Rei saat ini sibuk mengerjakan laporan keuangan yang harus ia serahkan kepada Wiji lusa. Seperti biasa, menuju akhir bulan dan semua rekap keuangan harus diserahkan sebelum tanggal satu. Di sebelahnya, Milo juga tak kalah sibuknya mengerjakan pekerjaannya.
Saat tengah sibuk tiba-tiba saja pintu terbuka dan menunjukkan sosok Pras yang berjalan masuk ke dalam. "Mbak, Strawberry udah ada yang jemput?"
"Udah nanti dia dijemput sama papinya, "jawab wanita itu sambil tetap fokus dengan pekerjaan.
Mendengar jawaban yang diberikan tentu saja membuat Milo dan Pras menjadi heran. Yang mereka ketahui saat ini adalah ada seorang single parent.
"Laki lo balik?" Milo bertanya diikuti anggukan dari Pras.
"Bukan, bukan, bukan bapaknya Bebe." Rei menjawab masih sambil sibuk mengerjakan pekerjaannya.
"Terus dijemput siapa?" Milo bertanya lagi.
"Gue baru kenal sih." Rei menjawab asal.
"What?! Rei! Gila lo ya! Pras, Lo jemput Bebe sana. Gue nggak mau ya ponakan gue yang paling cantik sedunia itu, dijemput sama orang yang enggak gue kenal." Milo mulai cerewet. Tentu saja karena dia khawatir apalagi tadi Rei mengatakan kalau baru kenal dengan pria itu.
"Nggak apa-apa kok. Tenang aja." Rei mencoba untuk membuat Milo tak terlalu cemas dengan keadaan putrinya.
"Eh! Lo nggak ada waras-warasnya ya? Gimana Kalau anakku nanti diculik? Ginjalnya diambil? Matanya dicolok? Jantung, hati. Kalau dijual bisa dapat 13 miliar." Milo benar-benar berlebihan. Ia ingat beberapa waktu yang lalu, ada berita tentang harga-harga organ tubuh manusia. Dan itu membuatnya menjadi takut Bebe jadi korban.
Rei memukul bahu rekan kerjanya itu. "Lo kalo ngomong jangan nakut-nakutin sih!"
"Bener Apa kata Mas Milo Mbak. aku udah selesai makan siang nih. Jadi aku jemput aja sekarang ya?" Pras juga cemas. Para karyawan di sana sudah cukup dekat dengan Strawberry, apalagi beberapa minggu ini sering dibawa ke kantor.
"Tenang aja. bentar lagi dia sampai kok."
"Kita tunggu sampai setengah jam, kalau dia nggak datang, Pras lo buru-buru jemput ke sekolah Bebe."
"Mil, serius Bebe enggak apa-apa dia sama Pak Yogi." Rei akhirnya menyebutkan nama orang yang sedang menjemput putrinya. Awalnya dia tak ingin memberitahu karena takut Milo akan menggodanya.
"Pak Yogi?"
"Dia member baru di sini. Tapi Mas Tedi juga kenal kok sama dia."
Mendengar sebutan 'Mas' membuat Milo memicingkan matanya, kemudian melirik Rei dengan tatapan penuh rasa penasaran. "Ekhm, Mas nih?"
Rei mendorong wajah temannya itu mengarahkan ke laptop. "Mending lo kerja deh. Pras, makasih ya. Mendingan lo rehat dulu sebelum nanti sore mulai kerja lagi."
"Oke mbak, kalau memang mau jemput nanti kirim chat wa aja ya mbak." Pras kemudian meninggalkan tempat itu.
Milo masih menatap Rei, "siapa sih Pak Yogi?"
"Kerjaan kita banyak ya Mil. Kapan-kapan gue cerita kalau kerja kita udah selesai."
"Ini udah mau deket jam makan siang sih."
Baru saja Rei akan menjawab tiba-tiba pintu diketuk. Milo mempersilahkan orang itu masuk dan terlihat sosok Tedi. Jadi memang pria itu mengatakan kalau akan datang saat makan siang. Sama sekali tak berkspektasi Kalau ia kan menepati janjinya seperti ini.
"Mas Tedi?"
Milo tersenyum jahil melihat temannya itu yang terlihat canggung. "Aduh ada Pak Tedi. Kalau gitu Saya permisi ya Pak, mau makan siang." Milo segera ngacir memberikan kesempatan pada dua insan itu.
Tedi sedikit menganggukan kepalanya kemudian berjalan menghampiri Rei. "Nggak apa-apa kan aku masuk ke sini?"
"Nggak apa-apa kok pak. Di ruangan ini memang cuman sayang sama Milo aja. Sengaja ambil ruangan yang lebih besar karena kadang bawa Strawberry." Rei beranjak kemudian mengajak pria itu untuk duduk di sofa yang berada di belakang meja kerjanya.
Tedi membawa sushi yang tadi ia beli sewaktu dalam perjalanan menuju klub. "Aku beli sushi, nggak tahu sih kamu suka atau enggak." Katanya seraya membuka paper bag yang ia bawa.
"Suka Mas."
"Bebe?"
"Tunggu, biar aku jemput dulu di depan." Baru saja ingin beranjak di tempat duduknya, berniat menghalangi Yogi untuk masuk ke ruangan karena ada Tedi juga di sana.
Tapi pintu itu terbuka menunjukkan sosok putrinya yang berlari menghambur kepelukan Rei. Lalu sosok Yogi yang berjalan masuk membawa plastik hitam berisi nasi padang. Entah kenapa plastik hitam itu terlihat berkelas sekali di dalam genggaman tangannya.
Yogi tentu saja ia segera mengarahkan tatapan tajam ke arah Tedi. Tapi dia tahu posisinya di atas angin l, apalagi memenangkan hati Strawberry. Yogi berjalan mendekat, kemudian menjabat tangan Tedi dan duduk di sebelah Rei.
"Tadi Bebe bilang mau ayam bakar." Yogi berkata.
"Ah, ma-makaish Mas." Tiba-tiba sana Rei merasa kelu lidahnya. "Be bilang apa sama Om."
"Makasih papi." Bebe menjawab sambil menunjukkan senyum manisnya.
"Sama-sama sayang." Yogi menyahut sambil mengacak rambut Bebe.
"Om Tedi bawa sushi, Bebe mau?" Tedi tak mau kalah.
Rei segera menatap Bebe, Bebe tak terlalu suka ikan. Dia ingin putrinya itu tidak menolak Tedi. Situasinya kali ini benar-benar terhimpit. Bebe sepertinya mengerti apa maksud tatapan maminya itu.
"Iya," jawab Bebe.
"Tapi tadi kan kamu bilang mau ayam bakar ke Papi." Yogi mengatakan itu dengan menekankan kata papi dengan sangat dalam.
"Iya, nanti Bebe makan semuanya."
Tedi melirik arah Yogi dengan tatapan dingin dan terkesan tidak suka. Pria itu sadar kalau dia sudah kalah satu langkah. "Kalau gitu, kapan-kapan biar om Tedi yang beliin kamu ayam bakar ya?"
Bebe menganggukan kepalanya dengan senyum yang sumringah. Tentu saja dia senang mendapat perhatian seperti ini. Dan itu yang membuat sang Mami ketar-ketir karena dia bisa merasakan perang dingin di antara Yogi dan juga Tedi.
"Hmm, mas Yogi, mas Tedi, aku ke toilet dulu ya. Ini mau ganti baju Bebe." Rei menggendong putrinya kemudian berjalan menuju meja kerjanya, mengambil tas yang berisi pakaian putrinya, untuk segera berjalan ke toilet.
Dan kini tinggal Tedi dan Yogi di dalam ruangan itu. Rei berharap kalau tidak terjadi apapun atau pertikaian diantara keduanya. Rei mendudukkan putrinya di atas meja wastafel.
"Bebe, Nanti kamu ambil sushi yang ada telurnya ya?" Rei mengatakan. Sambil mencuci wajah Bebe.
"Tapi kan aku lagi mau ayam bakar mami."
Rei meringis mendengar jawaban putrinya. "Kan Om Tedi udah repot-repot beli. Nggak enak kalau kamu nggak makan nanti. Ya nak?" Memohon sambil membasuh wajah dan tubuh putrinya dengan handuk yang sudah ia basahi.
"Kan sushinya bisa kita makan di rumah?"
"Jangan dong nak. Nggak enak sama omnya. Ya?" Rei benar-benar memohon kepada putrinya. Bebe cukup keras kepala jadi memang kadang sulit untuk dibujuk.
Anak itu diam sejenak, sementara Rei memilih memasang wajah memelas. Berharap kalau Sang Putri akan luluh Jika ia menatap seperti itu. Sambil memakaikan pakaian ke tubuh strawberry, kemudian menyemprotkan minyak wangi dan memakaikan cream, ke wajah Bebe yang sensitif.
"Enggak, aku mau ayam bakar mami." Sahut Bebe tegas.
Rei menepuk kening, tak bisa kalau seperti ini strawberry akan terus menolak.. Karena sejak awal ia mau ayam bakar, bulan sushi.
"Bebe, ih. Tolong mami nak."
Jadi bagaimanakah kegiatan makan siang mereka berempat? Bagaimana keadaan Yogi dan Tedi di ruang kerja?
***