Bab 13.4 : Pendidikan Penting Enggak, Sih?

1289 Words
banyak orang tua yang masih belum teredukasi dengan baik tentang betapa pentingnya pendidikan di dunia yang fana ini #ciyee elah wkwkwk. Intinya, banyak orang yang masih kolot dan mikir kalau semua itu gak menjamin kesuksesan. bener sih, cuma kan ya ... kalo lo sekolah pasti lebih mudah menjalani hidup yang keras ini. bukan begitu, fergusso? atau lo punya jawaban lain? yuk mari kita nyanyi. ting - ting bukan permen, ting- ting bukan biskuit ... hayooo apaan? wkwwkk  - kevriawan, 2020    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =      Bab 13 : Pendidikan Penting Enggak, Sih?   The teacher is the noblest profession in the world today. Teachers perhaps are also the most underpaid heroes in the world today. -Steven Spielberg, Filmmaker   Terlepas dari gurunya seperti apa, atau pendidikannya bagaimana, yang jelas tanpa pendidikan lo enggak akan bisa menghadapi dunia yang kejam ini dengan elegan. Gue enggak bicara bahwa lo kagak bisa hidup kalau enggak sekolah, ya. Bukan. Gue bicara tentang, terlepas dari apapun jenis pendidikan yang lo tempuh itu penting. Kalau lo enggak pernah sekolah dan kagak bisa baca tulis, bayangin … betapa beratnya hidup dengan tulisan-tulisan yang lo enggak mengerti dan itu hampir muncul di mana – mana. Parah, kan? Iya, itu baru persoalan baca tulis doang. Belum yang lainnya. Lo cuma katrok aja, misal gak bisa naik kereta karena belum pernah, bingung di bandara karena pertama kali naik pesawat ---- yang kayak gitu aja lo masih di hujat dan kesusahan cari orang yang bersedia membantu. Apalagi kalau persoalan hidup lo nanti? Pikirin, bayangin, resapin.   Jadi, sepakat, ya kalau pendidikan ini PENTING PAKE BANGET.    Hey, genks tolong jangan salah kaprah. Mereka yang terlihat Drop Out tapi jadi kaya, tulul sampe ke tulang tapi kaya, kagak ngapa - ngapain tapi kaya dan punya banyak bisnis … itu mereka dikaruniai sama yang namanya hoki. Kalau yang lagi trend sekarang ini privilege ya bahasanya sekarang ini. Mengutip dari Om Wiki, Hak istimewa sosial atau privilese sosial merupakan hak istimewa yang dimiliki oleh seseorang atau sekelompok orang, namun tidak dimiliki oleh pihak lainnya. Hak ini bisa muncul dari hasil stratifikasi sosial dengan adanya perbedaan akses untuk memperoleh barang dan mendapatkan layanan yang sama. Privilese terkait erat dengan diskriminasi, serta muncul karena adanya kesenjangan ekonomi yang mempengaruhi kesenjangan sosial.    Jadi terkadang dalam kesuksesan seseorang ini enggak lepas dari pada pengaruh orang tuanya, hak istimewa apa saja yang sudah diterima oleh masing - masing orang. Dan itu biasanya berbeda - beda. Kalau ambil dari definisi di atas, substansinya di 'hak legal', yang didukung oleh ketetapan hukum berlaku, sehingga pemilik privilege punya otoritas menggunakan haknya.   Jika definisi sukses adalah menjadi bagian dari HNWI (High Net Worth Individual), yang memiliki kekayaan finansial minimal 1 juta USD, maka kemungkinan besar (bisa dipastikan) juga dari keluarga yang masuk ke HNWI atau UHNWI (Ultra High Net Worth Individual) --- intinya mereka ini keluarga sultan dan tajir melintir, yang memiliki kekayaan finansial minimal 30 juta USD . Ya kemungkinan si orang itu statusnya adalah trustee, dan orang tuanya sebagai settlor, menaruhnya pun di offshore account di pojok tax haven sebelah mana biar tidak dipotong pajak. Jadi kalau definisi 'sukses' adalah kaya raya, maka kemungkinan besar adalah hasil pewarisan, atau kombinasi antara warisan dan kekayaan hasil usaha pribadi. Jawabannya: benar bahwa privilege berpengaruh.   Tetapi kalau istilah 'sukses' ini diperluas menjadi: pencapaian hidup yang terukur dan level atas di liganya. Lalu 'privilege' bisa diartikan sebagai: fasilitas, kemudahan, dan pengalaman hasil pengetahuan orang tua/ keluarga, yang dikondisikan ke anak/ generasi berikutnya, maka sayang sekali jawabannya juga: benar.   Penelitian ini mengungkap, anak Indonesia yang pada usia 8-17 tahun hidup dalam kemiskinan, ketika bekerja pendapatannya akan 87 persen lebih rendah dari mereka yang kecilnya tidak miskin. Kemiskinan itu bukan soal tidak punya cukup duit buat hidup ya, efeknya miskin minimal ada 7 poin: --- kemampuan kognitif dan matematika --- lama bersekolah --- kapasitas paru-paru --- cara mendapat pekerjaan --- kesehatan mental   Memang buku-buku yang mengisahkan rags to riches,  zero to hero, atau buku motivasi orang sukses yang mulai dari 0 kayak pertamina itu selalu inspiratif dan laku dijual, tetapi itu juga menciptakan delusional massal di level lain, yaitu bias penyintas (dengan kata lain mengira bahwa dia juga bisa sukses dengan cara yang sama, dengan model kehidupan yang sama, padahal berbeda---terjadi ketidak jelasan dalam teori bertahan hidup). Buku-buku itu sukses mendorong banyak orang 'terinspirasi' melakukan tindakan yang sama, tetapi lupa menjelaskan bahwa masalahnya tidak sesederhana itu, ada yang namanya kemiskinan struktural dan sistem welfare state. Efek yang terbaca dari orang-orang yang lahir di negara berkembang lalu membaca buku-buku perjalanan orang sukses ini adalah cenderung mengkambinghitamkan 'kemalasan publik', menjelek-jelekkan budaya lokal, dan berlebihan mengidolakan sistem buatan manusia (negara) lain yang sudah mapan.   Lionel Messi kalau lahir di Brebes juga kecil peluangnya bisa dapat Ballon D'Or, atau Zlatan Ibrahimovic lahir di Demak, susah juga buat bisa tour of duty di kesebelasan - kesebelasan terbaik Liga Eropa. Atau misalnya lo lulusan jurusan teknik kimia kampus teknik terbaik di Indonesia, tetapi memilih balik kampung ke Pacitan, paling tinggi ya jadi kepala desa, tentu peluang 'berkembang' berbeda jauh ketika lo memilih gabung ke Schlumberger kan? Ya itu pilihan, tidak soal salah apa benar.   Bersyukurlah kawan-kawan yang lahir di keluarga terdidik, mampu secara ekonomi, golongan mayoritas, punya akses ke banyak urusan, dan tahu diri menggunakan semua privilege itu. Jika memang lahir dari golongan minoritas, kurang mampu, terpencil, kurang terdidik, ya tetap saja harus mawas diri, tahu bagaimana menemukan right place, right moment, right peers buat menjalani hidup (life is s**t, so simply enjoy the s**t).   Sebelumnya, gue pernah membaca sebuah cerita yang menurut gue sangat tepat untuk mengilustrasikan jawaban pertanyaan privilege ini. Jadi, pada suatu hari, di sebuah kelas, professor memainkan sebuah permainan dengan muridnya. Professor meletakan sebuah keranjang tempat sampah di depan kelas, lalu meminta muridnya untuk melempar bola dari kertas dan memasukkannya ke keranjang tersebut.   Murid yang duduk di baris belakang protes. Enak betul yang duduk di baris depan, pasti lebih mudah karena jaraknya lebih dekat. Akhirnya permainan dimulai. Setelah beberapa saat keranjang mulai terisi bola kertas dan kemudian permainan dihentikan. Professor kemudian menjelaskan. Bola yang masuk kedalam keranjang itu menggambarkan kesuksesan. Murid yang duduk di baris depan itu menggambarkan orang-orang dengan privilege. Mendapatkan keuntungan lebih karena menang lotre kehidupan. Lahir dari rahim yang tepat. Tapi mereka tetap harus melempar kalau mau sukses.   Apa mereka bisa gagal? Tentu saja. Apa mereka lebih mudah untuk sukses? Betul. Lalu mereka yang duduk di baris belakang adalah mereka yang kalah dalam lotre kehidupan. Lahir di rahim yang kurang tepat. Tapi apa mereka bisa sukses? Tentu saja. Tapi lebih sulit. Jauh lebih sulit. Mereka harus melempar lebih banyak. Menempuh jarak yang lebih jauh. Harus gagal lebih banyak. Apabila dibandingkan yang duduk di baris depan.   Dari analogi ini gue harap buat kalian yang masih meremehkan pendidikan, dengan bilang pendidikan enggak penting. Atau dengan begoknya menyia - nyiakan semua privilege yang keluarga lo kasih, misalnya dengan membiarkan diri lo tulul sendirian di kampus, gue berharap lo semua berubah pikiran. Bahkan orang - orang yang punya privilege pun BISA GAGAL, seperti analogi melempar kertas. Kita yang privilege-nya lebih sedikit seharusnya enggak dengan semena - mena bilang bakalan jadi bos. Ini hidup dibanting realita, bos. Jangan lembek dan kenyal terus macam permen yupi, lah.   Salam pramuka! * * * * *   to be continued * * * * *   By the way, kalau kalian merasakan sama seperti apa yang Jono rasakan, boleh banget langsung di tap LOVE nya gaes. Atau bisa juga kalau kalian mau add cerita ini ke library atau perpustakaan. Supaya kalau next time saya update, kalian enggak ketinggalan beritanya, hihiw~ Oke deh, kalau gitu see you in the next chapter ya!   Bye ....   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD