“Selamat sore juga,dengan?” balasku,mendongak menatapnya dengan senyuman manisku,tanganku dan tangan kak Langit masih tergenggam dengan sangat baik. “Panggil saja Dea,saya cukup senang karena bisa bertemu dengan tunangannya Pak Lexion dimana selama ini saya hanya melihatnya lewat tv saja.” Tanpa permisi atau takt ahu malu ia duduk disamping tunanganku,”ternyata lebih cantic dari perkiraan saya,” lanjutnya,Lexion saja heran dengan sikapnya itu. Aku melepaskan genggaman tanganku,terlihat Lexion memasang muka protes tapi tidak kupedulikan. Mataku mengarah pada perempuan yang sangat tisak sopannya memperlihatkan ketertarikannya pada tunangannya. “Saya hanya mendengar steak di restoran ini sangat enak,makanya saya memutuskan makan sore kemari. Saya benar-benar tidak tau jika tunanganku sedan

