Jarum jam menunjukkan pukul sebelas malam saat Inara terjaga karena dorongan air seni yang berontak untuk minta dikeluarkan. Gadis cantik itu turun dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi. Setelah menuntaskan hajatnya, Inara kembali dan hendak melanjutkan tidurnya yang sempat terjeda. Namun, kedua matanya membulat sempurna saat tanpa sengaja melihat ke arah selimut yang terbentang di lantai. Gadis itu tidak menjumpai Abi di tempat tidurnya.
"Si Abi ke mana malam-malam begini?" batinnya curiga. Inara mengurungkan niatnya untuk kembali tidur. Gadis itu malah melangkah keluar kamar untuk mencari Abi. Inara takut kalau lelaki yang tadi telah menghalalkannya itu keceplosan bercerita kepada anggota keluarganya tentang pernikahan kontrak mereka.
Sementara itu di dapur Abi terkejut saat melihat seorang gadis cantik yang mirip dengan Inara hampir bertabrakan dengan dirinya.
"Maaf," ucap gadis itu sembari menundukkan pandangan.
"Kamu siapa?" tanya Abi yang masih terpana melihat gadis itu.
"Saya Khurin, adiknya Mbak Rara," jawab gadis itu lagi-lagi dengan pandangan tertunduk.
"Mbak Rara?" tanya Abi sembari mengernyitkan dahinya.
"Iya, maksud saya Mbak Inara," ralat gadis itu.
"Oh." Abi manggut-manggut.
"Saya biasa memanggil Mbak Inara dengan panggilan Mbak Rara, sedangkan dia memanggil saya Ririn," jelas gadis yang mengaku bernama Khurin itu.
"Oh, kamu yang mondok di Kediri itu ya?" tanya Abi lagi.
"Iya, Mas."
"Maafkan aku kalau nggak kenal sama kamu, ya."
"Tidak apa-apa, Mas. Soalnya saya tadi memang datangnya pas acara sudah mulai. Jadi, belum sempat kenalan dengan Mas Abid," balas Khurin membuat Abi sontak memandang ke arah gadis itu kembali.
"Mas Abid, siapa dia?" tanya Abi bingung.
"Iya, kamu lah. Mas namanya Abidzar, kan? Saya tadi sempet tanya sama Abah," jawab Khurin.
"Eum, maksudku panggilan itu--"
"Boleh kan saya panggil Mas Abid?" tanya Khurin memotong ucapan Abi.
"Oh, ya. Boleh, boleh saja," balas Abi sembari tersenyum.
"Mas Abid mau saya bikinkan kopi atau teh mungkin?" tawar Khurin ramah.
"Ah, nggak perlu, Rin. Aku cuma mau ngambil air putih," tolak Abi.
"Oh, ya sudah. Kalau begitu saya balik ke kamar, Mas," pamit Khurin sopan. Gadis cantik berbaju syar'i itu kemudian berjalan meninggalkan dapur. Tanpa disadari, gamisnya tersangkut di pojok meja dapur hingga tubuhnya hampir terjatuh. Namun, dengan sigap, tangan Abi menahan lengan Khurin.
"Innalillahi wa inna ilaihi rojiun," ucap gadis itu spontan.
"Kamu tidak apa-apa, Rin?" tanya Abi khawatir tangan pemuda itu masih mencengkram erat lengan adik iparnya.
"Alhamdulillah, saya nggak papa, Mas. Terima kasih sudah menolong saya," balas Khurin. Pada saat yang sama, Inara muncul di ambang pintu dapur dan menatap tajam ke arah suami dan adiknya.
"Apa yang kalian lakukan di sini malam-malam," tanya Inara membuat Abi sontak melepaskan tangannya dari lengan Khurin.
"Eum, kami--"
"Mas Abid cuma nolongin saya karena mau jatuh, Mbak. Kebetulan tadi Mas Abid mau ngambil air putih. Itu saja, nggak ada apa-apa, kok." Khurin memotong ucapan Abi.
"Mas Abid, maksudnya--" Inara tidak meneruskan ucapannya. Wanita itu tidak menyangka kalau sang adik mempunyai panggilan khusus untuk suaminya.
"Saya permisi mau kembali ke kamar," pamit Khurin yang tidak ingin terjadi kesalahpahaman. Gadis cantik berbaju syar'i itu lalu melangkah meninggalkan dapur.
"Non, maaf. Saya tadi hanya haus dan mau mengambil air putih. Saya tidak bermaksud untuk--"
"Kita bicara di kamar," potong Inara sembari berbalik meninggalkan Abi. Wanita itu tidak ingin pembicaraannya terdengar oleh anggota keluarga. Sedangkan Abi terdiam mematung sejenak.
"Apa Non Inara cemburu pada adiknya, ya?" batin Abi. Sudut bibir pemuda itu melengkungkan senyum.
"Ah ... mikir apa sih aku? Mana mungkin Non Inara cemburu. Khayalanku terlalu tinggi," lanjutnya membatin, kemudian mengekor di belakang sang istri.
"Kamu jangan kepedean dan berpikir aku cemburu pada Ririn. Aku hanya tidak mau kamu merusak citra kita sebagai suami istri yang bahagia. Apalagi ini adalah malam pertama pernikahan kita. Berani-beraninya kamu keluar kamar dan ganjen pada adikku," ucap Inara saat keduanya sudah berada di kamar. Abi kembali menelan ludahnya. Bagaimana mungkin wanita ini tahu tentang apa yang sedang dia pikirkan saat ini.
"Maaf, Non. Saya bukan ganjen. Tadi saya benar-benar gak sengaja. Niat saya hanya menolong yang mau terjatuh," jelas Abi.
"Dengar ya, Bi! Memang pernikahan kita ini hanya sebatas di atas kertas. Kamu bekerja padaku sebagai suami kontrak dan kita terikat perjanjian. Hanya kita berdua yang tahu. Kamu boleh berhubungan dengan wanita lain asalkan jangan sampai keluargaku tahu. Ingat itu! Sebelum aku melahirkan, semua harus baik-baik saja. Oh, ya. Adikku memang cantik, dia juga shalihah, tetapi jangan sekali-kali kamu suka sama dia. Kamu cari wanita lain," tegas Inara membuat Abi hanya bisa menelan ludahnya tanpa bisa membantah apapun.
"Baik, Non."
***
Suara Adzan Subuh berkumandang merdu dari Masjid Baitul Makmur kompleks Perumahan Puri Indah Permai. Abi yang tadinya masih terbuai mimpi mulai membuka matanya mendengar panggilan salat itu.
Sejenak Abi mendengarkan suara adzan hingga selesai sembari duduk mengumpulkan nyawanya yang masih belum sempurna. Pandangannya lalu mengarah kepada Inara yang masih tertidur pulas. Pemuda itu tersenyum tipis memandang wajah polos Inara. Saat tidur, kesan angkuh dan jutek wanita itu tidak terlihat sama sekali.
"Non, meskipun pernikahan kita hanya sebatas di atas kertas, meskipun saya hanyalah suami kontrak bagi Non, tetapi saya tidak pernah menganggapnya seperti itu. Saya serius dengan pernikahan ini dan sama sekali tidak pernah menganggapnya sebuah sandiwara. Semoga suatu saat nanti Allah membuka hati Non untuk saya. Tidak peduli Non sudah mengandung benih laki-laki lain," batin Abi sembari tersenyum.
Abi kemudian beranjak menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu sekalian mandi. Lelaki itu membasahi rambutnya dan keramas untuk menyempurnakan aktingnya di depan Kiai Ammar nantinya saat berangkat ke masjid untuk Salat Subuh berjamaah ke masjid. Abi ingin mertuanya itu menganggap bahwa dirinya dan Inara telah melakukan malam pertama.
Beberapa menit kemudian, Abi keluar dari kamar mandi dalam keadaan segar. Kedua tangannya mengusap rambut yang masih basah dengan handuk, lalu berganti memakai baju koko dan sarung.
"Non, bangun! Sudah adzan. Kita salat Subuh dulu, yuk!" ajak Abi sembari menggoyang tubuh sang istri yang masih terlelap dalam posisi tidur miring. Namun, tidak ada respon sama sekali dari Inara.
"Non, ayo bangun! Keburu iqamah," ucap Abi lagi dengan suara yang lebih tinggi sembari menggoyang tangan Inara.
"Non Inara," panggilnya lagi.
"Hmm," jawab Inara tanpa membuka matanya.
"Ayo kita salat dulu," ajak Abi lagi.
"Aku masih ngantuk, Bi. Kamu berangkat salat sama Abah sana! Aku nanti-nanti saja," balas Inara tanpa membuka matanya.
"Astagfirullah, Non. Waktu salat subuh itu cuma singkat. Nanti kalau keburu matahari terbit bagaimana? Ayo kita salat dulu!" ajak Abi tanpa menyerah sembari memegang tangan Inara.
"Ih ... kamu bawel banget sih, Bi," jawab Inara kesal sembari beralih posisi terlentang, lalu menarik tangannya dari pegangan Abi. Namun, akibat wanita itu menarik tangan Abi, yang terjadi justru pemuda itu terjatuh tepat di atas Inara.
Kedua mata Inara spontan terbuka, sementara Abi sendiri juga terkejut. Dadanya berdebar kencang saat tiba-tiba posisi tubuhnya menindih di atas sang istri. Wajah keduanya saling berhadapan begitu dekat hampir tak berjarak, sehingga masing-masing bisa merasakan hangat napas lawannya.
Sejenak Inara terpana menghindu harum wangi sampo yang menguar dari rambut Abi. Belum lagi rambut pemuda itu yang masih sedikit basah dan menyisakan tetesan air membuat Inara terdiam seribu bahasa.
Untuk sejenak keduanya terjebak dalam situasi yang tidak diharapkan itu. Meskipun Abi hanya dianggap sebagai suami kontrak, tetapi Inara tidak menampik pesona lelaki itu. Inara seolah tersihir melihat cerahnya wajah Abi yang telah terbasuh air wudhu.
Sedangkan Abi merasa kesulitan untuk menetralkan detak jantungnya yang berpacu dua kali lipat lebih cepat. Napasnya menderu mendapati posisi tubuhnya yang kini begitu dekat dengan wanita yang telah menempati separuh hatinya itu. Namun, pemuda itu segera tersadar bahwa dirinya tadi telah berwudhu.
"Maaf, Non. Saya tidak bermaksud kurang ajar," ucapnya sembari beranjak duduk di tepi ranjang membelakangi Inara. Entah kenapa ada rasa kecewa di hati wanita itu.