Menunggu Kedatangan

901 Words
Menunggu di ruang tunggu kedatangan Bandara Internasional Soekarno Hatta. Intan tak lepas memperhatikan pintu kedatangan mencari-cari sosok yang dia tunggu. Ia mengeluh kesal sudah satu jam menunggu dan dia tidak tahu apakah pesawat yang ditumpangi kakaknya sudah mendarat atau belum. Berkali-kali mencoba menghubungi nomor ponselnya tapi tetap saja belum terhubung. Masalahnya Intan merasa kasihan pada papa Kirana. Terpaksa ikut menunggu di sini karena tidak ada yang menemani di dalam mobil. Sudah berapa kali juga orang tua itu terkantuk-kantuk di kursinya. Merasa ikut lelah berdiri di balik pagar pembatas akhirnya Intan ikut duduk di kursi besi di mana Kirana berada. "Kayaknya masih lama deh dia tibanya." Kirana yang tadinya tengah menyelimuti tubuh papanya agar terhindar dari dingin udara di sana. Beralih memperhatikan Intan tengah cemberut. "Kita tunggu aja dulu, mana tau ada delai di sana makanya jadwal tiba jadi terlambat." "Hmm...mungkin." Intan menoleh pada pak tua di sebelah Kirana."Papa nggak papa kan?" Kirana menunjukan senyumnya memperhatikan sang papa,"meski ngantuk berat tapi papa kuat kok." "Maafin Intan ya, Pa." keluh Intan menggenggam satu telapak tangan pria itu dengan penuh penyesalan. Tidak lama ada sebuah pengumuman datang mengatakan pesawat dengan nomor tertera dan negara asal sudah berhasil mendarat. Intan dan Kirana saling menukar pandang. "Itu!" ujar mereka bersamaan. Dengan senang Intan kembali bersiap-siap menyambut orang yang di tunggu di balik besi pembatas. Tak lama dari sana terlihat seorang pria yang ia kenal memiliki tubuh tinggi, memakai kemeja biru muda berlengan panjang, lengkap dengan celana bahan hitam. Sedang keluar dengan satu koper kecil yang ditarinya. Intan menarik ujung bibirnya, melambaikan tangannya tinggi-tinggi pada pria itu. "Ran, Abang aku udah datang!" teriak Intan seneng. Intan berlari menghampiri Abang yang dimaksud. Pandangan Kirana mengikuti langkah gadis itu. Ia terlihat sangat riang memeluk pria asing itu berulang kali. Sedekat itu kah mereka? Kirana bangun dari kursi yang ia duduki, matanya tak henti memandang pria yang disebut sebagai abang oleh Intan. "Bang, kenalin ini Kirana sahabatku dan Papa Toni, Papa Kirana." "Tampan," batin Kiran Pria besar itu dengan bertubuh menjulang tinggi mengulurkan tangannya lebih dulu. "Hai, salam kenal, aku Yovando sepupu Intan," ucapnya ramah. Suara berat itu membuat Kirana merinding sesaat. Kenapa? Padahal ini bukan pertama kali bertemu dengan seorang pria. Menerima jabatan Yovan dengan hati-hati. "Kirana!" jawabnya tersenyum tipis. Tatapan teduh Yovan yang meng-hipnotis, memandangi dirinya tiada henti. Ia gugup, sebab senyum manis pria itu membuat saliva di tenggorokannya tiba-tiba saja terasa membeku. "Hemm, Lama amat salamannya," sela Intan memukul tengkuk Yovan. Dirinya tidak ingin membuat Kirana merasa tak nyaman. Meski dia tidak menemukan itu di wajah Kirana. Jabatan itu pun terlepas dengan wajah malu Kirana memutar tubuh kebelakang di mana papanya berada. Sedangkan pria dari Amerika itu hanya mengaruk-ngaruk kepalanya yang tidak gatal. Intan cikikikan melihat dua manusia itu salah tingkah. Dia yakin abangnya sudah terpikat dengan kecantikan Kirana. Pria mana sih yang tidak akan tertarik dengan gadis seperti Kirana. Dilihat dari mata telanjang pun dia selalu saja tampak menarik. "Bang, Mau pulang nggak? Tenang, masih bisa kok memandangi dia di rumah, nanti aku ajak main deh kerumahnya," bisik Intan. Yovan melirik adek sepupunya jail. "Ciusss? " "Dua rius Bang!" jawab Intan nyengir menunjukan dua jarinya kehadapan Yovan. Yovan tertawa kecil mengacak-ngacak ujung rambut adik sepupunya itu, walaupun sepupuan hubungan mereka sangat akrab melebihi sodara kandung. Kirana hanya bisa memandangi dengan diam tingkah dua orang di hadapannya, sesekali mengernyitkan dahi tidak mengerti, seketika kedua orang itu melirik dan ketawa tidak jelas memandanginya. "Yuk balik!" ajak Intan. Kirana hanya menganggukkan kepala saja dan mulai memberi mendorong ke kursi roda yang diduduki oleh Papanya. Ada yang aneh, Kirana merasa Yovan masih saja memperhatikan dirinya dari samping. Hingga di parkiran. "Kunci mobilnya mana?" pinta Yovan ke adikknya. "Aku aja yang ngetir, dirimu pasti lelah 'kan? " "Abang aja, kamu bersantai saja di dalam," bales Yovan "Sini kuncinya," mintanya menampung telapak tangan kanan ke depan. "Nggak! Aku yang nyetir," Intan mengabaikan telapak tangan yang menggantung. "Intan, Abang saja!" "Big no! aku masih pengen hidup Bang, belum nikah juga," jawab Intan seenaknya. Yovan mengernyitkan dahi bingung,"apa hubungannya sih sama nyetir dan soal kamu yang belom nikah?" "Tentu ada hubungannyalah, liat donk kondisimu Bang, kayak sebulan engak tidur, kalau kamu yang nyetir bisa-bisa kepala mobil aku nyunsep ke tiang listrik," oceh Intan dibarengi cikikikan Kirana yang sedari tadi menyimak. "Ya deh, kamu menang!" Yovan mengalah dan rela kakinya melangkah ke sisi mobil lainnya. Sedangkan Intan cengengesan atas wajah cemberut abangnya. Juga tidak peduli, ia lebih mementingkan keselamatan dirinya dan penumpang dari pada memikirkan kekesalan Yovan yang tentu lelah setelah perjalanan jauh. "Kita berangkat!" Sepanjang perjalan ditemani musik yang diputar dari radio mobil. Yovan mencuri-curi perhatian pada gadis di belakang. Dia tampak asik menggoda papanya yang tak ada respon sama sekali. Meski begitu Kirana masih bisa menunjukkan senyum manis. Terlihat asik baginya. Tak ingin mengganggu, Yovan mencoba memberi kenyaman pada diri sendiri, meski ia tak begitu nyaman di tebengi oleh Intan. "Mau langsung pulang?" Suara Intan memecahkan kesadarannya,"Makan dulu yuk, Abang lapar." Mata Intan terbelalak, "Laper? Emang di pesawat nggak di kasih makan?" tanyanya heran. "Dikasih, tapi selera Abang menolak untuk makan." "Eeh... Hahahha, ya ya ya!" ucap Intan seolah mengerti. Setahunya Yovan memang tak suka makan makanan berat ketika melakukan perjalanan jauh. "Jadi makan di mana maunya? " lanjut Intan memberi pilihan. "Kita mampir rumah makan Padang aja, aku kangen rendang dan cabe ijo nya," jawab Yovan menyandarkan kedua telapak tangannya di belakang kepala. Makanan Indonesia banget itu memang tak bisa di lupakan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD