9 - Pengujian Emosi

619 Words
"Kau ada-ada saja, Sayang. Jangan begitu lagi pada adikmu. Atau aku akan marah." "Aku hanya ingin bercanda. Aku kira Titans tidak mau datang. Ternyata, kemari juga." Davae melebarkan seringai. Dilirikkan mata ke arah sang adik yang sedang melayangkan tatapan mematikan. Namun, ia tidak akan merasa takut. Justru lucu baginya Adaline. "Dia mana mungkin mengabaikan orang lain. Kau saja yang terlalu jahil, Sayang. Kau memang tega dengan Titans dan adikmu." Adaline segera merampas ponsel kakaknya. Video call masih berlangsung. Alena tampak cantik dengan baju kaus ungu di seberang telepon. Terlihat perut yang besar. Disapa lewat senyuman lebar. Tidak lama dipamerkan. Tak bisa juga disembunyikan ekspresi kesal. Tentu, Alena menyadari. "Aku akan bicara pada Titans nanti." Adaline menjawab dengan lembut dan bersahabat. "Tolong kau marahi suamimu, Kakak Ipar. Dia sangat menyebalkan." Adaline memberi penekanan pada setiap kata dilontarkannya. "Iya, baiklah. Aku akan pastikan dia dihukum nanti sesampainya di rumah. Aku janji." Adaline jelas senang dengan jawaban yang diberikan Alena. Spontan, senyum di wajah terukir lebar. Namun, hanya sesaat karena kembali jengkel mendengar tawa Davae. Ia melempar delikan maut ke kakaknya. Tak lama. Perhatian telah kembali ke Alena. "Kau memang bisa aku handalkan, Kakak Ipar. Terima kasih banyak. Aku sayang kau selalu." Adaline mengeraskan suaranya. "Aku tutup dulu, ya. Aku merasa ditendang-tendang kedua calon bayiku. Jadi, aku harus berbaring dulu." Adaline membalas dengan anggukan saja. Tak sampai lima detik, sambungan video call pun sudah berakhir. Dimatikan oleh Alena terlebih dahulu di seberang sana. Ponsel sang kakak lantas ditaruh di atas meja. "Kenapa Dad dan kekasih pertamamu lama sekali bicara di dalam, ya? Mereka bahas apa saja memangnya? Aku jadi penasaran." Adaline tak menanggapi. Pertanyaan yang terkesan hanya sebuah pancingan supaya dirinya mau bicara. Ia sudah terlalu jengkel dengan keisengan dilakukan Davae. Tentang Titans, Adaline pun telah berupaya membuat pria itu segera meninggalkan rumah orangtuanya. Namun, sang kakak memiliki ide jahil lain. Ya, Davae meminta Titans berdiskusi dengan ayah mereka tentang pekerjaan. Tentu, tidak melibatkan dirinya dalam pembicaraan. Adaline sempat protes karena tak boleh ikut, namun tidak akan mengubah situasi. Titans tetap hanya berdiskusi bersama ayahnya. Adaline harus puas mengalah dengan hati yang semakin kurang tenang. Ia terus saja memikirkan Titans, tak bisa dihilangkan. Berharap pria itu tidak akan membuat lagi masalah tambahan. Bagaimana pun juga, ia belum pernah membahas hal ini dengan Titans. Kedatangan pria itu pun mendadak. "Bisakah kau jangan memandangku begitu? Seakan aku adalah penjahat, Adikku." Adaline tidak segera menyahuti celotehan sang kakak. Masih melayangkan tatapannya yang tajam. Menunjukkan kekesalan dan juga amarahnya. Tak akan ditutup-tutupi. Kontras dengan Davae yang memerlihatkan seringaian menyebalkan serta mengejek. Ia ingin sekali memberi pelajaran pada kakak sulungnya itu. Misal menjambak rambut. Namun, jika dilakukan. Maka, sang ayah dan ibunya akan marah besar. Adaline enggan mencari prakara. Hanya akan membuatnya menambahkan beban yang tidak penting. Terjebak bersama sang kakak di ruang tamu hanya menambah kejengkelannya saja. Dan tak ada pilihan lain yang bisa dilakukan, walaupun sudah dipikirkan berbagai cara untuk bisa pergi menyusul Titans. "Kau belum berhenti marah padaku, ya?" Davae meluncurkan tawa mengejek. "Aku heran kenapa kau sangat marah, aku kerjai. Padahal, kau sering melakukannya juga." "Kau tidak ingat ulahmu yang mengaku ke Alena, kau adalah kekasihku? Tidak akan bisa aku lupakan, Adikku. Kau harus terima balasan dariku." Davae berujar santai. "Kau tahu tidak apa yang akan aku lakukan? Kau dan Titans, akan aku satukan. Kau tadi bilang ingin segera menikah bukan?" Davae menambah senyuman nakalnya. "Aku akan minta Titans membuat kau hamil saja. Kemungkinan besar kalian akan menikah." Kali ini, Adaline menanggapi. Kepalanya pun digelengkan dengan cepat. Sorot mata yang menampakkan kejengkelan tak dikurangi. Saat mendengar kekehan senang kakaknya, ia kembali merasa tersulut. Sudah merasa tak bisa mempertahankan lagi kesabaran. "Yahh! Kau dasar menyebalkan!" Seruan kencang Adaline disertai dengan aksinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD