"Wah, aku kagum sama kamu lho, Bi," ucap Kiai Lutfi saat perjalanan pulang dari Gunung Kidul. Bakda salat Asar, Abi dan Kiai Lutfi langsung bertolak ke Sleman. Langit tampak mendung dan sepertinya sebentar lagi akan turun hujan. "Kagum bagaimana, Pak Kiai?" tanya Abi sembari menoleh sebentar ke arah lelaki paruh baya yang duduk di samping kemudi, lalu kembali fokus menyetir. "Ceramah kamu tadi sungguh berkesan. Kata-kata yang kamu pakai, bisa diterima di semua golongan termasuk anak-anak muda. Dai muda seperti kamu ini yang saya cari selama ini. Beruntung sekali Kiai Ammar punya menantu seperti kamu." Kiai Lutfi menepuk pundak Abi membuat wajah pemuda itu merona. "Ah, Kiai terlalu memuji. Sebenarnya saya merasa belum pantas. Lagian tadi itu saya grogi sekali. Ini kali pertama saya bicar

