Rindu Yang Tak bisa Terobati

1463 Words
Pagi yang cerah secerah senyumannya. Kirana menghirup udara segar dari balkon kamar sembari merasakan kehangatan terpaan mentari pada wajah putihnya. Saat itu juga ia bisa memanjakan bola mata pada langit biru tanpa awan. Bahkan ada beberapa ekor burung terbang ke sana ke mari. Jarang-jarang ia bisa merasakan suasana seperti ini. biasanya pagi-pagi sekali Kirana sudah siap untuk berangkat kerja. dan pulang kerumah pun ketika hari sudah mulai gelap. Hanya saat libur seperti ini lah ia bisa menikmati indahnya suasana pagi. Membahas tentang pekerjaan. Kirana baru sadar hari cutinya akan segera berakhir. kalau ia kerja siapa yang mengurus papa. kalau cuma mengharapkan bibi Yanti pasti beliau tidak akan sanggup. Dari pekerjaan rumah saja sudah kewalahan apa lagi ditambah dengan mengurus papa. "Harus cari pengasuh buat Papa nih." Langkah Kirana menjauh dari balkon hendak keluar dari sana. Melewati tangga menuju kamar sang papa. Ia ingin melihat keadaan beliau. "Papa, sudah bangun?" Kirana tersenyum lembut melihat pria tua itu tengah membuka mata. Ia mendekati ranjang yang mengambil duduk sisi kasur. Seperti biasa, Toni enggan untuk menjawab. Dia hanya memandang dengan pandangan kosong serta sayu pada Putrinya. Entah apa yang di pikirkan. Tiba-tiba saja hati Kirana kembali sedih. "Pa? Papa masih inget Kiran kan? Aku anak Papa." Kirana menggenggam kedua telapak tangan papanya. Lalu mencium punggung telapak tangan itu bertubi-tubi. Dengan penuh kasih sayang. Kirana memandangi wajah kusut papanya, yang telah lama ia rindukan. "Pa, kenapa Papa pergi di saat-saat seperti itu, Papa tau? Kiran sangat kehilangan Papa, Kiran sedih Papa pergi ninggalin Kiran," ia membelai rambut Toni lembut. "Nenek, Kiran dan semua keluarga kita terus mencari Papa." Pandangan Kiran masih lekat pada wajah papanya. Lalu mencium pipi kiri Toni lama. "Kiran tau, Papa sangat terluka kehilangan Mama, Kiran tau itu." "Kiran juga sedih, Sangat sedih." "Kiran sayang sama Papa, Kiran Sayang Mama, Kiran juga sayang sama Nenek." Kirana mulai merasakan kedua matanya memanas mengingat anggota keluarganya satu per satu tiada. ia mencoba menggerakkan kedua bola mata itu segala arah mencegah air mata agar tak keluar. Tapi rasa ingin menangis tidak bisa ia hindari. Tanpa sadar setetes air mata lolos dari pelipis mata indah miliknya. "Kiran nggak mau kehilangan papa! kiran nggak mau! Hiks!" tubuh kecilnya mulai gemetar menahan tangis."Kiran mau Papa sehat!" "Kiran mau seperti dulu! bermain bersama Papa! pergi mancing ikan kesungai bareng papa lagi! Apa papa nggak ingat!" Kirana mulai terisak. "Kiran kangen dengar suara papa! Kiran kangen dimarahin Papa lagi!" Kiran mencoba menahan tangis, mencoba menghapus air mata yang sudah membasahi kedua pipi. Namun kesedihan itu terus saja melanda hatinya. Ia mengingat masa-masa indah saat bersama kedua orang tuanya dulu. Mengingat ketika dia bersama Papa, menanam bunga di taman rumah. Serta membantu mencari cacing tanah untuk dijadikan umpan ketika memancing Ikan sebagai hobi papa. Kiran masih teringat ketika dia dan Mama berada di dapur berdua, memasak makanan kesukannya penuh dengan canda tawa. Kiran masih teringat persis ketika Mama dan papanya menemani tidur hingga ia terlelap. Membacakan cerita, dipeluk dan dicium penuh kasih sayang oleh kedua orang tuanya. Saat-saat itu sirna ketika mamanya jatuh sakit dan pergi meninggalkan mereka untuk selamanya. Tangis rindu gadis itu pecah seketika. Ia Memeluk erat tubuh kurus papanya. Dia membayangkan rasa sakit kehilangan akan terjadi lagi terhadap papa. Kirana bener-bener tidak sanggup untuk kehilangan sekali lagi. Sedih yang masih tersimpan di hati saat kepergian Nenek masih begitu nyata dirasakan. Air mata terus mengalir di wajah gadis cantik itu. Pelukan erat tak pernah lepas dari tubuh papanya. Kirana memuaskan hatinya untuk menangis di samping papanya yang terbaring tanpa ekspresi. Rasa sedih semakin bertambah ketika pecahan-pecahan kenangan muncul di ingatan. Menimbulkan suara tangis Kirana terdengar hingga keluar kamar. Bibi Yanti seorang asisten rumah tangga paruh baya yang sedang asik dengan pekerjaannya di dapur. Merasa terkejut dengan suara tangis. Berlari mengetahui asal suara dan melihat tubuh Kirana bergetar kuat memeluk Toni. "Mbak Kiran, Mbak Kiran, Mbak tidak apa apa?" tanya Yanti menepuk-nepuk pundak gadis itu. Tidak ada jawaban dari Kirana. Malah suara tangisnya semakin kencang dan menyedihkan. Yanti mulai kuatir dengan majikannya. Ia berlari menuju telfon rumah yang berada tak jauh dari sana. Mulai mencari nomor seseorang untuk di hubungi. Cuma ada satu orang yang bisa menenangkan gadis itu. "Ha-halo mbak Intan!" "Iya Bi. Ada apa?" "I-itu, Mbak Kiran nangis terus, nggak mau berhenti, bibi bingung mau gimana." "Iya Bi. Saya ke sana sekarang." Tanpa banyak tanya Intan memutuskan telfon Yanti. Sambil menunggu kedatangan Intan Yanti hanya bisa diam menyaksikan gadis muda di dalam kamar Toni menangis sendiri. Mau buat apa pun dia tidak akan bisa menghentikan Kirana. Jalan satu-satunya hanya menunggu kedatangan Intan. Benar dugaannya, jarak rumah Intan tidak begitu jauh dari rumah Kirana. Mobil gadis itu sudah tampak terparkir di halaman. Yanti tergopoh-gopoh mengejar kedatangan Intan. "Di mana dia Bi?" "Di kamar bapak Toni, Mbak." Yanti mengekor di belakang Gadis cantik yang memakai sweater navy itu untuk melangkah menuju Kirana berada. "Ran! Kamu kenapa?" Kiran tidak mendengar panggilannya. Pikiran Kirana masih terbang pada masa lalu ketika bersama keluarganya. "Kiran!" panggil Intan ulang. Mencoba menarik badan Kirana untuk bangun. "Cukup Ran, Kenapa kamu kayak gini lagi sih! Kasihan Bibi kebingungan sendiri sama tingkah kamu." Masih tidak ada respon. "Kirana! Dengar nggak si gue manggil!" teriak Intan kesal menggenggam erat lengan temannya. Suara tangis Kirana mulai mengendur, membuat Intan sedikit tenang. "Ran, Kamu denger aku kan?" Kirana menaikan pandangan menunjukkan wajah sembab yang tampak kacau. Intan menghela nafas dalam. Apa penyebab temannya ini kembali rapuh. Tiba-tiba saja Kirana bangun dan memeluk tubuh Intan dengan erat. Di sana gadis yang tengah terluka itu kembali terisak. "Intan, Aku nggak mau kehilangan Papa! Aku takut!" Jadi ini penyebabnya? Intan mencoba menenangkan Kiran. Memberikan pelukan ternyaman dan mengelus lembut punggung temannya. Dia cukup tahu bagaimana Kirana menjalani kehidupannya tanpa keluarga. Meski dia banyak memiliki kerabat lain, tapi mereka seperti tidak peduli terhadap Kirana yang sebatang kara. Apa lagi setelah pembagian harta warisan setelah kematian neneknya, para kerabat itu seakan menjauh pelan-pelan. Bisa saja semua masalah yang menimpanya selama ini menimbulkan trauma dan ketakutan yang tidak biasa. "Ran. Aku yakin Papa pasti akan sembuh, Kamu harus kuat dan yakin." Intan mencoba memikirkan kalimat yang pantas ia keluarkan supaya temannya kembali semangat. "Papa itu butuh dukungan kamu, bagaimana beliau bisa sembuh kalau kamu lemah begini," Intan melonggarkan pelukannya agar bisa melihat reaksi Kirana,"dan kamu nggak sendiri, ada aku, mama, papa, Bi Yanti juga masih setia di sini jagain kamu." Perempuan paruh baya yang ikut berdiri di samping mereka memberi anggukan yakin pada Kirana. "Iya Mbak, Bibik akan bantu Mbak Kirana rawat Bapak, jadi jangan sedih lagi ya." Kirana mengangguk meski tetesan air mata masih saja membasahi pipinya. Tapi hatinya sedikit lega memuaskan kesedihan dengan menangis. Apalagi ada Intan dan Bi Yanti ikut menangkan. "Maaf, aku jadi nyusahin kalian lagi." "Kita nggak masalah, tapi lihat tuh Papa juga ikutan menangis karena kamu menangis di samping beliau." Kirana menoleh cepat pada papanya. Memperhatikan wajah pria tua itu dengan seksama. Ada bulir-bulir air membekas di sisi wajah Toni dan sudah mengenang di daun telinganya. Melihat itu Kirana shock, tadinya dia tidak tahu kalau papanya memahami apa yang terjadi di sekitar. Tidak dia saja yang kebingungan Intan pun sama.. "Ran, kayaknya papa memahami kesedihan kamu deh, bisa jadi papa juga memahami perkataan kita, hanya saja akibat kesedihan beliau yang terlalu dalam atas kehilangan istrinya dan sudah lama menghilang membuat papa sulit bicara, kita juga nggak tahu apa yang sudah papa lewati selama 10 tahun menghilang." Kirana terus memandang wajah kusut papanya dengan perasaan menyesal. Apa yang di katakan Intan ada benarnya. Papanya tidak bodoh apa lagi menderita gangguan jiwa seperti penilaian orang yang tidak mengenal dengan dekat. Kirana memangkas jaraknya pada Toni, menghapus sisa-sisa air mata itu. "Kenapa papa nangis?" Seperti biasa Toni tidak menjawab, wajah kusut tanpa ekspresi itu sedang menatap lurus pada Putrinya. Kirana mencoba memahami arti tatapan itu. Meski tidak begitu yakin apa yang ia pikirkan sesuai dengan apa yang dipikirkan papanya. Di sana Kirana mengulas senyum. Memberi kecupan di pipi Toni dengan sangat lembut. "Maafin Kiran ya, Pa. Kiran janji nggak akan nangis lagi, apa lagi buat Papa sedih." "Beneran loh!" sela Intan. "Iya." "Janji!" Kirana mendengus pada Intan,"nggak mau janji, janji itu hutang, kalau aku nggak bisa tepati nanti hutangku bisa numpuk donk." Intan ketawa,"ya salah sendiri kenapa cengeng!" "Ihh siapa yang cengeng sih!" Yanti ikut bahagia melihat Kirana sudah kembali ceria. Memang yang bisa mengobati kesedihan gadis itu hanya Intan satu-satunya. Yanti jadi teringat ketika nyonya pertamanya masih hidup. Ibu Deruma neneknya Kirana. Beliau seseorang yang dekat dengan Kirana, juga paling bisa di andalkan untuk menghibur cucunya jika tengah bersedih kala teringat kedua orang tuanya. Mirip seperti Intan sekarang. Yanti bersyukur ada yang mengantikan sosok nenek itu di samping Kirana. Menghibur dan menemani. Ia juga berharap majikan mudanya bisa menemukan pasangan hidup yang menyayanginya seperti Bu Deruma dan Intan sebelum ia pensiun. . . . .
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD