1. pengawal muda
‘Aku nggak butuh pengawal pribadi.’
Sanisa wanita berusia 39 tahun, menjatuhkan ponselnya ke atas meja kaca dengan sedikit lebih keras dari yang seharusnya. Bunyi tok itu memantul di ruang tamu yang luas, dingin, dan sepi.
Sanis menyandarkan tubuhnya ke sofa, menatap langit-langit tinggi rumah megah itu. Rumah yang terlalu besar untuk ditinggali sendirian.
Rumah yang katanya lambang kebahagiaan, tapi buat Sanis, lebih mirip kandang emas.
Ponselnya bergetar lagi.
Nama Jovan William, suaminya, muncul di layar, suaminya yang berusia 49 tahun dan pemilik perusahaan besar yang bergerak di bidang ritel dan perbankan.
Sanis mendengus pelan, tapi tetap mengangkatnya.
‘Iya?’ jawabnya datar.
‘Sanis, kamu belum jawab pesanku.’
‘Aku sudah jawab. Aku nggak butuh pengawal.’
Di seberang sana, Jovan menghela napas. Suara pria itu tetap tenang, seperti biasa. Selalu terkontrol.
‘Kamu tinggal sendirian di rumah sebesar itu. Aku nggak bisa terus-terusan ngawasin kamu dari Jerman.’
Sanis tersenyum miring, walau tak ada yang melihat.
‘Sejak kapan kamu pernah ngawasin aku, sih?’
‘Aku serius, Sanis, ini bukan soal percaya atau nggak, ini soal keamanan kamu,” lanjut Jovan, suaminya, nada suaranya sedikit menegang.
‘Keamanan? Rumah ini lebih aman dari bank, Jovan. CCTV di mana-mana, satpam berlapis. Bahkan nyamuk aja mungkin takut masuk.’
‘Kamu tetap butuh orang yang jagain kamu secara langsung.’
Sanis memejamkan mata karena capek. Bukan cuma karena pembicaraan ini, tapi karena semuanya. Karena hubungan yang bahkan rasanya sudah mati, tapi masih dipertahankan.
‘Kenapa sekarang?’ tanyanya pelan.
Jovan terdiam beberapa detik sebelum menjawab.
‘Aku nggak mau ambil risiko, Sayang.’
Kalimat itu sederhana, tapi entah kenapa bikin Sanis merasa kosong, bukan karena khawatir. Tapi karena ia tahu, ini bukan soal dirinya, melainkan reputasi, nama besar keluarga William.
‘Aku sudah atur jadwal wawancara. Besok pagi,’ lanjut Jovan.
Sanis langsung membuka mata. ‘Apa?’
‘Kamu tinggal pilih. Sisanya biar aku yang urus.’
‘Jovan—'
Sambungan terputus. Sanis menatap layar ponselnya yang kini gelap.
“Dasar nyebelin,” gumamnya pelan.
Sanis bangkit dari sofa, berjalan tanpa arah di ruang tamu yang luas itu. Sepatu heels-nya berdetak pelan di lantai marmer, jadi satu-satunya suara yang mengisi ruangan.
Besok adalah wawancara pengawal. Padahal dia sama sekali nggak pengen.
Sanis berhenti di depan jendela besar yang menghadap ke taman belakang. Malam sudah turun, lampu-lampu taman menyala temaram, terlihat sangat indah tapi tidak dengan hatinya.
Tangannya tanpa sadar meraih gelas wine yang tadi ia tinggalkan di meja samping. Cairan merah itu berputar pelan saat ia mengangkatnya.
Sudah berapa lama ya, hidupnya kayak gini? Hari-hari yang sama, sepi yang sama dan rasa hampa yang makin lama makin nggak bisa dihindari.
Sanis meneguk wine itu, membiarkan rasa pahitnya turun ke tenggorokan.
Entah kenapa, pikirannya tiba-tiba melayang ke dua bulan lalu, malam yang kabur dan seorang pria muda.
Wajahnya samar, tapi cukup jelas untuk bikin jantungnya berdebar aneh. Sanis langsung menggeleng, mengusir pikiran itu.
“Cuma kesalahan,” bisiknya.
Sanis bahkan nggak tahu siapa pria itu dan sejujurnya ia juga nggak mau tahu. Yang ia ingat cuma satu hal, saat bangun pagi, pria itu ada di ranjangnya dan tanpa banyak bicara, ia langsung melemparkan uang dan menyuruh pria itu pergi.
Selesai.
Sanis menarik napas panjang, lalu menghabiskan sisa wine di gelasnya.
Besok, ia hanya perlu datang, duduk, memilih seseorang, lalu selesai. Sesederhana itu.
***
Pagi menunjukkan pukul 10, Sanis baru selesai mandi dan berganti pakaian. Sanis berdiri di depan cermin besar di kamarnya, menatap pantulan dirinya sendiri.
Rambut panjangnya ditata rapi, makeup-nya flawless seperti biasa. Gaun yang ia kenakan elegan, tapi tetap simpel, warna hitam dengan potongan yang pas di tubuhnya. Anggun dan berkelas.
“Perfect,” gumamnya pelan, meski dalam hati ia tahu semuanya cuma tampilan luar.
Di bawah sana, beberapa kandidat pengawal untuknya sudah menunggu.
Sanis bisa melihat mereka dari balkon lantai dua. Pria-pria dengan tubuh tegap, wajah serius, berdiri berjejer seperti sedang ikut seleksi militer.
Sanis menghela napas.
“Kenapa sih harus drama begini,” geleng Sanis.
Sanis berbalik, melangkah keluar kamar, lalu menuruni tangga dengan langkah santai tapi penuh wibawa. Begitu ia muncul, semua kepala langsung menoleh.
Aura Sanis selalu punya efek seperti itu. Tanpa perlu bicara, ia sudah jadi pusat perhatian.
Sanis lalu duduk di kursi yang sudah disiapkan, menyilangkan kaki dengan anggun.
“Mulai saja,” katanya singkat.
Seorang pria paruh baya, manajer keamanan keluarga William, langsung mengangguk.
“Baik, Nyonya Sanisa.”
Satu per satu kandidat maju.
Mereka memperkenalkan diri, menjelaskan pengalaman, keahlian bela diri, hingga latar belakang militer mereka.
Sanis mendengarkan, tapi setengah hati. Jawaban mereka terdengar sama, formal dan kaku juga membosankan.
Sanis bahkan hampir menguap.
“Berikutnya, Jeva.”
Nama itu membuat Sanis yang tadinya sedikit melamun, kembali fokus. Entah kenapa, ada sesuatu dari cara nama itu disebut. Langkah kaki terdengar mendekat.
Sanis mengangkat pandangannya dan untuk sesaat waktu seperti berhenti.
Pria itu berdiri di hadapannya, tampan, tinggi, tegap dan tatapannya tajam, tapi terlihat tenang dan yang paling membuat Sanis terpaku, wajah itu. d**a Sanis langsung terasa sesak.
Tangannya yang tadi santai di atas paha, perlahan mengepal, pria didepannya adalah pria dua bulan yang lalu, yang ia kira tidak akan pernah ia temui lagi, yang ia anggap hanya kesalahan, bahkan pria itu dipikirkannya akhir-akhir ini, seolah ada rindu yang tidak bisa ia ceritakan kepada siapa pun.
Sanis menelan ludah. Jantungnya berdetak lebih cepat dari yang seharusnya.
“Nama saya Jevano, biasa dipanggil Jeva, usia saya 29 tahun,” ujar pria itu, suaranya dalam, tenang, dan familiar.
Sanis menatapnya tanpa berkedip. Jadi, Jeva namanya.
Pria itu tidak menunjukkan ekspresi terkejut. Tidak ada tanda-tanda ia mengenali Sanis atau mungkin, ia memang pandai menyembunyikannya. Itu justru membuat Sanis semakin tidak nyaman.
Pikirannya kacau. Kenapa dia ada di sini? Kenapa dia jadi kandidat pengawal pribadinya?
Dan yang paling penting, apa dia ingat?
Tatapan mereka sempat bertemu dan dalam satu detik itu, Sanis merasa seolah-olah semua rahasianya terbuka.
Jeva tersenyum tipis. Senyum yang hampir tidak terlihat, tapi cukup untuk membuat Sanis merinding, bukan karena takut pada Jeva, tapi karena perasaan aneh yang tidak bisa ia jelaskan.
Sanis buru-buru mengalihkan pandangan.
“Cukup,” potongnya tiba-tiba.
Semua orang langsung terdiam. Jeva berhenti bicara.
“Semua sudah saya dengar. Saya akan pilih sekarang,” lanjut Sanis, mencoba terdengar tenang
Manajer keamanan tampak sedikit kaget. “Nyonya, biasanya—”
“Saya bilang sekarang.”
Nada suaranya tegas dan tak bisa dibantah.
Sanis berdiri, menatap satu per satu kandidat, lalu berhenti pada Jeva. Cukup lama untuk membuat suasana jadi tegang dan tanpa memberi waktu pada dirinya sendiri untuk berpikir terlalu jauh
“Saya pilih dia.”
Semua langsung menoleh ke arah Jeva. Termasuk Jeva sendiri. Tatapan mereka kembali bertemu dan kali ini, Sanis tidak bisa menghindar.
Ada sesuatu di mata pria itu. Sesuatu yang berbahaya.
Manajer keamanan mengangguk cepat. “Baik, Nyonya. Jeva akan mulai bekerja hari ini juga.”
Sanis mengangguk singkat.
“Semua yang lain, boleh pergi. Kalian bisa pergi dan ambil uang pada Edwin, saya kasih kalian 1juta perorang karena sudah mau ke sini membuang waktu.”
“Nyonya,” ujar Edwin.
“Berikan ke mereka 1juta perorang. Silahkan.”
Para kandidat lain pun pergi satu per satu, dan sebelum itu mereka berterima kasih, sepeninggalan mereka semua, tinggal mereka berdua.
Sunyi kembali memenuhi ruangan. Sanis menarik napas pelan, mencoba mengumpulkan keberaniannya, ia tak suka situasi ini, tak punya kendali atas ini.
“Kamu ingat saya?” tanya Sanis tiba-tiba.
“Ingat apa, Nyonya?”
“Ingat saya. Kita pernah bertemu, ‘kan?”
“Tidak. Saya tidak mengingat Anda,” jawab Jeva. Suara Jeva rendah, tenang, tapi ada sesuatu di dalamnya.
“Apa? Kamu lupa?”
“Memangnya kita pernah bertemu, Nyonya?” tanya Jeva santun.
“Kamu … ya sudah lah. Bagus kalau kamu tidak ingat,” angguk Sanis karena itu lebih baik.
Sesuatu yang membuat jantung Sanis berdebar lagi. Sanis langsung menoleh. Tatapan mereka bertabrakan dan untuk pertama kalinya sejak tadi ia melihat dengan jelas.
Sanis menelan ludah. Permainan ini, tiba-tiba terasa jauh lebih berbahaya dari yang ia kira dan entah kenapa ia punya firasat. Hidupnya tidak akan pernah sama lagi sejak hari ini.