"Herlina? Jadi nomor itu milik Herlina?" heranku, tangan kiriku tetap Setia memegang ponsel agar tetap stay dihadapan telinga sedang tangan kanan sibuk memakai sepatu. Sudah juga. "Sebentar kak, aku pake sepatu dulu." tanpa menunggu jawabannya di seberang sana, kusimpan ponsel tipis itu disampingku memakai sepatu tinggi ini secepat mungkin. "Menurut persepsi kakak, dia kenapa telepon aku?" suaraku lagi, kini berdiri memeriksa penampilanku di kaca lemari. "Membutuhkanku? Tapi bukannya yang kita tau Herlina sedang sibuk menangani penyakit mentalnya ya? Kok malah butuhin aku sih?" kuraih slingbag-ku,tak lupa mengambil tas laptop juga. Mematikan lampu kamar dengan susah payah karena sambungan telepon masih tersambung, di seberang sana Kak Langit masih memberikan jawaban atas pertanyaan

