Gue... mau diperkosa!
Kalimat terakhir yang diucapkan oleh gadis yang mencengkram lengannya ini masih terngiang-ngiang di kedua telinganya. Azka sangat yakin kalau pendengarannya masih berfungsi dengan baik, sehingga, kemungkinan dia salah mendengar adalah nol persen alias mustahil. Apalagi, gadis bermata hijau muda itu sangat ketakutan. Takut yang benar-benar takut. Jadi, dia tidak mungkin berbohong padanya.
Demi Tuhan, Azka Calvaro, memangnya, apa untungnya bagi gadis itu kalau dia berbohong sama lo? Suara batin Azka terdengar didalam hatinya, membuat Azka merutuki ketololannya sendiri. Kenal sama lo aja dia nggak, jadi, nggak ada alasan bagi dia untuk berbohong!
“Tenang dulu...,” ucap Azka tegas. Mau tidak mau, dia juga menjadi panik. Laki-laki itu memegang tangan gadis tersebut yang masih mencengkram lengannya dengan sangat kuat, menimbulkan rasa perih yang menjalar disana. Kemudian, kedua mata Azka yang tajam, menatap mata gadis itu tepat di manik mata. “Lo aman disini. Orang yang berniat untuk memperkosa lo, seperti yang lo bilang tadi, nggak akan mungkin berani masuk ke sekolah ini.”
Gadis itu menggeleng dengan kuat. Airmata mulai mengalir di wajahnya. Melihat itu, Azka jadi senewen. Salah-salah, malah dirinya yang dianggap ingin memperkosa gadis itu.
“Lo nggak ngerti,” ucap gadis itu terbata. Ya iyalah, dia tidak akan mengerti! Orang, nggak ada angin, nggak ada hujan, badai, salju, tsunami, gempa, gunung meletus, banjir dan seterusnya, tahu-tahu gadis itu berlari dan meminta perlindungan kepadanya. Bagaimana bisa, dia mengerti akan hal itu? Azka mendumel dalam hati. “Dia nggak peduli dimana gue bersembunyi. Dia itu psikopat! Mau di tempat yang ramai sekalipun, dia akan menyeret gue dan memperkosa gue! Lo harus tolongin gue, gue mohon...,” lanjut gadis itu.
Waduh! Azka semakin senewen saja. Laki-laki itu berdecak jengkel dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia melirik sekilas ke arah panggung dan melihat sosok Krystal serta Rizky sudah turun dari sana. Niatnya untuk memberi pelajaran pada Rizky terlupakan sejenak, karena kemunculan gadis ini.
“Lo... tau darimana kalau dia itu psikopat? Terus, kenapa dia mau memperkosa lo?” tanya Azka.
“Dia....” Gadis itu menarik napas panjang dan menghapus airmatanya dengan sebelah tangannya yang bebas. Matanya menatap Azka tanpa berkedip. Memohon belas kasihan dari laki-laki itu. “Dia itu... teman kantor gue.”
Alis Azka terangkat satu ketika dia mendengar ucapan yang dilontarkan oleh gadis itu. Teman kantor?
“Teman kantor?”
Gadis itu mengangguk. “Namanya Ozzy. Kita udah temenan selama kurang lebih satu tahun. Beberapa rekan kerja gue yang lain bilang kalau Ozzy naksir gue, tapi, gue nggak nanggepin sama sekali karena gue cuma anggap dia teman. Ozzy memang selalu berusaha dekatin gue. Gue bersikap biasa aja. Tadi, sewaktu Ozzy mengajak gue makan siang di daerah dekat sini karena katanya ada kedai es pisang ijo yang enak, dia nembak gue. Gue menolak dengan alasan gue hanya menganggap dia teman. Dia nggak terima. Dia berusaha untuk nyium gue. Gue menghindar sebisanya, tapi, tenaga gue nggak cukup besar untuk bebas dari dia, mengingat kita berdua ada didalam mobil Viosnya. Dia terus mendesak gue ke arah pintu... dan... tangannya... terus... bergerak... maksud gue... dia berusaha... melepaskan... kancing kemeja gue... sampai akhirnya... gue mukul kepala dia... dan... dan... gue kabur kesini....”
“Ssst....” Azka mengusap punggung gadis itu dengan lembut. Entah mengapa, darahnya mendidih saat mendengar penjelasan dari bibir gadis itu. Dia sangat benci dengan laki-laki yang selalu berusaha untuk merenggut dengan paksa apa yang sudah dijaga mati-matian oleh seorang wanita sejak mereka lahir. Kalau membunuh itu tidaklah berdosa, mungkin, Azka akan membunuh semua laki-laki yang melakukan hal menjijikan itu. “Lo udah aman. Lo aman disini.”
Entah karena suara Azka atau memang karena merasa Ozzy tidak akan berani mengejarnya kemari karena takut dihajar oleh para siswa yang ada di sekolah ini—belum lagi satpam-satpam yang menjaga dengan ketat dan bertampang horor—gadis itu mulai tenang. Dia menyelami kedua mata Azka dan tiba-tiba saja rasa lega dan aman itu membanjiri dirinya. Terlebih ketika Azka mengangguk, mempertegas ucapannya barusan.
“Gue... Celsi Indira.”
Azka tersenyum tipis. Senang bahwa gadis yang baru saja memperkenalkan dirinya sebagai Celsi Indira itu mulai tenang dan terkendali. Cengkraman tangan Celsi pada lengannya pun sudah terurai. Azka juga menyudahi elusan tangannya pada punggung gadis itu dan sebagai gantinya, dia memegang pundak Celsi dengan tegas.
Tangan Azka yang memegang pundaknya dengan tegas membuat Celsi terpaku. Gadis itu bisa merasakan kekuatan, kehangatan, kenyamanan dan rasa aman yang mengalir didalam tubuhnya. Seolah-olah Azka mengatakan bahwa gadis itu akan aman apabila bersamanya. Padahal, Celsi hanyalah orang asing yang kebetulan kabur kedalam sekolah ini dan meminta perlindungan dengan paksa pada Azka atas cobaan perkosaan yang akan dilakukan Ozzy padanya. Kemudian, ketika dia melihat uluran tangan Azka, Celsi terlebih dahulu mendongak, menatap wajah Azka yang terlihat ramah, lalu memutuskan untuk menyambut uluran tangan itu.
“Azka Calvaro.” Laki-laki itu menyebutkan namanya dengan tegas. Setegas jabatan tangannya pada Celsi. “Biar gue antar lo pulang. Dan, tenang saja. Gue bukan laki-laki b******k seperti teman kerja k*****t lo itu.”
Ucapan itu langsung membuat Celsi tersenyum dan membiarkan Azka menuntunnya ke arah sedan silver yang terparkir di depan gerbang sekolah. Namun, senyuman di bibir Celsi harus sirna, tatkala dia melihat siapa yang sudah berdiri di dekat gerbang sekolah SMA Bianca. Seketika itu juga, tubuh Celsi membeku. Azka yang berjalan di sampingnya hanya mengerutkan kening tanda tidak mengerti, lalu, dia mengikuti arah pandang Celsi.
“Urusan kita tadi belum selesai, Cels,” ucap orang itu dengan nada dingin yang menjijikkan. Senyumannya begitu merendahkan dan tatapan matanya seolah menelanjangi Celsi yang saat ini hanya bisa terdiam dan menatap orang itu dengan ketakutan besar yang kembali hadir.
“Oh...,” ucap Azka sambil menganggukkan kepalanya dan tersenyum dingin. Dia menatap orang itu dari ujung rambut hingga ujung kaki seraya mendengus. “Jadi elo, k*****t yang mau mencoba memperkosa gadis ini.”
“Siapa lo?!” seru Ozzy berang. “Jangan ikut campur urusan gue sama Celsi kalau nggak mau gue bikin babak belur.”
“Wah, percaya diri sekali,” balas Azka dengan nada mengejek. “Mau duel? Kalau lo menang, gue serahin dia sama lo. Tapi, kalau gue yang menang....” Azka merangkul pundak Celsi dan membawa tubuh gadis itu mendekat ke arahnya. Celsi yang masih terpaku hanya bisa diam dan membiarkan Azka merangkul pundaknya dengan tegas. “Dia jadi milik gue.”
Sadar bahwa disini akan banyak yang menonton perkelahian mereka nantinya, Ozzy berdecak jengkel. Dia menunjuk wajah Azka lurus-lurus. Tatapan matanya menyiratkan tantangan.
“Lapangan Rajawali nanti malam jam sepuluh! Kalau lo kalah, gue nikmatin dia di depan mata kepala lo!”
“Oke.” Azka menyanggupi dengan santai. Sementara itu, Celsi bergidik saat mendengar ucapan Ozzy barusan. Dia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada dirinya jika laki-laki yang bernama Azka ini kalah. Ya Tuhan, kenapa dia harus mendapatkan masalah seperti ini? Kenapa juga laki-laki yang bernama Azka ini malah menantang Ozzy? Bukankah tadi dia sudah mengatakan pada Azka bahwa Ozzy adalah serorang psikopat?
Setelah adu tatap yang sengit, Ozzy memutar tubuhnya dan berjalan menuju Vios hitamnya yang ternyata diparkir tidak jauh dari sedan silver Azka. Rupanya, saat Celsi memukulnya dan kabur dari dalam mobil, Ozzy mengejar gadis itu. Tapi, entah bagaimana caranya, Celsi berhasil kabur meskipun Ozzy sudah mengejarnya dengan mobil. Mungkin, rasa takut yang sudah menguasai dirinya membuat Celsi mengerahkan seluruh tenaganya agar bisa selamat dari cengkraman Ozzy.
Menyadari ketakutan Celsi saat ini akibat mendengar ucapan Ozzy barusan, Azka langsung memutar tubuhnya, hingga kini, dia berdiri berhadapan dengan gadis itu. Azka sedikit membungkukkan tubuhnya, mensejajarkan diri dengan tinggi gadis itu dan memegang kedua bahu Celsi dengan tegas. Celsi menatap kedua mata Azka dengan tatapan tidak terfokus. Wajah gadis itu pucat. Tubuhnya gemetar.
“Nggak usah khawatir,” ucap Azka sambil tersenyum menenangkan. “Gue akan pastiin, lo akan aman dan terbebas dari dia.”
~~~
“Wah, nggak nyangka, adik sepupu Mas ternyata jago nyanyi.”
Pujian dari Edward itu membuat Krystal tersanjung. Gadis itu tersipu dan meninju bahu Edward pelan, membuat Edward terkekeh geli. Saat ini, Krystal dan Edward berada didalam sebuah kelas yang telah beralih fungsi menjadi ruang panitia. Disana juga terdapat Rizky dan Elang yang baru saja masuk kedalam ruangan. Septi, pacar Elang, harus selalu stand by di dekat panggung karena gadis itu adalah salah satu panitia.
“Dan lo,” telunjuk Edward mengarah pada wajah Rizky yang saat ini sedang bersedekap dan menyandarkan bahunya di ambang pintu. Krystal mengikuti arah yang ditunjuk oleh Rizky dan menelan ludah susah payah. Gadis itu baru tahu bahwa hanya dengan bersedekap dan menyandarkan bahu ke daun pintu, seorang laki-laki bisa terlihat sangat keren dan hot as hell! “Kalau gue perhatiin dari bawah panggung tadi, sepertinya, elo mencium kening Krystal dengan sengaja. Bukan karena ingin bersandiwara guna menambah kehebohan atau semacamnya.”
“Ya.” Rizky tersenyum miring dan melirik Elang yang mendengus ke arahnya. Kemudian, tatapannya beralih ke arah Krystal yang hanya bisa terpaku, lantas detik berikutnya, gadis itu membuang muka. “Gue memang sengaja nyium dia. Cuma sekedar ngasih pembuktian kalau gue memang cinta sama dia. Nggak ada niatan sama sekali untuk mempermainkan atau membalas dendam seperti yang ada didalam kepalanya itu.”
“Bullshit!” seru Krystal tiba-tiba, membuat semua orang yang berada didalam ruangan kini terfokus kepadanya. “Jangan percaya sama semua ucapannya, Mas Edward! Laki-laki itu b******k! Bagaimana bisa dia bilang dia cinta sama aku sedangkan dia sudah punya pacar?”
“Keluar!”
Suara dingin yang keluar dari mulut Elang membuat beberapa panitia yang berada didalam ruangan dan sedang menikmati pertikaian yang sebentar lagi akan terjadi diantara Krystal dan Rizky itu mengerutkan kening. Elang mendesis jengkel dan menggebrak meja yang berada di dekatnya hingga meja itu bergetar hebat. “Gue bilang keluar! Senang banget, sih, liatin orang berantem terus dijadiin bahan gosip?!”
Meskipun sudah dibentak sedemikian keras oleh Elang, namun, beberapa panitia itu masih bertahan di tempat mereka masing-masing. Sementara itu, Edward hanya berusaha keras agar senyumnya tidak berubah menjadi tawa akibat ulah Elang itu dan Krystal serta Rizky masih setia adu tatap dengan sengit dan tajam.
“Yeee!” seru Elang lagi. Gusar dan dongkol. Dia tidak suka kalau adiknya akan dijadikan bahan omongan nantinya karena masalah tidak jelas antara gadis itu dan si t***l Rizky. “Mau pada tetap disini? FINE! Jangan salahin gue, kalau sekarang, gue akan bikin lo semua buta dan tuli. Dengan begitu, gue akan tetap mengizinkan kalian semua tinggal disini.”
Oke, sepertinya para panitia itu cukup tahu diri dengan situasi yang tidak berpihak pada mereka sekarang. Mereka buru-buru membereskan barang-barang yang dianggap penting dan bergegas keluar dari dalam ruangan. Siapa, sih, yang nggak tahu dengan Elang Maladewa dan Krystal Violina? Raja dan ratu tawuran kelas kakap dari sekolah mereka. Kalau barusan Elang berkata akan membuat mereka buta dan tuli, maka, dalam lima menit ke depan, laki-laki itu akan merealisasikan ucapannya.
Setelah para panitia bebal itu keluar, Elang memberi isyarat pada Edward agar mereka berdua juga ikut keluar. Meskipun sayang setengah mati pada adiknya dan tidak rela adiknya hanya berduaan saja dengan Rizky, namun, Elang sadar bahwa masalah ini memang murni diantara keduanya. Masalah hati dan perasaan. Hanya mereka berdua yang bisa menyelesaikannya. Kalau ternyata adiknya itu memang mencintai Rizky seperti laki-laki itu mencintai adiknya, Elang bisa apa? Tapi, jangan harap Rizky bisa menjadi pacar adiknya atau bahkan suami adiknya, kalau laki-laki itu tidak bisa melewati berbagai macam persyaratan yang nantinya akan dia berikan.
“Loh? Kita juga keluar?” tanya Edward polos. Elang memutar kedua bola matanya dan berdecak.
“Iyalah, Mas... jangan jadi biang gosip, deh!” cibir Elang.
“Yaaah....” Edward berpura-pura memasang tampang kecewa, lalu, dia menghampiri Krystal dan mencium rambut gadis itu sekilas. “Mas pergi dulu, ya, Krys. Makasih atas undangannya. Mas lupa, Mas harus ke toko buku sebenarnya setelah ini. Mau nyari novel.”
Krystal mengangguk kaku sambil tetap menatap kedua mata Rizky yang mengulitinya. Ditentangnya tatapan mata itu dengan tajam. Edward yang melihat itu, hanya bisa tertawa keras didalam hatinya, lalu, dia mendekati Rizky. “Gue habisin lo kalau sampai bikin airmata ngalir di wajahnya.”
Ucapan Edward itu ditanggapi tidak terlalu serius oleh Rizky. Meskipun suara Edward tidak terdengar sangar, ketus, atau sebangsanya, namun, Rizky tahu dia memang tetap harus berhati-hati. Karena menurut penilaiannya, Edward dan Elang memang protektif sekali pada Krystal.
Elang membiarkan Edward keluar terlebih dahulu. Kemudian, laki-laki itu menatap Krystal dan berkata, “Kalau ada apa-apa, telepon Mas.” Setelah mengucapkan kalimat itu pada Krystal, Elang beralih menatap Rizky dan berkata, “Gue akan kejar lo sampai ke neraka sekalipun kalau sampai bikin dia nangis!”
Ruangan kini menjadi hening. Tidak ada siapapun disana selain Krystal dan Rizky. Keduanya masih bertahan dengan tatapan mereka masing-masing. Hening yang mendominasi itu seakan membuat detak jantung Krystal dan Rizky terdengar sampai keluar.
“Lo dengar sendiri barusan, kan?” tanya Rizky sambil mengambil langkah maju. Krystal mulai bersikap waspada. Gadis itu perlahan mengambil langkah mundur. Matanya tidak lepas menatap Rizky yang semakin gencar mendekatinya. “Gue udah diancam oleh Elang dan Mas Edward kalau gue bakalan sekarat sampai mungkin akan berujung dengan kematian seandainya elo gue bikin nangis.”
“Bagus itu,” balas Krystal dengan nada datar yang dibuat secuek mungkin. Padahal, didalam hatinya, Krystal merutuki jantungnya habis-habisan karena berdegup dengan liarnya. “Gue do’ain semoga itu menjadi kenyataan!”
“Jahat banget,” desah Rizky berlebihan sambil menggelengkan kepalanya. “Kenapa mundur terus? Elo takut sama gue?”
“Dunia pasti kiamat kalau sampai gue takut sama lo!” tukas Krystal.
“Terus, kenapa lo harus terus mundur begitu?”
“Supaya gue nggak perlu berdekatan sama lo karena lo terus maju mendekati gue!”
“Oh ya?”
Seringai di bibir Rizky itu membuat jantung Krystal semakin melompat-lompat tidak karuan. Aroma maskulin yang menguar dari tubuh Rizky membuat otak Krystal mendadak kosong. Ini benar-benar bencana!
Sialnya, ternyata sekolahnya ini berpihak pada Rizky. Lihat saja, sekarang. Sebuah tembok yang kokoh kini berdiri tepat di belakang tubuhnya. Membuat usaha gadis itu untuk tetap mundur menjadi tertutup. Terlebih lagi saat dilihatnya Rizky sudah semakin dekat dengannya. Langsung saja, Krystal berinisiatif untuk berlari ke arah samping agar bisa kabur dari Rizky. Sayangnya, Rizky sudah bisa menduga niat gadis itu dan sebagai gantinya, Rizky mengulurkan kedua tangannya dengan cepat dan mengurung gadis itu diantara dirinya dan tembok dengan rentangan kedua tangannya.
Sepertinya, akal sehat Rizky mulai terganggu dengan aroma tubuh Krystal yang berada tepat di depannya. Jarak keduanya sangat dekat, hingga ujung sepatunya bersentuhan dengan ujung sepatu milik Krystal. Rizky juga bisa merasakan helaan napas Krysta di wajahnya yang terlihat gugup. Dia menatap kedua manik cokelat Krystal yang ternyata masih sanggup dibalas oleh gadis itu.
“Kenapa masih nggak percaya kalau gue benar-benar udah jatuh cinta sama lo? Hmm?” tanya Rizky dengan suara pelan. Suara yang mungkin akan terdengar sangat seksi dan menggoda di telinga gadis-gadis lainnya.
“Karena mulut lo memang nggak bisa dipercaya!” sentak Krystal dengan gugup. “Lo seenaknya bilang lo cinta sama gue, tapi kenyataannya, lo jalan sama cewek lain! Lo nggak kasihan sama cewek lo? Gimana perasaan dia kalau dia tau cowoknya punya perasaan sama cewek lain?”
“Lo cemburu?”
“What?!” seru Krystal gusar. “Lo benar-benar udah nggak waras!”
“Memang,” balas Rizky santai. Laki-laki itu semakin menutup jarak diantara dirinya dan gadis itu. Sebelah tangannya mulai menari di pipi Krystal, membuat gadis itu menahan napas dan bisa merasakan desiran aneh pada hatinya. Seringai Rizky masih terlihat jelas di bibir laki-laki itu. Astaga! Bagaimana, ini? “Dan itu semua karena lo....”
“Jangan asal ngomon, Ky,” cetus Krystal dengan nada terbata. “Kalau lo memang sudah gila dari sananya, jangan limpahin—“
“Dia bukan cewek gue,” potong Rizky langsung.
DEG!
Krystal hanya mampu terdiam dan menatap Rizky. Suaranya seakan tercekat di tenggorokan. Terlebih ketika dia melihat senyuman laki-laki itu. Lututnya terasa lemas.
“Dia bukan cewek gue,” ulang Rizky lagi. Nada suaranya terdengar tegas. “Dia hanya sepupu gue. Namanya Inggit, tapi gue biasa manggil dia injit-injit semut.”
Gadis itu semakin tidak bisa bersuara. Jadi, cewek yang selalu terlihat bersama Rizky itu adalah saudara sepupu laki-laki itu?
“Sekarang, lo udah tau semuanya,” ucap Rizky pelan. “Apa... lo masih belum percaya kalau gue memang cinta sama lo?”
Entah apa yang harus dia katakan, Krystal sendiri tidak tahu. Kenyataan itu memang membuatnya sedikit lega, tetapi, dia tidak tahu harus bagaimana dengan perasaan Rizky padanya itu. Apakah... apakah memang benar-benar bisa, apabila orang yang tadinya adalah musuhnya, berubah menjadi... pacarnya?
“Diam berarti iya,” ucap Rizky tiba-tiba.
Krystal mengerjapkan matanya. Dia baru saja ingin memprotes, bahwa dia masih harus memikirkan terlebih dahulu mengenai ini semua, ketika tiba-tiba saja, Rizky menangkup wajahnya dengan kedua tangan laki-laki itu dan mendekatkan wajahnya serta mendaratkan bibirnya pada bibir Krystal.
Sensasi yang diciptakan Rizky pada ciumannya membuat Krystal seperti terbang melayang ke angkasa. Ribuan kupu-kupu seperti terbang dan menari didalam perutnya. Lututnya yang memang sudah lemas, semaki terasa lemas. Tanpa sadar, Krystal memegang kedua tangan Rizky yang menangkup wajahnya.
Ketika ciuman itu akhirnya berakhir, Krystal menundukkan wajahnya karena malu. Kedua tangan Rizky masih setia menangkup wajah mulus Krystal. Laki-laki itu tersenyum geli dan mendesah panjang. Merasa lega atas apa yang baru saja terjadi. Dia sebenarnya belum tahu apa jawaban Krystal, tetapi, ketika tadi dia mencium bibir gadis itu dan gadis itu tidak menolak, Rizky sudah mengambil kesimpulan bahwa Krystal juga mencintainya dan gadis itu menerima cintanya.
“Makasih,” ucap Rizky sambil meraih tubuh Krystal dan memeluknya. “Makasih udah mau ngasih gue kesempatan.”
Didalam pelukan Rizky, Krystal mengangguk pelan. Gadis itu tersenyum tipis dan menghembuskan napas. Rasanya sangat aman dan nyaman berada didalam pelukan Rizky. Kejadian tadi... tanpa sadar, pipi Krystal merona merah. Apakah kejadian tadi artinya sudah membuat mereka resmi... berpacaran?
“Mm... gue sama Azka sebenarnya nggak pacaran...,” ucap Krystal pelan.
“Gue tau,” balas Rizky santai. Kening Krystal kontan mengerut ketika mendengar hal itu. “Gue tau kalau lo cuma bersandiwara waktu itu. Karena lo cemburu saat liat gue dan Inggit, jadi, lo memutuskan untuk mengiyakan ucapan Azka saat dia bilang lo adalah ceweknya.”
“Ih!” Krystal berusaha melepaskan diri dari pelukan erat Rizky, namun laki-laki itu tidak membiarkan. Rizky malah tertawa renyah dan semakin mempererat pelukannya. “Kepedean banget, sih, jadi orang?”
“Tapi benar, kan?” tanya Rizky lagi dengan nada geli. Mau tidak mau, Krystal ikut tertawa.
~~~
Kumpulan novel-novel pada rak buku di depannya membuat Inggit bingung. Dia sangat suka membaca, terlebih membaca novel. Novel apapun itu, pasti akan dia lahap habis kalau sudah menjadi miliknya. Tadinya, Rizky mengajaknya untuk ikut ke acara SMA Bianca, tempat gadis yang disukai oleh Rizky, Krystal, bersekolah. Inggit juga sebenarnya ingin sekali ikut, tetapi, gadis itu berpikir lagi. Dia takut kehadirannya disana nantinya hanya akan membuat Krystal semakin salah paham. Lagipula, kalau dipikir-pikir, dia juga bingung apa yang harus dia lakukan setelah dia tiba disana. Dia sama sekali tidak mengenal satu orangpun di sekolah itu. Jadi, dia pasti hanya akan menjadi orang asing yang akan mati kebosanan.
Setelah melihat-lihat judul novel yang ternyata menarik semua, pilihannya jatuh pada sebuah novel dengan cover buku berwarna ungu. Judulnya Love Me Love Me Not, karya dari Indah Nur Wakhid. Kalau ditilik dari judul novelnya, sepertinya novel itu sangat menarik. Inggit tersenyum lebar dan mengulurkan tangan kanannya, berniat mengambil buku yang tinggal satu itu dari rak buku. Namun, saat sudah memegang buku tersebut, gadis itu mengerutkan keningnya karena sebuah tangan juga terlihat memegang buku itu, lebih tepatnya memegang tangannya. Otomatis, Inggit menoleh dan menyipitkan mata saat melihat seorang laki-laki bertubuh tinggi tegap dan atletis berdiri tepat di sampingnya dan juga menatap ke arahnya.
“Maaf,” ucap laki-laki itu dengan nada dan senyum ramah. Dia langsung menarik tangannya yang terlanjur memegang tangan Inggit. Meskipun senyuman laki-laki itu ramah, tapi, Inggit tetap memasang sikap waspada. Walau bagaimanapun, laki-laki itu adalah orang asing.
Inggit menatap laki-laki itu dari ujung rambut sampai ujung kaki. Wajahnya tampan, senyuman ramah, kedua alis tebal yang menaungi matanya yang terlihat teduh dan hangat, hidung mancung, serta rahang yang keras. Ketika perhatiannya kembali ke wajah laki-laki itu, Inggit bisa melihat alis laki-laki itu terangkat satu, kedua tangan yang dilipat di depan d**a dan ada senyum tertahan disana.
“Lo lagi meneliti gue?” tanya laki-laki itu. Terselip nada geli dalam suaranya. “Tenang aja, gue bukan orang jahat, penguntit, penculik apalagi pemerkosa.”
Inggit mencibir dan mengangkat bahu tak acuh. Gadis itu meraih novel bercover ungu itu dan mengacungkannya ke wajah laki-laki itu. “Boleh buat gue?”
“Sure,” balas laki-laki itu masih tetap tersenyum. “Gue selalu mengalah sama cewek.”
“Kalau lo lagi mencoba untuk menarik simpati gue atau merayu gue dengan gombalan lo barusan, maaf-maaf saja, gue sama sekali nggak terpengaruh.” Inggit berjalan melewati laki-laki itu lalu menepuk pundaknya beberapa kali. “Gue bukan cewek gampangan.”
Setelah berkata demikian, Inggit melanjutkan langkahnya ke arah kasih. Gadis itu sempat berbalik sejenak, kembali mengacungkan buku di tangannya dan berkata, “Terima kasih,” sebelum akhirnya, gadis itu kembali melanjutkan langkahnya.
Dari tempatnya berdiri, Edward menyaksikan itu semua dengan tawa kecil. Laki-laki itu menarik napas panjang dan memiringkan kepalanya seraya menatap tubuh mungil Inggit yang sudah mengantri dengan para pengunjung lainnya. Kemudian, Edward bisa melihat Inggit seperti sedang mencari-cari sesuatu dari dalam tas selempangnya—yang kemungkinan besar adalah dompet—dengan wajah cemas. Orang yang mengantri di belakangnya sudah tidak sabar dan terus menerus menyuruh Inggit untuk melakukan transaksi pembayaran dengan cepat.
Inggit yang menyadari bahwa dia lupa membawa dompetnya, mengutuk dalam hati. Gadis itu semakin kalut saat beberapa pengunjung di belakangnya sudah mulai berseru tidak sabar. Sementara Mbak-Mbak penjaga kasir di depannya pun melakukan hal yang sama. Wajahnya tampak tidak sabar dan sangat jutek. Membuat Inggit ingin sekali melemparkan buku yang ingin dibelinya ke wajah penjaga kasir tersebut. Aah, padahal, dia ingin sekali membeli novel itu.
Mendadak, sebuah tangan terulur dan menyerahkan uang lima puluh ribu ke arah penjaga kasir. Inggit mendongak dan tertegun saat melihat laki-laki yang tadi juga ingin membeli novel tersebut sudah berada di sampingnya dan kembali tersenyum ke arahnya.
“Eh, apaan nih?” tanya Inggit bingung.
“Sepertinya, lo lupa membawa dompet,” jelas Edward sambil mengangkat bahu tak acuh. “Biar gue yang bayar.”
“Loh, nggak usah!” tolak Inggit agak ketus. “Gue bisa beli pakai uang gue sendiri.”
“Uangnya?”
Detik itu juga, Inggit terdiam. Sial! Ini semua gara-gara dompet k*****t itu! Melihat laki-laki itu nyengir kuda ke arahnya, Inggit jadi menunduk karena malu. Mana dilihatin banyak pengunjung, lagi!
“Udah, santai aja,” ucap Edward dengan nada geli. “Anggap aja hadiah dari pertemuan awal kita yang unik.” Edward mengambil kembalian yang disodorkan oleh si penjaga kasir seraya berterima kasih. Kemudian, laki-laki menyerahkan buku novel yang sudah diberi plastik oleh penjaga kasir kepada Inggit. Gadis itu menerimanya dengan bibir yang mengerucut. Sampai kemudian, gadis itu tertegun saat tangan besar Edward mendarat di kepalanya dan mengacak rambutnya dengan gemas.
“Gue Edward. Sampai ketemu lagi dilain kesempatan.”
Selesai berkata demikian, Edward pergi meninggalkan Inggit yang masih terdiam di tempatnya. Gadis itu mendongak dan melihat punggung kokoh itu berjalan menjauh dan keluar dari toko buku. Inggit menghela napas panjang dan mendesis jengkel.
“Great, Inggit, great!” seru Inggit pelan pada dirinya sendiri. “Memalukan sekali.”
~~~
Edward berjalan menuju pelataran parkir. Laki-laki itu sudah membeli semua keperluan yang dibutuhkannya. Kecuali buku. Karena, buku yang dicarinya tidak ada, sedangkan novel yang ingin dibelinya sudah lebih dulu diambil orang. Mengingat kejadian di toko buku tadi membuat Edward menyunggingkan senyum gelinya. Gadis berambut cokelat tadi benar-benar lucu dan menarik.
Saat sudah menemukan mobiln escudo nya dan meletakkan semua barang belanjaannya di kursi belakang, Edward melihat seseorang sedang berjalan menuju ke arah mobil Jazz pink yang diparkir di seberang jalan. Perhatian orang itu sepertinya tercurah semua ke ponsel yang sedang digenggamnya. Tanpa tahu, bahwa sebuah motor Mio berkecepatan tinggi sedang melaju ke arahnya.
“s**t!” umpat Edward. Laki-laki itu langsung menutup pintu belakang mobilnya dengan kencang dan berlari ke arah orang itu seperti kesetanan. Orang itu adalah gadis berambut cokelat yang tadi bertemu dengannya di toko buku! Demi Tuhan, apakah gadis itu tidak mendengar suara deru motor Mio tersebut?!
Inggit, yang sedang asyik membalas SMS Rizky sambil tersenyum cerah karena tahu bahwa sepupunya itu sudah resmi jadian dengan Krystal, menoleh saat mendengar suara klakson yang keras dan memekakkan telinganya. Gadis itu terbelalak dan menjerit keras, sama sekali tidak bisa menggerakkan kedua kakinya untuk berlari dan menghindar dari motor tersebut. Sampai kemudian, Inggit merasa tubuhnya diterjang dengan keras dan berguling ke arah samping. Tidak lama kemudian, Inggit mendengar suara makian dan gadis itu perlahan mulai membuka kedua matanya yang tadi sempat dia pejamkan.
“Lo nggak apa-apa?”
Suara bernada khawatir itu membuat Inggit mendongak. Dia terkejut saat melihat laki-laki yang tadi membayarkan novel yang ingin dibelinya, berada tepat di atas tubuhnya dan menatapnya dengan cemas.
“Edward...?” Inggit dengan ragu mengucap nama laki-laki itu, karena, dia memang ingat bahwa laki-laki itu sempat mengenalkan diri saat di toko buku tadi.
Edward tersenyum dan menghela napas lega. Laki-laki itu kemudian merapihkan rambut Inggit yang berantakan tanpa tahu bahwa Inggit kini sedang menahan napas karena tindakannya tersebut.
“Benar-benar nyaris,” kata Edward seraya menyelipkan rambut Inggit ke belakang telinga gadis itu. “Gue khawatir banget saat liat lo hampir ketabrak motor tadi. Ceroboh!”
Dan Inggit tidak tahu mengapa ucapan Edward itu sangat berpengaruh pada kekuatan mental dan jiwanya, sebab, saat ini, Inggit bisa merasakan debaran yang begitu hebat dalam jantungnya. Terlebih saat dia menatap kedua mata Edward yang begitu teduh dan hangat serta senyum lembut laki-laki itu.
~~~
Pukul sepuluh tepat, Azka tiba di lapangan Rajawali bersama mobil sedannya. Dia bisa melihat mobil Vios Ozzy sudah terparkir rapih disana. Azka mematikan mesin mobilnya dan berniat turun, saat dia merasa lengannya ditahan. Laki-laki itu menoleh dan mendapati Celsi sedang menatap Ozzy dengan wajah pucat pasi.
Tadi pagi, Azka dan Celsi memang sudah bertukar nomor ponsel. Laki-laki itu mengantar Celsi sampai ke rumah dan berkata akan menjemput gadis itu sekitar jam sembilan malam agar mereka berdua bisa datang bersama ke lapangan ini.
“Kenapa?” tanya Azka tenang. Dia membatalkan niatnya untuk turun dan menatap Celsi. Gadis itu tidak menoleh sama sekali. Wajahnya tetap mengarah ke lapangan, menatap Ozzy yang sedang duduk membelakangi mereka.
“Kalau....” Celsi menelan ludah susah payah. “Kalau lo kalah, gimana...?” tanya gadis itu terbata.
Azka menghembuskan napas pelan, mengerti dengan ketakutan yang saat ini pastinya sudah menguasai diri gadis itu. Perlahan, tangan Azka terulur, menyentuh dagu Celsi dan membawa wajah gadis itu untuk menghadap ke arahnya. Azka bisa melihat kedua mata Celsi yang berair. Gadis itu sedang berusaha keras untuk menahan tangisnya agar tidak tumpah keluar.
“Gue nggak akan ngebiarin lo disentuh sama dia, paham?”
Untuk sesaat, tidak ada yang diucapkan oleh Celsi. Gadis itu hanya menatap mata Azka, seperti Azka yang menatap kedua matanya. Ada kesungguhan di kedua mata Azka dan Celsi seakan tersihir untuk mempercayai semua perkataan laki-laki yang bahkan baru dikenalnya kurang dari dua puluh empat jam itu.
“Ayo, kita turun,” ajak Azka lembut. Namun, lagi-lagi, Celsi menahan lengan laki-laki itu. Azka hanya tersenyum dan tiba-tiba saja, laki-laki itu meraih tubuh Celsi dan memeluk gadis itu dengan erat. Berusaha memberitahu gadis itu bahwa semua akan baik-baik saja. Celsi sendiri tidak menghindar atau menolak, karena jujur, gadis itu juga membutuhkan kekuatan saat ini. Pikiran buruknya seakan sudah menutup semua akal sehatnya.
“Gue akan melindungi lo,” janji Azka dengan tegas. Karena, memang itulah yang akan dilakukannya saat ini. Melindungi Celsi dari Ozzy yang berniat merampas hal yang sangat penting bagi gadis itu. Meskipun Azka baru mengenal Celsi kurang dari dua puluh empat jam, namun, Azka bukanlah orang yang akan tutup mata begitu saja saat mengetahui bahwa seseorang yang sedang berniat jahat sedang mengincar orang yang meminta pertolongan padanya.
Setelah yakin bahwa Celsi sudah lebih tenang, Azka menguraikan pelukannya dan mengajak gadis itu untuk turun. Laki-laki itu menggenggam tangan Celsi dengan erat dan menghampiri Ozzy.
Mendengar suara langkah kaki yang mendekat, Ozzy menoleh dan tersenyum dingin ke arah Azka dan Celsi. Laki-laki itu bangkit dari duduknya dan menelanjangi Celsi dengan tatapan nakalnya. Dia bersiul nyaring, membuat Azka mati-matian menahan diri agar tidak langsung membunuh Ozzy detik ini juga.
“Malam yang dingin ini, pasti akan jadi hangat sebentar lagi,” ucap Ozzy menyeringai.
“Siap?” tantang Azka. Ozzy mengangkat satu alisnya dan mengisyaratkan Azka untuk maju mendekat. Azka menoleh sebentar ke arah Celsi dan mengangguk. Gadis itu kemudian perlahan menjauh dari Azka dan berdiri di sudut lapangan.
Azka dan Ozzy tampak saling memandang fisik masing-masing. Kedunya memasang kuda-kuda dan tahu-tahu saja perkelahian itu sudah dimulai. Ozzy yang memulai serangan. Laki-laki itu melayangkan kepalan tangannya ke arah Azka dan Azka dengan lihai menghindar. Ozzy kembali melakukan serangan seperti tadi dan lagi-lagi Azka menghindar.
“Hmm... not bad...,” ucap Ozzy sambil membuang ludah di depan Azka. Azka menyeringai dan mengangkat satu alisnya. Ya iyalah not bad, orang gue juara satu karate pas SMA dulu, batin Azka puas.
Karena terlalu lengah, Azka tidak menyadari bahwa Ozzy sudah menyerang lagi. Kali ini, Azka tidak bisa menghindar karena kepalan tangan Ozzy sudah mendarat pada ulu hatinya, lalu Ozzy kembali mendaratkan kepalan tangannya ke wajah Azka, membuat Azka tersungkur. Melihat itu, Celsi langsung membekap mulutnya dengan kedua tangan.
Azka mendesis dan mengusap darah yang keluar dari mulutnya. Sejenak, dia menatap ke arah Celsi dan tersenyum. Memberitahu Celsi kalau gadis itu akan baik-baik saja dan menyuruh gadis itu untuk percaya padanya.
Dan Celsi memang percaya. Dia percaya sepenuhnya pada laki-laki yang sudah berbaik hati mau menolongnya itu. Padahal, Azka sama sekali tidak mengenalnya sebelum ini.
“Segitu aja?” tanya Azka meremehkand dan mulai berdiri. “Giliran gue?”
Tanpa memberi kesempatan bagi Ozzy untuk berbicara, Azka sudah meninju wajah laki-laki itu, kemudian, dia menendang perut Ozzy. Ozzy terdorong mundur beberapa langkah sambil mengumpat dan mengusap darah yang keluar dari hidung dan mulutnya. Dengan geram, Ozzy kembali maju dan berniat menghajar Azka. Azka berkelit dan memberi tendangan berputar bagi Ozzy. Laki-laki itu jatuh tersungkur dan terbatuk-batuk mengeluarkan darah.
“Sesuai perjanjian,” ucap Azka dingin saat melihat Ozzy sepertinya sudah menyerah. “Dia jadi milik gue.”
Azka membuang ludah dan membiarkan Ozzy yang mengerang kesakitan. Laki-laki itu memutar tubuhnya dan berniat menghampiri Celsi. Namun, tiba-tiba saja, keseimbangan tubuh Azka goyah. Laki-laki itu mengerang keras dan jatuh tertelungkup di atas lapangan. Rupanya, Ozzy memukul tengkuk laki-laki itu dengan keras.
Ozzy tersenyum puas ketika melihat Azka tidak bergerak lagi. Matanya kini beralih ke Celsi yang sudah gemetar karena ketakutan. Celsi berniat untuk kabur, namun Ozzy telah lebih dulu berlari ke arahnya dan mencekal lengannya. Dia membekap mulut Celsi dengan sebelah tangan dan sebelah tangannya lagi digunakan untuk menahan tubuh Celsi yang meronta hebat sekaligus untuk mengambil sebuah sapu tangan dari dalam saku celananya. Kemudian, sapu tangan itu dia jejalkan kedalam mulut Celsi dan Ozzy langsung menjatuhkan tubuh Celsi ke atas aspal lapangan begitu saja.
Suasana yang sepi membuat Ozzy merasa tidak akan ada satu orangpun yang akan melihat perbuatannya ini. Dia menahan tubuh Celsi dengan kedua tangannya. Tidak dia pedulikan airmata gadis itu yang sudah membanjiri wajah cantiknya. Yang dia butuhkan saat ini adalah tubuh Celsi.
Ozzy menyeringai jahat dan membasahi bibirnya dengan lidahnya sendiri. Kemudian, laki-laki itu mulai menciumi wajah Celsi. Celsi berontak hebat namun kekuatannya tidak cukup besar untuk menandingi kekuatan Ozzy yang sedang menindih tubuhnya. Dia hanya bisa menangis keras, dengan mulut yang tersumpal sapu tangan, saat mulut Ozzy menyusuri lehernya. Juga saat sebelah tangannya mulai menyentuh tubuhnya.
Saat sudah pasrah dengan keadaan, Celsi terbelalak ketika melihat wajah terbelalak Ozzy. Kemudian, laki-laki itu jatuh tidak sadarkan diri ke atas tubuhnya. Lalu, tubuh Ozzy perlahan berguling ke samping dan Celsi bisa melihat sosok Azka sedang berdiri dengan napas terengah dan senyum mengejek saat melihat Ozzy yang sudah pingsan.
“Pelajaran pertama,” kata Azka dengan nada mencemooh. “Jangan pernah lengah dengan keadaan!”
Celsi bisa melihat Azka menjatuhkan kayu yang dipegangnya dan langsung menarik tangan Celsi untuk bangkit. Begitu sapu tangan yang tersumpal di mulutnya terlepas, Celsi langsung terisak hebat dan Azka tanpa ragu langsung membawa gadis itu ke pelukannya.
“Udah gue bilang kalau gue akan melindungi lo, kan?” tanya Azka lembut sambil mengeratkan pelukannya pada tubuh Celsi. Laki-laki itu mengelus rambut Celsi dengan lembut. “Ayo... gue antar pulang.”
~~~
Hari ini hari Minggu. Andi berencana untuk mencari makan di luar karena dia bosan dengan makanan yang disajikan di rumahnya. Laki-laki itu kemudian masuk kedalam mobil Jeep kebanggaannya dan bermaksud untuk pergi ke daerah taman kota karena biasanya disana terjejer rapih makanan-makanan lezat. Ketika sampai disana, matanya terpaku pada satu titik. Satu titik yang sangat membuatnya muak dan marah!
Dendam itu masih bergelora didalam dadanya. Sungguh, dia tidak bisa melupakannya begitu saja. Dia yang selama ini berteman dengan Rizky. Dia yang selama ini selalu bertempur di kancah tawuran bersama-sama dengan Rizky. Dia yang tahu bagaimana sifat Rizky. Mengenali semua tipu daya, ulah dan rencana-rencana untuk menyerang lawan yang bahkan disimpan rapat-rapat oleh Rizky didalam otaknya. Dia yang selama tiga tahun ini selalu melakukan semua hal dengan Rizky.
Tapi, Rizky dengan santainya menelantarkannya begitu saja demi seorang gadis yang bahkan berasal dari pihak lawan. Rizky bahkan bisa mengancamnya saat itu, ketika laki-laki itu mengetahui tindakannya saat mencoba menyelakai gadis itu.
Ini semua karena Krystal Violina! Ini semua karena KRYSTAL VIOLINA!
Kini, dari dalam mobil Jeep-nya, Andi bisa melihat Rizky dan Krystal sedang duduk bersama di sebuah taman kota. Keduanya tampak sedang tertawa-tawa, bersama dengan seorang anak kecil yang berusia sekitar tujuh tahunan. Seorang gadis kecil yang sangat lucu, imut dan menggemaskan. Namun, bukan gadis kecil itu yang menjadi sasarannya.
Dia! Yang menjadi sasarannya adalah Krystal Violina!
Tanpa sadar, Andi mencengkram kemudi mobilnya dengan kuat. Buku-buku tangannya bahkan sampai memutih karenanya. Matanya tidak lepas menatap sosok Krystal yang saat ini sedang tertawa lalu berusaha mengenyahkan tangan Rizky yang menjawil hidung mancungnya. Tatapan mata Andi begitu tajam, dingin dan membunuh. Dia tidak akan pernah tenang sebelum bisa membalas ancaman Rizky padanya saat itu. Dia akan membalas Rizky melalui... Krystal.
Darahnya mendidih ketika melihat Krystal tersenyum ceria. Dia akan menghapus senyum itu dari wajah Krystal. Digantikan dengan teriakan yang penuh dengan ketakutan. Kedua mata indah gadis itu akan dia gantikan dengan tatapan yang penuh dengan mimpi buruk. Wajah cantik itu akan dia ubah menjadi wajah yang kacau, frustasi, putus asa hingga mengharapkan malaikat maut segera datang untuk menjemputnya.
Aah... bukankah balas dendam itu sangat menarik? Balas dendam itu sangat mengasyikan. Andi bahkan sudah tidak sabar lagi dengan rencana yang kini berada didalam otaknya. Rencana yang pastinya akan sangat seru dan menegangkan. Rencana yang akang mengubah hidup Krystal selamanya, juga akan menghancurkan masa depan gadis itu.
Masa depan? Andi tertawa keras ketika memikirkan masa depan Krystal nantinya. Yakin, akan ada masa depan untuk gadis itu setelah nanti semua rencana balas dendamnya akan terlaksana? Bahkan, Andi tidak yakin bahwa Rizky masih mau menatap gadis itu.
Bukan balas dendam dengan menggunakan cara kekerasan. Cukup dengan balas dendam yang sifatnya soft, halus, lembut, tapi sanggup menimbulkan kehancuran dimana-mana.
Andi kini memperhatikan Rizky mengulurkan tangan kanannya dan menunggu Krystal menyambut uluran tangan itu. Seperti yang laki-laki itu duga, tanpa menunggu waktu lama, Krystal langsung menyambut uluran tangan Rizky. Keduanya kini saling tatap sambil tersenyum. Andi memang tidak mendengar kabar bahwa Rizky dan Krystal sudah berpacaran, tapi, Andi sangat yakin, ada sesuatu diantara mereka berdua yang sifatnya sangat khusus. Seperti dugaan Andi sebelumnya, Rizky sepertinya memang menyukai Krystal. Dan gadis itupun sepertinya juga memiliki perasaan yang sama. Atau mungkin... kini keduanya sudah resmi berpacaran?
Kini, Rizky, Krystal dan gadis kecil itu sudah naik ke atas motor Rizky. Ketiganya mulai meninggalkan taman kota. Sama sekali tidak sadar bahwa sedari tadi Andi tengah mengawasi gerak-gerik mereka.
“Lo udah salah memilih teman bermain, Krystal Violina,” ucap Andi dengan nada rendah dan berbahaya. Senyuman sinis dan dingin tercetak di bibirnya. Hawa dendam dan amarah terasa begitu jelas saat ini. Matanya tetap menatap ke arah motor Rizky, hingga kendaraan itu menghilang di tikungan jalan. “Mungkin, ini memang bukan sepenuhnya salah lo. Tapi, gara-gara elo, Rizky jadi berubah. Dia mulai melupakan gue, temannya sendiri dan memilih untuk bergaul dengan elo, musuh bebuyutannya!”
Tawa Andi terdengar membahana didalam mobil. Laki-laki itu kemudian menggebrak dashboard mobilnya. Tawa itu telah berganti dengan wajah yang menakutkan. Seperti algojo yang sudah siap menghukum mati seseorang.
“Gue... akan... pastiin... elo... membayar... semuanya... Krystal Violina...,” ucap Andi lagi. Dengan penekanan kata dalam setiap kalimat yang keluar dari bibirnya. “Gue... akan... bikin... elo... menyesal... sudah... bermain... dengan... gue... dan gue... akan pastiin elo akan memohon kedatangan malaikat maut untuk segera menjemput elo! Elo akan sangat menderita, putus asa dan frustasi dengan pembalasan yang akan gue siapkan, khusus untuk lo, Krystal sayang...!” desis Andi geram.
~~~
Panas matahari begitu terik. Krystal berkali-kali menyeka keringat yang membasahi pelipisnya. Hari Senin adalah hari yang paling dibencinya karena dia harus bertemu dengan mata pelajaran yang tidak disukainya. Geografi.
Elang dan Edward sudah tahu mengenai resminya hubungan antara dirinya dan Rizky. Saat itu, Elang hanya mencibir sementara Edward memberi selamat pada Krystal dan meminta traktiran dari gadis itu. Krystal tadinya berniat akan mentraktik Edward hari Minggu kemarin saat Rizky bertandang ke rumahnya, namun, niat itu terpaksa dia batalkan karena Bundanya meminta tolong kepadanya dan Rizky untuk mengajak Ruby, anak ketiga dari sahabat Bundanya, Azizah, yang masih berusia tujuh tahun dan bertubuh mungil serta menggemaskan ke taman kota.
Krystal sendiri merasa hubungan Elang dan Rizky masih belum bisa disebut berdamai karena gadis itu bisa melihat tampang jengkel kakak kembarnya dengan jelas. Kemarin saja, Elang sempat mengancam Rizky, membuat Krystal terbahak ketika mendengarnya.
“Awas aja kalau lo sampai berani ngerebut adik gue dari gue,” ancam Elang saat itu, “gue pites kepala lo!”
Krystal menggerutu karena Rizky belum juga muncul di gerbang sekolahnya. Laki-laki itu tadi mengiriminya SMS dan berkata akan menjemput dirinya sepulang sekolah karena ingin mengajak gadis itu ke suatu tempat. Namun, sampai sekarang, bekas musuh yang kini menjadi pacarnya itu belum juga kelihatan batang hidungnya.
“Kakak....”
Suara bernada pelan itu membuat Krystal menoleh. Gadis itu mendapati sosok gadis berusia sekitar tiga belas tahun dan masih mengenakan seragam putih-biru berdiri tepat di sampingnya. Gadis SMP itu tersenyum ramah.
“Ya?” sahut Krystal dengan senyum yang tak kalah ramah.
“Kakak bisa bantu aku?” tanya gadis itu. “Sepedaku berada di ujung gang sana, sepertinya rusak dan aku tidak terlalu mengerti apa yang rusak itu.”
Krystal mengerutkan kening dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
“Mmm... aku juga kurang paham soal sepeda.”
“Mungkin, Kakak bisa melihatnya terlebih dahulu?” tanya gadis itu lagi dengan wajah memohon. “Tolong?”
Krystal menimbang-nimbang. Dia memang tidak begitu mengerti tentang sepeda, tetapi, tak ada salahnya, kan, untuk mencoba? Akhirnya, Krystal mengangguk dan mengikuti gadis itu ke ujung gang yang tak jauh dari sekolahnya. Nanti, dia akan mengirim SMS untuk Rizky agar laki-laki itu tahu tentang keberadaannya.
Setelah berbelok ke arah gang yang dimaksud, Krystal merasa semuanya buram dan tiba-tiba gelap menyelimutinya. Gadis berseragam SMP itu menoleh dan tersenyum saat sebuah sosok yang kini sudah menahan tubuh Krystal memberinya beberapa lembar uang. Dengan langkah riang, gadis SMP itu pergi meninggalkan Krystal yang kini tak sadarkan diri bersama dengan sosok itu.
~~~
Gadis itu pasti marah.
Rizky memarkir motornya tepat di depan gerbang SMA Bianca. Dia turun dari atas motor dan mengambil ponselnya, berniat mengirim SMS untuk Krystal sekedar memberitahu bahwa dirinya sudah tiba di depan gerbang. SMS itu terkirim tak lama kemudian. Dengan gelisah, Rizky mondar-mandir di depan gerbang, menunggu kemunculan gadis itu.
Dia memang sudah terlambat hampir dua puluh menit. Itu karena Putra, salah satu temannya, menahan langkahnya dan memohon padanya agar Rizky mengajarkan salah satu rumus tentang pendapatan nasional kepada laki-laki itu. Tadinya, Rizky menyuruh Putra untuk meminta tolong kepada Andi saja, karena setahu Rizky, Andi lebih hebat dalam urusan pelajaran Ekonomi. Namun, Putra berkata bahwa Andi sudah pulang lebih dulu, kira-kira dua puluh menit sebelum bel pulang sekolah berbunyi, karena ada saudaranya yang datang dari luar kota. Dengan terpaksa, Rizky akhirnya mengajarkan rumus tersebut kepada Putra.
Sepuluh menit Rizky menunggu, namun sosok Krystal tidak juga muncul. Dia berniat untuk menelepon gadis itu, ketika sebuah klakson mobil terdengar tak jauh di belakangnya. Rizky menoleh dan mengerutkan kening saat melihat mobil Jeep Andi berhenti tak jauh dari motornya.
“Andi?” panggil Rizky seraya mendekat ketika Andi sudah turun dari mobilnya. Andi tersenyum lebar dan meninju bahu Rizky pelan.
“Ky, lo ngapain disini?” tanya Andi ramah.
“Jemput Krystal,” jawab Rizky sambil mengerutkan kening. Merasa janggal dengan kemunculan Andi saat ini. “Lo sendiri ngapain disini? Kata Putra, lo pulang sebelum bel karena saudara lo yang dari luar kota datang?”
“Iya, mereka datang dan mau ketemu sama gue. Terus, mereka minta dibeliin minuman yang enak gitu. Gue ingat disekitar sini ada kedai es pisang ijo yang terkenal enak, jadi, sekarang gue kesini.” Andi memainkan dua alisnya lalu menatap arloji yang melingkar di tangan kirinya. “Sorry, Ky... gue harus pulang. Mereka pasti udah ngomel-ngomel nggak jelas karena gue lama bawain mereka minuman yang enak.”
Rizky hanya tersenyum dan mengangguk. Laki-laki itu membiarkan Andi pergi menuju mobilnya dan mulai menyalakan mesin mobil. Ada rasa khawatir, cemas dan tidak rela saat mobil Jeep Andi perlahan-lahan mulai beranjak pergi. Seperti ada sesuatu yang penting yang membuat hati Rizky menjadi tidak enak, ketika mobil Jeep Andi itu mulai menghilang di tikungan jalan. Rizky sama sekali tidak sadar, bahwa di kursi penumpang, tepatnya di sebelah Andi yang menyetir, terdapat sosok Krystal yang tidak sadarkan diri dengan mulut yang di lakban dan kedua tangan terikat dengan tali.
“Kayak ada yang hilang,” ucap Rizky pelan. Matanya masih tidak lepas menatap tempat dimana mobil Jeep Andi baru saja menghilang. “Kenapa perasaan gue jadi nggak enak, ya?”
~~~