"Nggak apa kan Ran kita mampir sebentar?" tanya Intan menoleh pada Kirana diikuti oleh Yovan menunggu jawaban darinya.
Kirana tidak menjawab hanya memamerkan senyum pada Intan, lalu meanggukan kepala beberapa kali sebagai tanda setuju. Seketika itu Yovan menelan saliva melihat senyum Kirana yang teramat manis di matanya dan bikin melting.
Intan melirik Yovan dengan cengiran kecurigaan.
"Bang matamu kemana?"
"Apa sih kepo?"
"Manis ya?" godanya.
Yovan mulai salah tingkah,"Makanya tinggal di negeri sendiri, jangan terlalu betah di negara orang."
Kirana ikut menyadari guyonan Intan hanya merespon dengan senyuman tipis. Meski ia juga merasa di serang panas sesaat karena di perhatikan Yovan.
"Bang?" panggil Intan lagi ingin melanjutkan godaannya.
"Apa, Intan!"
Ia merasa malu dengan keusilan adiknya. Sudah di beri tatapan tajam pun sepertinya tidak berhasil. Intan masih saja menggodanya dengan cibiran mengejek.
Pletak!
Satu jentilan sukses mendarat di jidat lebar Intan membuatnya menjerit kesakitan.
"Awww, Sakit!"
"Nyetir yang bener, bawel banget kayak bebek!"
"Iihh nyebelin sumpah!"
Teriak kesal sembari mengelus kening yang terasa perih. Membalasnya pun Intan tidak memiliki kesempatan. Sepanjang jalan Intan tak henti bersungut-sungut di depan kemudi. Di belakang Kirana ikut cikikikan dengan nasip temannya.
.
.
Berhasil keluar dari jalur tol menuju res area. Intan mulai memarkirkan mobilnya di depan rumah makan padang yang cukup tampak ramai oleh para pengunjung.
Yovan nyengir kuda masih saja menyaksikan wajah cemberut Intan ketika keluar dari mobil.
Dia puas karena berhasil membalas perlakuan adiknya yang usil.
Di sana mereka membagi tugas, Intan masuk lebih dulu untuk memesan menu. Yovan ikut andil membantu Kirana memapah pak Toni dari atas mobil ke kursi roda.
Yovan jadi terpikirkan, sebelum dia datang bagaimana gadis cantik itu memindahkan orang tua ini. Padahal kalau dari berat badannya cukup lumayan kalau di bandingkan kan kekuatan fisik Kirana.
"Tadi di Bandara gimana pindahin beliau, Ran?"
Kirana yang tengah berjongkok menengadah pada Yovan berdiri di belakang kursi papanya. Sinar matahari di langit menutupi sebagian wajah pria itu.
"Tadi dapat bantuan dari beberapa pria, entah dari mana Intan nemunya."
"Begitu, baguslah."
Yovan mengulum senyum, setidaknya bukan gadis itu yang menuruni papanya sendiri seperti ini. Dia memuji kepintaran Intan juga. Sepupunya satu itu meski cerewet tapi pintar juga. Good girl!
"Masuk yuk, Bang. Intan udah manggil."
Kirana melihat temannya melambai di ambang pintu restoran.
"Oh ya, biar Saya bantu dorong beliau."
"Terima kasih."
Yovan menoleh pada Kirana yang berdiri di sampingnya. Dilihat dari sisi mana pun kenapa gadis itu selalu menarik. "Sama-sama."
Bunyi dentingan sendok besi pada piring kaca seolah menjadi ciri khas di rumah makan padang. Plus suara musik berlirik bahasa daerah sana juga cukup menghibur telinga.
Yovan membawa Toni dengan hati-hati tak lupa mengunci roda setelah tiba di depan meja makan yang berada di dekat jendela kaca.
Sambil menunggu pesanan datang Yovan masih mengamati Kirana. Perhatian gadis itu tak pernah lepas dari papanya.
Dia pun ikut memperhatikan pria tua itu yang tampak termenung, tatapan yang tampak kosong seolah pikirannya terbang entah kemana.
"Kiran, Maaf. Papa kamu sakit apa?"
Kirana menaikan pandangannya pada wajah Yovan, lalu mengalihkan lagi pada wajah kusut Papanya. Sejenak
Kiran terdiam.
"Kata dokter depresi."
Yovan masih belum mengerti,"Apa pernah terjadi sesuatu pada beliau?"
Kirana mengangguk,"Sepuluh tahun lalu ketika mama meninggal, Papa jadi sering melamun, tiba-tiba marah tidak jelas, suka mengurung diri di kamar, tapi aku nggak tahu pasti apa penyebab kaki Papa jadi lumpuh, soalnya sudah sepuluh tahun Papa menghilang."
Menghilang?
Yovan melirik ke arah Intan, mencoba meminta bantuan penjelasan lebih lagi padanya. Karena ia merasa segan jika bertanya lagi pada Kirana. Namun, si bibir bebek itu hanya memutar bola mata jengah padanya.
Apa dia masih marah karena kejadian di mobil. Yovan menghela nafas melihat tingkah Intan.
"Sudah bawa ke spesialis mengenai masalah kelumpuhan pada kaki beliau?"
Kiran mangangguk, "Sudah beberapa kali, Bang."
Intan jadi kepikiran soal status Yovan sebagai Dokter syaraf. Mungkin saja abangnya itu bisa menolong papa Kirana.
"Sebelum jemput Abang, kita habis dari Rumah Sakit, menjalani terapi rutin buat papa."
"Oh ya, berarti sudah pernah menjalani pemeriksaan X-Ray?"
Kirana dan Intan sama-sama mengangguk.
"Ada bawa hasil Rontgen-nya?"
"Ada, tapi ada di tas dalam mobil."
"Biar aku ambilkan!" Intan bergegas ke luar di mana mobilnya berada.
Seiring datangnya pesanan mereka dan sudah tertata rapi di atas meja. Intan pun juga datang dengan satu map di tangan langsung di berikan pada Yovan.
Dokter muda itu memeriksa sejenak lalu memperhatikan Toni Memberi sentuhan pada bagian lututnya.
"Kenapa Bang Yo? " tanya Kirana
"Nggak apa-apa, aku boleh bawa berkas ini, mau aku coba pelajari dulu."
Kirana melirik Intan gadis itu hanya tersenyum padanya seolah mengatakan percayakan saja pada abangnya.
"Boleh, Bang."
Pria itu menerima dengan senang hati dan menyimpan kedalam ransel. Sudah mendengar setengah dari cerita mengenai orang tuanya. Yovan ingin membantu meski memiliki harapan sedikit atas kesembuhan Toni. Setidaknya ia ingin mencoba.
Asik mengobrol sampai menganggurin makanan-makanan lezat menggunggah selera di atas meja. Di awali dengan berdoa mereka mulai menyantapnya dengan khidmat.
Rendang, gulai ayam, Ayam bakar, Irisan timun, rebusan daun singkong serta sambel ijo favorit Yovan, lengkap dengan kerupuk dan minuman teh hangat.
Nikmat mana lagi yang engkau dustakan.
Makanan ini paling Yovan rindukan selama di luar negeri. Meski sudah banyak yang menjual makana ini di sana tetap saja ada perbedaan rasa.