tiga belas

1288 Words
Yogi tiba di depan pagar sekolah Bebe, pria itu berdiri di depan mobil sambil menunggu. Hal itu menyebabkan banyak yang memerhatikannya. Wajah yang tampan, tatapan yang tajam dan dingin, pakaian yang dikenakan. Menjadi daya tarik. Sementara Bebe kini baru saja ke luar dari kelas. Hari ini pulang sekolah lebih cepat, khusus anak kelas satu sampai kelas dua. Gadis kecil itu senang sekali. Bisa pulang lebih cepat. Tangan kecilnya menggandeng tangan sahabatnya, Clara berdua berjalan di lorong. "Jil dijemput siapa?" tanya Clara. "Mungkin mami atau Om Pras. Tadi aku udah minta Miss Nadia buat chat mami dan kasih tau kalau pulang jam dua belas." Bebe menjawab, dengan riang. Membayangkan banyak memiliki waktu bersama dengan ibunya. Langkah Strawberry terhenti, pun Clara juga terhenti. Anak itu menatap pada Clara. "Clar, i miss papi." "I know, Jill kasih tau aku kan?" Clara yang sering mendengar kalau Bebe kangen dan ingin bertemu dengan sang ayah. Bebe seperti itu lantaran melihat bagaimana keakraban yang terjalin antara Clara dan ayahnya. Ia cukup sering mengatakan itu pada Rei yang memilih untuk pura-pura tuli. "Hari ini ketemu Papi," kata Bebe lagi. "Tapi itu bukan papi Bebe," kata Bebe bingung dengan kondisi yang ia alami. Clara tak kalah bingungnya. ia kemudian menggaruk-garuk kepalanya yang mendadak saja gatal karena perkataan temannya itu. "Jil, aku enggak ngerti." "Enggak tau aku juga bingung." Bebe juga bingung bagaimana mengatakannya. Ia berpikir kalau Yogi itu adalah sang ayah kandungnya, Rei pasti akan memperkenalkan. Hanya saja, Rei terlihat seperti mengatakan kalau Yogi bukan ayahnya, menurut Bebe. Keduanya kemudian berjalan bersama menuju pagar sekolah. Bebe terkejut ketika dia mendapati Yogi yang berdiri tepat di depan pagar sekolahnya. "Clar itu papi aku." Anak itu berseru dengan riang seraya menunjuk Yogi yang kini tersenyum ke arahnya. "Wah, Kamu benar-benar dijemput sama Papi kamu sekarang." Clara menatap dengan antusias, sebelum sebuah panggilan membuatnya berpaling. "Papa aku udah dateng jemput Jil. Besok kita ketemu lagi." "Oke Babay Clar." Strawberry kemudian berlari menghampiri Yogi. Pria itu juga tengah berjalan mendekati. Ketika dekat dengan Bebe, Yogi mengacak rambut anak itu. "Gimana di sekolah?" "Good," jawab Bebe dengan senyum yang sama sekali tak terkikis dari bibirnya. "Good? Or Perfect?" "Good, tapi ketemu papi di sini Perfect." Yogi tersenyum, lalu mencubit pipi gembul Bebe dengan gemas. "Oke, kalau gitu kita harus buru-buru. Papi udah bilang ke mami kalau makan beli sarapan buat makan siang kita bertiga. Mau?" Bebe anggukan kepalanya dengan yakin. Keduanya kemudian berjalan menuju mobil dan segera melaju untuk membeli makan siang. "Bebe mau makan apa?" tanya Yogi. "Apa aja. Tapi papi, Bebe boleh minta nasi Padang?" "Boleh, mau nasi padang?" "Hmm, mami suka beli itu pakai ayam bakar. Tempatnya nggak jauh dari tempat kerja mami. Di situ ada nasi padang Mami suka beli." Yogi setuju dengan permintaan yang diajukan oleh Strawberry. Mobil itu kemudian segera melaju menuju kantor Rei. Seperti permintaan Putri kecilnya tadi kalau dia akan membeli nasi padang. Di tengah perjalanan tiba-tiba saja ponsel Yogi berdering. Itu adalah panggilan dari Yura kakak tirinya, yang kini sudah menikah dan memiliki seorang anak perempuan. Sebelum menikah dengan Ibu Yogi, ayah dari Yogi sudah memiliki seorang istri dan memiliki tiga orang anak perempuan. Anak pertama yaitu Yuma, anak kedua Yuna, anak ketiga Yura. Dan ketiga anak perempuan pertama dari sang ayah, sangat dekat dengan ibu Yogi yang saat ini tinggal di Bali. "Hmm kak?" sapa Yogi. "Lagi dimana kamu?" tanya Yura. "Lagi di jalan, sama seseorang." Yogi menjawab kemudian melirik ke arah Strawberry yang kini tengah menatap ke jalan. "Siapa?" "My Bebe." jawab Yogi. "My baby?" Yogi ponsel miliknya kepada strawberry dan membiarkan anak itu untuk berbicara dengan sang kakak. Bebe menatap dengan penasaran kenapa tiba-tiba saja Yogi memberikan ponsel miliknya. "Tante," kata Yogi. "Halo?" Sapa Bebe. Tak ada jawaban dari balik telepon sampai kemudian strawberry mencoba memanggil sekali lagi. "Halo?" "Halo siapa ini?" tanya Yura. "Ini Bebe," jawab Bebe. "Bebe?" Dapat pertanyaan seperti itu Bebe menganggukkan kepalanya tanpa jawaban. "Ini siapanya Yogi ya?" Bebe kemudian menatap ke arah Yogi. "Yogi? Daddy-nya Bebe." "Apa?" "Daddy aku." Yogi senang sekali mendengar jawaban yang diberikan oleh Bebe. Tentu saja ia tahu cara terbaik untuk memikat seorang single parent seperti Rei adalah, dengan mendekati putrinya. Rencana ini memang akan ia lakukan selama mencoba untuk meyakinkan perasaannya sendiri kepada Rei. Lalu tiba-tiba ponsel Yogi mati. Bebe memberikan HP itu kepada Yogi kembali. "Papi ini hp-nya mati." Pria itu menerima kemudian meletakkan di atas dashboard dia tahu kalau ponselnya itu lowbat. "Hp papi lowbat." Keduanya melanjutkan perjalanan untuk memberi nasi Padang untuk makan siang mereka bertiga nanti. Sementara itu kini di rumah Yesi, Ibu dari Yogi yang berada di Bali. Yura berlari ke taman belakang di mana Yesi kini Tengah sibuk menyirami tanaman bunga mawar. "Mama!" Yura berteriak dan tentu saja itu membuat Yesi terkejut. "Kamu ngapain sih teriak-teriak kayak gitu? Ngagetin orang aja sih." "Mama bakal kaget dengar apa yang aku bilang." Yura berjalan mendekati sang ibu tiri. Mendengar apa yang dikatakan oleh putrinya itu membuat Yesi merasa penasaran. "Ada apa sih?" Yura mencoba mengatur nafasnya sendiri karena dia benar-benar terkejut setelah menghubungi Yogi tadi. Dia benar-benar tak bisa mempercayai apa kini ada di dalam pikirannya setelah menghubungi Yogi dan berbicara dengan strawberry. "Mama selama ini kan dengar kalau Yogi itu gay dan dia pacaran sama Jimmy?" "Masa kamu percaya kayak gitu sih? Memang Yogi gitu nggak pernah kencan, tapi mama yakin kalau dia bukan gay seperti apa yang diduga karyawan di kantor." Yesi tak percaya dengan gosip yang beredar itu. Dia percaya kalau putranya itu adalah pria yang normal. "I know, aku tahu Mama. Tadi aku habis telepon sama Yogi. Dan aku rasa ya gitu bukan gay, tapi dia pedofil." Kemudian tatapan Yura terlihat seperti menangis karena dia merasa kalau Yogi itu menjalin hubungan dengan Bebe. Apalagi ketika anak itu mengatakan kalau Yogi adalah Daddy-nya. Karena tahu betul kalau Yogi itu belum mempunyai anak maka yang ada di dalam pikiran Yura adalah, bahwa adik adalah penyuka gadis di bawah umur. "Heh! Kok kamu sembarangan kayak gitu sih kalau ngomong?" Yesi tak terima dengan apa yang dikatakan oleh Yura apalagi ini adalah perihal putra semata wayangnya. Sementara itu Yuna yang berada di dalam, mendadak berjalan keluar setelah mendengar keributan. "Ada apa sih ribut-ribut?" "Mbak, tadi aku denger Yogi lagi kencan sama anak kecil." Yura menyebarkan gosip atas hal yang ia yakini sendiri. Tentu saja mendengar itu membuat Yuna membulatkan matanya. "Tolong Yura kamu jangan sembarangan." Yuna jelas tak percaya dengan itu. "Aku tadi dengar sendiri anak itu bilang kalau Yogi dady-nya. Selama ini kan dia nggak pernah dekat sama perempuan? Terus selama ini ada gosip kalau dia itu punya hubungan sama Jimmy. Tapi mungkin kenyataannya kalau Yogi bukan gay, melainkan dia adalah laki-laki yang suka sama cewek di bawah umur?" Apa yang dikatakan Yura membuat Yesi dan Yuna jadi khawatir sendiri. Mereka tentu harus memastikan sendiri kepada Yogi. "Coba kamu telepon dia lagi." Yesi memerintahkan Yura. "Tadi setelah anak itu bilang Yogi adalah daddy-nya, dia itu matiin teleponnya sampai sekarang nggak aktif. Mungkin anak itu keceplosan jadinya Yogi matiin hp-nya biar kita nggak tahu gimana sih sebenarnya." Yuna terdiam sejak tadi mendengarkan apa yang dibicarakan oleh Yura sepertinya sangat sulit dipercaya kalau adiknya itu adalah seorang seperti itu. "Mungkin itu anaknya Yogi?" "Anak dari mana? Dia aja nggak pernah punya pacar kok. "Yesi meyakini kalau putranya itu benar-benar tak pernah punya pacar selama dia hidup dan akhirnya dunia ini. "Nggak bisa kayak gini. Kita harus susul dia ke Jakarta mah." Yura mencoba memberikan saran karena dia benar-benar tak tahu bagaimana kondisi yang sebenarnya. Mendengar saran yang diberikan oleh Yura membuat Yesi menganggukan kepalanya yakin. "Coba, kamu pesan tiket buat ke Jakarta. Coba tanya apa Yuma juga mau ikut kita ke Jakarta besok? Mama harus pastikan sendiri, apa benar Yogi itu seperti apa yang kamu bilang."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD