ya, kalau kagak tutup poin, bonus enggak turun juga, Namjon!” Bang Suga rada nge-gas.   Gue menutup komik conan dan beralih padanya. “Bang, dapat bonus juga percuma, bonusnya enggak bisa nutupin uang abang yang dipake buat beli produk sendiri demi tutup poin. Udah, mending abang santai aja terima uang dari orang tua, kuliah yang bener, lalu nanti kalau aku balas budi ke orang tua, ya Abang tinggal kerja yang bener. Beliin mereka rumah sama mobil dari hasil kerja.”   “Ampasway juga bisa, Jon!”   “Iya, lama - lama Abang yang jadi AMPAS!” gue nge-gas balik, enggak mau kalah.   “Eh, kerja ginian ada ilmunya tau.”   “Apaan?”   “Salah satunya jangan berdiam diri di zona nyaman, Jon! Lo harus bangkit, keluar, melihat ke sekitar agar lo punya kekuatan untuk tumbuh dan berkembang. Biar mental lo kagak jadi mental babu terus.”   “Yalord, Bang, ini siapa yang numpang sih sebenernya? Kok gue ujug - ujug dikatain mental babu.” Gue berdecak dan mendengkus sekaligus.   Duh, ini Bang Suga kayaknya kebanyakan dicekoki air takjil cucian beras bekas makanan catering pad di acara seminar Ampasway, kali yak? Itu teori dari mana kalau menghemat biaya kuliah dari orang tua dan berusaha menempuh pendidikan di kampus dengan benar adalah ZONA NYAMAN? Itu dari mana, woy!   “Pokoknya lo enggak boleh begini terus, Jon. Kata leader gue, lo harus keluar dari zona nyaman biar bisa kaya.”   “Leader lo habis minum air rinso bekas rendaman k****t, ya, Bang?” Gue mengernyit seketika. “Dah lah, mending tidur!   Gue merebahkan diri secara keseluruhan di kasur, kemudian menarik selimut. Gila aja itu leader kenapa tiada akhlak dan tidak ada otak. Teori dari mana keluar dari comfort zone itu dengan melakukan pekerjaan semalesin jadi sales Ampasway? Nih ya, gue kasih tempe dan gue kasih tahu. Mengutip dari salah satu akun kompasiana yang gue temui, yang mana dia mengambil pendapat seorang ahli psikologi … yaitu pakar Behavioural Psychology Alasdair A. K. White dalam bukunya 'From Comfort Zone to Performance Management' mengatakan bahwa,  Zona Nyaman adalah sebuah keadaan dimana seseorang merasa terbiasa dan nyaman karena mampu mengontrol lingkungannya. Dalam keadaan ini, orang tersebut jarang merasa gelisah dan jarang mengalami tekanan yang mengakibatkan stress.   Ada yang masih mau keluar dari zona nyaman? heuheu * * * * *   to be continued * * * * *   By the way, kalau kalian merasakan sama seperti apa yang Jono rasakan, boleh banget langsung di tap LOVE nya gaes. Atau bisa juga kalau kalian mau add cerita ini ke library atau perpustakaan. Supaya kalau next time saya update, kalian enggak ketinggalan beritanya, hihiw~ Oke deh, kalau gitu see you in the next chapter ya!   Bye ....   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD