Setelah menenangkan hati dan kondisi. Kirana juga sudah wangi setelah mandi. Tampak cantik dengan celana levis 78 dan t-shirt putih bergambar mawar merah di depan d**a.
Kini dia di temani Intan duduk di sofa depan televisi yang menyala menyaksikan siaran anak-anak. Doraemon si kucing ajaib.
Kirana dan Intan ketawa ngakak ketika melihat adegan si pemeran utama Nobita yang selalu bernasip malang. Apa lagi ketika datang dua teman usilnya Giant dan Suneo yang memperkeruh keadaan.
Meski sudah menonton sinetron keluarga dan berhasil membuat ia ketawa. Kirana melirik jam dinding di sana waktu menunjukan pukul 10 lewat beberapa menit.
Harusnya jam segitu Intan sedang bekerja. Kirana benar-benar menyesali kelakuannya yang membuat ulah di pagi hari.
"Intan? Gara-gara aku kamu jadi nggak kerja."
Intan mengalihkan tatapan pada si pemanggil.
"Aku udah ijin untuk hari ini," jawabnya lalu merebahkan badan ke sofa menjadikan kaki Kirana bantalan.
"Maafin."
"Maaf buat apa lagi sih?" elaknya.
"Gara-gara aku kamu jadi kesusahan."
Intan memutar bola mata jengah seolah tidak menyukai pola pikir Kirana,"Dari kemarin aku tuh emang malas masuk kerja, dan beruntung hari ini ada alasan untuk libur."
Kirana melengkungkan senyum, telapak tangannya menelusuri rambut hitam tebal Intan dari pangkal hingga ujung.
"Oo, gitu."
Intan bergumam, karena mulutnya sedang mengunyah cemilan yang disajikan oleh bi Yanti.
"Oh ya, aku hampir lupa."
"Apa?"
"Tadi Bang Yovan titip salam buat kamu, Ran."
"Emang dia nginap di rumah kamu?"
Intan meanggukan kepala, "Soalnya rumah sakit yang bakal dikunjungi pagi ini deket dari rumah."
"Oh!"
Intan merasa sedikit kesal dengan jawaban temannya yang terdengar acuh. Dia bangkit dari rebahannya menatap Kirana datar.
"Kok cuma ooh si?"
Kirana melonggo aneh,
"Lah teruss?"
"Kamu nggak histeris dapat salam dari Abang aku? Atau nggak mau titip salam balik gitu."
Bola mata Kirana mendadak terbelalak lalu detik setelahnya ia tertawa renyah dengan reaksi Intan yang kesal.
"Histeris No, titip salam balik oke!"
Intan meniru ucapan Kirana dengan gaya mengejek,"histeris no, titip salam balik, Oke! NYe nye Nye nye..."
Kirana ngakak sendiri ia tak begitu paham kenapa Intan semarah itu padanya.
"Iya iya Intan, nanti jika kamu pulang titip salam untuk abang Yovan kamu yang tampan itu ya."
"Apa tampan?"
Intan terkejut dengan ucapan Kirana yang tak terduga begitu juga Kirana baru menyadari apa yang baru saja dia katakan.
Intan nyengir berniat untuk menggoda Kirana kembali.
"Emang benar sih Bang Yovan itu tampan, tapi apa maksud kamu bilang kayak gitu Ran? Apa jangan-jangan kamu tertarik dengan ketampanan Abang ku?"
Kirana tampak gelagapan sendiri dan baru menyadari atas apa yang ia ucapkan membuat Intan mencurigainya. Padahal ia ingin menyembunyikan isi pikirannya malah harus terungkapnya basah oleh Intan di saat seperti ini. Duh mulut!
"Bu-bukan maksud aku tuh bukan gitu Intan, ya sepupu kamu itu memang tampan kan cuma bukan berarti aku tertarik."
"Yakin nggak tertarik?" godanya sambil cengegesan
"Iya bu-bukan gitu juga sih, maksud aku tuh—"
Suara tawa Intan membuat Kirana kesulitan untuk menjelaskan
"Bilang aja kali pake alasan segala!"
"Nggak maksud aku tuh bukan gitu Intan, kamu ih!"
Kirana semakin kelimpungan dan juga malu. Sebab Intan terus memberi tatapan curiga padanya. Membuat ia semakin gugup dan terbata-bata.
Sudah tertangkap basah karena seenaknya menilai Yovan seperti itu di depan adiknya sendiri. Kirana meraih bantal kecil untuk menutupi wajahnya yang tengah malu.
Membiarkan Intan menertawainya sampai puas.
"Intan, maksud aku tuh bukan gitu, kamu jahat ih aku di ketawain!"
Intan tidak mengindahkan protesan temannya. Yang pasti dia menyadari kalau Kirana tertarik meski sedikit. Buktinya dia bisa merasakan ketampanan hakiki dari Abang sepupunya.
Bibir intan tak henti menyunggingkan senyum bahkan lebih lebar menunjukan gigi-giginya yang putih.
Dia mencoel-coel sisi tubuh Kirana dengan jari.
"Iih, apaan sih!" cegat Kirana mulai risih.
"Jawab atuh neng!"
"Jawab apaan coba?"
"Kamu mulai tertarik sama Abang aku?"
Intan tipe orang yang tidak akan berhenti sebelum dia mendapatkan apa yang ia mau.
Untuk kebaikan bersama ia harus segera mengakui. Kirana memberanikan diri dan tidak bersembunyi lagi.
"W-wajar donk aku bilang dia tampan, Kan memang benar dia tampan," jawab Kirana gugup mengigit sedikit bibir bawahnya. berusaha mengalihkan pandangan kelain arah. tapi Intan tidak mau ketinggalan, dia terus saja mengikuti gerak arah kepala Kirana. Menutupi pandangan gadis itu supaya ia bisa menyaksikan temannya yang sedang salah tingkah.
"Intan yang benar donk duduknya ah!"
Intan kembali ngakak,"kalau tertarik?"
"Kalau tertarik, kayaknya... " ucap Kirana terhenti.
Tiba-tiba saja wajah David muncul di ingatannya. Wajah sang mantan kekasih yang baru sebulan ini ia putuskan. Pacar yang dulu sangat dipuja, pria yang dulu selalu ada buat dirinya.
Meski sejak pertengkaran itu rasa sayangnya mulai menipis. Bukan berarti dirinya semudah itu tertarik dengan pria lain.
Jika di bandingan Yovan, David memang tidak ada apa-apanya.
Kirana jadi teringat lagi ketika Yovan memperlakukan papanya dengan baik. Padahal sebelum putus dengan sang pacar ia berharap kalau David yang akan berprilaku seperti itu pada papanya.
Kirana menggeleng-gelengkan kepala mengusir wajah David dari pikirannya. Tidak pantas rasanya ia masih mengingat pria Dajjal seperti itu.
"Ran. Gimana?"
Desakan Intan membuat Kirana kesulitan.
"Aku belum bisa jawab sekarang."
"Iiss kenapa? Jangan bilang tadi kamu sempat mikirin si unta?"
Kirana mengernyit mendengar nama binatang arab yang di sebut Intan.
"Unta?"
Intan cikikikan,"David! Gitu aja nggak paham."
Kirana geleng-geleng kepala menahan tawa, Intan memang jago sekali soal gonta ganti panggilan orang yang tidak ia sukai.
"Di coba dulu aja gimana Ran?"
"Coba, maksudnya?"
Intan tersenyum penuh arti, dia sangat ingin sekali melihat sahabatnya dan juga Yovan sedikit dekat menjadi sangat dekat.
Gadis itu memonyongkan bibirnya ke depan memikirkan cara terbaik untuk temannya supaya bisa lupa dengan mantan keturunan jin sialan itu.
"Kamu harus segera move on dari si unta."
"Haruslah, kenapa emangnya?"
"Ya udah, Biar cepat move on mari memulai hari baru dengan si Babang tampan Yovan, gimana?"
Kirana melirik heran pada Intan,"nggak segampang itu Intan, emang Abang kamu mau-mau aja di jadiin kambing hitam dalam masalah hidup aku."
"Mau! Yakin mau! Aku ini kan adiknya akan jadi mentor comblang buat kamu dan dia," seru Intan dengan semangat 45 dan kepercayaan diri atas kemampuan dirinya yang sudah berhasil menyatukan puluhan pasangan sejak kuliah. Kalau menjodohkan Kirana dengan sepupunya itu bagai seujung upil. tinggal jentikkan jari jadi.
Sibuk menyombongkan diri Intan malah mendapatkan sentilan di jidat yang cukup mengesalkan hatinya dari Kirana.
"Kiraaann! Sakit tau!"
Dengan cueknya si pelaku asik menonton TV tanpa merasa bersalah sembari menikmati segelas s**u hangat.
"Aahhh, nikmatnya!"
Intan mendengus sebal,"11 12 sama bang Yo!"
"Bang Yo?" beo Kirana tak peduli.
"Iya bang Yovan, kelakuan kalian tuh mirip, suka seenaknya sentil kepala orang, ngeselin, sumpah!"
Kirana ketawa lepas atas kekesalan Intan.
"Benar mirip ya kalian, nggak kelakuan aja tapi wajah ngeselin kamu tuh juga mirip dia, jangan-jangan kalian jodoh."
Atas celetukan Intan Yang asal bunyi dia hampir menerima sentilan kedua kali dari Kirana. Beruntung itu meleset dan tidak menimbulkan perih seperti yang pertama. Dia teriak kemenangan atas reflek yang cukup bagus.
"Nggak kena!"
"Jangan seenaknya samakan orang donk!"
"Kenapa emang suka-suka aku!"
"Tapi aku nggak suka!"
"Tapi suka kan sama orangnya?" goda Intan kali ini berhasil meruntuhkan pertahanan Kirana.
"Orang yang mana sih maksud kamu," elaknya.
"Itu tuh si tampan."
Kirana tak bisa membendung rasa malunya.
"Jadi? Kamu mau coba dengan Abang Yo?" pertanyaan Intan membuat Kirana berpikir kembali.
"Entah lah! "
"Iih, nggak jelas banget si! teguh donk dengan pendirian kamu sayang, Kiran sayang! Aku nggak mau ya kamu balikan lagi sama si David kurang asin itu!" Intan memasang wajah murkanya mengingat si k*****t.
"Tergantung! " ucap Kirana bangkit dari duduknya berjalan menuju jendela.
"Pokoknya aku nggak mau kamu balikan sama dia. Titik!" Intan marah pada Kirana lalu diam dengan pandangan lurus pada tv yang sedari tadi dianggurin.
Ini hal biasa bagi Kirana. Mendengar sahabat semata wayangnya bertingkah seperti ini. Apa lagi membahas soal David. Ujung-ujungnya Intan selalu mengucapkan kejelekan demi kejelekan pria itu sama sekali Intan tak pernah mendukung hubungannya dari dulu.
Kirana juga tidak begitu paham kenapa pula Intan semangat menjodohkan dirinya dengan Yovan. Apa mungkin hal itu bisa terjadi?
.