~20~ Aruna's B'Day (Part 2)

3012 Words
- 5 hours before Raka's coming - Giraka Myles sukses membuat kediaman kakak yang sangat dicintainya berantakan sejak matahari terbit menyapa setiap Insan, baik yang masih bergelung di bawah selimut tebal, maupun yang tengah sibuk bersiap untuk memulai hari. " Damn u Raka!! Lo harus beresin semua ini setelah urusan Lo selesai, pokoknya gua gak mau tau, Lo harus tanggung jawab!!" Teriak Wanita berparas cantik yang membawa janin berusia empat bulan di perutnya. Meski sedang mengandung, namun tubuh Karina tetap langsing dan ramping hingga tak satupun mahasiswanya yang menyadari jika dosen cantik mereka sedang berbadan dua. Raka yang melihat kakaknya marah-marah sama sekali tidak merespon, Ia tetap santai sembari memperingatkan wanita di depannya agar jangan terlalu mengangkat suara karena akan membuat calon bayinya budeg. Refleks dua buah bantal kursi bersarang di wajah Raka, namum sekali lagi, cowok tampan itu hanya tertawa seolah tak peduli dengan kekacauan yang sudah dibuatnya. Ruang tengah Apartemen Karina kini tampak seperti kapal pecah, awalnya Raka hanya menghancurkan gudang saja untuk mengerjakan proyek pembuatan hadiah ulang tahun calon kekasihnya, namun semakin hari pekerjaannya merambat hingga ke ruang tengah. Meja dan karpet ruangan itu sekarang menjadi tempat penyimpanan box-box plastik berisi kabel, bohlam, dan alat-alat yang berhubungan dengan listrik yang tidak dipahami Karina. Sebenarnya Ia senang, melihat semangat sang adik yang sudah kembali, setelah Ia pulang beberapa hari lalu dengan tampang berantakan kayak habis kalah judi. Tapi, bukan berarti wanita cantik itu anteng-anteng saja melihat barang-barang adeknya berserakan dimana-mana. Kalau seperti ini keadaanya, bisa-bisa Ia keguguran karena stress. " Lo tenang aja, nanti bakal gua beresin..." Raka kembali bersiul-siul sambil memasang penutup plastik di atas silinder yang Ia buat. Di sampingnya, Raka meletekkan ponsel dengan foto Daru memenuhi layar yang diam-diam di ambilnya saat anak itu sedang sibuk menonton dalam kamarnya, di foto itu Daru tampak sangat manis, Ia mengenakkan kaus abu-abu polos, satu jarinya Ia letakkan di bibir, bagi Raka pose Daru dalam foto itu sangat seductive. Andai saja mereka sudah resmi berpacaran, tanpa pikir panjang, Raka pasti akan langsung menerjangnya. Selama menyelesaikan karyanya ini, foto-foto Daru-lah yang selalu setia menjadi penyemangat dirinya di kala down atau sedang buntu. Melihat wajah manis sang pujaan hati seketika mengisi energy dalam tubuh Raka, layaknya ponsel yang membutuhkan charge untuk tetap menyala. " Dari kemarin Lo sibuk kerjain itu, yang jadi pertanyaan gue sekarang, apa Lo udah siapin pakaian yang kece buat ketemu Daru? Soalnya dari kemarin gue liat baju lo itu-itu aja, kalau gak kaos, kemeja, jaket, semuanya lusuh lagi ! Serius Lo mau nembak dengan penampilan gak banget gitu? Kalau gue jadi Daru, Lo udah gua tolak bahkan sebelum Lo ngomong!" Raka mencoba untuk tetap fokus dengan benda yang sedikit lagi sudah jadi di hadapannya, namun celotehan Karina terus terngiang-ngiang dalam benaknya, memang benar baju-baju yang di bawanya ke apartmen Karina hanya baju-baju yang biasa Ia kenakkan ke kampus dan rumah, Raka lupa mengambil baju bagusnya di dalam lemari. " Jadi gimana dong?! Apa gue masih sempat buat shoping?" Tanya Raka mulai panik. Karina yang berdiri di seberang meja hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat ke-lemot-an adeknya, dasar Raka! Kalau udah serius sama satu hal, Ia bahkan bisa sampai lupa makan dan mandi. Itulah kekurangan yang dimiliki adiknya yang terkadang membuat orang salah paham bahkan kesal padanya, Ia sulit membagi fokus hingga keseringan menimbulkan chaos. " Ya udah! Buruan selesain kerjaan Lo, gua udah siapain kotak kadonya, Nanti Lo tinggal masukin aja terus kita cabut ke Mal. Dan kalau soal pakaian, biar gua yang pilihin." Meskipun sebal dengan keserampangan Adiknya, tapi Karina tidak bisa diam saja melihat kelemotan Raka, mau tidak mau Ia harus turun tangan. Setengah jam kemudian, hadiah yang dibuat Raka selama hampir dua minggu itu sudah terbungkus rapi dalam kotak kado berwarna merah metalik di atas meja. Ia puas bisa menyelesaikan kadonya yang sebenarnya tidak terlalu tepat waktu mengingat beberapa jam lagi Ia harus memberikannya pada Daru. Mestinya kado itu sudah selesai dari kemarin, namun hari dimana Ia bertengkar dengan Ratu hatinya sontak membuat moodnya drop. Tak mudah memang melakukan pekerjaan sementara hati sedang di landa duka, hidup terasa begitu menyedihkan saat orang yang kita cintai terluka karena ulah kita sendiri. " Rin gua udah selesai nih, buruan cabut, keburu sore entar !" Seru Raka dari luar kamar sang Kakak. Karina mendengus kesal akibat adiknya yang memerintah seolah dialah satu-satunya penyebab mereka telat, padahal sedari tadi wanita cantik itu sudah siap dan hanya menunggu Raka yang lelet-nya minta ampun. " Watch ur mouth Boy, Lo yang lemot malah gua yang Lo teriakin, mau mati Lo!" Ancam Karina saat Ia dan Raka suka berjalan menuju ke pintu depan. " Sorry, jangan marah dong Kak." Ujar Raka sembari memasang senyum super jahil yang di balas Karina dengan memberinya salam jari tengah. Mal yang mereka datangi jaraknya tidak begitu jauh dari rumah Raka, Ia sengaja memilih Mal tersebut karena sudah biasa membeli pakaian di sana, bahkan Ia terkadang menemani Daru berbelanja di Swalayan yang terletak di lantai dasar apabila bahan-bahan makanan di rumah mereka sudah out of stock . Kedua kakak beradik itupun menuju ke lantai tiga tempat dimana counter-counter pakaian bertebaran. Mereka menghabiskan waktu hampir dua jam hanya untuk memilah-milah baju, tapi tak satupun yang sreg di hati Raka sampai pada akhirnya Ia menemukan pakaian yang pas di counter Manzone. Setelan chino, kemeja, serta blazer berwarna gelap menjadi pilihan Raka, kesannya casual tapi juga formal di saat yang bersamaan, sedangkan untuk bawahan, Raka membeli sepatu semi boots berbahan kulit yang juga gelap. " Yuk Ka' ! kita masih harus ngelakuin sesuatu buat rambut Lo yang udah kayak sarang kutu itu," tunjuk Karina ke arah rambut Raka yang sudah semakin panjang sembari memasang tampang jijik. " Gua juga harus nyalon nih??" Tanya Raka kaget, Ia tidak menyangka jika wanita yang dibawanya ini akan me-makeover dirinya yang sudah tampan itu menjadi semakin tampan. " Ya iyalah, Lu pikir Lu udah ganteng apa? Dimana-mana kalau mau nembak orang tuh harus total!" Kalau wanita sudah berbicara, apalah daya pria untuk menolak, lagian Raka tahu jika Kakaknya bersikap seperti itu karena ingin dirinya tampil maksimal di depan pujaan hatinya, meski Raka yakin bagaimanapun penampilannya, Daru pasti tidak akan mempermasalahkan-nya. " Oke...oke, Gua pasrah dah mau Lo apain, badan Gua sepenuhnya ada di tangan Lo!" Karina tersenyum puas mendengar ucapan adiknya. Sudah lama Ia tidak diandalkan oleh orang lain dalam urusan fashion, dulu, Almarhum suaminya-lah yang kerap menjadi kelinci percobaannya, sehingga lama-kelamaan pria tercinta-nya itu menjadi ketergantungan akan fashion mode Karina. Mereka baru pulang ke Apartement setelah jam di dinding menunjukkan pukul 17.00 P.M, tak henti-hentinya Karina meminta maaf karena sudah membuat mereka menghabiskan waktu yang lama di salon. Wanita cantik itu ingin Raka tampil sempurna karenanya Ia yang memberikan arahan pada para hair stylish di Salon tersebut untuk memotong rambut Raka, tapi pada akhirnya, Karina malah menghabiskan waktu untuk berdebat dengan para bencong salon yang juga ngotot akan pikiran-pikiran mereka. Merasa jengkel dan tidak tahan lagi dengan ulah orang-orang di belakangnya, Raka menghantamkan tinju di atas meja agar semuanya diam, lalu tanpa banyak bicara, cowok itupun meminta pada hair stylish lain yang berada disitu untuk memotong pendek saja rambutnya. " Gua gak habis pikir, cuma gara-gara potong rambut, Lo berdebat kayak pejabat lagi rapat di DPR. Lo hampir ngebuat gue stress tau gak! Bisa-bisa rencana gue buat nembak Daru gagal gara-gara Lo berantem ma bencong kak. " Karina memasang tampang bersalah, Ia benar-benar tidak bermaksud. Melihat kakaknya yang tertunduk lesu, Raka menepuk pundaknya pelan, Ia juga minta maaf karena sudah membentak Karina yang telah banyak membantunya. Tanpa kehadiran gadis itu, Raka tak tahu lagi dimana Ia bisa bersandar, meskipun Ia memiliki ke-empat sahabat, namun Raka tidak bisa membahas permasalahan cintanya pada sahabat-sahabatnya, yang ada mereka hanya membuatnya semakin pusing alih-alih membantunya. " Iya gue maafin, kalau gitu buruan Lo mandi, biar gue siapin baju Lo. Sana...sana!!" Tubuh Raka di dorong-dorong masuk ke kamar mandi oleh sang kakak. Setelah menyuruh adiknya untuk mandi yang bersih hingga badannya seharum kebun bunga, wanita cantik itupun segera masuk ke kamar untuk menyetrika pakaian yang hendak dipakai Raka. " Daru beruntung sekali bisa dicintai oleh pria seperti Raka. Semoga saja hubungan mereka tak berujung petaka kayak gue...Amen." doa Karina dalam hati. Cukup dia saja yang merasakan luka tak diterima keluarga karena mempertahankan orang yang dicintainya. Ia tidak ingin sang adik juga mengalami nasib yang sama seperti dirinya, sebab Karina sudah merasakan bagaimana beratnya hidup dalam bayang-bayang kebencian oleh orang yang notabene adalah ayah kandungnya sendiri. Raka berdiri di hadapan cermin, Ia sendiri takjub akan penampilannya yang sudah mirip aktor Philiphine idola Karina. Sekarang Ia paham mengapa kakaknya sangat ngotot untuk me-makeover dirinya. " Udah gantengkan Lo, makanya dengerin kalau kakak Lo ngomong!" Seru Karina bangga akan hasil karyanya mendandani Raka hingga menjadi setampan Richard, aktor favoritnya yang berasal dari negara tetangga. Tak ingin membuang waktu lebih banyak lagi, Raka pun pamit pada sang kakak. Karina menyerahkan kotak kado yang terletak di atas meja pada Raka, saat mereka sudah berada di ambang pintu depan. Namun, Sebelum adeknya benar-benar beranjak dari sana, Ia sempat memperbaiki kemeja serta blazer cowok itu yang sedikit messy, juga tak lupa berpesan agar jangan membuat Daru menangis lagi. " Gue janji bakal bikin dia bahagia Kak, dan bakal bawa dia kesini untuk kenalan sama Lo sebagai kekasih gue." Karina menepuk-nepuk bahu Raka pelan kemudian mengusir adeknya agar cepat-cepat pergi menemui sang calon kekasih. Raka naik ke atas mobil Wrangler-nya, jantung cowok tampan itu berdegub kencang sekali seolah sebentar lagi Ia akan menanti vonis hidup-matinya. Mata elang Raka melirik sekilas ke arah kado yang sudah duduk rapi di atas kursi penumpang tepat di sebelahnya, kemudian Ia menarik nafas panjang lalu mulai menjalankan mobil. " Tunggu Aku sayang...,'' Jalanan kota Jakarta yang macet bukan main membuat Raka harus menghabiskan waktu berjam-jam di atas mobil, Ia nyaris saja meninggalkan mobilnya di tengah jalan lalu berlari membawa kadonya hingga ke rumah kalau saja Ia tidak mengingat jika penampilannya akan hancur berantakan jika melakukan hal tersebut. Cowok tampan itu tak berhenti merutuk, keningnya kini sudah dipenuhi bulir-bulir keringat, Ia kepanasan juga tegang karena jam di arlojinya sudah menunjukkan pukul 19.00 P.M, Daru pasti sudah menunggunya, Raka benar-benar kesal akibat mengulangi hal yang sama yaitu membuat cintanya menunggu. Setelah melewati antrian mobil yang amat sangat panjang, akhirnya Raka bisa lolos dan langsung menancap gas dengan kecepatam tinggi melesat melewati jalan-jalan Kota Jakarta hingga sampai di Kompleks rumahnya. Kening Raka berkerut saat mobilnya berhenti tepat di depan rumah dan melihat ada mobil lain terparkir disana, sebuah CJ keluaran 80-an. Seingat Raka, tak ada seorangpun kenalannya yang memakai mobil seperti itu. Perasaannya mulai tak enak, jangan-jangan ada orang asing yang masuk dan melukai Daru!!! Raka segera melompat turun dari Wranglernya setelah menyambar kado yang berada di kursi penumpang, setengah berlari, Ia melewati halaman lalu menghambur masuk ke dalam rumah yang pintu-nya tidak di kunci. Tak ada tanda-tanda keberadaan Daru di ruang tamu juga ruang tengah, namun saat cowok tampan itu menginjakkan kaki di ruang makan, Ia bisa melihat berbagai macam makanan favoritnya terhidang di atas meja. " Dimana dia??!" Raka mulai panik. Secepat kilat Ia naik ke lantai atas, memeriksa tiap kamar yang ternyata kosong. Raka mencoba tenang, lalu mengingat-ngingat sekiranya ada tempat yang Ia lewatkan, namun tiba-tiba otaknya menuntun ke satu tempat, Taman belakang! Ya...Daru pasti berada disana. Takut...Raka merasa takut, bagaimana jika seseorang melukai Daru?! Bagaimana jika Ia terlambat dan - Seketika tubuh Raka membeku di tempat, apa yang dilihatnya lebih mengerikan dari yang Ia duga. Rahang Raka mengeras, sebelah tangannya yang tak memegang kado mengepal erat. Kilat amarah kini meyambar-nyambar di kedua mata elangnya, jantungnya berdegub kencang begitupula dengan darah yang mendidih dalam tubuhnya seolah hendak tumpah membanjiri ruangan. Perasaan Raka hancur berkeping-keping, hidup seolah menjadi hal paling mengerikan yang pernah dialaminya, ini adalah kali pertama Raka berharap bisa segera menghadap sang pencipta. Tak ada gunanya lagi Ia hidup jika pusat kehidupannya telah di renggut darinya. Di sana...di taman belakang rumahnya, Raka melihat pria yang tiga hari lalu membuatnya terbakar api cemburu tengah mencium mesra Ratu hatinya, penguasa cintanya, juga orang yang telah membuatnya hampir gila karena cemburu. Daru sudah direbut oleh orang lain, Dia terlambat, Raka sudah terlambat ... *** Zaldhy mencoba bangkit dari posisinya yang terlentang tak berdaya, darah segar mengalir dari hidungnya, baunya amis, rasanya juga teramat menyakitkan, sama sperti hatinya yang begitu sakit karena tak bisa menahan orang yang dicintainya. Satya lolos dari dekapannya, cowok berdarah sunda itu berhasil kabur darinya, Ia bahkan membawa lari mobilnya agar Zaldhy tak bisa mengejar. Wajah Satya sangat mengerikan saat Zaldhy mencoba menindihnya di atas kasur agar Ia berhenti meronta, raut terluka serta merasa dikhianati tergambar jelas pada gurat-gurat ketampanan pujaan hatinya. " Gue benci banget sama Lo!! Dasar b******k!!" Kata-kata bak silet yang meluncur keluar dari mulut Satya terus terngiang dalam benak Zaldhy, Ia tahu jika apa yang dilakukannya itu sangat nekat, juga akan membuat Satya semakin jauh darinya, tapi Zaldhy tak punya pilihan lain, Ia tak tahu lagi harus berbuat apa agar Satya tetap di sisinya. " Apa sudah tak ada harapan lagi buat gue...Gue cinta sama lo Sat...Gue sangat mencintai Lo." Dengan sisa tenaga yang Ia punya, Zaldhy bangkit berdiri, Ia berjalan terhuyung menuju ke arah pintu kamar Satya. Pria malang itu tak sanggup jika harus tinggal lama-lama di dalam kamar yang penuh dengan bau cinta-nya, Ia tak sanggup, rasanya terlalu sakit, bahkan jika Tuhan ingin mengambil nyawanya sekarang juga, Zaldhy rela. Ia sudah terlambat, sudah sangat terlambat... *** Buugh Tubuh Satya terhempas ke tanah, Ia kaget sekali karena Daru mendorongnya hingga terjatuh. " APA YANG KAKAK LAKUKAAAN ??!!" Seru Daru, Ia shock karena Satya tiba-tiba menciumnya. Beberapa jam lalu pria yang kini berada di depannya telah membuat harapan Daru yang melambung tinggi seketika jatuh berdebum ke tanah. Cowok manis itu begitu bersemangat, berharap jika Raka-lah yang berada di balik pintu, namun sayang, saat Daru membukanya, wajah Satya-lah yang Ia lihat. Bukannya dia tidak suka akan kehadiran kakak seniornya, tapi saat ini Daru hanya ingin bersama Raka, Ia ingin melihatnya, bertemu dengannya, dan menghabiskan malam ulang tahunnya bersama pria itu. " Daru Aku...," Mulut Satya tiba-tiba saja terasa kelu, jantungnya berdetak kencang saat melihat mata Daru yang menatapanya penuh amarah. Ia tidak bermaksud untuk mencium Daru, namun hatinya sudah tak kuat, tak kuat lagi menahan gejolak perasaannya yang tiap menit membuncah. " Kenapa...kenapa kak Satya menciumku??!! Hati Daru terasa perih sekali, Satya yang sudah dianggapnya sebagai kakak yang beberapa hari ini telah berhasil membuatnya tertawa ternyata mempunyai maksud terselubung di belakangnya. Tiba-tiba saja Daru mengingat pesan Alvin di telepon untuk berhati-hati dengan para pria, dan ternyata pesan itu benar adanya, bahkan orang yang begitu Ia percaya dapat melakukan sesuatu yang tidak pernah sekalipun dibayangkan olehnya. Ciuman Satya di bibirnya terasa menjijikkan, Daru tidak menyangka orang lain merebutnya, Ia hanya ingin Raka, Ia hanya ingin Raka yang menciumnya, Daru tidak ingin membaginya dengan orang lain...Raka...Raka...mengapa Pria itu tidak datang juga? Ratap Daru dalam hati. " Aku mencintaimu!! Aku mencintaimu Daru!!" Teriakan yang keluar dari mulut Satya sukses membuat kedua kaki Daru lemas hingga Ia jatuh terduduk di rumput. " Apa...Apa maksud kakak ??" Tanya Daru tak percaya. Sorot mata penuh amarah yang tadi membayangi kedua mata bulatnya kini berubah menjadi horror. Tidak!!!!! Daru tidak ingin mendengar kata-kata itu dari Satya!! Tidaaak!! Dengan bibir bergetar Satya mengungkapkan perasaannya pada Daru, mengatakan bagaimana Ia jatuh cinta pada pandangan pertama dengan cowok manis itu, dan juga bagaimana Ia mati-matian berusaha membuat Daru nyaman disampingnya agar bisa menerima perasaannya. " Aku benar-benar mencintaimu, Aku tidak akan minta maaf soal ciuman tadi. Aku melakukannya karena mencintaimu...!" Yah...Satya tidak salah, bukan Satya yang salah, dirinyalah yang salah karena telah memberi kesempatan pada pria itu. Daru tertawa dalam hati, tawa miris yang menyayat-nyayat sekujur tubuhnya, kenapa bukan Raka? Kenapa bukan Raka yang menyatakan cinta padaku?? Kenapa harus Kak Satya??! " Aku ndak bisa menerimanya Kak, cinta Kakak ndak bisa kuterima...." Kedua mata Satya melebar, Daru baru saja menolaknya, menolaknya dengan tegas tanpa memberinya kesempatan untuk menunjukkan seberapa serius Ia ingin membahagiakannya. " Kenapa? Apa ada orang lain yang kamu cintai?" Hati Satya terasa sakit saat menanyakan hal itu pada Daru, Ia tidak ingin menerima kenyataan jika cinta-nya mencintai orang lain. Dia tidak sanggup untuk menerimanya. Rasa sakitnya semakin menjalar ke seluruh tubuh Satya ketika Ia mendapati Daru mengangguk lemah di hadapannya. " Ya. Hatiku sudah menjadi milik orang lain, dan selamanya akan menjadi miliknya." Gumam Daru lebih kepada dirinya ketimbang memberitahunya pada Satya. Tidak perlu bertanya, Satya sudah tahu siapa orang itu, Ia hanya butuh melihatnya sekali untuk mengetahui bahwa Daru menyukai anak dari pemilik rumah tempat tinggalnya ini. Hanya saja Ia tidak ingin menerima alasan kalah sebelum bertanding, lagipula hubungan Daru dan pria itu tampaknya tidak memiliki progres, karenanya Satya berani mengambil kesempatan untuk merebut Daru. " Tapi dia tidak ada disini untuk mu kan ! Lihatlah Aku, Aku yang berada disini untukmu Ru, Aku tidak akan pernah meninggalkanmu." Ucapan Satya benar, mengapa Daru harus terus menunggu Raka yang entah memiliki perasaan yang sama dengannya atau tidak ? Satya selalu berusaha membuatnya tertawa, sementara Raka terus saja menyakitinya. Bukankah hal itu menjadikan Daru cowok bodoh? Bodoh karena mau saja dipermainkan oleh cinta. " Dia mungkin tak ada disini, tapi hanya dia...hanya dia yang bisa membuatku bahagia Kak. Hanya dia yang Aku cintai, Maafkan Aku." Satya tahu jika dia sudah kalah, mata Daru memancarkan kesungguhan, kesungguhan dalam mempertahankan dan menanti cintanya. Jika Dia berada di posisi Daru, cowok itu juga pasti akan melakukan hal yang sama, yaitu tidak pernah menyerah memperjuangkan perasaannya. Meski rasanya amat sakit, Satya harus kuat menahannya. Perlahan Ia bangkit, lalu mendekat ke arah Daru. Cowok tampan itu menarik nafas panjang kemudian menggenggam tangan pria di depannya. " Bisakah Aku memelukmu ?" Kali kini Satya tidak bermaksud apa-apa, Ia hanya ingin menenangkan Daru, memberinya kekuatan walau Ia sendiri merasa begitu lemah sekarang. Daru mengangguk, Ia lalu menghambur memeluk Satya. Sayang sekali semuanya sudah terlambat, Raka telah pergi membawa luka menganga di hatinya saat melihat Satya mencium cintanya. Ia tidak akan pernah kembali untuk Daru, dan cowok manis itu sama sekali tidak mengetahuinya. Malam yang dingin ini menjadi saksi. Cinta, harapan, pengorbanan, semuanya menjadi permainan takdir. Akankah para anak adam itu bisa bangkit ? bersahabat dengan suratan mereka masing-masing, lalu menjemput masa depan dengan orang yang mereka cintai, entahlah...Kita lihat saja nanti. To be continued...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD