~1~ Handaru Aruna
Seorang wanita muda berparas ayu dengan tubuh ramping di balut sarung batik serta kemben berwarna cokelat kopi berjalan terburu-buru melewati lorong sanggar yang cukup sepi siang itu. Rambutnya yang panjang dikonde ke atas agar terlihat lebih rapi dan tampak jepit bunga melati tersemat disana. Ia tidak dapat menahan senyum di wajah manisnya. Sepertinya gadis itu baru saja mendengar sebuah kabar gembira yang harus segera disampaikannya kepada seseorang. Seseorang yang di panggilnya Mas.
" Mas DARUUUUUU!!!" Teriaknya saat memasuki sebuah ruangan besar penuh dengan banyak lukisan, baik yang telah terpajang maupun yang masih teronggok sembarangan di lantai menunggu untuk dilanjutkan. Keadaan di sekitarnya tampak berantakan, Palet-palet bekas serta stand-stand lukisan terpojok menyedihkan di dekat jendela, ditambah lagi bau cat minyak yang menyengat menguar memenuhi seisi ruangan.
Di bagian sudut, seorang pria bertubuh tidak kalah ramping dari wanita tadi berbalik saat mendengar namanya diteriakkan. Ia tengah asik mencampur warna di palet-nya ketika teriakan nyaring seorang gadis muda mengganggu aktivitasnya.
"Asih..mbo' jangan teriak-teriak toh de', Mas kan lagi kerja," jawab pria itu lembut kepada Asih adiknya yang kini tengah berdiri dengan nafas putus-putus di hadapannya. Ia masih terlihat mempesona meski keringat kini membanjiri wajahnya.
Walau kelelahan, senyum cerah tetap bertengger di wajah cantik Asih. Saat ini Ia merasa sangat bahagia. Kebahagiaan yang ia sendiri tidak tahu harus mengungkapkannya seperti apa. Kedekatannya dengan sang kakak membuat dirinya ikut hanyut dalam setiap impian serta segala harapan panutannya itu, dan tentu saja kabar yang sudah di tunggu-tunggu oleh Mas tercinta-nya ini juga menjadi kabar yang sangat dinantinya.
" Mas ha..haa...kamu..haa...berhasil Mas! Kamu dapet beasiswa ke IKJ ."
" Apa ?!"
" MAS KAMU KETERIMAA, KAMU DAPAT BEASISWA KE IKJ !!" Seru Asih, menegaskan kabar yang baru saja ia terima kepada kakanya yang masih bengong di hadapannya.
Daru diam membatu seperti karang yang pasrah diterpa ombak, namun tidak bagi Asih yang langsung menerjang memeluknya.
"Aku diterima," gumamnya lirih , masih sulit percaya akan kabar yang baru saja di dengarnya. Otak Daru berusaha dengan sangat keras untuk mengirimkan respon 'Sadar' pada dirinya. Ia benar-benar shock, namun dalam ranah yang positive.
Beberapa bulan yang lalu, Daru memang mengikuti sebuah lomba lukis akbar yang di gelar di Museum Benteng Vredeburg, Yogyakarta. Beberapa juri yang hadir merupakan dosen Senior di Institut Kesenian Jakarta. Dalam lomba tersebut, peserta yang memiliki lukisan dengan penilaian tertinggi diberikan kesempatan untuk melanjutkan pendidikannya di IKJ. Maka dari itu, Daru yang sedari dulu bermimpi untuk pergi kesana mencoba mengikuti lomba tersebut dan alhasil lukisannya dengan tema 'Tangisan Alam' menjadi lukisan dengan nilai tertinggi.
Ia membalas pelukan adiknya dengan sangat erat, air mata bahagia mengalir di kedua pipinya. Kabar bahagia ini harus segera di sampaikannya pada ibu yang selama ini selalu mendukung hobinya. Wanita itu pasti akan sangat senang mendengarnya. Batin Daru
Daru dan Asih meninggalkan sanggar setelah mereka selesai membersihkan ruangan yang berantakan itu. Keduanya lalu berjalan menuju ke rumah besar berdesain khas Jawa yang sangat kental dengan hiasan wayang menghiasi tiap dinding kayunya. Pada sisi tembok bagian atas terdapat ukiran berbagai jenis bunga yang saling terjalin membentuk sebuah karya epik dan sangat memanjakan mata.
Ibu Daru tengah membaca di sebuah pendopo yang terletak di taman bagian belakang rumah ketika Daru menghampirinya dan memeluknya dari belakang.
" Bu'eee... Daru ... Daru berhasil dapat beasiswa ke IKJ Bu'..." Isak Daru masih dengan posisi memeluk tubuh ibunya.
Wanita paruh baya dengan paras cantik yang tak luntur di makan usia itupun segera menutup buku yang berada di pangkuannya dan berbalik menghadap anak lelaki semata wayangnya. Matanya ikut berkaca-berkaca, lalu sebuah senyuman mengembang di bibirnya. Ia tahu Daru sangat ingin melanjutkan pendidikannya disana, jadi saat mendengar kabar bahagia itu Ia pun turut senang.
Sebenarnya, tanpa sepengetahuan Daru, meski Ia tidak memenangkan lomba itu, Ibunya akan tetap membiayai kuliahnya di IKJ jika Ia memang ingin. Ibunya bahkan sudah berbicara dan menerima tawaran sahabatnya Cyntia, yang memiliki rumah dengan jarak hanya 10 menit dari sana untuk menampung Daru selama Ia tinggal di Jakarta. Cyntia dan suaminya Albert adalah pengusaha sukses, mereka menetap di Amerika bersama anak kedua dan ketiganya yang masih SD. Sementara anak Sulungnya Raka, yang kini berstatus sebagai Mahasiswa tingkat akhir di Teknik Elektro UI tinggal sendiri di rumah mereka yang berada di Jakarta. Karena itu, Cyntia bersikeras agar Daru tinggal bersama Raka disana, untuk menemani sekaligus membantu memantaunya.
"Syukurlah sayang, Bu'e senang mendengarnya." Ucap Ibu Daru sembari mengusap kepalanya sayang.
Putranya yang Bernama Handaru Aruna itu memiliki wajah sangat mirip dengannya. Ia adalah seorang pria berhati lembut, baik hati dan memiliki semangat juang yang tinggi. Daru yang kehilangan ayahnya saat Asih masih berusia satu tahun itu menjadi satu-satunya pelindung Ibu dan adiknya, karenanya ia harus menjadi anak yang kuat, walaupun ia tipe pria melankolis, gampang terharu dengan hal-hal sensitif, namun Daru tidak pernah menangis di depan Ibunya. Satu-satunya hal yang diimpikan Daru yaitu menjadi pelukis terkenal dan membuat keluarganya bangga, serta melanjutkan sanggar titipan kakeknya yang selama ini telah menjadi tempat baginya untuk belajar dan mendalami seni lukis.
***
Minggu pagi, Jakarta
Drrt..drrt...drttt
Suara getaran ponsel di atas nakas yang tak kunjung berhenti membuat pria tampan yang tengah hanyut dalam mimpi indahnya terbangun dengan muka kusut. Ia hendak melempar benda yang sudah di raihnya itu, namun urung dalam sekejap saat melihat layar ponselnya berkedip-kedip menampilkan nama Ibunya.
Oh...Shit!!
" What's up Mom?" Tanyanya lesu dengan mata setengah terpejam.
" Oooh My Dear Raka, disana udah jam 11 Honey...WAKE UPPP!!" teriak Ibunya nyaring membuat Raka terduduk lesu sembari menjauhkan ponselnya dari telinga.
Ia memandang ponsel itu dengan ngeri, seolah sewaktu-waktu benda tersebut dapat merenggut keperjakaannya.
Shit! Umpat Raka untuk yang kedua kalinya. Ia benar-benar kesal sekarang.
" C'Mon Mom, This is Sunday..." jawab Raka tak rela karena minggu cerianya di ganggu dengan seenaknya.
" Not because this is sunday, jadi kamu bebas bermalas-malasan di tempat tidur Honey ." Sanggah Ibunya membuat Raka kembali mendengus.
Ia menyandarkan punggung di kepala tempat tidur, sementara matanya Ia paksa terbuka jika tidak ingin kena damprat ibunya karena tidak fokus.
" Fine, jadi kenapa Mom nelpon?"
Akhirnya Raka menyerah untuk membantah dan tanpa basa-basi menanyakan maksud dari telpon ibunya yang telah mengganggu tidur nyenyaknya di minggu pagi ceria ini.
" Oh yah, gini sayang, mulai hari ini ada anak sahabat mommy yang akan tinggal di rumah, kamu ingat tante Ajeng kan yang selalu telponan sama mom itu? Nah anaknya mulai hari senin masuk kuliah di Ikj soo Mom pengen dia tinggal di rumah. Maafin Mommy yah karena baru ngasih tau kamu sekarang. cause pekerjaan disini hampir ngebuat mommy gila ," papar Ibunya panjang lebar sekaligus curhat dan menjadikan perkerjaannya sebagai excuse untuk bertindak semaunya.
Raka mencerna penjelasan wanita gaul yang sangat dicintainya itu dengan seksama dan hikmad, takut ia melewatkan sedikit saja kalimat karena kantuk masih menyerangnya. Lalu setelah beberapa detik terdiam, Ia pun membuka suara.
" So..kapan anak itu datang?" tanya Raka tanpa adanya sedikitpun ke-antusiasan dalam nada suaranya.
" Dia tiba di bandara dari Jogja jam 1 siang, and one thing Honey...hmm...bisa tidak kamu jemput dia? Kasian anaknya baru sekali ini datang ke Jakarta, Mommy takut dia tersesat atau di bawa lari orang."
Permintaan Ibunya membuat darah Raka mendidih, tersesat? Di bawa lari orang? What hell mom, itu cerita dari sinetron mana lagi?? Memangnya anak tante Ajeng itu masih Tk? Udah mau kuliah juga. batin Raka emosi.
" Raka gak bisa mom, Raka ada janji sama temen2 entar siang. Emang dia gak bisa naik taksi apa?!" Raka memang sudah membuat janji dengan teman-temannya siang ini, tapi apa yang dikatakan ibunya setelahnya membuat Raka kalah telak. Wanita yang dipanggilnya Mommy itu mengancam akan memblokir Atm-nya, dan Ia tidak akan segan-segan memberhentikan pembayaran listrik, air, dan wifi di rumah. Ia tahu jika Raka tidak mungkin sanggup untuk menumpang tinggal di rumah teman-temannya karena itu artinya Ia akan merepotkan orang lain dan Raka paling benci itu. Don't ever play with your mom boy cause she know your weakness.
Akhirnya, setelah berdebat dan kalah, Raka pun mencatat nomor ponsel anak yang akan di jemputnya, dengan amat sangat terpaksa pria tampan dengan wajah blasteran Indo-Amerika itu pun menutup telpon dan segera beranjak dari kasurnya untuk bersiap-siap. Ia belum sempat bertanya pada Ibunya perihal anak yang akan tinggal di rumahnya secara detail karena wanita itu tau-tau saja menutup telpon setelah puas menyampaikan maksud dan tujuannya. Dasar wanita. Umpat Raka untuk yang kesekian kalinya.
***
Daru menerima message saat ia telah berada di bagian "Arrived Gate" , message itu dari orang yang akan menjemputnya di bandara yang tak lain adalah anak dari tante Cyntia, Raka. Ibunya sudah bercerita perihal pemuda itu kepadanya saat di Jogja, tapi tetap saja yang diceritakan ibunya hanya sebagian kecil saja tentang betapa pintarnya Raka karena berhasil masuk ke salah satu Universitas yang terkenal di Jakarta, dan lain sebagainya yang tidak terlalu penting untuk Daru.
Dalam message-nya, Raka menjelaskan bahwa ia berada di ruang tunggu dengan mengenakkan kaos hitam bergambar 'Smoking Skull' dan rip jeans berwarna biru pudar. Hanya dia satu-satunya yang mengenakkan pakaian itu, jadi Daru tak akan salah orang, tegasnya di akhir pesan.
Pria berparas manis itupun keluar dari bandara setelah mengambil koper dan beberapa barang bawaannya berupa alat-alat melukis dan semacamnya. Ia mulai mencari di ruang tunggu yang terletak tidak jauh dari pintu keluar, matanya menelusuri tiap kursi juga orang-orang yang mengenakkan kaos hitam. Daru mencari cukup lama karena banyaknya orang di bandara siang itu hingga akhirnya ia melihat sesosok pria tinggi besar tengah duduk sambil merokok di bagian ujung ruang tunggu. Pria itu mengenakkan pakaian sesuai dengan apa yang di jelaskannya, ia juga tampak begitu mencolok disana dengan tubuh tinggi besar dan wajah yang seperti Bule, kulit putih bersih, hidung mencuat, bibir tebal berwarna cherry, dan rambut pendek coklat tua. Daru dapat melihat beberapa remaja wanita melirik terang-terangan ke arah pria itu. Tapi sayang lirikan mereka tak cukup mengirimkan sinyalnya ke sang Objek.
Tanpa menunggu lama, Daru pun bergegas menghampirinya. Ia sedikit kewalahan dan tergopoh-gopoh karena barang bawaannya memang banyak sekali.
Pemuda itu sama sekali tidak memperhatikan keberadaannya bahkan melirik sekilas ke arahnya pun tidak, sampai Daru membuka suara dan menyapanya.
" Permisi..Saya Daru, apa mas yang namanya Raka?"
Pemuda tampan itu menengok ke arah orang yang menyapanya. Ia mematikan rokok lalu menatap Daru dengan seksama, tingkahnya benar-benar seperti orang yang baru sadar bahwa ia sedang berada di tengah-tengah keramaian, tidak heran kalau sedari tadi Ia tidak memperhatikan sekitarnya, Raka terlalu sibuk dengan dunianya sendiri.
Cukup lama Raka menatap Daru. Aneh saja, baru pertama kali Ia melihat seorang pemuda dengan model seperti cowok di hadapannya ini. Bukan dalam artian mengejek, tapi bagi Raka Daru terlihat... terlalu manis untuk ukuran seorang Pria. 'Apa dia trans?' Sempat terbersit dalam pikiran Raka, secara Ia tumbuh di kota metropolitan, Ia besar di Amerika, baginya kaum trans sudah tak asing lagi.
Pemuda di depannya memiliki Tubuh yang ramping dengan kulit coklat yang sehat. Bibirnya yang tidak terlalu tebal juga tipis tampak sensual apalagi saat ia mengulas senyum, kedua lesung di pipinya mengintip malu-malu. Woow...manis sekali. Tidak heran jika mommy takut ia di bawa lari orang. Raka bukan gay, tapi Ia tidak menampik bahwa makhluk adam yang tengah memandangnya itu tampak sangat menarik. Oke cukup memujanya Raka, Kau masih punya begitu banyak waktu bersamanya.
" Ehmm... Ya...gue Raka ." Jawab Raka sedikit kaku, bahkan Ia tidak langsung menjabat tangan Daru saat anak itu mengulurkan tangan, butuh beberapa detik baru Raka sadar, dan menyambut uluran tangan pemuda manis di depannya.
Setelah selesai berjabat tangan yang membuat keduanya sedikit canggung, Raka mengambil sebagian barang bawaan Daru dan membawanya menuju parkiran. Daru mengikut di belakangnya tanpa mengucapkan sepatah katapun karena perasaan canggung masih meliputi dirinya. Raka terlihat aneh saat menatapnya, apa dia tidak menyukaiku? Tanya Daru dalam hati. Ia bukan tipe orang yang mudah bergaul, pergaulan Daru hanya sebatas keluarga intinya dan orang-orang di sanggarnya, maklum saja karena Ibunya memilih home schooling sebagai pendidikan Daru dan Asih, Ia tidak ingin anaknya bergaul sembarangan di luar sana secara Ibu Daru adalah tipe old style.
" Ayo masuk ," Ucap Raka sembari membukakan pintu mobil Wrangler-nya dan mempersilahkan Daru masuk.
"Makasih Mas Raka ," jawab Daru sopan.
"Hmmm..bdw, bisa gak lo jangan panggil gue mas, panggil Raka aja ."
Daru mengangguk pelan dan meralat ucapannya, Ia tidak ingin berdebat dengan orang yang akan tinggal bersamanya dalam waktu cukup lama di hari pertama mereka bertemu.
" Makasih ya Ra..Raka ."
" Good ." Ucap Raka menampakkan senyum tipis yang membuat Daru diam terpaku.
Ternyata Raka tak seseram penampilannya, Pikir Daru. Pria itu memang terlihat cuek dan santai, cara bicaranya juga agak blak-blakan tapi bagi Daru, Raka adalah orang baik, setidaknya untuk pertemuan pertama mereka.
" Tadi nyokap gue belum sempat cerita banyak tentang lo, knapa lo bisa ke Jakarta dan sebagainya, so bisa gue tau alasannya?" Tanya Raka yang kini mulai menjalankan mobil sekaligus untuk mencairkan suasana serta memecah keheningan di antara mereka.
" Beberapa bulan yang lalu saya sempet ikut lomba lukis di jogja Mas...eh Raka, terus yang dapat nilai tertinggi bisa lanjut kuliah di IKJ, puji Tuhan lukisan saya berhasil jadi yang terbaik, makanya sekarang saya ada disini." Jawab Daru menjelaskan sambil tersenyum lembut memandang Raka. Sama sekali tidak ada kesan sombong dalam nada bicaranya.
"Ooh gitu...kapan-kapan gue liat hasil karya Lo deh, walaupun gue gak terlalu paham sih."
"Iya boleh, hmm..kalau Raka sendiri ?" Tanya Daru balik.
" Gue dah semester 6 di Teknik Elektro UI, maybe tahun depan baru kelar, itupun klo gak bermasalah di skripsi..." Ujar Raka sembari mengedikkan bahu. Ia sama sekali tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun dari jalan, berbeda dengan Daru yang sedari tadi terus memperhatikannya. Ini adalah pertama kali baginya melihat seorang pemuda berparas sangat tampan seperti Raka di luar layar kaca, biasanya ia hanya melihat yang seperti Raka di televisi. Daru jarang bermain di luar rumah karena ketatnya penjagaan ibu serta nenek dan kakeknya dulu, karena itu ia memiliki teman yang sangat terbatas. Baru akhir-akhir ini, setelah ibunya melihat kesungguhannya dalam berkarya, ia diizinkan untuk kuliah, dan di luar Jogja pula.
" Teknik elektro yah? Jadi Raka bisa buat robot toh?" Tanya Daru mulai antusias.
Gundam merupakan salah satu robot favoritnya, anime yang senantiasa di pantenginya setiap hari minggu. selain modelnya yang keren abis, animenya Juga berhasil bikin Daru nangis.
"Gue belum pernah nyoba bikin tapi dah di ajarin, kamu suka robot ?"
Daru mengangguk semangat lalu menceritakan pada Raka betapa dia sangat menyukai gundam dan ternyata mereka memiliki interest yang sama.
"Walaupun gue suka Gundam, bukan berarti gue bakal bikin robot raksasa kayak gitu."
Daru tertawa mendengar pernyataan Raka, ngebayangin Indonesia punya robot sebesar itu saja sudah ngeri walaupun keren sih.
Sepanjang perjalanan dua cowok itu tak henti-hentinya membahas anime Gundam, mulai dari G-wing sampai Destiny yang jadi favorit Daru karena Freedom dan Justicenya, juga ceritanya yang memang menguras air mata.
Akhirnya mereka sampai di sebuah rumah minimalis bertingkat di salah satu kompleks yang cukup terkenal di daerah itu. Raka menghentikan mobilnya. Ia lalu mengambil barang-barang Daru di bagasi lalu menyuruhnya untuk ikut masuk ke dalam rumah.
"Kamar lo di lantai dua, depan kamar gue ." Kata Raka yang kini mengajak Daru naik ke kamarnya.
"Raka tinggal sendiri?"
"Gak juga sih, biasanya ada mbok, tapi karena anaknya lagi sakit jadi dia pulang kampung, gak tau sampai kapan."
Daru mengangguk-nganggukkan kepala tanda bahwa ia mengerti. Mereka sampai di kamar yang cukup besar dan bersih. Dikamar itu sudah ada Tv dan kamar mandi dalam.
"Lo gak papa gue tinggal bentar kan, soalnya gak ada mbok jadi gue mau nyari makanan buat kita."
"Iya nda' papa kok, sekali lagi makasih ya." Ujar Daru tulus sambil tersenyum memamerkan kedua lesung pipinya yang membuat Raka terpesona.
Daru segera mengabari Ibunya di Jogja bahwa dia sudah sampai dan bertemu Raka. Ibunya cukup tenang mendengar bahwa Daru bisa di terima dengan baik oleh anak sahabatnya disana, dan tak lupa ibunya berpesan agar dia tidak sembarangan bergaul serta harus tau sopan santun dan selalu menjaga tata krama. Setelah mendengarkan petuah yang cukup panjang dari Ibunya, Daru meletakkan ponselnya di atas nakas lalu lanjut merapikan barang-barangnya. Ia meletakkan stand lukisannya tepat di sebelah jendela yang dapat memberikan pencahayaan yang bagus ketika ia mengerjakan lukisannya di siang hari, juga tak lupa mengeluarkan seluruh isi kopernya dan meletakkan baju-bajunya di lemari. Setelah puas merapikan kamar, pemuda manis itu berbaring di kasur King Sizenya yang empuk sembari memandang langit-langit kamar.
" Semoga aku bisa beradaptasi dengan baik disini dan tidak merepotkan Raka." Ujar Daru kemudian tanpa sadar menutup mata dan tertidur.
***
" Ru...Daru," Raka membangunkan pria manis yang tengah tertidur lelap di kasur ketika hari sudah hampir malam.
Ia membiarkan Daru beristirahat sebelum memanggilnya untuk makan tapi karena matahari hendak tenggelam maka mau tidak mau Ia harus menginterupsi tidur lelap Daru.
"Nghhhh..."
Daru mengerjap-ngerjapkan mata hingga akhirnya ia bisa melihat Raka dengan jelas yang menunduk disampingnya. Sempat ia memekik kaget karena wajah Raka yang masih asing baginya berada sangat dekat.
" Maaf...aku tertidur," melihat ekspresi polos Daru dengan kedua matanya yang merah dan bengkak, Raka merasa geli. Baru kali ini dia melihat pria yang sangat manis dan imut pasca bangun tidur.
" Kenapa minta maaf, wajarlah lo pasti capek. Gue tunggu di bawah ya, kita makan sama-sama."
Daru mengangguk pelan dan tersenyum. Ia segera turun dari kasur lalu menghilang di di balik pintu kamar mandi.
Trrrrt...Trrrrt...Trrrtt...
Ponsel Raka bergetar ketika pria itu tengah mengeluarkan kotak Fastfood dari plastiknya. Ia berniat melanjutkan aktivitasnya namum ponselnya sama sekali tak mau berkompromi. Raka mengambil ponsel itu dari kantong dan melihat nama ibunya tertera di layar. Tentu saja 'DIA' tak mau berkompromi. Pikirnya.
" Haloo again Dear, gimana??" Tanya ibunya tanpa basa-basi.
" gimana apanya ?" jawab Raka pura-pura bego walaupun sebenarnya ia tahu arah dari pembicaraan ibunya.
"ooh...C'mon, maksud Mom bagaimana dengan Daru ? kau memperlakukannya dengan baik kan, jaga dia seperti adikmu mengerti." Nada memerintah seperti biasanya, kalaupun ibunya tidak memperingatkannya, Raka pasti akan menjaga anak itu. Dia bukan tipe cowok yang tidak bertanggung jawab. Jika Daru tinggal di rumahnya, otomatis anak itu menjadi tanggung jawabnya. Untung saja Daru bukan anak yang menyebalkan bagi Raka, dia sopan dan juga lumayan asik.
" Dia anak yang sopan, sejauh ini dia baik-baik saja menurutku. Aku akan menjaganya, tenang saja." Setelah mengatakan hal itu, ibu Raka cekikikan dengan centilnya di seberang sana, membuat anaknya berpikir apa ibunya sakit mental.
" Raka dewasa sekaalii, mommy senang dengarnya. Coba Daru wanita yaah...," gumamnya yang jelas-jelas bisa di dengar oleh Raka.
" Memangnya kenapa kalau dia wanita?"
" Tentu saja mommy akan menjodohkan kalian !! Tapi Daru yang sekarang juga sangat manis dari foto yang mommy liat, Kalian serasii..." Tawa melengking ibunya kembali mewarnai telepon diseberang sana.
Raka yang sudah tidak tahan mendengar ocehan sinting ibunya pun segera menutup telepon.
"Dasar wanita aneh." Umpatnya sembari meletakkan ayam-ayam di piring.
" Ada yang bisa saya bantu ?" Tanya Daru lembut yang kini sudah berada di ruang makan.
Raka berbalik mendengar suara Daru dan sedikit terkejut melihat penampilan pria ramping di depannya itu. Daru mengenakkan kaos putih polos yang kelihatan longgar di badannya juga celana tidur panjang kotak-kotak berwarna merah. Rambutnya yang basah menjuntai ke lehernya begitu pula dengan poninya yang sudah panjang terkulai jatuh di depan wajahnya. Penampilan Daru membuat Raka teringat akan perkataan ibunya, andai saja Daru adalah seorang wanita.
Raka adalah pria normal, ia baru saja putus dengan pacarnya Dinda beberapa bulan yang lalu karena gadis itu tidak mau memahami dirinya, Raka selalu memperhatikannya, mengerti akan dirinya tapi gadis itu terlalu egois hingga membuat Raka muak dan memutuskannya. Dinda adalah wanita yang sangat cantik, dia merupakan salah satu idola kampus, tak sedikit teman-teman Raka yang iri padanya saat ia mengencani gadis itu. Kabar bahwa Raka memutuskan Dinda pun menjadi kabar yang bahagia sekaligus menggemparkan di seantero kampus. Tapi Raka tidak peduli, ia sudah capek.
Kembali ke penampilan Daru, Raka bengong sebentar sampai akhirnya ia kembali ke alam sadarnya dan menyuruh pria itu duduk saja.
" Gue gak bisa masak, jadi kita makan fastfood aja yah, nanti gue hubungi mbok, siapa tau dia punya keluarga yang bisa gantiin dia buat masak."
"Hmm.. kalau nda' keberatan, aku bisa masak buat kita berdua, juga bersih-bersih rumah selama mbok nda ada, aku nda' enak tinggal gratis disini terus nda' bantu-bantu." Ucap Daru. Raka memandang anak yang duduk di depannya, anak itu balik memandangnya dengan tatapan sendu dan sedikit gugup. Bagaimana Ia bisa menolak jika ada makhluk manis yang menatapnya dengan begitu intens.
" Hmm...Fine then, nanti gue juga bantu-bantu kalau gitu."
Mereka menghabiskan makanan dalam diam malam itu, sibuk dengan pikiran masing-masing.
To be Continued...