Ya, menginjak kaki sang kakak sebanyak dua kali. Sudah pasti Davae sukses mengaduh kesakitan akibat ulahnya. Namun, Adaline tak akan menaruh rasa iba atau kasihan.
"Aku sangat kesal denganmu, Kakakku. Kau harusnya ingat usia dan statusmu. Kau akan segera punya dua anak, tapi sifatmu belum juga berubah." Intonasi Adaline meninggi.
"Kau suka sekali ikut campur urusanku! Kau menyebalkan! Aku akan berperang dengan kau! Lihat saja nanti!" Adaline lebih serius.
"Aku harus ikut campur agar kau semakin lama tanpa pasangan, Adikku. Kau harusnya berterima kasih, tapi kau malah begini."
"Aduhhh!"
Adaline membalas sahutan Davae dengan menginjak kaki kakaknya lagi. "Aku tidak butuh bantuanmu. Aku bisa sendiri."
Adaline masih mendelik. "Masalah pasangan dan asmaraku, tidak perlu kau cemaskan."
"Aku bisa mengatasinya sendiri."
Davae terkekeh dengan tambah kencang. Ia memang sengaja menunjukkan reaksi yang demikian, ingin membuat adik perempuan bungsunya terus jengkel.
Menyenangkan bisa mengerjai Adaline. Ia seperti mendapatkan hiburan tersendiri. Walau, lebih menantang mencandai sang istri. Namun, Alena sedang hamil. Tak bisa leluasa memancing emosi istrinya.
"Kalau kau terlalu baik, aku curiga."
Davae terkekeh kembali. Lantas, kepalanya digeleng-gelengkan. "Jangan selalu curiga pada kakakmu yang tampan ini, Adikku."
"Aku akan membantumu dengan sepenuh hati, tanpa menginginkan balasan, Adikku."
Davae menyeringai. "Statusmu yang sebagai wanita belum pernah bercinta membuatku resah. Aku takut kau tidak normal, Ad--"
"Aku sudah bilang aku tidak suka wanita!"
Adaline menambah delikan lagi. Jelas saja emosi karena celotehan kakaknya. "Bisakah kau tidak banyak omong , Kakakku?"
Kemudian, Adaline melayangkan tangannya ke lengan sang kakak. Hendak mendaratkan pukulan tentunya di sana sebagai bentuk pelampiasan rasa kesal yang sudah tak bisa ditunjukkan dengan seruan kencang saja.
Akan tetapi, niatan tidak dapat dilaksanakan karena secara tiba-tiba saja ada seseorang yang menghentikan dengan cara memegang tangannya. Cukup kuat dilakukan.
"Ternyata kau galak juga, Bos."
Adaline yang sedang memusatkan seluruh atensi ke kakaknya pun, segera menolehkan kepala belakang dan membalikkan badan guna memastikan memanglah benar suara didengarnya milik dari Titans Genon.
Ketika mata mereka sudah saling bersitatap, Adaline langsung terpesona dengan kedua iris biru milik Titans. Tampak indah hingga ia terlarut lama, memandang intens pria itu.
"Aku suka kegalakanmu, Miss Adaline."
Disunggingkan senyum untuk membalas pujian Titans yang lebih tertangkap sebagai godaan untuknya. Lalu, diraih tangan pria itu. Adaline dilanjutkan dengan berjinjit.
"Aku bisa jauh lebih galak di ranjang. Walau, pengalamanku nihil. Kau mau bukti?"
Tanpa menunggu jawaban Titans, ditariknya pria itu. Bergerak ke arah tangga. Namun, saat sang ayah keluar dari ruangan, langkah kaki pun dihentikan. Senyum kian merekah.
"Dad, tidak boleh mengganggu Titans lagi. Sekarang aku yang akan menghabiskan waktu dengan Titans. Oke, Dad?"
"Kau akan bercinta, Adikku?"
Adaline melempar delikan lagi pada sang kakak. "Tentu saja," jawabnya mantap.
Kembali, ditarik Titans untuk mengikutinya. Walau, Titans tak berkata apa-apa. Ekspresi yang diperlihatkan pria itu sudah mampu menciptakan rasa panas di pipi.
Adaline jelas merasa malu akan ucapannya sendiri. Namun, berupaya tetap memasang raut tenang. Bagaimana pun juga ia tidak ingin Titans sampai menyadari.
"Kau akan mengajakku ke mana, Bos?"
Adaline hanya menoleh sebentar saja ke arah belakang, menyeringai dengan cukup lebar. Lalu, kembali meluruskan pandangan ke depan sembari menyiapkan jawaban.
"Menurutmu kita akan kemana, Mr. Titans?"
Terdengar suara tawa Titans. Hal tersebut membuat Adaline semakin malu. Ia masih berupaya keras menyembunyikan. Tak ingin menjadi bahan lelucon dari pria itu.
"Akan akan ikut kemana pun kau mengajak diriku pergi, Miss Adaline. Tidak masalah.