#7-Just So You Know

5387 Words
Harus Azka akui, tindakan Rizky saat ini bisa dikategorikan sebagai tindakan yang berani. Meskipun tadi, Azka sempat berkata pada Rizky bahwa Krystal adalah pacarnya—dan gadis itu sama sekali tidak membantah, melainkan mengikuti alur sandiwara yang sudah dia buat—Rizky ternyata tetap menyatakan rasa cintanya pada gadis itu. Sudah sejak awal, saat dia pertama kali bertemu dengan Rizky siang itu, Azka tahu bahwa Rizky memang menyukai atau lebih tepatnya lagi mencintai Krystal. Hanya saja, mungkin laki-laki itu belum sepenuhnya sadar akan perasaannya sendiri.             Beberapa saat yang lalu, Rizky baru saja membawakan sebuah lagu picisan—yang mungkin memang menggambarkan perasaannya—untuk Krystal. Tadinya, Krystal ingin menoleh ke belakang namun Azka menahan gerakan gadis itu. Azka tahu bahwa Krystal juga sepertinya memiliki perasaan yang sama untuk Rizky. Tapi, dia tidak siap untuk kehilangan Krystal saat ini. Tidak. Ini belum saatnya dia untuk menyerah. Dia akan terus berusaha untuk mendapatkan hati Krystal, bagaimana pun caranya. Meskipun Azka memang berjanji akan bermain dengan sportif dan menggunakan cara yang bersih untuk mendapatkan Krystal, namun, entah mengapa Azka merasa, kalau saat ini dia membiarkan Krystal menoleh, dia akan kehilangan gadis itu.             “Do not turn around,” bisik Azka lagi di telinga Krystal. Kedua tangannya yang memegang bahu Krystal bisa merasakan bahwa tubuh gadis itu gemetar. “Elo gadis yang kuat. Jangan lengah dan termakan dengan ucapannya barusan. Kalau dia memang cinta sama lo, seperti yang dia katakan tadi, kenapa dia malah membuat lo menangis seperti ini?”             Bisikan itu benar-benar membuat Krystal tertohok. Sepertinya... entahlah. Sepertinya... ucapan Azka tadi memang benar. Bukankah orang yang saling mencintai itu tidak akan membiarkan orang yang dicintainya menangis? Sedangkan sekarang? Rizky memang sudah membuatnya menangis, bukan?             “Gue... mau... pulang...,” bisik Krystal lirih dan terbata. Di belakang Krystal, Azka mengangguk. Laki-laki itu kemudian menuntun Krystal untuk keluar dari kafe dan membawa gadis itu ke pelataran parkir. Tempat dimana Azka meninggalkan mobil sedan silvernya.             Sementara itu, dari atas panggung, Rizky memperhatikan Azka dan Krystal yang sudah mulai menjauh itu dengan tatapan terluka. Mungkin, dia memang sebaiknya melupakan Krystal dan juga rasa cintanya yang baru saja dia sadari untuk gadis itu. Ternyata, begini rasanya sakit hati. Benar-benar membuat dadanya sesak dan sulit untuk bernapas.             Rizky turun dari atas panggung dengan langkah gontai. Para pengunjung yang memang sempat melihat kejadian antara dirinya, Krystal dan Azka tadi kini menatap ke arahnya dengan tatapan nanar, iba dan kasihan. Sepanjang perjalanannya menuju mejanya dan Inggit, Rizky berusaha mengabaikan tatapan-tatapan itu dan mendengus. Siapa saja boleh menghinanya, mencacinya, tapi, jangan pernah mengasihaninya. Dia sangat benci dikasihani! Seolah-olah, dia tidak bisa melakukan hal apapun di dunia ini tanpa belas kasihan dari orang lain. Memuakkan!             “Lo nggak apa-apa?” tanya Inggit begitu Rizky sampai di meja pesanan mereka dan duduk di samping gadis itu. Tadinya, Inggit bermaksud untuk menghibur Rizky yang sore tadi habis curhat padanya mengenai gadis yang bernama Krystal itu. Tidak tahunya, niatnya untuk menghibur saudara sepupunya itu malah berujung dengan kejadian tidak mengenakan seperti ini.             “Jelas apa-apa, dong,” sahut Rizky sedikit ketus. Laki-laki itu menarik napas panjang dan memijat pelipisnya dengan kesal. Pusing sekali rasanya menghadapi masalah percintaan kelas kacangan seperti ini. Seperti yang selalu ditonton oleh Mamanya dalam FTV-FTV murahan di televisi itu. Awalnya benci, akhirnya jadi cinta. Kadang, Rizky selalu mencela tontonan Mamanya itu sampai membuat beliau kesal dan menggerutu akan celaan Rizky atas acara kesukaannya itu. Hal yang saat ini Rizky sesali karena kemungkinan besar, dia mendapat karma dari Mamanya.             “Terus... gimana...?” tanya Inggit lagi. Gadis itu mendekatkan tubuhnya pada tubuh Rizky dan memegang lengan laki-laki itu. Rizky menghembuskan napas keras dan mendesah panjang.             “Gue nggak tau, Nggit,” jawab Rizky lirih. Laki-laki itu memejamkan kedua matanya dan menggelengkan kepalanya. “Gue nggak tau... mungkin, gue akan mundur dan ngelupain perasaan gue ini.”             “Kenapa? Kenapa nggak lo perjuangin? Yang gue liat, cewek itu juga sepertinya punya rasa sama lo.” Inggit mengerutkan keningnya dan memprotes ucapan Rizky barusan dengan ketus. Heran dengan sikap putus asa yang dialami oleh laki-laki itu saat ini.             “Nggak mungkin,” balas Rizky dengan nada menerawang. “She has a boy.”             “Laki-laki tadi?” tanya Inggit meyakinkan. “Sorry, ya, Ky... tapi, gue ngerasa, mereka nggak ada hubungan apa-apa, deh.”             “I’m tired.” Rizky menatap Inggit sambil tersenyum lelah. “Bisa kita berhenti ngomongin soal ini? Benar atau tidak, yang jelas, dia udah punya someone di samping dia.”             Mulut Inggit sudah terbuka, bersiap untuk mengeluarkan kalimat-kalimat lainnya, namun niat itu diurungkannya. Dia melihat wajah lelah Rizky dan dia menjadi tidak tega. Akhirnya, yang bisa dilakukan oleh Inggit hanyalah menghela napas panjang dan meraih tubuh Rizky kedalam pelukannya.             “Come here,” ucap Inggit lembut sambil melingkarkan kedua lengannya di leher Rizky. Rizky balas memeluk Inggit dengan erat. Sangat erat. Dia melingkarkan kedua lengannya di pinggan dan punggung gadis itu. Berusaha melepaskan semua kepenatan, kelelahan, rasa sakit dan sesak yang dirasakannya, karena perasaannya pada Krystal. Pada sang musuh yang kini berhasil mengambil alih otak juga hatinya.             “Makasih, Nggit... makasih, karena lo ada di samping gue saat ini. Saat gue benar-benar membutuhkan seseorang untuk berbagi. Untung, lo berlibur ke rumah gue.”             “Dua buah es krim double dutch sama kebab.”             Mendengar ucapan Inggit tadi, Rizky mengerutkan kening dan mengerjapkan matanya. Kemudian, beberapa detik setelahnya, Rizky akhirnya paham akan ucapan Inggit itu. Laki-laki itu tertawa renyah dan makin mempererat pelukannya pada tubuh Inggit. Di leher Rizky, Inggit juga ikut tertawa. Senang karena akhirnya, saudara sepupunya itu bisa sedikit melupakan kejadian tidak mengenakan tadi.             “Dasar injit-injit semut. Dari dulu sampai sekarang sama aja. Nggak pernah mau rugi!”             “Don’t call me that, Kilooooo!” seru Inggit kesal sambil berusaha melepaskan diri dari pelukan Rizky yang sudah terbahak-bahak sekarang. Namun, Rizky tidak membiarkan Inggit lepas dari pelukannya, justru semakin erat memeluk tubuh sepupunya itu. Rizky dan Inggit memang sangat dekat dari kecil. Rizky akan selalu memanggil Inggit dengan sebutan injit-injit semut, sementara Inggit akan memanggil Rizky dengan sebutan Kilo. Singkatan dari nama lengkap laki-laki itu. ~~~ Begitu sampai di rumah, Krystal langsung turun dari mobil Azka. Gadis itu pergi begitu saja tanpa pamit dan langsung masuk kedalam rumahnya. Dari dalam mobil, Azka hanya bisa menghela napas panjang dan tetap menatap Krystal hingga tubuh gadis itu menghilang dari balik pintu. Kemudian, setelah yakin bahwa Krystal sudah berada didalam rumahnya, Azka baru menyalakan mesin mobilnya kembali dan melajukan sedan itu dengan kecepatan sedang, meninggalkan rumah Krystal.             Meskipun di ruang tamu ada kedua orangtuanya, Elang juga Edward yang kemungkinan besar sedang bermain ke rumahnya, Krystal tidak mengacuhkan mereka. Gadis itu terus berlari, menaiki tangga menuju kamarnya yang berada di lantai dua dan menutup pintu kamarnya dengan bantingan, hingga membuat kedua orangtuanya, juga Elang dan Edward terlonjak kaget.             “Adik kamu kenapa, Lang?” tanya Grace khawatir. Wanita itu berniat menyusuk Krystal kedalam kamar, namun langkahnya dihentikan oleh Reynald.             “Rey...?”             “Ini urusan anak muda, Grace,” sahut Reynald sambil tersenyum. Hal itu malah membuat Grace melotot mengerikan dan berdecak kesal. Tidak mengerti akan jalan pikiran suaminya tersebut. Padahal, anak gadisnya jelas-jelas sedang ada masalah, tapi, dengan santainya Reynald mengatakan bahwa ‘ini urusan anak muda’?             “Tapi, Rey....”             Ucapan Grace itu terhenti ketika Reynald yang mencekal pergelangan tangan Grace saat wanita itu sudah berdiri, menarik tangan tersebut hingga Grace kembali jatuh terduduk di sampingnya.             “Lang... coba tolong liat adik kamu. Kamu juga, ya, Ward....”             Elang dan Edward saling pandang sesaat, lalu mengangguk dan lekas berdiri. Kedua laki-laki itu berlari menaiki tangga dan langsung membuka pintu kamar Krystal, tanpa mengetuknya terlebih dahulu.             Didalam kamar, Elang dan Edward bisa melihat Krystal sedang tidur dengan posisi telungkup. Wajah gadis itu dibenamkan ke bantal dan bahunya terlihat berguncang. Elang dan Edward kembali saling pandang dan langsung menghampiri Krystal dengan tatapan cemas.             “Krys... kamu kenapa?” tanya Elang lembut sambil mengusap rambut adiknya itu. Krystal tidak menjawab. Isak tangisnya lah yang menjawab pertanyaan Elang barusan.             Edward menatap sepupunya itu dengan tatapan kasihan. Jelas, ini bukan karena laki-laki yang bernama Azka. Edward memang tahu kalau Krystal sedang pergi dengan Azka, karena, saat laki-laki itu datang bermain ke rumah ini, sekitar setengah jam yang lalu, Elang berkata bahwa Krystal sedang pergi keluar dengan Azka, ketika dia bertanya dimana keberadaan adik sepupunya itu. Kalau saat ini Krystal menangis karena ulah Azka, mereka tidak akan mungkin pulang bersama, karena tadi, Edward sempat mendengar suara mesin mobil berhenti di depan rumah. Ini pasti karena sesuatu yang lain.             “Krystal... kamu... bertengkar dengan Azka?” tanya Edward halus.             Mendengar nama Azka disebut, Krystal langsung mengubah posisi telungkupnya menjadi duduk bersila. Gadis itu menangis sesegukan. Wajahnya tampak kacau. Elang yang baru pertama kali melihat wajah kacau Krystal yang sampai seperti ini hanya bisa tertegun.             “Bukan...,” balas Krystal terbata.             Benar, kan, dugaannya? Gadis itu bukan bertengkar dengan Azka. Pasti ada penyebab lainnya.             “Lantas?” kejar Edward lagi.             Baru saja Krystal akan menjawab kalau dalang dibalik kejadian ini dan yang membuat dia menangis adalah Rizky, gadis itu langsung mengurungkan niatnya. Dia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya kepada Elang dan Edward karena dia tidak menjamin kalau setelah mendengar semua ceritanya, Elang tidak akan mendatangi Rizky dan menghajar laki-laki itu dengan membabi-buta. Elang itu sangat antipati pada Rizky. Dan saat ini, Krystal tidak ingin menambah masalah yang sudah ada.             “Tadi....” Krystal menghapus airmatanya dengan punggung tangan dan mulai berbicara dengan suaranya yang serak dan parau. “Waktu di jalan pulang... ada... ada pengendara motor yang ditabrak sama truk, Mas... Krystal kaget... karena... mmm... kejadiannya benar-benar di depan mata Krystal langsung....”             Kalau di tempatnya Elang hanya membulatkan mulutnya dan menghembuskan napas lega, serta langsung tertawa geli dan memeluk tubuh Krystal yang sepertinya memaksakan senyumnya, Edward justru terdiam. Laki-laki itu menatap Krystal tepat di manik mata. Berusaha mencari tahu apa yang disembunyikan oleh gadis itu karena, jujur saja, Edward sama sekali tidak percaya apa yang diucapkan oleh Krystal barusan. Kalau memang benar, kecelakaan itu terjadi tepat di depan Krystal, kenapa dia tidak diantar masuk kedalam rumah oleh Azka? Biar bagaimanapun, melihat kecelakaan seperti itu langsung di depan mata, pastinya akan membuat jiwa Krystal sedikit terguncang. Meskipun sekarang gadis itu menangis, tapi, jenis menangisnya benar-benar berbeda. Orang yang baru saja melihat kecelakaan secara live di depan mata, tidak akan menangis sambil kabur kedalam kamar dan membanting pintu.             Krystal mengerutkan kening saat melihat tatapan mata Edward yang dilayangkan padanya itu. Kemudian, dia yang masih berada didalam pelukan Elang merasakan getaran di saku celana jeans-nya. Gadis itu bersusah payah mengambil ponselnya dan semakin mengerutkan kening ketika membaca nama Edward pada layar ponselnya. Langsung saja, Krystal membuka satu SMS yang dikirimkan oleh sepupunya itu dan... dia tertegun.   From: Mas Edward (cullen) You lied!               Perlahan, Krystal mendongak dan bisa melihat tatapan tajam serta alis yang terangkat satu, yang diberikan Edward kepadanya. ~~~ Edward sengaja menginap di rumah Oom dan Tantenya itu. Dia tahu bahwa dugaannya memang benar. Krystal bukan menangis karena melihat sebuah kecelakaan melainkan karena hal lain. Itu terbukti dari gestur tubuh Krystal yang mendadak berubah kaku saat dia mengirimkan sebuah SMS untuk gadis itu.             Pintu kamar tamu yang ditempatinya terbuka. Edward menoleh dan melihat sosok Krystal muncul dari balik pintu. Laki-laki itu tersenyum dan melambaikan tangannya, menyuruh Krystal untuk masuk dan mendekat ke arahnya. Wajah gadis itu sudah tidak sekacau tadi. Matanya masih terlihat sembap dan sedikit memerah. Krystal yang sudah menutup pintu kamar tamu, mendekat ke arah Edward dan duduk di tepi tempat tidur, di samping laki-laki itu.             “Mas tau dari mana kalau aku bohong?” tanya Krystal langsung tanpa basa-basi. Edward menatap kedua manik mata Krystal dengan lembut dan mengelus rambut gadis itu.             “Teman Mas, Susan, pernah ngalamin hal yang buruk. Dia melihat langsung dengan mata kepalanya sendiri saat seorang pengendara sepeda motor ditabrak oleh sebuah bus yang melaju kencang.” Edward mulai berbicara. “Dan kamu tau? Dia shock berat. Dia terdiam, seperti orang yang tidak memiliki jiwa dan kehidupan, padahal, dia terus menangis. Tubuhnya gemetar dan dia menolak untuk berbicara. Dia bahkan sampai harus dituntun oleh Mas dan beberapa temannya yang lain. Kejadian yang sama dengan yang kamu ucapkan pada Mas dan Elang beberapa saat yang lalu, namun jelas berbeda dalam hal efek samping, kan?”             Ugh! Krystal merutuk dalam hati. Memang susah punya kakak sepupu yang kuliah di jurusan hukum seperti ini. Kalau ada yang tidak beres, pasti langsung curiga.             “Mau cerita?” tanya Edward.             Krystal memandang wajah Edward dengan ragu. Mungkin, dia bisa sedikit mengurangi beban hatinya kalau dia bercerita kepada Edward. Edward pasti akan mendengarkan dan memberikan nasihat-nasihat yang bijak untuknya.             Selama setengah jam, Krystal mencurahkan semua yang dirasakannya dan kejadian-kejadian yang baru saja dia alami. Edward setia mendengarkan tanpa berniat untuk menyela. Di akhir cerita, Edward tersenyum hangat untuk Krystal dan menghembuskan napas panjang.             “Kenapa kamu harus menghindar kalau kamu juga memang jatuh cinta sama Rizky, Krys?”             “Dia udah punya pacar, Mas...,” balas Krystal lirih. Belum apa-apa, dia merasa ingin menangis sekarang. “Dan lagi, kita itu musuh. Jadi, dia nggak mungkin suka sama aku.”             “Kamu tau dari mana kalau gadis itu pacarnya?” tanya Edward. “Bisa saja itu hanya saudara atau teman, kan?”             “Tapi....”             “Krystal... kamu sudah dewasa. Kamu bisa memilih yang baik atau yang buruk. Kalau kamu memang cinta sama Rizky, sampaikan. Jika pada akhirnya nanti dia memang terbukti tidak memiliki perasaan yang sama kayak kamu, maka, kamu harus siap untuk melepaskan.” ~~~ Harusnya, dia menolak perintah Mamanya untuk mengantarkan kue brownies ini ke rumah Oom Reynald dan Tante Grace. Agar dia tidak usah bertemu dengan Krystal. Dia sudah berusaha untuk melupakan gadis itu tapi sepertinya tidak berhasil. Kalau begini terus, bisa-bisa dia disebut orang gila. Bayangkan saja, kelakuannya sudah seperti orang yang tidak waras. Makan tidak mau, sekolah juga rasanya malas, dan kalau sedang tidak ada kerjaan, otaknya selalu memunculkan nama Krystal dan wajah gadis itu yang sedang tersenyum. Rizky merasa, sepertinya dia harus berkunjung ke salah satu psikiater terkenal yang ada di Jakarta ini. Menyukai gadis yang sudah mempunyai pacar? Oh, ayolah! Yang benar saja! Seperti gadis di dunia ini hanya tinggal Krystal saja!             Dengan malas, Rizky menekan bel yang berada di dekat pagar rumah Krystal. Sudah menekan kurang lebih lima kali, tidak ada satupun orang yang muncul hanya untuk sekedar membukakan pagar rumah itu. Rizky melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Sudah pukul tiga sore. Kedua orangtua Krystal dan Elang memang kemungkinan besar masih berada di kantor, tapi, dia yakin kalau Elang dan Krystal sudah pulang sekolah. Bukannya apa-apa, tapi, jadwal sekolahnya dengan Krystal dan Elang itu sama. Jam masuk, jam istirahat dan jam pulang sekolah.             “Apa lagi pada keluar, ya?” gumam Rizky ragu. Laki-laki itu kembali menekan bel rumah Krystal berkali-kali, tapi masih sama saja. Tidak ada yang keluar dari rumah tersebut. Akhirnya, Rizky menghela napas panjang dan mengangkat bahu. Mungkin, memang semua orang di rumah ini sedang keluar. Nanti, dia akan kembali lagi saja kesini. Agak malaman. Lagipula, sebenarnya Rizky cukup bersyukur akan hal ini, karena, dia jadi tidak usah bertemu dengan Krystal. Oknum yang sudah membuatnya patah hati. Kenapa, sih, gadis t***l itu tidak percaya padanya saat dia mengatakan kalau dia memang benar-benar sudah mencintai gadis itu?             “Temannya Elang dan Krystal, ya?”             Mendengar suara lembut itu, Rizky menoleh dan mendapati sosok wanita yang sudah sedikit menua dan mengenakan kerudung. Wanita itu tersenyum kepadanya yang dibalas dengan senyum sopan olehnya. Rizky sedikit membungkukkan tubuhnya untuk memberi hormat pada wanita itu.             “Iya, Bu,” balas Rizky ramah. “Saya anak dari temannya Oom Reynald dan Tante Grace, juga teman Elang dan Krystal.” Rizky melirik sekilas ke arah rumah Krystal. “Saya disuruh oleh Mama saya untuk mengantar kue ini kepada keluarga Elang dan Krystal. Tapi, sepertinya semua orang sedang keluar.”             Wanita itu tampak sedang berpikir. Dia mengusap dagunya pelan dan melirik ke arah rumah Krystal. “Setahu saya, tadi, Krystal sudah pulang. Sepertinya, gadis itu sedang tidak enak badan karena langkahnya terlihat sangat lesu dan wajahnya juga sedikit pucat. Saya sempat menyapanya dan gadis itu hanya tersenyum lelah. Setelah itu, saya melihat dia masuk kedalam rumah.”             Rizky mengangkat satu alisnya ketika mendengarkan pernyataan dari wanita berkerudung itu. Krystal? Sakit? Benarkah? Tiba-tiba saja, perasaannya menjadi sangat cemas.             “Krystal sakit, Bu?” tanya Rizky dengan nada khawatir.               Wanita itu mengangguk. “Sepertinya begitu. Saya kurang tau juga, Nak.” Wanita itu menarik napas panjang. “Kalau begitu, saya permisi dulu. Saya harus pergi ke supermarket depan.”             Selesai mengucapkan salam perpisahan, Rizky mengangguk dan mempersilahkan wanita itu untuk pergi. Laki-laki itu kemudian terdiam di tempatnya. Perasaannya benar-benar jadi tidak enak dan sangat cemas sekarang. Wanita tadi bilang, dia hanya melihat Krystal masuk kedalam rumah. Tanpa Elang, karena wanita tadi tidak menyebutkan nama Elang sama sekali. Padahal, Krystal dan Elang harusnya pulang bersama.             Rizky kembali menatap rumah Krystal. Laki-laki itu kembali menekan bel beberapa kali. Frustasi karena tidak ada satu orangpun yang keluar dari dalam rumah itu, Rizky akhirnya berniat untuk memanjat pagar rumah Krystal. Mumpung suasana jalan sedang sepi, jadi, kemungkinan ada yang memergokinya dan menuduhnya sebagai maling sangat sedikit. Namun, baru saja Rizky hendak memanjat pagar rumah tersebut dan memegang pagar itu, mendadak, pagar itu terdorong sedikit karena sentuhan tangannya dan terbuka. Membuat Rizky langsung terbelalak karena terkejut.             Astaga! Tidak terkunci?!             Langsung saja, tanpa buang waktu lagi, Rizky masuk kedalam rumah Krystal. Lagi-lagi, Rizky mendapati pintu rumah Krystal tidak terkunci, sama seperti pagar rumah gadis itu yang dibiarkan begitu saja. Ya Tuhan... bagaimana kalau ada orang jahat yang masuk kedalam rumah ini? Lalu mencelakai Krystal? Memikirkan hal itu saja sudah membuat Rizky menggigil dan bergidik ngeri.             “Krystal?! Krystal?!” seru Rizky seraya memanggil nama gadis itu. Dia menaruh kue brownies yang dibawanya di atas meja di ruang tamu. Rizky terus menyerukan nama Krystal, namun tidak ada sahutan maupun jawaban dari gadis itu. Kemudian, laki-laki itu langsung naik ke lantai dua, tepatnya ke kamar Krystal. Dia memang sudah tahu letak kamar Krystal saat insiden waktu itu, ketika Krystal dipukul oleh Andi dan ketika dia bersama kedua orangtuanya sedang berkunjung kemari. Hari dimana Rizky mengetahui bahwa ternyata kedua orangtuanya dan orangtua gadis itu ternyata bersahabat semenjak kuliah.             Sesampainya di lantai dua, Rizky bisa melihat pintu kamar Krystal terbuka setengahnya. Dengan langkah yang pelan dan napas yang terengah-engah karena dia berlari menaiki tangga, Rizky menghampiri kamar gadis itu. Dibukanya lagi pintu yang sudah terbuka setengahnya itu dan dia bisa melihat Krystal sedang berbaring di atas kasurnya. Gadis itu menutup matanya dengan sebelah lengannya. Dadanya terlihat naik-turun, namun dalam tempo yang sangat pelan.             Melihat kondisi Krystal itu, entah mengapa membuat Rizky menjadi sakit dan sesak. Dia ingin sekali memeluk tubuh gadis itu. Dia ingin gadis itu percaya bahwa dia memang sudah benar-benar mencintainya. Mencintai gadis itu. Perasaan yang entah sejak kapan hadir dalam hatinya. Mungkin, ketika dia melihat Krystal dibawa pergi oleh Azka saat tawuran waktu itu.             Tidak tahan dengan pemandangan menyakitkan yang dia lihat, Rizky akhirnya memutuskan untuk pergi dari kamar Krystal. Nanti, dia akan berusaha mencari Elang dan memberitahu bahwa adik kembarnya sedang sakit. Namun, saat dia akan menutup pintu kamar Krystal, saat itulah, Rizky mendengar erangan pelan gadis itu.             Rupanya, Krystal berniat untuk bangun dari tempat tidur. Gadis itu memegang pelipisnya dan mengerang pelan. Kedua matanya dipejamkan. Sepertinya, dia mengalami pusing dan sakit kepala yang hebat. Lalu, tiba-tiba saja, keseimbangan tubuhnya goyah. Gadis itu limbung begitu saja ke depan, hingga akibatnya bisa saja menyebabkan kepalanya terbentur kerasnya lantai.             Krystal sebenarnya sudah pasrah saat menyadari bahwa tubuhnya limbung ke depan. Bersiap menyambut kerasnya lantai marmer kamarnya. Namun, setelah ditunggu-tunggu, hal itu ternyata tak kunjung datang. Akhirnya, gadis itu membuka kedua matanya dan terpana. Di depannya... persis di depannya, terdapat sosok Rizky. Sosok laki-laki yang selalu muncul didalam mimpi dan benaknya. Sosok yang sebenarnya dia... cintai. Tapi, dia harus tahu diri karena Rizky memang hanya berniat main-main dengannya, hanya ingin menjebaknya. Terlebih, saat Krystal tahu bahwa Rizky sudah mempunyai pacar... gadis berambut cokelat itu.             Rizky memegang kedua bahu Krystal dan menahan tubuh gadis itu dengan tubuhnya. Bisa dia rasakan tubuh Krystal yang gemetar dan kulit gadis itu yang terasa panas di tangannya. Gadis itu masih mengenakan seragam sekolahnya dan kini menatap kedua matanya dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.             “Lo... demam?” tanya Rizky pelan. Dia masih menahan tubuh Krystal yang lemas itu.             Bukannya menjawab, Rizky justru melihat Krystal mulai menangis. Dan hal itu tentu saja membuat Rizky bingung setengah mati. Kenapa gadis itu menangis? Apakah, gadis itu merasakan sakit pada tubuhnya?             “Krystal...,” panggil Rizky cemas. “Kenapa nangis? Ada yang sakit?”             Krystal masih menangis. Gadis itu memejamkan kedua matanya, menganggukkan kepala dan masih membiarkan kedua tangan Rizky memegang kedua bahunya.             “Apa yang sakit, Krys?” tanya Rizky lagi. Dia benar-benar khawatir dengan keadaan Krystal saat ini. Dia benar-benar merasa... entahlah. Dia merasa sangat sedih dan terluka ketika harus melihat kondisi gadis itu. Dia lebih suka melihat Krystal yang emosi ketika berhadapan dengannya, memaki-maki dirinya, seperti setiap kali mereka bertemu saat tawuran. “Mau gue antar aja ke dokter? Sepertinya, demam elo cukup tinggi. Itu berbahaya.”             Krystal menggeleng tegas. Dia menghapus airmatanya dengan punggung tangan, namun, airmata itu masih saja mengalir deras. “Sakit ini... hiks... nggak... bisa... hiks... diobati....”             Mendengar ucapan Krystal yang terbata itu, membuat Rizky mengerutkan keningnya karena heran. “Maksud lo apa, Krys?”             “Ini... hiks... nggak... ada... hiks... obatnya... Ky...,” ucap Krystal lagi. “Karena... hiks... sakitnya... hiks... disini....”             Rizky tertegun saat melihat jari telunjuk Krystal menunjuk dadanya. Dia paham maksud Krystal sekarang. Gadis itu tidak mengeluhkan demamnya, tetapi... hatinya. Gadis itu... sakit hati? Apakah karena... dirinya...? Ya Tuhan... apakah itu berarti, Krystal juga memiliki perasaan yang sama kepadanya? Masih bolehkah dia berharap untuk memiliki gadis itu, Tuhan...?             “Kenapa... hiks... lo... nggak... hiks... langsung... hiks... bunuh gue aja... Ky...? Kenapa... hiks... harus... lo... siksa... hiks... gue... perlahan-lahan... hiks... seperti... ini...? Kena—“             Belum sempat Krystal menyelesaikan ucapannya, Rizky langsung meraih tubuh gadis itu dan memeluknya dengan erat. Sangat erat. Dia membiarkan gadis itu mencengkram lehernya dengan kuat dan menangis sepuas hati Krystal disana. ~~~ Tadinya, Elang berniat untuk mengerjakan tugas kelompok bersama Agha dan Sultan. Dia juga sudah menyuruh Krystal untuk pulang lebih dulu. Tapi, saat Elang baru mengerjakan tiga nomor dari soal Fisika yang bisa bikin kepala meledak dan kewarasan hilang mendadak dalam sekejap mata, satu SMS dari Krystal masuk ke ponselnya dan membuat tubuhnya menegang.             Adiknya sakit!             Elang memang sudah curiga ketika melihat tampang pucat Krystal. Dia sudah menawarkan diri untuk mengantar gadis itu pulang terlebih dahulu dan setelah itu dia akan kembali ke sekolah. Namun, watak adiknya yang keras kepala itu memang patut diacungi jempol. Krystal menolak dan mengatakan bahwa Elang akan repot kalau harus pulang-pergi seperti itu. Meskipun sudah dipaksa, Krystal tetap menolak. Akhirnya, Elang mengalah.             Dan saat Krystal mengiriminya SMS yang mengatakan bahwa sepertinya gadis itu terserang demam, Elang langsung panik. Pasalnya, dari kecil, Krystal tidak pernah tahan dengan yang namanya demam. Gadis itu akan merengek dan menangis karena suhu tubuhnya yang meninggi. Kedua orangtuanya belum pulang kantor dan Edward sudah pulang semenjak pagi tadi. Maka dari itu, Elang langsung pulang ke rumah, meninggalkan Agha dan Sultan begitu saja.             Tapi, ketika dia sampai di depan rumah, dia tertegun saat mengenali motor Rizky terparkir di depan pagar. Pintu pagar dan utama rumahnya juga terbuka. Dengan kening berkerut, Elang memasuki rumahnya dan langsung menuju kamar Krystal.             Lagi-lagi, Elang harus mengerutkan keningnya ketika melihat pintu kamar Krystal yang terbuka setengahnya. Dengan berjingkat-jingkat, Elang mendekati daun pintu dan terpana saat melihat adiknya berpelukan dengan Rizky. Gadis itu menangis sesegukan di leher Rizky. Sama sekali tidak sadar bahwa dia tengah memperhatikan gadis itu dari kejauhan.             Elang menarik diri dari daun pintu dan menyandarkan punggungnya di dinding. Laki-laki itu memejamkan kedua matanya dan menarik napas panjang. Pemandangan yang dilihatnya tadi benar-benar membuatnya terkejut. Apakah... Krystal dan Rizky memiliki hubungan khusus? Apa... mereka berdua saling mencintai?             Dan apakah... yang membuat adiknya menangis tadi malam bukan karena dia melihat sebuah kecelakaan yang terjadi di depan matanya? Melainkan karena... Rizky? ~~~ Setelah memeluk Krystal tanpa mengucapkan sepatah katapun, dan memastikan bahwa gadis itu sudah terlelap, Rizky perlahan meninggalkan kamar Krystal. Laki-laki itu menutup pintu kamar gadis itu dengan pelan dan langsung memutar tubuhnya. Tepat pada saat itu, Elang muncul mendadak dan Rizky nyaris saja berteriak ketika melihat wajah datar laki-laki itu.             “Demi Tuhan, Elang,” ucap Rizky seraya mengelus dadanya pelan dan menatap Elang dengan jengkel. “Jangan pernah muncul mendadak kayak gitu. Gue pikir, gue bakalan dibunuh sama pencuri yang masuk ke rumah ini, mengingat pintu depan nggak ditutup!”             “Ikut gue.” Elang tidak mengacuhkan ucapan Rizky barusan dan menyuruh Rizky untuk ikut dengannya. Dengan kening berkerut, Rizky mengikuti Elang sampai ke teras rumah. Begitu keduanya sampai disana, Elang yang berjalan di depan Rizky langsung memutar tubuhnya dan tanpa bicara sepatah katapun, Elang langsung menghajar Rizky hingga laki-laki itu tersungkur.             “Apa-apaan lo?!” seru Rizky sambil mengusap darah yang mengalir di sudut bibirnya. Kedua matanya menatap Elang dengan tajam sambil mendongak.             “Harusnya gue yang tanya, elo yang apa-apaan!” teriak Elang menggelegar. Laki-laki itu menarik Rizky hingga berdiri dan kembali menghajar wajah laki-laki itu. “Apa yang lo lakuin sama adik gue semalam sampai dia nangis kayak begitu, HAH?!”             Satu teriakan lagi dari Elang dan satu pukulan lagi dari laki-laki itu. Sementara Rizky, dia hanya diam dan membiarkan Elang menghajarnya. Sampai kemudian, Elang berhenti memukuli Rizky yang sudah terduduk di depannya. Rizky terlihat sangat kelelahan karena dihajar habis-habisan oleh Elang dan sama sekali tidak membalas. Sementara itu, Elang berdiri berkacak pinggang sambil mencibir.             “Elo suka sama adik gue, iya?!”             Diam. Rizky sama sekali tidak menjawab pertanyaan Elang itu. Sampai kemudian, Elang menarik baju Rizky hingga laki-laki itu kembali berdiri dan saling berhadapan dengan Elang.             “Gue tanya apa lo suka sama adik gue, HAH?!”             “IYA!” teriak Rizky seraya menyentakkan tangan Elang pada bajunya. Rizky menatap Elang dengan tatapan frustasi dan putus asa. “Iya... gue suka sama adik lo! Gue sendiri nggak tau kenapa gue suka sama dia.”             Astaga! Elang mendengus dan tertawa hambar. Dia benar-benar tidak percaya dengan ini semua.             “Lo bercanda!”             “Apa gue masih bisa dibilang bercanda sedangkan lo baru saja memukul gue dengan membabi-buta seperti tadi?” tanya Rizky sinis.             Elang menggelengkan kepalanya dan menundukkan kepala. Laki-laki itu menggigit bibir bawahnya dan menarik napas panjang. Kemudian, ditatapnya Rizky tepat di manik mata laki-laki itu dan Elang bisa menemukan kejujuran disana.             “Kalau lo memang serius sama adik gue,” ucap Elang dingin. “Lo harus bisa ngebuktiin sama gue!” ~~~ Tiga hari berlalu. Sebenarnya, kondisi Krystal belum memungkinkan bagi gadis itu untuk masuk sekolah. Namun, gadis itu tetap memaksa agar bisa diizinkan untuk masuk sekolah karena hari ini adalah hari ulang tahun sekolahnya. OSIS di sekolahnya mengadakan sebuah pensi dan nama Krystal terdaftar sebagai salah satu siswi yang akan mengisi acara tersebut. Jadi, mau tidak mau, Krystal memang harus hadir.             Acara itu memperbolehkan orang luar untuk hadir. Semalam, Krystal sudah mengirim SMS pada Edward dan Azka supaya mereka berdua datang. Edward dan Azka ternyata menyanggupi karena acara dilangsungkan saat makan siang. OSIS SMA Bianca juga mengundang beberapa sekolah lain. Dan Krystal tidak tahu bahwa ternyata, SMA Rizky pun turut diundang. OSIS SMA Bianca dan SMA Harapan Putra rupanya ingin menjadikan acara ini sebagai salah satu perdamaian bagi murid-murid yang suka tawuran dari kedua belah pihak. Entah itu merupakan keputusan yang benar atau tidak.             Acara berlangsung meriah. Semua pengisi acara berhasil menampilkan penampilan terbaik mereka dan menghibur para penonton. Saat akan naik ke atas panggung, Krystal sempat melihat bahwa Azka sudah datang. Laki-laki itu mengenakan kemeja berwarna hitam yang lengannya dilipat hingga ke siku, dasi yang dilonggarkan serta jas abu-abu yang disampirkan di lengannya. Azka sempat tersenyum ke arah Krystal dan mengedipkan sebelah matanya, membuat Krystal tertawa pelan.             Begitu Krystal sudah berada di atas panggung, Krystal menelan ludah susah payah. Gadis itu menarik napas panjang dan tersenyum, bersiap untuk menyanyi. Namun, sebuah kejadian yang tidak disangka-sangka oleh Krystal terjadi. Orang yang akan mengiringa Krystal menyanyi ternyata tidak hadir. Para panitia jadi bingung, begitu juga dengan Krystal. Dia mencari Elang diantara kerumunan penonton di bawah sana dan mendapati kakaknya itu sedang mengangkat sebelah tangannya, menyuruh Krystal untuk bersabar sebentar karena Elang akan segera naik ke atas panggung untuk mengiringi gadis itu bernyanyi.             “Biar gue yang mainin gitarnya....”             Satu suara bernada pelan itu membuat Krystal menolehkan kepalanya dengan cepat dan tertegun. Dia melihat Rizky sudah naik ke atas panggung, membawa sebuah gitar dan duduk di salah satu dari dua kursi yang sudah disediakan oleh panitia sekolah Krystal.             Melihat Krystal hanya diam seperti patung, Rizky menatap gadis itu dan menaikkan satu alisnya. “Lo mau nyanyi atau mau jadi patung?”             Krystal mengerjapkan kedua matanya dan tersadar. Gadis itu kemudian duduk di kursi yang masih tersedia, tepat di samping Rizky dan menatap laki-laki itu. Kejadian tiga hari lalu, saat Rizky datang ke rumahnya, melihatnya menangis dan memeluknya dengan sangat erat kembali hadir dalam benaknya. Padahal, selama tiga hari ini, Krystal sudah berusaha untuk melupakan kejadian itu. Kini, begitu melihat wajah Rizky lagi, ingatan itu kembali hadir. Membuat jantungnya berdegup kencang dan napasnya tercekat di tenggorokan.             “Gue udah tau kalau gue ini ganteng. Jadi, lo nggak usah sampai sebegitu melongonya ngeliatin gue,” ucap Rizky tiba-tiba, membuat Krystal mencibir dan mengalihkan tatapannya. “Gue udah tau lagu yang mau lo nyanyiin dari panitia. Kita mulai aja sekarang.”                  Alunan musik dari senar gitar yang dipetik oleh Rizky mulai membahana. Krystal meresapi alunan musik itu, lalu, dia mulai bernyanyi. Suaranya begitu lembut dan merdu, membuat Rizky tak berkedip menatap gadis itu dan menyunggingkan seulas senyum. Perasaannya menghangat secara tiba-tiba.   I shouldn't love you but I want to I just can't turn away I shouldn't see you but I can't move I can't look away And I don't know how to be fine when I'm not 'Cause I don't know how to make a feeling stop               Entah apa yang mempengaruhinya, Rizky sendiri tidak tahu. Yang jelas, laki-laki itu terbuai dengan suara Krystal dan tanpa sadar jadi ikut bernyanyi. Krystal yang tidak menyangka Rizky akan ikut bernyanyi bersamanya, kontan menatap laki-laki itu. Keduanya kini saling tatap sambil bernyanyi. Tidak sadar bahwa saat ini, para penonton sedang menyoraki keduanya yang terlihat sangat mesra.   Just so you know This feeling's taking control of me And I can't help it I won't sit around, I can't let him win now Thought you should know I've tried my best to let go of you But I don't want to I just gotta say it all Before I go Just so you know It's getting hard to be around you There's so much I can't say Do you want me to hide the feelings And look the other way And I don't know how to be fine when I'm not 'Cause I don't know how to make a feeling stop               Dari tempatnya berdiri, Azka tidak bisa menahan gejolak emosi dan rasa cemburu yang mulai menguasai dirinya. Dia sangat tidak senang melihat Krystal dengan Rizky saat ini. Dia tidak terima! Dia tidak sudi jika harus melihat Krystal berada di samping Rizky, saling tatap dengan laki-laki itu. Dia tidak rela melihat Rizky bisa menikmati wajah Krystal dari dekat, tersenyum kepada gadis itu dan bernyanyi bersama gadis yang dia cintai. Tanpa sadar, tangan Azka kini terkepal dengan kuat sampai buku-buku jarinya memutih. Matanya menatap tajam Rizky.   This emptiness is killing me And I'm wondering why I've waited so long Looking back I realize It was always there just never spoken I'm waiting here...been waiting here (Jesse Mccartney-Just So You Know)               Pertama-tama, hening yang menguasai ketika Krystal dan Rizky sudah berhenti bernyanyi. Kemudian, suara tepuk tangan dan sorakan dari penonton terdengar membahana. Krystal dan Rizky yang masih saling memandang, seolah tidak bisa mengalihkan pandangan mereka, mulai tersadar. Krystal berdeham pelan dan bangkit dari duduknya. Saat gadis itu akan pergi dari hadapan Rizky, tiba-tiba saja, Krystal merasa lengannya dicengkram dan tubuhnya diputar paksa. Begitu tubuhnya berputar, Krystal langsung membeku tatkala Rizky mendaratkan bibirnya di kening gadis itu.             “CIYEEEEEEEEEE!!!” jeritan dari penonton semakin keras terdengar ketika mereka disuguhkan dengan pemandangan romantis itu. Cukup lama Rizku mengecup kening Krystal. Ketika laki-laki itu menjauhkan bibirnya dari kening Krystal, Rizky tersenyum hangat dan mengacak rambut gadis itu. Kemudian, Rizky menatap para penonton, meraih mikrofon dan berkata, “Itu tadi hadiah dari gue untuk gadis cantik di samping gue ini yang sudah bernyanyi dengan sangat bagus dan merdu. Juga sebagai ucapan selamat atas kesembuhan gadis itu.”             Di tempatnya berdiri, Azka semakin tidak bisa menahan emosinya lagi. Laki-laki itu berniat menghampiri Rizky di belakang panggung dan berencana untuk memberi laki-laki itu sedikit pelajaran. Namun, saat Azka baru akan berniat untuk pergi, seseorang mencengkram lengannya dengan kuat. Dengan kesal, Azka menoleh dan mengerutkan kening saat melihat seorang gadis berambut hitam dengan panjang yang melewati bahunya, sedang menatapnya dengan tatapan ketakutan. Gadis yang memiliki mata berwarna hijau muda itu semakin mencengkram lengan Azka dengan kuat. Keringat membasahi pelipisnya. Sesekali, gadis itu akan menatap ke arah jalan raya di depan sekolah Krystal, lalu kembali menatap Azka.             “Siapa lo?” tanya Azka datar. Dia meneliti keseluruhan fisik gadis di depannya itu. Mata hijau, hidung mancung, bibir mungil, rambut bergelombang dengan warna hitam pekat, tinggi yang hanya mencapai bahu Azka. Bisa dibilang, gadis itu lumayan manis.             “Tolong... tolongin gue...,” kata gadis itu dengan napas tersengal. Sinar di matanya benar-benar menunjukkan ketakutan yang teramat besar. “Gue... mau diperkosa!” ~~~  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD