“Eungh … Ki ….” Kaisar melenguh saat ia secara tak sadar tertidur. Dirabanya sisi lain kasur dan tak menemukan sosok Kikan. Hal itu membuat Kaisar segera membelalakan matanya. Dia terduduk dengan mata merah yang menunjukkan bahwa dia kurang tidur. Hampir semalaman Kaisar terjaga tetapi dia tak bisa menahan kantuknya di detik-detik terakhir menjelang pagi. “Kikan!” pekik Kaisar, saat itu pintu kamar terbuka dan menunjukkan sosok Kikan yang baru selesai mandi. Dengan rambut basah dan kimono handuk yang membalut tubuhnya, Kikan berjalan kaku dan mengangkang karena sudah tidak kuat lagi menahan benjolan wasir yang keluar, sulit untuk di masukkan lagi ke tempat asalnya. “Ki kamu dari mana?” “Dari jonggol!” Kaisar menderlingkan matanya. “Serius Ki!” “Aku habis mandilah bang, ga lihat rambu

