Sanis tidak pernah merasa rumahnya sesunyi ini dan sekaligus setegang ini. Padahal, jumlah orang di dalam rumahnya justru bertambah satu.
Pria itu berdiri tidak jauh darinya sekarang, tegap, rapi dengan setelan hitam yang pas di tubuhnya. Tangannya terlipat di depan, sikapnya sangat profesional.
Seolah-olah, tidak pernah ada apa-apa di antara mereka.
Sanis menyesap kopinya pelan, mencoba terlihat santai meski pikirannya berisik.
“Jadi, kamu sudah paham tugas kamu?” tanyanya, akhirnya memecah keheningan.
Jeva mengangguk singkat. “Ya, Nyonya. Saya akan mendampingi Anda ke mana pun Anda pergi, memastikan keamanan Anda, dan tetap dalam jarak yang memungkinkan untuk bertindak cepat.”
Nada suaranya datar, formal dan tidak ada celah emosi di sana.
Sanis mengangkat alis sedikit.
“Nyonya? Kamu nggak perlu terlalu kaku. Ini bukan kantor militer,” ujar Sanis pelan, sedikit menyindir.
Jeva sedikit menunduk. “Baik.”
Sanis langsung mengalihkan pandangan, pura-pura fokus pada kopinya.
“Mulai hari ini, kamu standby di sini dulu. Nanti aku ada jadwal keluar siang,” lanjut Sanis.
“Baik.”
Lagi-lagi Jeva menjawab singkat. Sanis mulai merasa kesal. Bukan karena sikap Jeva yang profesional, tapi karena dia terlalu normal dan terlalu biasa.
Seolah-olah dua bulan lalu itu benar-benar tidak pernah terjadi. Sanis menatapnya sekilas.
Jeva berdiri di sana dengan tenang, bahkan tidak sekalipun mencoba memancing percakapan. Tak ada kode dan tatapan aneh apalagi pengakuan.
Apa dia benar-benar lupa? Atau pura-pura?
Sanis menggigit bibirnya pelan. Kalau dia lupa, harusnya Sanis lega. Tapi kenapa malah kepikiran begini?
Menjelang siang, Sanis bersiap keluar. Ia mengenakan dress simpel warna ivory, rambutnya dibiarkan tergerai, makeup tipis tapi tetap flawless.
Saat ia turun, Jeva sudah menunggu di dekat pintu, tepat waktu dan tak perlu diingatkan.
“Mobil sudah siap, Nyonya,” katanya.
Sanis mengangguk, lalu berjalan melewatinya. Namun baru beberapa langkah, ia berhenti.
“Jeva.”
“Ya, Nyonya?”
Sanis menoleh sedikit, menatapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca.
“Kamu pernah kerja di mana sebelumnya?”
Pertanyaan itu terdengar biasa.
Jeva menjawab tanpa ragu. “Beberapa tahun di bidang keamanan pribadi. Klien perusahaan dan individu.”
“Individu?” ulang Sanis, pura-pura santai.
“Iya, Nyonya.”
“Perempuan?”
Jeva terdiam sejenak.
“Beberapa,” jawabnya akhirnya.
Sanis mengangguk pelan, lalu tersenyum tipis.
“Semoga mereka nggak mabuk dan bikin masalah, ya.”
Kalimat itu meluncur begitu saja dan setengah bercanda.
Jeva menatapnya. Tatapan Jeva saat ini dalam dan tenang. Tapi seperti menyimpan sesuatu.
“Setiap klien punya cara sendiri untuk menghadapi kesepian,” ujar Jeva, pelan.
Sanis membeku. Jantungnya langsung berdetak lebih cepat.
Apakah itu kebetulan? Atau dia memang tahu?
Sanis cepat-cepat memalingkan wajah.
“Ayo, kita berangkat,” katanya singkat, mencoba menguasai diri.
Sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil terasa aneh.
Sanis duduk di kursi belakang, menatap ke luar jendela, sementara Jeva di kursi depan bersama sopir.
Sesekali, matanya tanpa sadar melirik ke arah kaca spion dan setiap kali itu, ia selalu menemukan Jeva juga melihat ke arahnya, bukan secara terang-terangan. Tapi cukup untuk membuat napasnya sedikit tercekat.
Sanis menghela napas pelan. Sanis jadi overthinking, Jeva nggak mungkin ingat. Kalau dia ingat, pasti dari tadi sudah bersikap beda atau mungkin dia memang sengaja bersikap biasa?
Sanis menggeleng pelan, menepis pikirannya sendiri, ia tidak mau memperbesar masalah.
Selama tidak ada yang tahu dan selama Jeva diam, semuanya akan baik-baik saja.
Tujuan mereka hari itu adalah sebuah butik langganan Sanis. Begitu mobil berhenti, Jeva langsung turun lebih dulu, membuka pintu untuknya.
Gerakannya sigap dan terlalu, entah mengapa kenapa terasa sangat dekat.
Sanis turun tanpa berkata apa-apa. Namun saat mereka berjalan masuk bersama, ia bisa merasakan tatapan orang-orang. Bukan hanya karena dirinya. Tapi juga karena pria tampan di sampingnya.
Jeva terlalu mencolok dan terlalu menarik perhatian.
“Pengawal baru, Nyonya?” tanya salah satu staf butik dengan senyum ramah.
Sanis mengangguk santai. “Ya.”
“Ganteng banget, loh.”
Sanis tersenyum tipis, tapi tidak menjawab. Entah kenapa, komentar itu membuatnya sedikit tidak nyaman.
Jeva tetap diam, berdiri di belakangnya seperti bayangan. Seolah-olah semua pujian itu tidak ada artinya.
Sanis mencoba fokus memilih pakaian, tapi pikirannya tetap berputar. Setiap kali ia bergerak, ia bisa merasakan kehadiran Jeva di dekatnya.
“Yang ini bagus, Nyonya,” ujar staf sambil menunjukkan sebuah dress.
Sanis mengangguk, tapi sebelum ia sempat menjawab.
“Warnanya terlalu pucat.” Suara itu datang dari belakangnya.
Sanis langsung menoleh.
“Kamu ngerti fashion sekarang?” sindirnya.
Jeva tidak terlihat tersinggung.
“Tidak. Tapi warna itu membuat Anda terlihat … terlalu dingin.”
Sanis terdiam. Kalimat itu sebenarnya sederhana. Tapi entah kenapa terasa personal.
Seperti dia benar-benar memperhatikan.
Sanis mendengus pelan. “Aku memang dingin.”
Jeva menatapnya sebentar. Lalu berkata pelan, “Tidak juga, Nyonya.”
Sanis langsung memalingkan wajah.
“Ambil saja,” katanya cepat pada staf, menunjuk dress lain tanpa benar-benar melihat.
Sanis butuh mengalihkan perhatian, karena kalau tidak, ia akan mulai memikirkan hal-hal yang tidak seharusnya.
***
Sore hari, mereka kembali ke rumah. Sanis langsung menuju ruang tamu, melepas heels-nya dengan sedikit lelah.
Jeva tetap berdiri tidak jauh darinya seperti biasa, Jeva selalu ada.
“Jeva.”
“Iya, Nyonya?”
Sanis menatapnya. Seolah-olah mencoba membaca sesuatu dari wajah pria itu.
“Kamu orangnya memang selalu setenang ini?” tanyanya akhirnya.
Jeva sedikit mengangkat alis. “Seharusnya begitu, untuk pekerjaan ini.”
“Dan di luar pekerjaan?”
Jeva sejenak terdiam, lalu berkata, “Saya tetap sama.”
Sanis tersenyum tipis. “Bohong.”
Jeva tidak langsung menjawab. Tatapannya turun sedikit, menatap Sanis dengan cara yang berbeda.
“Kenapa Anda berpikir begitu?”
Sanis berdiri perlahan, mendekat satu langkah. Jarak mereka kini tidak sejauh tadi.
“Aku nggak tahu. Tapi rasanya, kamu bukan tipe orang yang selalu dingin.” Sanis berbisik, membuat Jeva hampir saja tidak bertahan. Karena Sanis begitu cantik, walau usianya sudah 38 tahun, namun wajahnya tetap seperti anak gadis.
Jeva menatapnya. Sanis merasa waktu berhenti lagi. Namun kemudian, Jeva mundur setengah langkah. Sikapnya kembali formal dan kembali profesional.
“Mungkin Anda salah menilai,” katanya tenang.
Sanis membeku. Ada sesuatu yang aneh di dadanya. Bukan marah dan kecewa. Tapi seperti kehilangan sesuatu yang bahkan belum sempat ia pegang.
“Ya mungkin.”
Sanis merasa lebih bingung dari sebelumnya. Kalau Jeva benar-benar lupa, kenapa dia merasa seperti sedang dipermainkan? Dan, kalau dia tidak lupa, kenapa dia memilih diam?
Sanis memejamkan mata sejenak. Satu hal yang ia tahu pasti, situasi ini tidak sederhana dan semakin ia mencoba mengabaikannya, semakin dalam ia terseret.
Sementara di sudut ruangan, Jeva berdiri dengan tenang. Matanya menatap Sanis dalam diam, dengan sesuatu yang tidak pernah ia tunjukkan secara terang-terangan, sebuah rahasia yang sengaja ia simpan rapat.
Karena permainan ini, baru saja dimulai.