🌸 Part 1. Pengawal Muda 🌸
"Aku nggak butuh pengawal pribadi."
Kalimat itu meluncur begitu saja, ringan tapi tajam, sebelum otakku sempat menyaringnya.
Aku melempar ponselku ke atas meja kaca.
Dug!
Suaranya bergema di ruang tamu yang luasnya hampir menyamai lapangan futsal ini.
Dingin, kaku, dan jujur saja, terlalu sunyi untuk wanita semuda dan secantik aku.
Aku menyandarkan punggung ke sofa beludru merah maroon, menatap langit-langit tinggi yang dihiasi lampu kristal bergaya Victorian.
Rumah ini memang megah, setiap sudutnya berkilau mahal.
Tapi, bagiku? Ini cuma kandang emas. Dan, aku?
Aku adalah burung cendrawasih yang sayapnya sengaja dipatahkan agar tetap diam di sangkar.
Ponsel di depanku bergetar lagi. Nama Jovan William terpampang di sana. Suamiku.
Pria yang usianya hampir kepala lima, yang lebih mencintai angka-angka di bursa saham Jerman daripada lekuk tubuh istrinya sendiri.
Aku mendengus, menyesap sisa kebosanan, lalu mengangkatnya.
“Iya, Sayang?” suaraku dibuat semanis madu, meski hatiku sepahit empedu.
“Sanisa, kamu belum balas pesanku,” suara Jovan terdengar berat dan datar. Tanpa emosi. Tipikal.
“Aku udah jawab, Jo. Aku bilang, aku nggak butuh pengawal. Aku bukan tawanan perang, kan?” potongku cepat.
Aku bisa membayangkan dia sedang memijat pangkal hidungnya di kantornya yang mewah di Berlin.
“Ini soal keamanan, Sanisa. Kamu tinggal sendirian di sana. Aku nggak bisa ngawasin kamu terus-menerus.”
Aku hampir tertawa. Ngawasin?
“Sejak kapan kamu pernah benar-benar ngawasin aku selain lewat tagihan kartu kredit, Jo? Jangan bercanda deh.”
“Keputusan sudah final. Besok pagi ada wawancara. Kamu tinggal pilih siapa yang paling bisa kamu ... kendalikan. Selebihnya biar staf yang urus.”
Tut. Tut. Tut.
Sialan! Selalu begitu.
Aku menatap layar ponsel yang menghitam dengan perasaan dongkol.
Aku bangkit, berjalan mondar-mandir. Suara heels-ku mengetuk lantai marmer, menciptakan irama yang menemani kesendirianku.
Aku berhenti di depan jendela besar, menatap taman yang remang-remang.
Tanganku meraih gelas wine. Cairan merah itu berputar, lalu kupaksa tenggorokanku menikmatinya.
Pikiranku mendadak terlempar ke sebuah malam, dua bulan lalu.
Malam yang penuh uap alkohol dan peluh. Ada seorang pria muda di sana.
Wajahnya samar, tapi sentuhannya ... ah, masih terasa membekas di kulitku. Aku menggeleng kuat.
“Lupakan, Sanisa.”
Itu cuma kesalahan satu malam. Lo bayar dia, dia pergi. Selesai.
***
Pukul 10 pagi. Aku berdiri di depan cermin, memastikan penampilanku nggak bercela.
Aku memilih gaun hitam sutra yang memeluk lekuk tubuhku dengan sempurna, sedikit terlalu ketat untuk sekadar mewawancarai pegawai, tapi memang itu tujuannya.
Aku ingin melihat sejauh mana pria-pria ini bisa menjaga profesionalitas mereka di depan Nyonya mereka yang ... menawan ini.
Aku menatap pantulan diriku, sepasang mata yang berkilau bak permata di tengah kegelapan, bibir merah yang menyimpan ribuan rahasia, dan aura yang merayap layaknya wangi melati di tengah malam, memabukkan namun berbahaya.
Aku adalah mawar yang mekar di tanah yang gersang, menanti tangan yang cukup berani untuk memetik, meski tahu duri-duriku siap menggores hingga berdarah.
Aku turun ke lantai bawah. Di ruang tamu, sudah ada barisan pria bersetelan jas hitam.
Mereka tegap, berwajah kaku, persis robot pesanan pabrik.
Aku duduk di kursi tunggal, menyilangkan kaki perlahan, membiarkan belahan gaun itu tersingkap sedikit lebih tinggi dari seharusnya.
Aku melihat beberapa dari mereka menelan ludah.
"Mulai saja," kataku singkat pada Pak Edwin.
Satu per satu mereka memperkenalkan diri. Militer lah, ahli bela diri lah, mantan agen rahasia lah. Membosankan. Sampai akhirnya,
"Berikutnya, Jevano."
Langkah kaki itu terdengar berbeda. Lebih tenang dan berwibawa.
Aku mengangkat wajahku, dan saat itulah duniaku seolah berhenti berputar.
Jantungku memukul rusukku dengan beringas.
Pria itu. Pria dari malam itu.
Pria itu berdiri di sana dengan setelan jas yang tampak sesak karena bahunya yang terlalu bidang.
Wajahnya tampan dengan rahang yang tegas dan mata sekelam lubang hitam.
Lelaki itu adalah personifikasi dari badai yang terperangkap dalam botol kaca, tenang di permukaan, namun menyimpan amukan petir yang siap menghanguskan apa saja.
Sorot matanya setajam belati perak, menyisir setiap inchi keberadaanku dengan keberanian yang lancang.
Pria itu bukan sekadar pengawal, ia adalah puisi gelap yang ditulis dengan tinta darah dan obsesi, berdiri tegak seolah-olah ruangan ini adalah singgasananya, bukan penjara tugasnya.
"Nama saya Jevano. Biasa dipanggil Jeva. Usia 29 tahun," suaranya berat, suara bariton yang sama yang berbisik di telingaku malam itu.
Aku mematung. Apa dia nggak sadar siapa aku? Atau dia sedang main drama? Aku menatapnya lekat-lekat, mencoba mencari celah di wajah datarnya.
Tapi, Jeva tetap tenang, bahkan ada kilatan jenaka di matanya saat dia melihatku yang mulai gelisah.
"Cukup," potongku tiba-tiba. Suaraku agak gemetar, jadi aku berdeham. "Aku pilih dia. Siapa tadi namanya? Jeva? Ya, dia."
Pak Edwin kaget. "Tapi Nyonya, kita belum melakukan tes fisik—"
"Aku nggak butuh tes fisik. Aku cuma butuh yang enak dilihat," kataku santai sembari berdiri. Aku mendekati Jeva, melangkah dengan pinggul yang sengaja aku goyangkan lebih dari biasanya.
Aku berhenti tepat di depannya. Jarak kami sangat dekat, hingga aku bisa mencium aroma sandalwood dan maskulin yang sangat familiar dari tubuhnya.
Aku mendongak, menatap matanya yang dalam. "Lo yakin mau jagain gue, Jeva?" tanyaku dengan nada rendah, sedikit berbisik agar hanya dia yang dengar. "Gue orangnya ... susah diatur."
Jeva nggak mundur sedikitpun. Dia justru sedikit membungkuk, mensejajarkan wajahnya dengan wajahku.
Napasnya yang hangat menerpa kulit pipiku. Ahh sungguh, aku terbawa pada malam itu.
"Tugas saya adalah menjaga Anda, Nyonya. Bukan mengatur Anda," jawabnya tenang, namun matanya menatap bibirku dengan intensitas yang membuatku merinding. "Kecuali kalau Anda sendiri yang minta diatur."
Sialan! Dia beneran nantangin.
"Edwin, suruh yang lain pulang. Kasih mereka uang jalan. Aku cuma mau Jeva yang tinggal dan pilih satu lagi!” perintahku tanpa melepas kontak mata dengan pengawal baruku ini.
Begitu ruangan kosong, aku melipat tangan di d**a. "Lo ingat gue, kan?"
Jeva menunduk sopan, tapi senyum tipis yang meremehkan itu muncul di sudut bibirnya. "Ingat apa, Nyonya? Apakah kita pernah bertemu di suatu tempat yang ... privat?"
Aku mendengus sarkastik. "Jangan pura-pura amnesia. Dua bulan lalu. Hotel Grand Paragon. Kamu lupa gue bayar lo berapa?"
Jeva terdiam sejenak, lalu dia melangkah maju satu tindak, membuatku refleks mundur sampai terdesak ke meja marmer di belakangku
Jeva mengurungku dengan kedua lengannya yang kekar, menatapku lurus-lurus.
"Maaf, Nyonya. Di ingatan saya, malam itu bukan soal uang," bisiknya tepat di telingaku, membuat bulu kudukku berdiri. "Tapi, soal bagaimana Anda memohon saya untuk tidak berhenti."
Wajahku panas seketika. "Lo ... lo berani, ya!"
Jeva menarik diri, kembali ke posisi tegak yang sempurna, seolah pembicaraan barusan nggak pernah terjadi.
"Saya Jevano, pengawal pribadi Anda mulai hari ini. Apa perintah pertama Anda, Nyonya?"
Aku menatapnya dengan perasaan campur aduk, marah, malu, tapi juga tertantang.
Aku menjilat bibirku pelan, mataku menatapnya dari ujung kaki sampai ujung kepala dengan tatapan haus.
"Perintah pertama gue? Ganti baju lo. Gue nggak suka pengawal gue kelihatan kaku kayak manekin," kataku sambil berjalan melewatinya, sengaja menyenggol bahunya dengan bahuku. "Dan, satu lagi ... jangan pernah panggil gue 'Nyonya' kalau kita lagi berdua. Panggil Sanisa. Itu perintah."
“Tetap akan saya panggil Nyonya.”
“Lo—”
“Ini tugas,” jawabnya.
Aku berjalan menuju tangga tanpa menoleh lagi, tapi aku tahu, Jeva sedang memperhatikanku.
Aku bisa merasakan tatapannya di punggungku, seberat rantai besi yang menyeretku masuk ke dalam permainan berbahaya yang aku ciptakan sendiri.
Jeva adalah api, dan aku adalah bensin yang rindu untuk dibakar.
Di rumah yang dingin ini, badai baru saja datang, dan aku nggak sabar untuk melihat sejauh mana dia bisa melindungiku atau justru menghancurkanku.