Dengan langkah ragu aku memegang tangan kak Langit menuju halaman depan. Andaikan aku sedang tidak gugup mungkin akan takjub dengan dekorasinya yang sangat indah. Aku tertegun menatap banyaknya wartawan yang duduk didepan sana. Halaman depan yang begitu luas benar-benar berbeda dari biasanya. Memasang wajah setenang mungkin,kulepaskan tangan kak Langit lalu membiarkannya jalan lebih dulu disusul aku di belakangnya. Dia menyediakan kursi untukku,mempersilahkanku untuk duduk. Menarik mic kehadapanku,menghela napas pelan dan tanpa basa basi aku memulai semuanya. “Hai semuanya. Menjelang siang hari,saya Qeila Purnamasari akan mengakui identitas asli saya,” ujarku dengan mata memandang kedepan,kertas yang tadinya telah Kak Langit siapkan tidak kubutuhkan. Aku tidak membutuhkan konteks hany

